Kini Arumi sudah lulus SMA,dia sangat bahagia dan bangga dengan hasil nilai yang dia dapatkan,
dia berencana akan memberikan nilai terbaiknya untuk bapak dan ibunya,berharap mereka ikut bangga dengan dirinya,meskipun dia tau,nilai dalam kertas tidak akan membuat kehidupan keluarganya tercukupi,hanya dengan nilai yang di dapatkan Arumi,
Arumi memang salah satu murid yang berprestasi di sekolahnya,maka tak heran jika guru guru Arumi berharap dia dapat melanjutkan studinya ke jenjang universitas, Arumi pun mempunyai cita-cita yang sangat tinggi,dia ingin sekali menjadi seorang penulis ternama yang berkualitas seperti Asma Nadia, dan membuat bangga keluarganya,meninggikan derajat orangtuanya,dan membahagiakan adiknya yang lumpuh,
Pulang kelulusan dari sekolahnya, Arumi langsung menemui orangtuanya,
"Bu pak,Arumi lulus"
Arumi memeluk ibu dan ayahnya yang saat itu sedang termenung memikirkan kondisi kesehatan adiknya yang semakin hari semakin memburuk,
"Lihatlah Bu,nilai Arumi paling baik loh di sekolah"
Arumi memperlihatkan kertas kelulusannya dengan bangga pada ibunya,
namun ekspresi kedua orangtuanya seakan datar,dengan kabar gembira Arumi,
"Coba bapak lihat nak?"
Pak Surya coba melihat hasil kelulusan Arumi yang memang sangat baik nilai rata-ratanya,dia pun tersenyum dan memeluk anak gadis nya itu,
"Selamat ya nak,bapak ikut senang"
Bu Ningsih hanya diam termenung dalam kebingungannya memikirkan adiknya Luqman yang semakin hari tubuh nya seakan kaku tak mampu di gerakan,
"Arumi ingin lanjut kuliah pak"
Bu Ningsih langsung mengekspresikan dirinya,saat mendengar keinginan Arumi untuk kuliah,
"Apa kamu tidak melihat adikmu,kesehatannya semakin hari semakin parah,harusnya kamu tuh bantu kami cari uang buat berobat adikmu,bukan hanya memikirkan dirimu sendiri,ibu tuh capek harus pinjam kesana kemari demi pengobatan adikmu,sedangkan bapakmu,penghasilannya hanya pas-pasan,buat makan saja masih kurang, hutang ibu di warung sudah banyak rum,belum lagi ke tetangga kita, di tambah lagi kamu mau kuliah,harusnya kamu berpikir rum,cari solusinya,bukan malah menambah beban pikiran kami"
Luapan hati Bu Ningsih bergejolak seakan sedang memuntahkan isi dalam pikirannya,
Bukannya bangga pada prestasi anak gadisnya,dia justru ingin anaknya segera membantu dirinya mencari uang,bahkan pinjaman,untuk adiknya,
Arumi menunduk sedikit kecewa melihat ibunya tak mendukung keinginan dirinya,tapi sebagai kakak tertua dan anak yan berbakti,diapun paham kenapa ibunya harus berkata seperi itu,
(mungkin ibu lelah dengan kondisi seperti ini,Arumi janji Bu,Arumi akan bahagiakan ibu,biar Arumi pendam cita-cita Arumi)
Pak Surya tak berdaya melihat Arumi yang mulai meneteskan air mata di pipinya,namun dia pun tak mampu berbuat apa-apa karena memang situasi kondisi keuangan mereka sangat sedang sulit,
masih sukur Arumi bisa lulus sampai jenjang SMA,tanpa Arumi ketahui,untuk biaya sekolahnya pun,pak Surya harus meminjam kesana kemari,belum lagi biaya berobat adiknya,
Kepala pak Surya seakan mau pecah jika harus memikirkan hari esok mereka akan makan apa,karena pekerjaannya sebagai kuli bangunan,tidak bisa di andalkan,terkadang ada pekerjaan,terkadang lama menganggur menunggu panggilan,
sedangkan Bu Ningsih hanya buruh cuci,itupun sambil mengasuh bungsunya yang sakit,
Satu bulan telah berlalu,Arumi masih sibuk menulis karyanya, berharap jika nanti selesai dia bisa mengorbitkan nya,agar bisa menabung sedikit demi sedikit agar keinginannya untuk kuliah dan mengobati adiknya tercapai,
Sampai suatu hari,ada dua orang laki-laki berperawakan besar datang ke rumah Arumi,
"Pak Surya..
Bu Ningsih buka pintunya"
Mereka menggedor pintu tanpa sopan santun,membuat semua yang ada di rumah terkejut,sontak Bu Ningsih pun membukakan pintu,dan pada saat itu pak Surya sedang pergi keluar mencari pekerjaan,
"Ada apa pak"
Tangan bu Ningsih gemetar,Arumi pun menyusul ibunya,karena takut terjadi apa-apa,melihat kedua laki-laki itu seperti bukan orang baik,
Nampak seorang lelaki tua turun dari mobil Jeep silver,berjalan mendekati rumah Bu Ningsih,
"Kamu masih ingat kan dengan janji kamu Ningsih"
Pak Slamet, rentenir tua yang paling jahat di kampungnya menagih janji pada Bu Ningsih,
"Maaf pak,saya ingat,tapi kami belum ada uangnya pak,saya minta waktu lagi pak"
Bu Ningsih memohon kepada pak Slamet agar memberikannya waktu kembali,Arumi yang merasa bingung bertanya kepada ibunya,
"Ini ada apa bu?"
"Mereka menagih hutang kita nak"
Arumi terkejut,karena dia tidak pernah tau kalau orangtuanya mempunyai hutang kepada seorang rentenir,
"Loh memangnya berapa Bu?"
Arumi bertanya berharap dia dapat membantu membayar hutang orangtuanya,dengan sedikit tabungan yang dia miliki,tabungan untuk melanjutkan kuliahnya,
"Hutang ibu kamu terlalu besar nak cantik"
Pak Slamet menggoda Arumi dengan mengelus dagunya yang mancung,Arumi merasa risih dengan perlakuannya,
"Jaga sikap bapak ya,kalau tidak saya bisa teriak memanggil semua warga"
Arumi coba mengancam pak slamet,namun dia hanya tersenyum licik mendengar ancaman Arumi,
"Hutang ibu dan bapak kamu sudah hampir 200 juta"
Bak tersambar petir Arumi mendengar nominal hutang bapak dan ibunya,dia pun ikut bingung memikirkan jalan keluar dari permasalahan yang menjerat keluarganya,tabungan Arumi tidak akan mampu melunasi hutang ibu dan bapaknya,bahkan untuk membayar bunganya pun tak akan mampu,
"Astaga" Arumi menutup mulut nya,kaget dan sedih,
"Saya mohon pak,beri kami waktu lagi pak,saya mohon"
Bu ningsih terus memohon perpanjangan waktu kepada pak Slamet,namun kedua anak buahnya sudah tak sabar ingin menjarah barang berharga yang ada di rumah Arumi,namun semua itu percuma,tak ada barang berharga yang bisa mereka bawa sebagai jaminan,
Namun pikiran licik pak Slamet mulai beraksi,tatkala melihat wajah dan tubuh Arumi yang cantik dan manis,dia tertarik padanya,meski usianya sudah tua,namun naluri lelakinya masih aktif,
Dia berpikir akan menjadikan Arumi sebagai jaminan jika dalam waktu dua Minggu orangtuanya tidak bisa mampu melunasi hutangnya,maka Arumi harus menjadi istri ke 3 nya pak Slamet,
Betapa hancur hati Arumi mendengar kesepakatan yang melibatkan dirinya,tak mampu dia menahan kesedihan akan takdir dirinya jika sampai dia manjadi istri ke tiga pak Slamet,
Masih banyak impian yang ingin dia capai, dan masih banyak tujuan Arumi yang ingin dia laksanakan demi keluarganya,namun apakah dia memang harus mengubur dalam-dalam cita-cita yang selalu menjadi impiannya,
Pak Slamet dan kedua anak buahnya pun pergi dari rumah Bu Ningsih,dengan mengingatkan kesepakatan nya agar Bu Ningsih tidak mengingkari perjanjiannya untuk membayar hutang dalam waktu 2 Minggu,
Merekapun berlalu,
"Kenapa hutang sebesar itu ibu rahasiakan dari aku Bu?kenapa ibu berhutang kepadanya?" Arumi mulai meneteskan air matanya di hadapan Bu Ningsih,karena dia tak mau jika harus menjadi istri pak Slamet,
"Kamu masih bertanya kenapa ibu berhutang kepada rentenir tua itu,seharusnya kamu sadar rum,semua uang itu ibu pinjam untuk biaya sekolah kamu dan biaya adik kamu,dari awal ibu tidak mengijinkan kamu untuk sekolah, tapi kamu dan bapakmu tetap memaksa,bukannya kerja,kamu malah sibuk dengan pelajaran kamu,mana hasilnya sekarang,mana, ijasah kamu bisa gak nolong kita dari kesusahan?"
Kelembutan Bu Ningsih seakan hilang karena tertekan dengan hutangnya yang sangat besar, dia bingung harus berbuat apa,Karena sekalipun Bu Ningsih kecut kepada Arum saat itu,tapi diapun tidak akan rela jika anaknya sampai menjadi istri ketiganya rentenir tua itu,
"maafkan Arum Bu,"
Arum berlalu meninggalkan ibunya,sambil menyeka air mata nya yang tak mampu dia tahan,
Di lain tempat,pak Surya yang saat itu sedang solat asar di salah satu mushola pinggir jalan,menemukan sebuah map berisikan dokumen-dokumen perkantoran atas nama Suhendar Wijaya utama
saat selesai menunaikan solat nya,
Pak Surya merasa dirinya harus mengembalikan dokumen itu,karena takut penting,
Alamat nya tidak terlalu jauh dari musola,tempat dimana dia menemukan map nya,karena tidak mempunyai ongkos,akhirnya pak Surya pun berjalan kaki menyusuri sisi jalan raya,sampai akhirnya pak Surya tiba di kawasan perumahan elit,
Pak Surya pun memencet bel gerbang rumah yang di tuju,terlihat seorang satpam bertanya ada keperluan apa kepadanya,
Diapun menunjukan sebuah map yang tertinggal di musola atas nama pemilik rumah tersebut,
Kemudian satpam pun menyuruhnya masuk dan menemui pak Suhendar,
Pak Suhendar yang saat itu memang sedang mencari map itu merasa tenang dengan kabar map yang di temukan pak Surya,
Dia pun berterimakasih kepadanya karena telah menemukan dan mengantarkannya sampai ke rumah,
Pak Suhendar pun memberi imbalan kepada pak Surya, namun dia menolak,karena dirinya ikhlas mengembalikan map nya itu,
Namun saat pak Surya hendak pergi kembali pulang,pak Suhendar menawarkan dirinya untuk mengantar nya pulang,karena hari sudah mulai petang, namun pak Surya pun tetap menolak,
Hingga akhirnya pak Surya pun keluar dari rumah pak Suhendar
"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih pak,"
Pak Suhendar pun memberi kartu dirinya kepada pak Surya,berharap jika suatu hari nanti dia bisa menghubunginya jika ada perlu,
Pak Surya pun kembali berjalan kaki menyusuri jalan pulang,satpam pak Suhendar melihat pak Surya pulang dengan berjalan kaki,dia pun menyampaikannya pada pak Suhendar,
Karena kasihan Pak Suhendar pun bergegas menyusul pak Surya yang sedang berjalan kaki pulang menuju rumahnya,
"Pak Surya,ayo masuk biar saya hantarkan bapak sampai ke rumah" mobil sedan silver berhenti di dekat pak Surya ,
Karena tak bisa menolak,ahirnya pak Surya pun masuk mobil pak Surya,
Sepanjang jalan mereka banyak bicara perihal anak pak Surya yang baru lulus dengan nilai yang bagus,
Arumi,
Pak Suhendar pun tertarik dengan anaknya pak Surya untuk dia jodohkan dengan anaknya,
Merekapun tiba di depan gang menuju rumah pak surya,saat dia tiba di depan rumah,kedua anak buah pak Slamet kembali datang menagih bunga hutangnya,
Alangkah terkejutnya pak Surya melihat anaknya sedang menghadapi anak buah rentenir gila itu sendirian,Bu Ningsih sudah tidak bisa menahan perlakuan kedua anak buah pak Slamet yang terus menagih bunga hutangnya,
Sontak pak Surya pun menyelamatkan putri nya dari genggaman dua laki-laki yang memaksa Arumi untuk ikut dengannya,
"Lepaskan putriku"
Pak Surya terlihat kuat membela dan menyelamatkan anaknya,dia memohon agar dirinya di beri keringanan dan perpanjangan waktu untuk melunasi semua hutang dan bunganya,
Namun anak buahnya tak menghiraukan,karena tugasnya hanya membawa Arumi untuk mereka serahkan pada bosnya,
Pak Suhendar yang sedari tadi menyaksikan,akhirnya menghadapi kedua laki-laki itu dan memberikan selembar cek untuk bos nya isi dengan nominal semua hutang pak Surya,dan menganggap semua hutang nya lunas,
Anak buah pak Slamet pun tak bisa berbuat apa-apa,mereka pun menerima cek itu dan berlalu dari rumah pak surya,
"masya allah pak,bagaimana saya harus berterimakasih kepada bapak"
Pak Surya bersujud di kaki pak Suhendar berterimakasih atas semua bantuan yang telah dia berikan untuk keluarganya,
"Sama-sama pak,ini tidak sebanding dengan pengorbanan bapak yang sudah mengantarkan dokumen penting saya dengan berjalan kaki"
Suasana berganti haru,Arumi pun ikut berterimakasih kepada pak Suhendar karena telah menyelamatkannya dari pernikahan terpaksa nya dengan rentenir tua itu,
Arumi menceritakan kejadian siang tadi kepada pak Surya dan pak Suhendar,mereka sangat terkejut dan ikut mengutuk ulah rentenir tua itu,
"Begini pak,bagaimana kalau bapak bekerja di tempat saya".
pak Suhendar menawarkan pekerjaan kepada pak Surya,
Tentu Bu Ningsih yang mendengarkan dari dalam,memberi kode agar pak Surya menerima tawarannya,
Karena pak Surya pun sedang butuh pekerjaan,akhirnya diapun menerima tawaran pak Suhendar,
...
6 bulan kemudian, Arumi yang masih memendam keinginannya untuk melanjutkan kuliah,kini dia sudah pasrah pada takdirnya,dia bertekad akan memendam cita-citanya sebagai penulis untuk membanggakan keluarganya,
Di tambah semester baru sudah di mulai,rasanya sudah tidak ada harapannya lagi untuk dia bisa masuk universitas,karena tabungan nya pun masih sedikit,karena pekerjaannya sebagai pembuat kue,hanya pas untuk sehari-hari nya saja,sedangkan gajih bapaknya selau habis untuk berobat ayahnya,
Kali ini Arumi tidak ingin membuat orangtuanya sampai terlilit hutang lagi demi mengabulkan keinginannya untuk melanjutkan sekolahnya,
"Mungkin ini yang terbaik darimu untukku ya Allah,biarlah ku kubur dalam-dalam keinginan dan cita-cita hamba"
Memang banyak yang menyayangkan jika Arumi sampai tidak melanjutkan studinya,memandang dirinya memang kompeten dan pintar,tapi apalah daya,takdir tidak memihak kepadanya,
Tapi kawan-kawan Arumi selau datang untuk mengunjungi sekedar sharing ilmu yang mereka dapat di bangku kuliah kepada Arumi,
Arumi nampak bahagia meskipun dia hanya bisa belajar dan tau dari teman-temannya ,karena kini Arumi paham,keinginan nya belum tentu yang terbaik untuknya,
Dan karena sharing ilmu yang Arumi dapat dari teman-teman sejawatnya saat di bangku SMA,kini Arumi mulai belajar kembali menumbuhkan rasa percaya dirinya menulis karangan yang dia cita-citakan dulu,
Arumi sadar, cita-cita yang dia tunda dulu ,bisa ia kembang kan kembali,meski tidak harus memaksakan melanjutkan studinya,karena ilmu tidak hanya bisa di dapat dari bangku sekolah,melainkan dari sekitar,kawan, tetangga,dan lainnya bisa ia dapatkan tanpa harus memaksakan kehendak,
Kini perlahan satu dua buku sudah dia garap berbekal ilmu yang dia dapat dari teman dan sekitarnya,
Cita-cita yang ia tunda kini mulai tercapai,
Di tambah,lamaran anak pak Suhendar pun datang kepadanya,
Tanpa paksaan apapun Arumi pun menerima lamaran tersebut,karena Arumi tahu keputusan orangtua adalah yang terbaik baginya,
Merekapun menikah dan hidup bahagia dengan ridho kedua orangtuanya.
Dan yang lebih menyenangkan,suami Arumi pun mendukung cita-cita istrinya sebagai penulis,bahkan tak jarang dirinya juga ikut berpartisipasi memberikan ide-idenya kepada istrinya,
(Nah bagi kamu yang cita-cita nya belum tercapai,jangan putus asa dan pantang menyerah ya,yakin jika kita ada kemauan,pasti ada jalan)
jangan lupa like koment favoritnya ya Sabahat 🥰🥰