Nama bulan yang mempunyai akhiran -ber adalah musim penghujan yang mampu menyelamatkan banyak umat dari kekeringan, khususnya petani. Sama seperti dia yang selalu menjadi penyelamatku layaknya hujan.
Langit yang tadinya cerah sekarang mendung. Tiba-tiba air turun dari langit dengan debit yang deras datang tanpa mengucap permisi sebelumnya. Aku yang di kala itu sedang bersepeda mau
tak mau harus segera menepi karena tak mau basah kuyup. Aku memilih berhenti di deretan
ruko yang tutup. Disana juga ada beberapa pengendara baik sepeda maupun sepeda motor yang
terpaksa berhenti karena tidak membawa jas hujan atau pun payung. Ada juga diantara mereka yang sedang mengenakan jas hujan dan bersiap menerjan derasnya hujan. Aku segera turun
dari sepedaku dan mengecek apakah aku membawa jas hujan atau tidak dan ternyata tidak.
Sambil berteduh ku panjatkan doa kepadaNya memohon agar hujannya segera mereda atau
bahkan berhenti sampai aku sampai dengan selamat di tempat tujuan.
“Semoga doaku segara dikabulkanNya. Aamiin!” batinku mengamini. Namun nyatanya hujannya malah bertambah deras, padahal aku sedang terburu-buru.
“Ya rabb, mengapa hujannya malah bertambah deras. Aku sedang terburu-buru. Ah! Sial sekali
hariku.” batinku berseru.
Aku berpikir mungkin apakah ada cara lain agar bisa sampai tepat waktu di tempat PKL. Kucoba mengubrak-abrik isi tasku berharap ada keajaiban. Namun nihil, tak ada yang bisa
kugunakan untuk menerobos hujan ini. Aku terpaksa harus ikhlas mendapat poin (penilaian
negatif) karena terlambat datang. Toh, kalau pun aku tidak mengikhlaskannya apakah hujannya
akan berhenti? Tentu saja tidak. Jadi Aku tak punya pilihan lain selain menunggu hujannya berhenti.
Menunggu, hanya itu yang bisa kulakukan saat ini, yaitu menunggu hujannya reda dan aku bisa melanjutkan perjalanan. Sudah sepuluh menit aku menunggu disini bersama dengan beberapa orang yang senasib denganku. Bedanya hanya tempat tujuan kami.
Tanpa sadar aku mulai melamun, karena sudah bosan menunggu. Entah itu lamunan atau renungan aku tak peduli yang jelas aku asyik dengan duniaku sendiri sampai tak mendengar ada orang yang memanggilku.
Aku segera kembali ke alam sadar dan mengerakkan kepala mencari sumber suara lalu
pandanganku menemukan kak zein. Ternyata dialah yang memanggilku. Dia tersenyum kearahku saat mataku menemukan sosoknya yang berada tak jauh dari posisiku saat ini. Aku
membalas senyumannya dengan senyuman pula. Jujur saja aku terkejut ketika melihatnya.
Kukira waktu itu adalah waktu awal dan terakhir kami bertemu, nyatanya tidak. Sekarang kami
dipertemukan lagi.
“hai” sapanya. ‘Suaranya terdengar dekat sekali. Tungu! Heh, sejak kapan dia jadi berada
disampingku?’ Kataku dalam batin.
“eh, kak zen” ucapku kikuk. Sungguh, aku merasa sangat gugup berada di dekatnya. Jantungku terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Seperti habis lari maraton.:v
“kamu kenapa sih?” tanyanya sambil mengerutkan dahi.
“gak!” jawabku singkat. Aku mulai berhasil menetralkan diriku. Agar tak terlihat kalau aku merasa gugup di dekatnya.
“beneran?” tanyanya untuk meyakinkan.
“ya” jawabku dengan penuh keyakinan.
“eh, kamu kenapa nunduk terus? Sakit?”
“hehe, gak kenapa-kenapa kok dan alhamdulillah sehat seperti yang kakak lihat sekarang.” aku tersenyum menyembunyikan rasa canggungku. Canggung untuk bertatap muka langsung
dengan ka zen. Meskipun demikian aku tetap mencoba untuk bersikap biasa dan memberanikan diri menatapnya.
“by the way kamu mau kemana hujan-hujan gini?” tanyanya santai.
“ke tempat PKL ka.”
“mau aku anterin?” tawarnya yang tidak mungkin kutolak.
“mmm, boleh” jawabku dengan gaya sedikit jual mahal. Tak apa lah, itung-itung untuk menyamarkan kegugupanku.
Akhirnya aku berangkat ke tempat PKL dengan kak zen yang entah datang dari mana. Mungkin
dia jawaban dari Allah swt atas doaku. Aku sangat bersyukur karena tak jadi telat.
Januari membara rinduku menggelora
Zen hamzah, laki-laki yang mampu membuat januariku harus membara untuknya. Hebat
bukan, ketika hati yang selama ini kucoba untuk tidak dijamah siapapun tapi nyatanya
sekarang? Padahal aku baru mengenalnya. Sungguh bodoh diriku, mencintai orang tanpa tahu
terlebih dahulu asal usul orang itu.
Sungguh, tak banyak yang kutahu tentang dirinya, yang kutahu tentangnya adalah ia yang entah datangnya dari mana ketika kubutuhkan pasti selalu datang sebagai penolong. Dia juga orang
yang sangat sabar menghadapi diriku yang menurutku agak rewel terhadap sesuatu. Pokoknya
kak zen hamzah the best lah.
Zen, kapan Allah mengizinkan kita berjumpa lagi. Rindu ini curang, dia hanya bisa bertambah
tanpa berkurang. Rindu ini curang, hanya bisa menyiksa batin tanpa memberikan manfaat. Ya
Allah salahkah aku mencintai mahlukmu. Mencintai dia yang belum halal untukku. Seringkali
namanya kusebut dalam setiap doa yang kulantunkan. Namanya yang kuukir dan kuabadikan
dalam hatiku.
Kututup buku harianku sampil mengusap mata yang sudah mulai berlinang air mata. “Sudah
cukup!” Teriakku dalam batin untuk diriku sendiri. “ingat firmanNya dalam Al Quran serta
hadist-hadist sahih tentang berharap kepada selainNya, tentang mencintai mahlukNya melibihi cintamu kepadaNya.” Lanjut batinku berseru. Menasihatiku agar aku bisa bangkit dan melanjutkan kehidupan.
Aku berpikir ulang, sudahkah yang kulakukan ini benar. Apakah aku benar-benar sudah
kelewat batas. Berlebihan kata lainnya. Ya ... ampunillah hamba yang hamba lakukan ini salah.
Berilah hamba petunjuk untuk membenarkan ahlaq hamba agar lebih baik lagi.
Muharram. Awal tahun hijaiah. Akhir dari harapan dan doaku. ya, Rinduku terjawab
Aku melangkah memasuki pelataran sebuah bangunan yang cukup terkenal di kota ini.
Bangunan ini terletak dijantung kota, bersebelahan dengan kantor instansi pemerintah daerah.
Bangunan ini telihat kokoh nan indah dengan kubah yang terdapat lafadz Allah diatasnya dan
sebuah menara disalah satu sisinya yang menjulang tingi ke angkasa raya membuatnya terlihat gagah dan perkasa. Biasanya suara adzan yang berkumandang keluar dari menara tersebut. Yah, kalian
pasti tidak asing lagi dengan bangunan tersebut. Yup, masjid! Siapa yang tidak mengenalnya.
Aku rasa seluruh umat isla di dunia pasti mengenalnya. Masjid merupakan tempat untuk umat islam melaksanakan ibadah salat. Meskipun kita tahu bahwa salat bisa dilakukan dimana saja asalkan memenuhi kriteria-kriteria suci. Artinya bersih dari hadasdan najis.
Aku kesini bukan tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Tapi aku ingin melaksanakan
kewajibanku kepada-Nya, memenuhi panggilannya. Adzan dzuhur baru saja selesai berkumandang oleh karena itu aku segera datang ke sini untuk menunaikan salat. Aku kesini tidaklah sendirian, melainkan dengan sahabatku kezya. Kami segera mengambil air wudhu sebelum iqamah berkumandang. Yah, kami ingin ikut salat berjamaah, tapi kami mendapat
kejutan yang luar biasa ketika memasuki tempat wudhu bagi kaum hawa. Tempat wudhunya sangat penuh oleh para muslimah yang semangat sekali dalam berlomba-lomba dalam
beribadah. Masya allah, aku takjub dan terharu melihatnya! Hatiku tersentuh. Ingin aku menangis menyaksikannya. Pantas saja mendekati waktu dzuhur jalanan mulai lenggang.
Pasar-pasar pun mulai sepi pengunjung, padahal setahuku pasarnya tutup pukul sepuluh
malam.
Alhamdulillah, meskipun harus mengantri cukup lama kami bisa ikut salat berjamaah walau sempat tertinggal beberapa rakaat. Tak apalah yang penting bisa ikut salat berjamaah, karena pahala yang didapat dua puluh tujuh kali lipat dari salat yang dilaksanakan secara sendiri-sendiri. Mungkin lain kali aku harus datang lebih awal suapay bisa ikut salat berjamah dari
awal tanpa tertinggal satu rekaat pun.
Selesai melaksanakan salat aku memilih untuk beristirahat sembentar di selasar masjid yang
memang cukup luas untuk menikmati udara segar. Udara segar tersebut berasal dari pepohonan
yang berada disekitar masjid. Yup, meskipun masjid ini berada ditengah kota yang padat
dengan jumlah polusi yang dihasilkan dari mesin-mesin industri penggerak perekonomian serta mesin kendaraan yang berlalu lalang tiap harinya. Sungguh lelah mata ini jika harus disuruh
melihat aktivitas seperti itu setiap harinya. Melihat kotaku saja sudah sangat besar polusinya apa lagi ini yang notabenya termasuk jajaran kota metropolitan.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku, membuatku merasakan kantuk yang teramat sangat.
Rasanya berat sekali mata ini untuk tetap terjaga. Baru saja memejamkan mata tiba-tiba kezya
membangunkanku lalu mengajakku pulang. Sebenarnya aku enggan untuk beranjak dari sini karena sudah nyaman tapi berhubung waktu sudah semakin sore mau tak mau aku harus
melanjutkan tugas agar dapat cepat kembali ke rumah. Aku benar-benar mengantuk, berjalan
pun agak sempoyongan sampai aku lupa HP ku tinggalkan di selasar masjid sewaktu istirahat
tadi dan baru sadar ketika sudah sampai di terminal. Waktu itu aku ingin menggunakannya tapi
dicari-cari tak ketemu. Aku mulai khawatir lalu kucoba mengingat-ingat dimana terakhir kali
ku gunakan. Yah, akhirnya aku ingat terakhir kali ku gunakan di masjid selesai salat saat sedang istirahat. Segera aku meminta sahabatku untuk menemaniku kembali ke masjid. Ia sempatkhawatir melihatku yang gusar dan tidak tenang. Dari nada bicaraku saja sudah
menggambarkan kalau aku sedang mengkhawatirkan sesuatu.
Alhamdulillah tak sampai sepuluh menit kami sudah sampai disana. Aku segera berlari menuju selasar tempat terakhir kali aku menggunakan polselku. Mencari benda kotak pipih yang
multifungsi dan sangat berharga bagiku. Pasalnya banyak project-project yang sedang kugarap
berada didalamnya. “Ya allah semoga ponselku masih disana, tidak hilang atau diambil orang
jahat.” Doaku dalam hati sambil menelusuri selasar masjid. Hm, lelah aku mencarinya kesana
kemari namun belum kutemukan juga. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan
kepada beberapa orang yang ada disitu. Namun hasilnya nihil.
“ya allah kemana lagi harus hamba cari. Apakah itu belum milik hamba sehingga tak kembali”
aku mencoba mengikhlaskan meskipun berat rasanya. Bukan soal ponselnya tapi masalah
dokumen- dokumen peting yang tersimpan didalamnya. Ini berarti aku harus menyusun ulang
semuanya dari awal. Hah, sesuatu yang cukup berat sepertinya. Padahal didalam ponsel itu tinggal beberapa tahap saja lengkap sudah tugas-tugasku.
Aku duduk terdiam di anak tangga masjid sambil melamun. Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah benda berbentuk persegi panjang pipih. Mataku langsung berbinar-binar melihatnya,
yah itu ponselku. Segera kuraih benda itu dan menengok ke arah orang yang menyodorkannya dan ingin ku ucapka terima kasih kepadanya. Sungguh terkejut diriku saat melihatnya. Ternyata
dia adalah Zein Hamzah.
Zein yang sama yang selama ini selalu hadir layaknya malaikatku. Dia orang yang sama yang
namanya selalu ada diantara harapan dan doa yang kupanjatkan agar aku dapat dipertemukan
dengannya lagi. Namun tak kunjung dipertemukan akhirnya hari ini aku dipertemukan
keembali dengan dirinya. Aku merasa sangat bahagia hari ini. Selain ponsel dan tugasku dapat
kembali aku juga mendapat hadiah plus yaitu kak Zein hamzah. Syukran ya rabb.. ingin aku
rasanya sujud syukur pada saat itu juga.
Zein terlihat senang melihatku bahagia. Mungkin dia hanya tahu kalau aku bahagia karena
handphone ku dapat kembali. Tapi dia idak tahu kalau ada hal lain yang membuatku lebih
bahagia yaitu menemukannya diantara ribuan bahkan milyaran manusia di belahan bumi-Nya.
Biarlah rasa ini menjadi rahasia agar hubungan kami selalu terjaga layaknya kakak beradik.