Menang dan kalah bukan semudah menaruh bullet di kepala seseorang. Jika kau ingin hidup, maka kau harus bertahan.
=•=•=
1990, Las Venturas
Seorang pria bertatto terlihat sedang menyetir mobil hitamnya. Di tengah hiruk-pikuk kota, dia melintas. Mengabaikan tawa orang-orang yang mengudara, ia hanya fokus kepada satu hal.
"Restreet ... rumah, semuanya telah berubah," ucap pria itu sambil mengambil posisi parkir di depan sebuah rumah kecil. Setelah memberhentikan mobilnya di sana, dia pun langsung membuka pintu dan memperhatikan sekitar.
"Setelah lima tahun, ya, ini memang berbeda." Dia mengembalikan fokus atensi kepada rumah yang ada di depannya. Dengan langkah mantap, dia berjalan menaiki beberapa anak tangga yang sepertinya dipasang oleh rekan-rekannya baru-baru ini.
Dia, Johnson Michael. Setelah lima tahun ia meninggalkan kota ini, akhirnya dia kembali. Dengan alasan untuk memenuhi panggilan dari keempat teman-temannya.
Johnson membuka pintu kayu rumah tersebut. Beberapa orang yang sedang bermain domino adalah objek yang ditangkap oleh netranya pertama kali. Dia melangkah, memangkas jarak di antara dia dan mereka.
"Hei, guys! What's up?" tegurnya memecah keheningan sementara itu.
Seketika, dia menjadi pusat perhatian. Seluruh mata menatap kepadanya, termasuk dua orang yang memunggunginya.
"Wohoooo, lihat siapa yang datang!" Salah satu dari mereka melempar kartu domino yang dipegang, lalu menggebrak meja. Ia berdiri dan menyambut kedatangan Johnson. "Yo, kawan lamaku, JM! Lama tidak bertemu, Bung! Kau terlihat semakin kekar sepertinya ...." Pria berbadan lebar itu merangkul bahu Johnson.
Johnson melepaskan rangkulan 'Kawan lamanya'. Pemilik nama sebutan 'JM' itu hanya menggulung kedua tangan sebagai wujud bahagianya. "Ya, begitulah," singkatnya.
"Hahaha ... kau masih JM yang dulu! Keep up, Man!" teriaknya seraya memberikan sebuah tepukan keras di bagian belakang tubuh JM. Pria gendut ini bernama Leonardo Betramo.
Johnson tidak memberikan reaksi yang berarti setelahnya.
"Oi oi! Karena si bajing*n ini telah kembali, kalau begitu saat ini adalah waktu yang tepat untuk membahas para manusia pecandu itu!" Seorang wanita berambut pendek menyahut dari belakang. Suaranya berat, tubuhnya berttato, dia adalah satu-satunya anggota perempuan dalam kelompok ini. Namanya, Lucy.
Diikuti oleh seorang pria bertopi. Sama halnya dengan Leonard, dia juga melempar kartu dominonya, sembari menanggapi, "Ssshuut up ... biarkan JM duduk dan menikmati asap rokok ini. Jangan terburu-buru, Wanita!"
Dan, pria bertingkah menyebalkan ini bernama Frank.
Lucy mengernyitkan kening, ekspresi wajahnya berubah 180 derajat. "Apa kau baru saja menyebutku 'Wanita', hah? Hei, Shit! Apa kau bosan hidup?" Merasa direndahkan, lantas Lucy pun murka. Baginya, "Wanita" bukanlah ras yang tepat untuknya. Dia lebih suka dipanggil "Bro" dari pada "Sis".
Ia memang berbeda dengan para wanita kebanyakan.
"Hei hei! Sudahi perdebatan bodoh ini!" teriak seseorang dari arah samping, seorang pria berambut ikal dan berkulit hitam. Dialah sang anggota tertua, Robert.
"JM! Syukurlah kau datang, Bung! Kita benar-benar harus bertindak dalam masalah rumit ini. Organisasi Tua itu semakin menjadi sejak kau meninggalkan Las Venturas," ucap Robert sembari sesekali menghisap rokok.
Johnson mendekat, dia menunjukkan wajah bingung. "Ey? Apa kalian kesulitan menghadapi si Tua Bangka itu, huh? C'mon, Man! Kita ini Geng Restreet! Gunakan otak, Bung, OTAK!" Tanpa alasan yang jelas, dia malah meluapkan emosi kepada Robert.
Leonard, Lucy, dan Frank melotot halus. Seolah merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Johnson.
"Hei, JM! Kau–" Lucy hendak menanggapi, akan tetapi Robert memotongnya.
"Sshh ... ini tidak semudah yang kau pikirkan, JM! Sekarang Brelas telah menjadi sebuah organisasi besar. Anggota mereka tersebar di mana-mana ...," lirih Robert sambil berdecak geram.
Johnson memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk mencerna. "Memang, apa yang bisa mereka lakukan? Brelas hanya sebuah geng jalanan, tak peduli berapapun jumlah anggotanya, mereka pasti akan mudah dikalahkan. Ck, apa yang kalian pikirkan, Bung? Ayolah ...!" Johnson menatap Robert dengan serius, tapi kemudian dia menatap ketiga temannya.
Suasana menjadi sunyi senyap, tidak ada tanggapan dari kedua belah pihak. Robert tidak tahan lagi, dia segera mengambil sebuah kertas tebal dari bawah kursi sofa dan melemparnya kepada Johnson.
JM reflek menangkap benda yang dilempar, tanpa tahu pasti benda apa yang dipegangnya.
"Apa ini?" Dia bertanya seraya memperhatikan kertas itu dengan seksama.
Robert berdecak. "Lihat saja," jawabnya singkat.
JM menatap Robert heran, tapi dia tidak terlalu mempedulikannya. Ia membuka lipatan koran tersebut. Tulisan besar yang terpampang jelas di bagian atas membuat rasa penasaran JM memekak.
"Organisasi mafia Brelas telah menyerang gudang senjata negara".
Mengetahui hal itu, JM sontak terkejut. Bagaimana tidak, geng jalanan kecil yang dulunya selalu kabur jika bertemu polisi, sekarang malah membombardir gudang senjata negara.
Terlebih lagi, sekarang tidak ada lagi frasa 'Geng' di depan nama Brelas. Sekarang, hanya ada 'Organisasi mafia Brelas'.
"What? Ini serius? Bagaimana bisa?!" JM melipat kembali koran tersebut dan mencengkramnya kuat.
Robert menghisap asap rokok sambil menggelengkan kepala. "Sshhh ... itulah masalahnya, Sob. Bisnis penjualan narkoba mereka berhasil, jadi ... ya begitulah. Ini dampaknya. Mereka bisa berkembang pesat dalam waktu singkat," ucap Robert menjelaskan.
Lucy menyahut dari samping, "Ya. Dan juga, anggota mereka telah tersebar di mana-mana. Kalau kau perhatikan, hampir di seluruh bagian jalan pasti ada kelompok beberapa orang yang memakai baju putih. Itulah anggota mereka."
Johnson menatap mata tajam wanita itu. Dia bergumam, "Begitu, ya ...."
"Lalu, apa rencana kita sekarang? Apa kita akan menyerang si tua itu sekarang?" lanjutnya bertanya, tapi memberi saran di saat bersamaan.
Robert menggelengkan kepala. "Tidak, itu bukan ide bagus."
"Lalu, bagaimana?" Johnson balik bertanya.
Robert menaruh putung rokoknya, sembari mengucap lirih, "Kita akan menyerang pria tua itu, tapi tidak sekarang. Nanti malam, di saat dia sedang tidur. Kurasa, itu waktu yang tepat."
Lucy kembali memangkas. "Aku setuju."
Leonardo dan Frank tidak menanggapi, mereka hanya diam sambil mengangguk sesekali.
"Baiklah. Mari kita susun rencana untuk melawan mereka!" ujar Robert berantusias.
=•=•=
Malam harinya, para anggota geng Restreet itu duduk dalam satu mobil yang sama. Masing-masing dari mereka telah membawa sebuah senjata untuk meladeni pertempuran.
Johnson sebagai pengemudi mobil mengambil posisi berhenti. Pria itu menghentikan mobilnya di tempat yang jauh dari rumah Mark–sang bos mafia Brelas. Ia menginjak remnya sambil mengawasi keadaan sekitar.
Tidak ada tanda-tanda manusia melintas, kecuali dua penjaga di depan gerbang rumah besar Mark. Johnson membalikkan badan agar bisa menatap teman-teman lainnya.
"Hei, di sana ada dua penjaga. Bunuh atau biarkan saja?" tanya Johnson meminta pendapat.
"Aku tahu, rumah ini dijaga ketat oleh mesin. Terlalu beresiko jika kita menghabisi mereka tepat di depan rumah," saran Robert.
Johnson mengangguk mengiyakan. Dia mengerti. Ia lantas membuka pintu mobilnya, berjalan mengendap-endap ke arah tembok dan bersembunyi di baliknya. Pria itu lalu mengambil sebuah batu yang cukup besar, kemudian melemparnya.
Hal itu menarik perhatian kedua penjaga. Para pria kekar tersebut berjalan menghampiri sumber suara untuk mengecek apa yang terjadi. Tentu saja, mereka juga memegang pistol agar bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Ketika mereka telah sampai di tempat, Johnson langsung menarik pelatuk pistolnya. Hingga membuat keduanya tergeletak karena peluru yang melesat di kepala.
"Nice one, Dude." Lucy memimpin keluarnya empat pemimpin Restreet. Dia memuji Johnson di saat yang bersamaan.
Leonardo datang. "Lalu, apa selanjutnya?" tanya pria gembul itu.
Robert menyulut korek api untuk membakar puntung rokoknya. "Hwuuhh ... hahh ... ya, selanjutnya, kita tinggal selesaikan orang-orang yang ada di dalam pelan-pelan. Kemudian menghabisi Mark."
Johnson menatap mereka dengan tatapan kosong.
Selanjutnya, kelima anggota Restreet itupun bergerak perlahan. Mereka mengendap-endap masuk dan menghabisi para anggota organisasi mafia Brelas, tanpa menggunakan senjata. Tentu saja, mereka tidak ingin meninggalkan jejak.
"Arghhh ...." Suara rintihan kesakitan dari para anggota Brelas bersatu melebur. Menghiasi malam panjang ini.
Lucy melirik Robert. "Di mana kamar Tua Bangka itu? Kita harus segera mencabut nyawanya."
Robert mengedarkan pandangan ke segala arah. "Seingatku, ada di dekat sini. Hmm ... mungkin ruangan terang yang ada di sana! Ruangan itu dijaga," lirih ketua geng Restreet itu seraya menunjuk ke arah ruangan yang dimaksud.
Semua mata mengikuti arah tunjukan jari Robert.
"Baiklah." Lucy menyingkatkan jawabannya, lalu mulai bergerak. Diikuti Johnson, Frank, Leonardo, dan Robert di belakangnya.
Sesekali, mereka berlima bersembunyi di balik pilar besar agar tidak ketahuan. Setelah sampai di dekat ruangan itu, Lucy pun segera melesatkan tembakan tepat ke arah jantung para penjaga.
Ia mampu melumpuhkan mereka dalam waktu singkat. Kemudian menghabisinya.
"Beres."
Lucy memberi kode, membuka jalan untuk rekan-rekannya mendekat. Tanpa perlu pikir panjang, wanita itu segera mendobrak pintu ruangan yang agaknya tidak dikunci.
"Hei, Mark! Kau telah dikepung, tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang!" teriak Lucy menggertak orang di depannya. Tampak, dia telah mengganti senjatanya. Bukan pistol, melainkan senjata jarak dekat.
Lucy menodongkan senjatanya kepada seorant pria tua berambut putih. Dugaannya benar, dialah Mark.
Johnson, Robert, Leonardo, dan Frank datang menyusul di belakang.
Johnson dan Robert segera menodongkan senjata, sama halnya dengan Lucy.
"Akhirnya, aku bisa melihat muka brengsekmu itu, Mark!" Diiringi seringai senyum puas, Robert menggertak.
Sementara, Johnson tidak mengatakan apapun.
Namun, di luar dugaan, Mark yang masih mengenakan baju tidur malah tertawa keras. Ia tertawa di tengah-tengah suasana seperti ini. Johnson menunjukkan mimik wajah keheranan.
"Ternyata Restreet masih ada, ya? Bwahahahaha .... Hei hei, apa kalian ingin pesta narkoba bersamaku atau apa?" Dengan nada suara mengejek, dia menawarkan para petinggi Geng Restreet untuk berpesta narkoba dengannya.
Tentu, sebagai orang-orang yang anti narkoba, Johnson, Robert, dan Lucy membantah keras.
Leonardo dan Frank tidak mengucap sepatah katapun.
"Heh, simpan saja untuk dirimu sendiri. Karena sekarang, kami akan membuatmu merasakan hal yang lebih enak daripada obat-obatan terlarang. Yaitu ... kematian ...," ujar Johnson seraya memposisikan jari telunjuknya di atas pelatuk.
Bersiap mengakhiri hidup Mark.
Tetapi lagi-lagi, Mark tertawa tanpa alasan yang jelas. "Hahahahaha ...! Kalian pikir semudah itu membunuh seorang bos mafia, huh?"
Setelah Mark mengatakan hal itu, tiba-tiba Johnson merasa bahwa seseorang sedang menempelkan pistol di bahunya. Ia berbalik badan dan benar saja, ternyata Leonardo dan Frank sedang mengarahkan pistol ke arahnya dan juga Robert. Kemudian, beberapa orang masuk ke dalam ruangan. Dengan persenjataan lengkap, mereka mengepung para pemimpin geng Restreet.
"Hahaha ... kalian salah. Bukan aku yang akan mati, tapi justru kalian sendiri."
Johnson tidak berkutik sedikitpun. Dia tahu, ini adalah situasi sulit. Pria itu tidak mau dan benci memikirkan kenapa Leonardo dan Frank malah mengarahkan pistol kepadanya.
Apa itu artinya, mereka ini berpihak kepada Mark? Mungkin.
"Kalian sangat bodoh hingga tidak bisa mengenali bahwa Leonardo dan Frank adalah mata-mata. Pfttt, rasanya aku ingin menertawakan kalian sampai besok pagi," lanjut Mark.
Lucy berdecak kesal. Johnson mendesis kesal.
"Jatuhkan senjatamu sekarang juga!" bisik Leonardo meminta Johnson untuk meletakkan senjatanya.
Johnson sedikit berbalik. "Hei, Bung. Kukira kita ini teman, Man. Kenapa kau melakukan ini?" tanya Johnson lirih.
Namun, tidak ada jawaban dari Leonardo. Seluruh rasa kepercayaannya hancur seketika.
Tidak ada pilihan lain, Johnson, Lucy, dan Robert meletakkan senjatanya di lantai. Mereka kemudian mengangkat tangan, menyerahkan diri agar tetap kembali dengan selamat.
"Bagus, bagus. Aku suka wajah-wajah kalian yang terlihat sangat putus asa ini. Apalagi kau, Lucy, Darling. Hahahahah ...."
"Cih." Lucy memendam seluruh amarahnya dalam hati, dia tidak mau harga dirinya jatuh lebih dari ini.
Karena tidak mau terjebak dalam situasi seperti ini lebih lama lagi, Johnson pun segera memutar otak. Mencari cara agar dia bisa keluar dari tempat neraka ini.
Membuang seluruh memori bahagia, otaknya hanya terisi bagaimana cara dia agar bisa keluar.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya pria itu menemukan cara.
"Eh! Halo, Mama!" teriak Johnson sambil melambaikan tangan ke depan. Seluruh perhatian otomatis tertarik ke arah 'Mama'.
Ketika mereka lengah, Johnson segera meraih senjatanya dan menembaki seluruh orang yang ada di depannya. Beruntung, tembakan asal-asalan Johnson berhasil mengenai tubuh Mark dan melumpuhkan beberapa anggota Brelas.
"Arghhh ...." Mark memegangi bagian yang terkena tembakan.
Johnson tidak memedulikan hal itu, dia segera menabrak Leonardo dan Frank untuk membuka jalan, sembari berteriak, "Lucy! Robert! Cepat lari dari sini!"
Dia memperingatkan Lucy dan Robert.
Mendengar ajakan tersebut, Lucy dan Robert segera berlari meninggalkan ruangan luas tersebut.
Akan tetapi, semua belum selesai. Para anak buah Mark masih menembaki Johnson dan kawan-kawan. Bahkan, mereka juga sanggup mengejarnya.
"Sial." Johnson menatap ke belakang dan melihat bahwa masih ada sekitar sebelas orang yang mengejarnya.
Johnson menuntun Robert dan Lucy untuk bergerak menuju gerbang keluar.
Matanya menangkap secercah cahaya dari balik gerbang. Seperti kumpulan cahaya lampu mobil.
Beberapa orang berbaju hijau masuk ke dalam rumah.
"Itu ...," lirih Johnson berpikir sejenak.
"Bos, maaf kami datang terlambat."
Benar, mereka adalah anggota Geng Restreet. Walau Restreet adalah geng kecil, tapi nyatanya mereka memiliki sekitar seratus anggota di dalamnya.
Dan, sebelum mereka ingin melaksanakan misi ini, Robert meminta para anggota Restreet untuk datang ke rumah Mark.
"Syukurlah kalian datang. Kalau begitu, sekarang kita bisa menghabisi mereka dengan cepat. Hah ...," ucap Robert sembari mengatur napas.
Johnson menghentikan langkahnya. Dia berbalik, bersiap membidik seluruh anggota Brelas yang tersisa. Sekaligus menghabisi Mark.
"Ah, sial. Aku lupa senjataku." Lucy kesal.
"Ini, Miss." Salah satu anggota Restreet memberikan sebuah senjata yang sama dengan milik Lucy.
"Oh, makasih."
Ketika melihat ada banyak anggota geng Restreet di belakang, mendadak para anak buah Mark menciut. Mereka berhenti melangkah dan akhirnya berlari menyelamatkan diri. Termasuk Leonardo dan Frank.
Bahkan, mereka meninggalkan Mark yang masih memegangi bagian dadanya.
"Baiklah. Mari akhiri ini!" Johnson memberi aba-aba. Ia mengajak semuanya untuk segera mengakhiri pertarungan malam ini.
=•=•=
Singkat cerita, para anggota Restreet berhasil menaklukan bos mafia Brelas. Mereka sekarang berkumpul di depan jasad Leonardo dan Frank, serta Mark yang tampaknya masih bisa bernapas, meski tersendat.
Johnson mengarahkan senjatanya ke arah kepala Mark, bersiap untuk membuatnya meregang nyawa. Tapi, Robert mencegahnya.
"Jangan, JM. Dia sudah mati," ungkap Robert dengan tangan yang menghalangi senjata JM.
Johnson pun mengurungkan niat membunuh itu. Ia menarik kembali tangannya.
"Akhirnya, semua selesai. Aku tidak tahu, akan serumit ini jadinya," ujar Lucy sambil menghela napas.
"Ya, begitulah. Kita mampu melawan batasan, nice job, JM! Jika bukan karenamu, mungkin kita tidak bisa merasakan kesenangan ini," sambung Robert dengan suara yang terdengar lelah.
"Thanks, Man." Johnson menanggapi, tapi tidak menatap mata orang yang memberi pujian.
Robert berbalik, menatap seluruh anggota geng Restreet. "Semuanya! Saat ini kita telah berhasil melakukan misi dengan sempurna, untuk merayakannya, mari kita adakan pesta di rumah!"
"Ya!"
"Pesta? Apa kau serius, Bung?" tanya Lucy tak percaya.
Robert menepuk bahunya pelan. "Ini adalah hadiah untuk kita sendiri. Ingatlah, sekarang aku menjadi orang kaya kau tahu. Hahaha ... ayo semua!" Robert dan semua anggota geng Restreet bersorak-sorai karenanya. Mereka berteriak beriringan, meneriakkan nama Restreet.
"Hei, JM! Ayo rayakan kemenangan ini!" Lucy mengajak Johnson.
"Iya." Johnson menjawab singkat.
Lucy berjalan menuruti Robert dan Restreet. Sementara JM masih di tempat yang sama. Dia berjongkok, menatap ketiga mayat musuh-musuhnya.
"Selamat tinggal, Pecundang ...!" ungkap JM seraya meludahi ketiga jasas penuh darah itu.
=•=•=
Sesampainya di rumah, JM dan kawan-kawan benar-benar mengadakan pesta. Mereka memesan ratusan pizza dengan uang yang dirampas dari brankas Mark.
"Akhirnya, semua selesai," ucap Lucy dengan mulut yang mengunyah satu potong pizza penuh.
Johnson menggelengkan kepala. "Nah, kita belum mengalahkan semuanya. Masih ada urusan anggota-anggota Brelas yang banyak itu. Lalu di San Viero, Los Santos, San Viela, masih banyak geng yang harus dikalahkan. Ini semua tidak akan pernah berakhir," tambah pria itu.
Robert menyela, "Tenang saja. Kalau urusan anggota Brelas itu, kita tinggal peringatkan saja mereka bahwa pemimpin mereka telah tewas. Kemudian, kita hanya perlu meminta mereka menjadi anak buah kita. Simple, Man."
Johnson merenung, dia berdiri dari posisi duduknya. Berjalan menuju pintu luar rumah.
"Hei, kau mau kemana?" Robert bertanya.
JM hanya memberikan jawaban singkat, "Aku ingin mengecek keadaan luar."
Tanpa memberi kata-kata lagi, JM melangkahkan kaki keluar. Terlihat, malam semakin larut. Karena ini masih jam 2 malam.
Ia menatap ke arah langit. Johnson masih tidak percaya bahwa Leonardo dan Frank mengkhianatinya. Namun, akhirnya dia tahu.
Menang dan kalah bukan semudah menaruh bullet di kepala seseorang. Jika dia ingin hidup, maka dia harus bertahan.
~Tamat~