Jika bagimu surga istri ada di tangan suami.
Jika bagimu rezeki suami ada pada istri.
Jika bagimu pahala istri ada di tangan suami.
Jika bagimu, surga istri ada pada patuhnya istri terhadap suami.
Lalu di mana sakitnya hati seorang istri yang di bohongi suami?
Tau kah kamu, sakitnya hati istri kala ucapannya tidak lagi di dengar??!
Tau kah kamu, sakitnya hati istri saat di beri pilihan, antara orang tua yang lagi sakit dan suami yang minta di temani di rumah??
Tau kah kamu, sakitnya hati istri saat tau suaminya berkata mesra, melakukan kontak fisik dengan wanita lain?
Tau kah kamu, sakitnya hati istri saat tau di bohongi?
Dimana perasaan mu?
Dimana hatimu?
Aku mengalah bukan berarti kalah, aku mengalah hanya untuk suasana rumah tetap adem tanpa ada pertengkaran.
Aku mengalah, aku berusaha memberi pengertian pada orang tua akan posisi ku.
Dimana pengertian mu akan sikap sebagai menantu?
Jangan kau lihat seseorang dari perkataan yang membuat luka hati mu.
Tapi lihat ia dengan apa yang sudah ia lakukan terhadapmu!!!
Jika orang lain yang ada dalam posisinya, belum tentu ia akan membuka tangan untuk mu.
Beri kesempatan untuk yang menyakiti, memperbaiki luka di hati.
Betapa sesak dadaku saat kau terus ucap hal buruk di mata mu tentang mereka, mereka yang telah berbuat banyak untuk ku!!!
Tau kah dirimu? Betapa sakit badanku saat harus menerima suhu dingin yang ku peroleh dari sikapmu? Jantung ku berdetak dengan cepat, bukan karena jatuh cinta, tapi lebih mengacu pada jalan mana yang harus aku pilih anatara dirimu dan mereka..
Sadarkah dirimu, saat perkataan dan tindakanmu yang menyakiti hati ku?
Sadarkah dirimu, saat hidup bersama mu, dengan apa yang sudah kau beri baik itu tangis bahagia dan tangis duka, dirimu yang merubahku, merubahku menjadi orang lain, merubahku menjadi diriku yang lain, hingga aku tidak lagi mengenali diri ku!!!
Bahagia yang ku harapkan dari mu, kini mahal sudah jika menyangkut akan hati.
Biar ku balut luka hati ku sendiri dengan kehaluan yang entah sampai kapan ujungnya.
Lelah ku katakan, tidak ada lagi kata yang mampu melukiskan.
Senyum, harus senyum yang seperti apa yang kau tuntut dari ku?
Jika hati yang secerah mentari, telah lama kau nodai dengan kebencian..
Aku lelah harus berpura di hadapan mu.
Aku bukan lah dirimu.
Yang mampu manis di depan orang banyak.
Pahit yang kau katakan saat bersamaan dengan ku.
Aku lelah, lelah yang tak berujung.. jika bersama dengan pemikiran mu.
Jika aku mampu, mungkin aku akan datangi dokter spesialis saraf, agar bisa membelah otakku merubah menjadi apa yang diri mu mau, biar diri mu puas, membuat ku mati rasa.