"Mama.. mama, ini untuk mama!" ucap seorang anak perempuan yang masih kecil.
Anak itu menyodorkan setangkai bunga mawar yang harum dan baru ia petik di depan rumahnya yang merawat bunga mawar.
Nama anak perempuan itu adalah "Cacha"
Sementara disisi lain, seorang wanita yang sudah mempunyai kedua anak itu menatap Cacha risih.
"Minggir, mama harus ke kantor!" ucap wanita bernama Raina, ibu dari Cacha.
"Tapi ma.. ambil bunga ini ya ma! Kata teman Cacha, bunga mawar itu indah jadi bisa membawa keberuntungan! Makanya Cacha juga suka bunga mawar ma.." ucap Cacha sambil tersenyum manis.
Raina memutar bola matanya malas, ia tidak menghiraukan perkataan Cacha.
"Mama! Mama!" Cacha terus memanggil mamanya. Hingga dilihatnya Raina yang sudah menaiki taksi dan pergi.
"Hiks... Apa mama gak sayang aku? Kenapa mama selalu tidak mau berbicara denganku!" tangis Cacha.
"Non, jangan pikirin perkataan nyonya ya! Nyonya seperti itu juga pasti karena sibuk, yuk non masuk terus mandi, bibi udah siapin air hangat buat mandi Cacha!" ucap Bi Inai, pengasuh yang sudah bekerja lama di rumah Cacha.
"Beneran bi?" tanya Cacha sambil tersenyum polos.
Bi Inai tersenyum dan mengangguk, "Iya bener lah non, ya udah yuk masuk, habis mandi nanti Cacha kan bisa makan!" ucap Bi Inai.
Cacha menurut, ia masuk ke dalam kamar mandi dan mandi dengan bantuan Bi Inai.
Beberapa menit kemudian, Cacha keluar dari kamar mandinya, ia tersenyum dan memandang dirinya di cermin.
"Bibi, Cacha cantik gak?" tanyanya pada sang pengasuh. "Tentu, nona adalah perempuan tercantik di dunia! Hehe.." jawab Bi Inai menggombal.
Tiba-tiba saja, Cacha teringat ibunya, ia mengingat sang ibu yang sama sekali tidak menganggap dirinya.
"Tapi, kenapa mama gak sayang aku? Apa aku terlalu jelek?" tanya Cacha sedih.
Bi Inai cepat-cepat berjongkok dan memeluk tubuh mungil Cacha.
"Enggak non, non itu baik dan cantik, nyonya cuman sibuk, nanti nyonya juga pasti mau main sama Cacha kalau gak sibuk," ucap Bi Inai.
“Wajar saja, di umurnya yang masih kecil ia pasti menginginkan kasih sayang keluarga. Tuan sudah meninggal, sedangkan nona.. haahh..” batin Bi Inai sedih sambil menghela nafas panjang.
"Bibi bibi, bibi inget gak sekarang hari apa?" tanya Cacha pada Bi Inai.
"Hmm, hari Selasa non!" jawab Bi Inai.
"Bukan itu!"
"Lalu?"
"Ini adalah hari ulang tahu mama!" ucap Cacha
Bi Inai tersentak kaget, ia lupa bahwa hari ini adalah hari dimana nyonya nya ulang tahun.
"Astaghfirullah, bibi lupa non!" jawab Bi Inai sambil menepuk jidat.
"Kebiasaan nih bibi!"
"Oh ya bi, aku mau ngasih mama kado ulang tahun, aku mau ngasih mama kue!" ucap Cacha.
"Bener juga ya non, nyonya pasti akan suka pemberian non" jawab Bi Inai.
Cacha lalu mengutarakan pendapat nya, ia ingin pergi ke sebuah toko kue yang kabarnya semua kue yang dibuat sangat enak.
"Tapi non, bibi gak punya banyak duit!" jawab Bi Inai sedih.
"Bibi gak perlu bayar, aku aja yang bayar!" sahut Cacha.
"Memang non mau bayar pakai apa, hm?" tanya Bi Inai.
"Aku udah ngumpulin banyak uang, nanti tolong bibi hitung ya, setelah itu kita pergi ke toko kalau uangnya cukup!" ucap Cacha tersenyum.
Bi Inai lalu mengangguk, ia segera pergi ke kamar Cacha bersama Cacha dan menghitung jumlah uang Cacha.
Setelah dihitung, jumlahnya mencapai 2 juta rupiah, yang artinya sangat cukup untuk membeli kue.
"Ya sudah kita ke toko kue yuk non!" ajak Bi Inai yang disahut dengan anggukan kepala oleh Cacha.
Sesampainya di toko kue..
"Dipilih dek kuenya!" ucap salah satu karyawan dengan senyuman di wajahnya.
"Aku mau kue terenak buat mama!" ucap Cacha polos yang membuat karyawan tersebut tertawa.
"Haha, iya dek! Ayo mbak anterin cari kue terenak!" jawab karyawan itu.
Disisi lain, ada seorang wanita yang berjalan terburu-buru hendak masuk ke dalam toko kue, namun penglihatannya tiba-tiba tertuju pada seorang anak perempuan yang membuat langkahnya terhenti.
"Cacha? Kenapa dia ada disini? Cacha mau beli kue?" tanya wanita itu penasaran.
"Ahhh padahal aku mau beliin kue buat Cacha!" Tambahnya bergumam.
"Dek, gimana kalau ini? Konsepnya berbentuk bunga mawar, hiasannya pun sama! Banyak anak kecil yang mau beli ini lho! Harganya juga murah kok khusus adek, cuman dua ratus ribu!" ucap karyawan itu.
Cacha lalu menunduk sedih, "Gak usah kak, mama aku gak suka mawar!" ucap Cacha yang sontak membuat wanita di depan toko ternganga saat menguping anaknya. Siapa lagi kalau bukan "Reina". Ia hendak memberikan kejutan untuk Cacha dengan membelikan kue ulang tahun, siapa sangka ia malah bertemu anaknya disini.
"Lho, kok, gak suka?" tanya mbak karyawan heran.
"Karena setiap aku kasih mama bunga mawar, mama gak mau, aku gak mau ngecewain mama dengan kasih makanan yang mama gak mau!" ujar Cacha polos.
Karyawan itu sempat menangis mendengar cerita Cacha, begitupun Reina, sang ibu yang juga ikut menangis haru.
"Baiklah, bagaimana kalau kue rasa cokelat ini? Harganya juga sama kok, cuman dua ratus ribu!" ucap karyawan itu lagi dan akhirnya Cacha mengangguk menyetujui.
Selepas membeli kue, Reina yang takut ketahuan segera pergi ke zebra cross untuk menyeberang.
"Bibi, itukan mama, kok mama ada disini?" tanya Cacha bingung, begitupun dengan Bi Inai.
"Kurang tau non, mungkin nyonya lagi ada urusan!" ucap Bi Inai yang memilih untuk tidak ikut campur.
Namun, tiba-tiba sebuah truk besar dengan kecepatan laju yang tinggi menghampiri Reina, Cacha yang melihatnya pun segera berlari ke arah mamanya.
"Mama!" panggilnya yang berlari sambil memegang bungkus plastik berisi kue ulang tahun itu.
Cacha mendorong mamanya dengan tangan mungilnya, ia lalu terjatuh sedangkan Reina terpental.
"Ahhh!" pekik Reina.
TIIINN!!! klakson truk terdengar keras.
Bumm!! Truk itu menabrak tubuh kecil Cacha,
"Putriku!" teriak Reina.
Banyak orang yang menghampiri tubuh Cacha yang sepertinya sudah rusak akibat terguling oleh ban truk.
"Kasian masih kecil banget!" Ucap salah satu orang.
Reina menghampiri jasad anaknya, ia menangis histeris melihat anaknya yang tergeletak di tanah beserta kue yang sudah hancur itu.
"Hiks...hiks.. sayang, bangun nak! Mama cuma punya kamu, kamu jangan tinggalkan mama nak..hiks" tangis Reina.
Tak kalah jauh dengan Reina, Bibi Inai menatap nonanya itu dengan derai air mata. Ia tidak sanggup melihat tubuh nonanya yang beberapa organnya telah 'terpotong' itu.
*******
"Penyesalan selalu datang di akhir, maka dari itu jangan pernah melakukan sesuatu yang hanya sia-sia saja, pikirkan sesuatu dengan matang. Dan sayangilah mereka yang masih hidup"