Masih terduduk,aku mendengar makian nya.Sambil menahan amarahku,dengan linangan airmata yang seperti tak pernah surut.Selalu seperti ini,aku seperti tak berdaya.
Sebelum nya aku membawa putri kecilku ke ruangan lain.Tak ingin mata dan telinga mungil nya melihat dan mendengar kedua orang tua nya bertengkar.
Masih dengan kata-kata yang menyayat hati.Seolah aku tak berharga di mata nya.Rasa nya percuma aku menuntut ia untuk sekedar menghargai aku sebagai istri nya.Tak kan pernah ia memahami perasaan ku,yang hanya ingin di perlakukan selayak nya seorang istri.
Meski aku turut membantu keuangan keluarga kami,itu tak berpengaruh pada pandangan nya terhadapku.
Aku seperti wanita tak berguna.Begitu lah perasaan kala ia selalu menyakiti hati dengan kata-kata nya.Membandingkan aku dengan orang lain,yang bisa sukses menjalankan bisnis.
Apalah aku,yang hanya menjalankan usaha kecil-kecilan demi uang jajan kedua anakku.Tak lebih,tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang serba mahal pada zaman sekarang ini.
Tapi aku ikhlas menjalani nya,meski tak pernah ada arti nya di mata sang kepala keluarga.
Aku terduduk sambil terus mengusap air mataku.Hati ku bagai di iris-iris mendengar setiap kata yang keluar dari bibir nya.
Aku tak pernah berani untuk melawan nya,setiap kali aku membantah kata-kata nya.Hal yang tak mengenakan akan terjadi.Aku tidak ingin tetangga pun mendengar pertengkaran kami.
Tapi apalah aku,hanya manusia biasa.Kala emosi pun menerusup ke sela hati ku.
Ku ambil sebilah pisau yang tergeletak di meja.Ku sodorkan pada nya.Ia terperanjat melihatku memberikan sebilah pisau itu pada nya.
"kau sudah gila?".Bentak nya.
"Ini..ambilah.Bunuh aku,jika aku hanya menjadi beban hidupmu.".Ujar ku,sambil terus ku usap air mata ku.
Dia terdiam.
"Jika bunuh diri tidak membuat ku kekal di neraka,sudah ku lakukan sedari dulu."Ucapku lirih.Hati ku gemetar,Ya Allah maaf kan aku.
"Kau memang tidak pernah mengerti.Percuma bicara padamu".Ucapnya gusar.
Ku paksa dia untuk memegang pisau itu.
"Ayo cepat,bunuh aku".
Dia mengambil pisau itu dan melempar nya keluar.
"Kenapa kau membuang nya?bukan kah aku hanya beban hidupmu?kenapa kau ragu untuk melakukannya?".ujar ku masih gemetar.
"Apa yang kamu mau?"Tanya nya.
"Aku akan menghidupi anak2 ku sendiri.Aku tidak akan membebanimu lagi".Sahut ku tanpa ragu.Kekecewaan ku saat itu sudah memuncak.Aku tau perkataan ku itu salah.
Bagaimana aku bisa menghidupi mereka?bagaimana?
Tapi aku yakin,bahwa setiap orang sudah memiliki rezeki nya masing-masing.Aku tidak takut.
Dia terdiam sejenak.
"Baiklah,aku akan lihat.Sejauh mana kau sanggup menghidupi anak-anak.Memang nya kau bisa apa?".Ucap nya lagi-lagi menusuk batin ku.
"Aku pasti bisa menghidupi mereka.Aku pasti bisa"Ujarku,sambil ku usap kasar pipiku yang basah.
"Silahkan.Aku mau tau".ucap nya,lalu pergi meninggalkan ku.
Aku terkulai lemas.Apa kah keputusan ku ini benar ya Allah.Lirih ku dalam hati.
*
My name is Vallery,call me Vale.
Aku di lahirkan di keluarga sederhana.Ayah ku hanyalah pensiunan pegawai biasa.Dan ibuku seorang ibu rumah tangga.
Jalan hidupku amatlah rumit.Aku yang bodoh dan polos kala itu,harus menerima keputusan kedua orang tuaku.Yaitu menikah di usia muda.
Aku meratapi nasib ku bertahun-tahun.Aku ingin seperti teman-teman ku.Melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi,atau mungkin bisa bekerja untuk membanggakan kedua orang tua.Tapi aku tau,jalan cerita ku tidak lah selurus jalan cerita kebanyakan orang.
Aku tau,semua ini adalah takdir yang harus aku terima.Hingga sang penguat batin ku harus berpulang ke pangkuan ilahi.
Selamat jalan 'Ibu'.Aku akan merindukan setiap belaian kasih sayang mu.Aku akan merindukan setiap nasihat mu,kau lah penguat disaat aku merasa letih.Doaku selalu untukmu bu..
Kini,aku tak tau pada siapa aku mampu berbagi.Aku tak mau membuat keluarga ku malu karena rumah tangga ku yang seperti ini.Belum lagi gunjingan orang-orang yang akan selalu menusuk di telinga.Seolah mereka adalah hakim yang paling benar.Biarlah,aku tak peduli.
Aku harus berusaha bagaimana aku bisa membuktikan pada suamiku.Bahwa aku tidak selemah yang ia fikirkan.
Aku melanjutkan hidupku,ku kesampingkan dulu rasa pedih ku.Aku tak ingin anak-anak ku selalu bertanya kenapa aku menangis.
"kenapa mama nangis terus ma?"Tanya putri kecilku.
"Ga apa-apa sayang,mama cuma kelilipan"ujar ku sambil melukis senyum yang memang ku paksa kan.
Anak-anak ku tau,tidak mungkin setiap saat mama nya kelilipan kan.
Aku tersenyum kala mengingat nya.Tapi aku bingung alasan apa yang harus aku berikan pada mereka,biarlah.
Setiap hari aku mengirim pesanan ke langganan ku.Dan aku bersyukur setiap hari pesanan pun. bertambah.Aku juga mulai menawarkan beberapa produk kecantikan.Dan Alhamdulillah lumayan membantu keuangan ku.
Aku memotivasi diri ku "come on Vale.. kamu pasti bisa,semangat".
Beberapa orang mulai bertanya mengenai masalah rumah tanggaku.Entah dari mana mereka tau.Anggap saja mereka adalah para normal.
Aku hanya menanggapi senyum saja pertanyaan mereka,meski sedikit getir.
"Hufh!!".Hela ku.
Ku buka media sosial ku."Ah...sudah di block".
Pasti suami ku yang melakukannya.
Ya sudah lah,Aku pun membuka akun baru.
Ada seseorang yang mencoba berkenalan dengan ku,dia mengetahui nomer telepon ku.
"Ah aku lupa,sebaiknya aku tidak mencantumkan nomer handphone ku".
Tapi pria itu terlanjur mengetahui nya.Kami sering mengirim pesan.Dia seorang pengusaha,dia memintaku untuk menikah dengan nya.
Ah ini terlalu cepat,pikirku.Hubungan ku dengan suami ku pun belum jelas.
Tapi hubungan kami tidak berlangsung lama,kami berpisah hanya karena masalah sepele.
"Ya sudah lah".Aku sedih,tapi aku tak mau berlarut-larut.Ada kedua anakku yang membutuhkan ku.
Akun baru ku terus memunculkan banyak permintaan pertemanan.Di dominasi para pria.Entah lah,aku hanya menghibur diriku.Tak ingin terus tertekan dengan masalah pelik yang aku hadapi di rumah tanggaku.
Aku mengikuti beberapa grup kajian islam.Berharap mampu menenang kan batin ku.
Hingga satu akun sering mengirimi aku pesan.Dan aku harus membalas nya dengan menggunakan bahasa inggris.
"Yah baiklah,anggap saja aku sedang kursus"Ucap ku sambil tersenyum simpul.Aku mulai melupakan pedih nya masalah hidupku.
Dia membuatku nyaman,tapi aku sering merasa kesal pada nya.Aku tidak yakin jika aku juga menyukai pria itu.
"Tidak mungkin aku secepat ini menyukai nya".
Tiba-tiba aku melihat postingan salah satu teman medsosku.Nama nya Rendhi.
Aku sedikit tertarik pada beberapa kata-kata nya yang muncul di beranda ku.
"Dia seperti nya orang yang menyenangkan".Gumam ku.
Aku memberanikan diri untuk menyapa nya melalui pesan inbok.
Tidak ada maksud apapun,aku hanya ingin berteman dengan nya.
Dan tanggapan nya pun santun,dan aku merasa nyaman kala itu.
Dengan tak malu nya,aku menceritakan masalah dengan seorang pria asal Arabia yang sedang dekat dengan ku.
Kami pun sering berbalas pesan.
Tapi suatu hari,aku mengetahui bahwa pria asal arab itu sudah berkeluarga.Dan aku pun meninggalkan nya.Meski pria itu memaksa ingin menikahiku.Tapi 'Tidak'.Aku menolak nya keras.
Aku pun bercerita mengenai hal itu pada Rendhi.Rasa nya nyaman sekali.Dia tidak pernah sekali pun menanyakan perihal statusku.
Hingga suatu waktu Rendhi mengirim kan beberapa bait lagu.Dan di akhir lirik nya,seperti dia berharap bisa menjadi pengganti pria yang pergi itu.
Aku hanya tersenyum melihatnya.Aku tau maksud nya,tapi biar lah.Aku tidak ingin memberi harapan apapun pada Rendhi.Aku tidak ingin membuatnya kecewa.
Aku berusaha tidak memberikan respon apapun pada nya.
Hingga,kami pun semakin dekat,meski hanya melalui pesan.Aku merasa nyaman setiap kali mengobrol dengan nya.
Dia selalu hadir di setiap postingan ku.Aku selalu tersenyum di buat nya.
"Kakak aku suka sama kakak,love you kak".Begitulah kira-kira pesan yang ia kirim pada ku.Aku pun bingung kala itu.Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat.Atau adik,begitulah.Tak ada rasa cinta pada nya,tapi aku tidak tega jika menolak nya.Aku sangat nyaman bisa mengenal nya.
Aku selalu mencoba mengalihkan pembicaraan.Selalu seperti itu.
Suatu saat ia jatuh sakit.Dan aku mendengar kabar yang tidak enak dari nya.
"Ada apa dengan nya ya?"Tanya ku dalam hati.Aku.mulai gusar dan tidak tenang.
Aku yang saat itu sedang mengirim beberapa pesanan pun merasa sangat khawatir.Aku bahkan sampai menangis.
"Ada apa dengan ku?"Tanya ku dalam hati.
Beberapa malam kemudian,aku selalu bermimpi tentang Rendhi.Selalu memikirkan nya.
Sampai suatu waktu,dia pun mengutarakan perasaan nya lagi.Lagi dan lagi.
Aku mulai berfikir.
"Apakah benar jika aku menerima cinta nya?sedang statusku pun belum jelas.Bagaimana aku harus menjelaskan pada nya."
Aku terus memikirkan nya.Logika ku pun berhenti.
"Aku akan menerima nya"Ucap ku dalam hati.
Jika ia bertanya,akan aku beritahu semuanya.Tapi aku tidak akan memberikan harapan apapun padanya.
Aku tidak ingin dia kecewa.Aku harus membatasi perasaan ku.Dan membatasi dia.
Terus ucap ku dalam hati.
Akhirnya aku menerima Rendhi menjadi kekasihku.Meski keraguan menyelimutiku.
Aku sangat bahagia bila bersama nya.Tapi aku tidak mau membuat cinta nya semakin dalam padaku.
Aku membatasi komenanku saat membalas nya.Mungkin dia merasa aku mengabaikan nya.Tapi sungguh aku sangat bahagia kala itu.Mendapatkan perhatian-perhatian kecil yang sangat berarti bagiku.
"Ya Allah.. aku takut melukai hati nya.Maaf kan aku ya Allah.Salah kah aku bila mencintai nya".lirihku dalam doa.
"Kak,udah makan belum?"Tanya Rendhi setiap waktu.Pertanyaan yang hampir tidak pernah aku dengar dari suamiku.Semenyedihkan itu diriku.Hahaha!!
Setiap waktu aku harus menjawab pertanyaan anak-anak ku.
"Papa mana mah?kok ga pulang-pulang?".
Aku harus mencari jawaban meski harus membohongi mereka.
"Dek,kamu gimana sama suami mu?kamu yakin mau berpisah?"Tanya kakak ku kala berkunjung kerumah.Aku hanya terdiam dan mengangguk perlahan.
Ku dengar helaan nafas kakakku.
"Maafin Vale kak,Vale udah ga sanggup lagi.Batin Vale selalu tertekan.Vale ga bahagia".Ucap ku sambil terus menangis,ku peluk erat kakak pertama ku itu.Aku tau,dia sangat menyayangi ku.
"Itu hak mu dek,kalo memang itu keputusan mu,kita adain rapat keluarga ya?".ujar nya lagi sambil mengelus punggungku.
Aku mengangguk perlahan.
Rapat keluarga pun usai.Tapi masalah kami belum jatuh ke ranah hukum.Suami ku tidak mau menjatuhkan talak.
Beberapa minggu berlalu,kakakku datang lagi berkunjung,dia khawatir dengan keadaan ku.
"Dek,kalo kamu butuh apapun bilang kakak ya"Ucap nya.Aku hanya mengangguk sambil tersenyum pada nya.Aku tau,selama ini aku sudah banyak merepotkan nya.
"Kak,"ucapku.Aku ingin menceritakan perihal hubungan ku dengan Rendhi.Meski aku sangat ragu.
"Ada apa dek?cerita aja".
Dengan keraguan yang begitu besar,aku pun menceritakan nya.
"Aku deket sama seorang pria kak".Ucap ku terbata.
Kakak ku terkejut.Dia mengerut kan kening nya.Aku diam membisu.
"Kau memang sudah berpisah dengan suamimu,tapi hubungan kalian belum berpisah secara hukum.Suami mu tidak mau menjatuhkan talak.Jadi kamu yang harus mengajukan ke pengadilan.".Tegas kakakku.
"Jadi,bagaimana kak.".Tanyaku ragu.
"Sabarlah dulu,jangan memberikan nomer mu pada nya ya,atau pada laki-laki manapun.Jangan menambah keruh suasana.Kakak ga mau kamu yang di salah kan nantinya."Ujar kakakku lagi.
Aku hanya mengangguk kan kepalaku.
"Hufh!".
Aku dan Rendhi hanya melakukan panggilan. telpon melalui pesan messenger.Setiap kali mendengar suara nya,hati ku terasa nyaman dan tenang.
"Ya Allah,apakah Rendhi adalah pria yang kau takdirkan untukku?apakah dia yang akan menjadi pangeran syurgaku kelak?".
Suatu waktu,ayah ku yang memang tinggal bersama kami,mendengar percakapan aku dan Rendhi di telpon.
"Vale.."Panggil ayahku.Aku sedikit gemetar.
"Ya Ayah".Sahutku menghampiri nya.
"Telpon sama siapa?"Tanya nya,bagai gelegar petir di telingaku.
Aku hanya terdiam.
"Persoalan mu dengan Hendri belum selesai.Ayah ga mau mendengar kamu menjalin hubungan dengan pria manapun.".Tegas nya,membuatku memejam kan mata,menahan kebingunganku.
"ya Ayah".
Setiap kali aku,akan menghubungi Rendhi,aku harus menunggu anak ku tertidur atau pergi bermain,juga ketika Ayahku tidak berada di rumah.
Aku bingung setiap kali memberikan penjelasan pada Rendhi.Tapi untung lah dia tidak pernah menekanku.Semoga dia benar percaya.
"Maaf kan aku dhii".
Hubungan kami berjalan baik,meski sering ada kesalah fahaman.Tapi kami selalu kembali baik.
Aku merasa hidup ku kembali hidup.Aku bahagia bila bersama nya.
"Ya Allah,benarkah aku mencintai nya,bagaimana jika ia mengetahui statusku yang beranak dua.Apa ia akan kecewa dan meninggalkan ku?.Aku takut dia kecewa ya Allah.Tapi aku sangat mencintai nya sekarang.Bagaimana ini?"Lirih ku dalam doa.
Sedari awal,dia tidak pernah bertanya apapun mengenai status ku,membuatku ragu untuk jujur padanya.
"Aku takut dia kecewa,tapi dia harus tau.Biarlah nanti akan aku ceritakan padanya".Gumamku dalam hati.
Ketakutan ku akan kehilangan nya semakin besar.Bagaimana jika ia meninggalkan aku.
"Sayang,aku minta nomer handphone mu".
Tanya Rendhi.Membuat ku panik.Aku sudah berjanji pada kakak ku.
"Bagaimana ini?"gumamku dalam hati.
Penjelasan yang ku berikan pada Rendhi membuatnya salahfaham.Dan menambah kebingungan ku.Akhirnya aku pun memberikan nomer ku padanya.
"Maaf kak".lirih ku dalam hati.
Di mulai hari itu,aku sering menghubunginya.
"Maaf ya dhii,tolong jangan telpon duluan.Biar aku yang menghubungi mu lebih dulu".Ucapku.Untung nya dia mengerti.
Suatu hari,penyakit ku mulai kambuh,aku mulai jarang menerima pesanan.
"Gimana bisa kamu hidupi anak-anak?"Tanya Mas Hendri lantang.Membuat batin ku terhenyak.
"Aku pasti sembuh.Aku pasti bisa menafkahi anak-anak".Ucapku sambil menahan sakit di kepalaku.
Keuangan ku mulai kacau.Karena aku tidak menerima pesanan selama aku sakit.
Mas Hendri terus mengeluarkan kata-kata itu,seolah aku memang tidak becus mengurus anak-anak.
Batin ku sangat tertekan.Penyakit ku terus saja kambuh.
"Ya Allah,benarkah aku ini wanita yang tidak berguna"jerit ku dalam hati.
Hanya mendengar suara Rendhi lah yang dapat menenangkan batin ku.
"Maaf dhii,aku sangat membatasi dirimu.Aku terpaksa sayang".gumamku dalam hati.Ingin rasa nya aku menceritakan perihal hidupku.Tapi aku tidak bisa.Tangis ku di setiap sujudku.
Suatu hari putri ku jatuh sakit.Aku tidak punya uang untuk membawanya berobat.
Aku tidak punya pilihan lain selain memberi tahu Mas Hendri.
"Mas,Laila sakit.".Ucapku ragu.
"Kenapa?kau tidak sanggup membawa nya berobat?".Tanya nya sinis.
"Aku mohon mas"
"Baiklah nanti aku kesana".Ucap nya.
Aku lega,syukurlah Mas Hendri mau membantuku.
Sesaat kemudian,Mas Hendri datang.Tapi dia membawa tas besar.
"What are you doing ?"Aku sungguh terkejut.
"Aku akan membawa anak-anak bersamaku".Ucap nya lantang.
"what???"
"Yes i will".
"Mas aku mohon jangan bawa mereka.Aku tidak bisa hidup tanpa mereka".Tangis ku mulai pecah.
Tapi Mas Hendri tidak menggubris kata-kata ku.Dia terus mengemas pakaian anak-anak.
"Mas jangan,"Teriak ku."Jika kamu tidak mau membantuku ya sudah.Aku akan meminta bantuan kakak".Ucap ku terus menangis.Aku tak mampu membayangkan jika aku harus kehilangan kedua anakku.
"Apa kau tidak malu,selalu menyusahkan kakakmu?,aku akan tetap membawa mereka bersamaku.Kau ibu yang tidak berguna".
Ku bersimpuh di kaki Mas Hendri,ku hentikan langkah nya.
"Mas... aku mohon jangan bawa mereka mas..hiks!".
Mas hendri menggendong putriku,dan membawa mereka keluar.
Aku terus memegangi kaki nya,sambil terus menangis.
"Mas tolong mas,jangan bawa anak-anak ku".
"Mereka juga anak-anak ku.Aku punya hak atas mereka.Bagaimana dengan masa depan mereka jika tinggal bersamamu".
"Aku mohon mas.Aku tidak bisa jika tanpa mereka".Aku terus meraung.Aku tidak rela kehilangan kedua putriku.Aku bisa gila.
Mas hendri menatap ku.
"Okey.. tapi aku mau kita rujuk".
Jedarrrrr!!!!!.
Kata-kata nya membuat jantung ku seperti berhenti berdetak.
Saat itu yang aku ingat adalah Rendhi.
Aku terdiam.
"Jawab".
"Aku butuh waktu untuk berfikir mas,"Ujar ku masih menahan tangis ku.
"Aku butuh jawaban nya sekarang.Kalau tidak,aku akan membawa mereka".Mas Hendri terlihat sangat emosi.Aku masih termenung.
"Answer Nona Vale.now!".Bentak Mas Hendri.
Aku masih terdiam.Pikiran ku kacau.Rendhi dan anak-anak bukan lah pilihan.Aku mencintai mereka.
"Baiklah kami akan pergi".Ucap Mas Hendri mulai melangkah.
"Ya.. okey."Jawab ku lirih.
Ku peluk kedua putriku sambil terus ku ciumi mereka yang masih terlihat bingung.
"Maafkan mama sayang".."Maaf kan aku dhii"..ucap ku pelan.
Keesokan hari nya,setelah membawa Laila berobat.Aku masih termenung,hatiku sangat sakit.Membayangkan hubungan ku dengan Rendhi harus berakhir.
Bagaimana cara nya aku mengakhiri nya.Aku tidak sanggup ya Allah.Lagi-lagi aku harus menangis.
Mengingat saat itu,Rendhi sedang salah faham padaku.
"Mungkin ini saat nya aku akhiri hubungan kami"gumam ku dalam hati.
Aku mencoba menghubungi nya.Tapi selalu aku batalkan."Aku tidak sanggup".
Akhirnya Aku pun memberanikan diri ku dengan membawa sejuta luka dan kepedihan,aku akhiri hubungan kami.
Benar saja,dia sangat terluka.Bahkan aku tak sanggup membayangkan nya.Aku sangat mengkhawatirkan nya.Hampir semalaman aku terjaga.Mataku tak dapat terpejam.
"Maaf kan aku dhii.Aku mencintaimu.Hiks!".
Aku mengancam nya akan berhenti makan jika ia tidak membuka blockiran pada whatsapp ku.
Aku tidak memikirkan apapun selain dirinya.Aku sangat mengkhawatirkan nya.Aku takut terjadi sesuatu pada nya.
"Ya Allah lindungi Rendhi.Sungguh aku mencintai nya".Tangis ku selalu menghiasi pipi.
Akhirnya dia pun mau membuka block nya.Aku terus mengirim pesan padanya.Memastikan bahwa ia baik-baik saja.Itu yang terpenting buatku saat itu.
Hampir tiga hari dia kehilangan nafsu makan nya.Dia jatuh sakit,dan aku lah yang pantas di persalahkan.
Dia meminta penjelasan padaku.
"Aku akan menjelaskan semua padanya." ucapku pada batin ku.Setelah pertemuan keluarga nanti.
Akhirnya pertemuan keluarga pun berlangsung.Mereka merasa lega mendengar.keputusan kami.Oh no... itu keputusan Mas Hendri.Banyak petuah yang keluarga ku sampaikan.Tapi fikiran ku hanya tertuju pada Rendhi kala itu.
Aku meminta waktu pada Rendhi untuk bisa menjelaskan nya.Dengan hati yang ragu dan gemetar,aku menceritakan semua nya pada Rendhi.
"Maaf kan aku".
Dan aku pun tidak menyangka,bahwa Rendhi memilih bertahan demi aku.
Aku tidak punya pilihan lain.Aku mencintai nya,aku tidak bisa memaksanya meninggalkan aku.
Aku meminta nya untuk bahagia,dengan ku atau bukan.Aku meminta nya agar membuka hatinya untuk wanita lain.Meski dengan hati yang berat dan tersayat.Aku tidak boleh egois,Rendhi juga berhak bahagia.
Pengorbanan nya untuk tetap bertahan dengan ku,membuat aku semakin mencintai nya.Tapi aku sadar aku sudah kembali menjadi seorang istri.
Tapi semakin aku mencoba melupakan nya,semakin aku melukai diriku sendiri.
"Jika kamu sudah menemukan wanita yang kamu cintai,kamu sayangi,aku akan merelakan kamu dhi".Ucapku.Rasa nya jantung ku di hujam ribuan batu.Aku menangis mengatakan itu.Bergetar seluruh jiwa ku.Hati kecil ku berkata."Aku takkan pernah rela dhi..sungguh takkan pernah rela".
"Tapi aku belum siap Vale.Aku masih mencintai kamu".Ucap nya.Membuat batin ku semakin sakit.
Aku jahat.
Waktu terus bergulir.Hubungan kami masih berjalan.Meski kini statusku...
Logika pun berhenti kala perasaan merajai.Tak dapat aku menolak,rasa ini kian mendalam.
Rendhi selalu ada fikiran ku setiap saat.Selalu hadir di mimpiku.
Dan aku berharap dia akan selalu mencintai ku.Seperti cintaku yang tak pernah berubah,bahkan bertambah.
Saat perbincangan kami,aku selalu menyinggungnya tentang wanita lain.Tapi dia tetap menolaknya.
Sebenarnya pun aku terluka kala mengucapkan itu.
Hingga,suatu waktu.Aku mengetahui seorang wanita menuliskan puisi cinta untuk nya.
Dadaku terasa sesak.Dan semakin sesak saat Rendhi mengakuinya.Bahwa gadis itu adalah pacar baru nya.
Fikiran ku kacau.Jantung ku berdegup kencang.Tak dapat terlukiskan betapa aku hancur berkeping-keping.
Rendhi menelpon ku,dia mencoba menjelaskan.Tapi itu tidak mengubah apapun.
Dia tidak salah,ini adalah kemauan ku.Aku hanya tidak ingin ia selalu terluka kala memikirkan ku.
Kata-kata waktu itu terngiang lagi.
"Apakah ini saat nya aku meninggalkan Rendhi?".Tanyaku dalam hati.Membuat dadaku semakin sesak."Aku tidak sanggup ya Allah".
Aku menahan tangis ku.Karena waktu itu Mas Hendri ada di rumah.Aku tidak ingin ia curiga.
Salah satu teman ku mengirim pesan.Dia menanyakan keadaan ku.
"What happened Vale?are you okey?".Tanya nya.
Setelah melihat postingan ku.
"nothing,i am okey zian".jawabku singkat.
"Are you sure".
"ya"
"Tell me what's wrong vale".
Dia masih tak percaya,aku hanya bilang.
"Yes,i am sad".
"is it because of your boyfriend.".
"Yes".
Dan dia pun sangat peduli padaku.
"please don't be sad,aku ada di sini untukmu".
"Thanks my brother".Ucapku.
Dia sudah menganggap ku sebagai saudari nya sendiri.Dia sopan dan baik.
Meski pun kami jarang saling sapa,tapi aku tau dia pria yang baik.
Dia memang pernah berharap padaku,tapi dia tau aku sangat mencintai kekasih ku.Dia sangat menghargai itu.
Dan aku tau,dia akan segera menikah.
Aku ucapkan selamat pada nya.
"Happy marriage,may you be happy"
"Thanks my sister".
*
Kembali pada lukaku.Masih terasa sesak dan semakin sakit.
Mungkin rasa ini yang Rendhi rasakan waktu itu,rasa yang begitu teramat sakit.
"Maaf kan aku dhi,mungkin sesakit ini rasa nya.Aku pantas mendapat kan balasan ini".Gumamku dalam hati.
Dadaku masih terasa panas dan sesak.Membayangkan bagaimana Rendhi memperlakukan wanita itu dengan manis,memanggil nya 'sayang'.Dan apa mungkin aku harus merelakan nya.
Fikiran itu terus berkecamuk dalam benakku.Tak mampu ku abaikan.Aku ingin menjerit sekeras kerasnya.Tapi,bukan itu jawaban nya.
Aku ucapkan Istighfar berkali-kali.Mencoba menenangkan hati ini.
"Sakit ya Allah.. sakit sekali".Tubuh ku serasa lemas.Seperti tanpa tulang belulang.
Nafsu makan ku hilang seketika.
"Ini kah yang kau rasakan waktu itu dhii".
Rendhi pasti merasakan hal yang sama,kala membayangkan bagaimana aku dan suami ku.Padahal kenyataan nya,aku selalu menghindari Mas Hendri.Bahkan kami pun tidur terpisah.
Tapi aku mengerti perasaan Rendhi,yang memang tidak tau akan hal itu.
Sesakit ini aku rasakan.Seumur hidupku,tak pernah aku merasakan rasa sakit seperti ini.
"Ada apa denganku?"Pertanyaan yang selalu muncul dalam hatiku.Aku tidak mengerti,mengapa aku jatuh cinta sedalam ini.Aku tidak bisa menerima kehadiran Mas Hendri kembali.Hati ku selalu menolak nya.Kekecewaan aku pada suamiku,yang membuat rasaku memudar padanya.
"Ya Allah ampuni aku".
Hampir tiga hari aku kehilangan nafsu makan.Yang pada akhirnya membuat asam lambung ku kambuh.Aku pun harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit,selama beberapa hari.Rasa sakit ku bukan hanya pada ragaku,melainkan pada jiwa dan hatiku.Jantungku serasa di hujam belati,di terjang dengan ribuan anak panah.Bahkan lebih sakit dari itu.Hati ku tersayat,terkoyak.Tak mampu ku lukiskan.
Selama menjalani perawatan,aku tau ada anak-anak yang membutuhkan ku.Ekonomi ku sedang tidak baik.Aku hanya membuat keluarga ku cemas.Terutama kakak-kakak ku.
"Kalau sudah sehat,lebih baik pulang".Ucap mas Hendri.
Aku terdiam.
"Kalo masih mau di rawat disini,sendiri saja.Aku dan anak-anak akan pulang".Ucap nya membuat aku merasa bersalah.
Aku mencoba untuk berusaha kuat.Aku kesampingkan rasa sakit ku.Aku tau,bahwa aku telah menambah beban nya.
"Iya,aku sudah sehat.Aku bisa pulang besok".
Ucapku sekena nya.Ku hembuskan nafasku perlahan yang begitu terasa sesak.
"Bagus,kamu sudah membuat kami repot".Sambung Mas Hendri.
Aku terdiam.Ada perih yang menambah luka dalam hatiku.
Aku pun akhir nya pulang,setelah banyak kerabat dekat dan tetanggaku yang menjenguk.
Kondisi ku masih lemah,mual yang hebat di ulu hati ku masih terasa.Tubuhku lemah,dadaku masih terasa sesak.Tapi aku harus sembuh.Ku paksakan melakukan aktivitas seperti biasa.
Yang membuat tubuhku semakin ringkih.Aku tak ingin Rendhi khawatir,aku mencoba terdengar baik-baik saja saat melakukan panggilan telepon dengan nya.
Aku tidak tau,apa dia mengkhawatirkan ku atau tidak.Atau mungkin dia sedang bahagia bersama pacar baru nya.Perasaan itu yang selalu menggelayuti hati."Tenang lah wahai hatiku,dia pantas bahagia".
Selama lebih dari seminggu aku masih terkulai lemas.Kami masih terus saling berkomunikasi.
Kesalah fahaman dan rasa cemburu ku membuat kami sering bertengkar.
Hari demi hari berlalu begitu berat.Aku harus menerima kenyataan,bahwa bukan hanya aku yang ada di hati Rendhi sekarang.Aku mulai menerima keadaan ini.Aku harus terima kala sikap Rendhi semakin berubah.Tak lagi seperti dulu.
Aku merasakan perubahan besar pada diri nya.Itu yang selalu menimbulkan luka demi luka di hati ku.
Tapi aku sadar,siapa aku.
Logika ku seakan tak berfungsi,rasa ku perasaan cintaku menguasai jiwaku.
Aku sering menangis,merasakan bahwa aku lah yang bersalah.Aku lah penyebab semua nya.
Rasa luka ku,mungkin tak seberapa dengan luka yang di rasakan Rendhi.Tapi sungguh tak ada yang lain dalam ingatan ku selain nama nya.
Seolah Rendhi meminta ku untuk pergi.Meski dia bilang bahwa dia ingin aku bertahan.
Tapi sikap nya kala itu menunjukkan hal sebaliknya.
Mungkin aku salah.Perasaan ku yang terlalu sensitif.
Dan sampai kini,hubungan kami masih terus berjalan.Aku tidak bisa membayangkan jika hariku tanpa mendengar kabar dari nya.
Meski terkadang,aku ingin menghilang dari hidupnya.Aku ingin tau,apa dia merindukanku atau tidak.
Tapi,hal itu malah yang justru menyiksaku.
Aku selalu berharap Rendhi mencintaiku selamanya.Menyayangiku selamanya.
Kami berdua merasakan hal yang sama,rasa sakit yang sama.Rela bertahan meski luka demi luka terus timbul di hati.
Salahkah aku mencintai nya.
Bukan ini yang ku mau.Tapi takdir telah mempertemukan kami.Cinta kami bahkan tak mampu terukir hanya dengan kata-kata semata.Aku berusaha terus mempercayainya.Meski terkadang kenyataan nya berbeda.Aku mencoba untuk menerima apapun luka yang tertoreh di dada.
Meski ada kata dalam hati ku yang teramat egois.
"Aku tidak ingin ada wanita yang Rendhi cintai selain aku".
Tapi apalah dayaku,aku tak mampu menggenggam hati nya.Aku hanya berharap Rendhi selalu mencintai ku.
Karena semakin aku mencoba menghilang kan Rendhi dari fikiran ku,semakin sakit luka hatiku.
Jangan kan melakukan nya,Bahkan memikirkan untuk pergi dari nya pun aku tak mampu.
Semoga takdir mampu menghadiahkan kebahagiaan untuk ku dan untuknya.Meski kami tak tau bagaimana kelak jalan kisah kami.
The End