Namaku Bara Mahendra, hari ini aku akan menikah dengan perempuan pilihan dari ibuku, namanya Aira Maharani wajahnya tidak terlalu cantik tapi cukup manis.
Sebenarnya aku menolak keras pernikahan ini, namun ibuku memaksa dan bilang bahwa dia berhutang pada Aira, padahal Aira adalah karyawan ibuku di restoran. Disaat ku tanya ibuku berhutang apa, dia tidak mau memberitahuku dan malah menjawab "biarkan saja itu menjadi rahasia".
Kini Aira telah sah menjadi istriku, tapi aku sama sekali tidak mencintainya, karena aku masih mencintai kayla, mantan pacarku sebelum ibuku memaksaku memutus hubungan dengannya dan menikahkanku dengan Aira.
.
.
.
.
Kini sudah satu bulan kami menikah, tapi aku masih tidak pernah menghubunginya selayaknya suami pada istrinya, bahkan dalam sehari-hari aku acuh dan tidak peduli kepadanya.
Aku sudah membeli rumah untukku dan Aira tempati setelah satu minggu kami menikah, meskipun tidak terlalu besar tapi cukup untuk kami.
Hari ini ibuku bermalam dirumah kami.
Disaat aku pulang kerja, aku masuk kedalam kamar dan mendapati Aira dengan penampilan yang berbeda, dia menjadi jauh lebih cantik dari dia yang sebelumnya,sehingga membuat jiwa kelelakian ku membara. Dan terjadilah apa yang seharusnya sudah lama terjadi.
.
.
.
.
Dua bulan kemudian, saat aku sudah selesai sarapan dan akan pergi ke kantor, aku mendapat kejutan dari Aira, dia memberiku tespek dengan dua garis merah.
"berarti usia kandungan kamu sudah dua bulan" tanyaku datar.
"iya mas" dengan wajah penuh kebahagiaan aira melihatku.
Aku tersenyum mendengar sahutan dari Aira, tapi segera kututupi dengan wajah datarku,kulihat wajah Aira sebelum aku pergi, nampak terlihat kekecewaan disana.
Yah, setelah malam yang panjang itu aku masih bersikap seperti sebelumnya, acuh dan tidak peduli pada Aira.
.
.
.
.
Kini usia kandungan Aira sudah menginjak lima bulan, dan hari ini adalah jadwal pemeriksaannya.
Tadi pagi aku sudah berjanji padanya bahwa aku akan mengantarnya kedokter untuk memeriksa kandungannya.
Hari ini Aira akan melakukan usg pada kandungannya, dan ternyata anak yang ada didalam rahimnya berkelamin laki-laki, sesuai dengan apa yang aku inginkan selama ini.
.
.
.
.
Kini perut Aira semakin buncit dan usia kandungan didalam perutnya sudah berusia tujuh bulan setengah dan hari ini adalah jadwa dia pergi kedokter.
Namun berbeda, kali ini aku tidak bisa mengantarnya karena aku ada meeting, jadilah Aira pergi kedokter kandungan sendiri menggunakan taksi.
Disaat aku pulang kerumah teenyata sudah ada ibuku menunggu di ruang tamu.
"assalamualaikum"
"wa'alaikum salam, kenapa tadi kamu biarkan Aira pergi kedokter sendiri?" dengan wajah marah ibuku langsung menanyaiku bahkan sebelum aku duduk.
"tadi aku ada meeting bu" sahutku dengan santai sambil mendudukkan diri ke sofa.
"seharusnya kamu tunda dulu meeting kamu, istri kamu itu lebih penting, kondisi dia sekarang sedang hamil besar, kamu tau itu Bara, tidak seharusnya kamu membiarkan istri kamu yang sedang hamil besar seperti itu pergi sendiri" panjang lebar ibu menasehatiku, sedangkan aku hanya menunduk mendengarkan.
"gak apa-apa bu, aku bisa kok pergi kedokter sendiri"
Aku menoleh saat mendengar suara Aira yang baru datang dari dalam.
"gak Aira, suami kamu ini harus dikasih tau, kalo enggak dia nanti akan mengulanginya lagi"
Setelah panjang lebar nasihat dari ibu, akhirnya ibu memutuskan untuk membawa Aira kerumahnya.
.
.
.
.
Kini sudah tiga minggu ibuku membawa Aira kerumahnya, itu artinya usia kandungan Aira sudah berusia delapan bulan lebih.
Saat pagi pukul jam tujuh aku memutuskan untuk pergi kekantor lebih pagi dan akan sarapan diluar. Namun baru masuk kedalam mobil handphone ku sudah berdering. Ku lihat nama sipemanggil, tertera tulisan ibu, segera kuangkat panggilannya.
"Bara, kamu cepat kerumah sakit, istri kamu pendarahan, tadi habis solat subuh dia jatuh dari tangga, cepetan kamu kesini" terdengar suara cemas dari seberang telepon.
"iya bu, aku langsung kesana bu" dengan perasaan berkecamuk khawatir aku langsung melajukan mobilku.
Sesampainya aku di rumah sakit, aku langsung berlari masuk kedalam dan disaat didepan ruangan operasi Aira, aku sudah menemukan ayah serta ibu Aira juga ibuku, mereka tengah duduk menunggu dengan cemas.
Dengan segera aku temui ibuku serta orang tua Aira.
"gimana keadaan Aira, dia baik-baik aja kan, anak aku sudah lahir, mereka selamatkan?" dengan cemas aku bertanya pada mereka.
"kita do'ain saja semoga mereka berdua selamat" sahut ayah Aira menepuk bahuku.
Aku terdiam sesaat, kemudian duduk disamping ibuku.
"ibu harus ceritain sekarang, tentang hutang ibu sama Aira dulu" ucapku datar menatap lantai.
Ibuku menoleh melihatku.
"baik ibu akan ceritakan, jadi dulu itu disaat ibu sedang menuang air mendidih baru matang, tangan ibu tergelincir dan air yang baru ibu angkat itu akan mengenai lengan ibu, tapi Aira segera menarik ibu dan jadilah tangan dia yang terkena air panas. Jika saja ibu yang terkena air panas itu, maka lukanya pasti akan sangat sulit lagi untuk disembuhkan, larena kamu tahu sendiri tentang penyakit diabetes ibu"
Deg
Ternyata seperti itu kejadiannya, aku menyesal telah acuh dan tidak peduli pada Aira selama ini.
Tak lama setelah itu terdengar suara tangisan bayi.
Kemudian aku segera berdiri saat melihat seorang suster keluar dari ruangan operasi dengan membawa bayi yang aku duga itu adalah anakku.
"selamat pak anaknya laki-laki"
Segera kuhampiri suter yang sedang menggendong anakku. Setelah aku sudah selesai mengazani anakku, aku segera menanyakan kabar Aira.
"keadaan istri saya bagaimana dok"
"istri bapak masih belum sadar pak, karena efek obat yang kami kasih"
.
.
.
.
Setelah suster tadi kembali mengambil anakku dan membawanya untuk dimandikan, Aira pun dipindahkan dari ruang operasi menuju ruang rawat inap.
Kini aku tengah duduk disamping nakas Aira, sambil mengelus-elus lembut kepalanya.
"Aira, sayang bangun, anak kita udah lahir" ucapku lirih lalu ku kecup kening Aira.
Setelah itu aku kembali duduk sambil memegangi tangan Aira yang masih memakai infus.
Cukup lama aku memegangi tangannya sampai aku mendengar suara lemah memanggiku.
"Mas Bara" aku melihat ke wajah Aira yang melempar senyum manisnya kearahku.
"iya sayang, anak kita udah lahir, dia laki-laki". Aku kecup lembut tangan Aira.
"kamu mau ngasih dia nama apa sayang? " tanyaku menatap lekat wajah Aira yang masih pucat pasi.
Kreeet
Terdengar suara pintu terbuka, aku menoleh kearah pintu sebentar, ternyata ibuku dan orang tua Aira, lalu kembali melihat kearah Aila.
" Rahim, aku mau ngasih dia nama Rahim mas"
"Muhammad Rahim Mahendra, nama yang bagus sayang, aku janji bakal jaga kamu sama dia"
"jaga anak kita baik-baik mas"
"laailaahaillallah"
Kemudian Aira menutup mata.
"Aira, kamu kenapa sayang" panggilku cemas.
Kemudian aku berlari keluar memanggil dokter.
.
.
.
.
Setelah dokter keluar dari ruangan Aira, aku beserta ibuku serta ayah dan ibu Aira menghampirinya.
"gimana istri saya dok" tanyaku dengan nada khawatir.
"maaf pak istri napak sudah berpulang"
"inna lillahi wa inna ilaihi raajiun" ucap kamu berempat serempak kemudian aku langsung masuk kedalam ruangan Aira diikuti ibuku serta ayah dan ibu Aira.
"Ya Allah, Aira kamu bangun sayang, aku masih butuh kamu, anak kita masih perlu kamu" ucap ku meneteskan air mata dengan ibuku yang terus menwnangkan ku.
Orang bilang, jika perempuan menangis kehilangan seseorang, maka dia benar-benar mencintai orang tersebut, dan jika laki-laki menangis karena kehilangan seseorang, maka itu artinya dia tidak akan pernah menemukan orang yang lebih baik dari orang tersebut.
Jika saja bukan karena Rahim, maka aku bisa sudah menjadi orang yang tidak tahu jalan, tapi karena Rahim lah aku harus bertahan.
.
.
.
.
Kini usia Rahim sudah menginjak satu tahun, itu artinya Aira sudah meninggal satu tahun juga.