Sore itu Indri tengah bersantai di beranda sembari berselancar di dunia maya, saat kakak satu-satunya pulang. Laki-laki yang sudah menginjak umur tiga puluhan itu tampak lelah ketika turun dari motor butut kesayangannya. Tanpa mengubah posisi duduk, Indri terus memperhatikan kakaknya yang berjalan ke arahnya dengan senyum kecil tersungging di bibir.
"Baru pulang ngelayap, Bang?" cibir Indri.
"Tau apa sih kamu nih soal abangmu," balas Johan sambil mengacak-ngacak rambut adiknya itu.
"Emang kerjaannya ngelayap nggak jelas kan," ucap Indri sewot, merapikan rambutnya yang berantakan.
"Dari pada kamu, tahunya cuma main HP mulu," cibir Johan.
"Biarin," dengus Indri. Ia kembali menatap layar HP yang sedari tadi dipegangnya, mengabaikan kakaknya yang sibuk dengan jaket kesayangannya yang terlihat lusuh karena terlalu sering dipakai.
Melihat adiknya kembali sibuk dengan benda persegi panjang itu, selesai melipat jaket ia mengusik adik satu-satunya itu. Membuat Indri kesal karena aktifitas di dunia mayanya terganggu. Disaat mereka berdua melakukan keributan di depan rumah, Bagas yang rumahnya berdampingan dengan mereka keluar melerai dua kakak beradik yang hobi genjatan senjata itu.
"Kalian ini, kerjaannya ribut mulu," decak Bagas, menggelengkan kepala melihat kelakuan Johan memiting adiknya yang berusaha menjambak rambut.
"Sapa yang ribut? Kami lagi sayang-sayangan ini," kekeh Johan sambil mengacak-ngacak rambut Indri.
"Sayang-sayangan dari Hong Kong!" protes Indri kesal, berusaha lepas dari kakaknya.
Suara gelak tawa kembali terdengar, kali ini tidak hanya Johan yang tertawa. Bagas yang melihat kelakuan mereka berdua ikut tertawa geli. Bagas sudah terbiasa melihat mereka berdua ribut dari kecil, hingga sekarang pun tidak ada perubahan. Namun ia tahu, begitulah cara mereka saling menyayangi satu sama lain.
Di tengah keasyikannya memperhatikan duo kakak beradik yang belum selesai dengan urusan keributan, HP Bagas berdering nyaring. Buru-buru ia mengangkat panggilan dari teman beda kota itu. Ia tampak serius mendengarkan perkataan lawan bicaranya itu. Setelah sambungan terputus, Bagas masuk rumah untuk mengambil jaket dan kunci motor.
"Ada panggilan?" tanya Johan begitu Bagas keluar dari rumah.
"Ega butuh bantuan, kode merah. Dia escort sendirian dari Salatiga," terang Bagas.
"Mau dikirim ke mana emang?" Johan tampak serius menyimak.
"Jogja. Ini baru sampai daerah Bangsari."
Indri yang ikut menyimak pembicaraan dua lelaki itu, tampak mengerutkan kening bingung. "Kalian ngomongin apa sih?" tanyanya penasaran.
"Itu Bagas mau berangkat escorting," jawab Johan. "Butuh bantuan nggak, Gas?" tanyanya beralih pada Bagas lagi.
"Udah, biar aku hubungin anak-anak aja. Kamu baru aja pulang," tolak Bagas halus.
"Escortin apa an?" Indri kembali menyela karena belum paham.
"Mengawal ambulans ngirim pasien ke rumah sakit," jawab Bagas.
"Memangnya ambulans gitu ada pengawalnya? Nggak nyari jalan sendiri?" Indri memandangi Bagas heran.
Laki-laki seumuran kakaknya itu terkekeh mendengar pertanyaan Indri. Memang masih segelintir orang yang paham dengan apa yang dikerjakannya saat sedang tidak sibuk. Ditambah lagi relawan escorting ambulans memang bisa dihitung dengan jari sejauh ini.
"Sebenernya ya nyari jalan sendiri, tapi kamu kan tau sendiri, Dri. Masyarakat kita tuh masih ada yang tidak peduli dengan keadaan darurat, terutama kalau ada ambulans lewat. Kadang masih nggak mau minggir. Nah relawan escorting ini yang bantuin buka jalan buat ambulans, biar pasien yang dibawanya cepat sampai di rumah sakit." Kali ini Johan yang mengambil alih menjelaskan pada Indri.
Mulut Indri membulat, mengerti. Ia tidak menyangka ada relawan seperti itu. Selama ini ia pikir, ambulans seperti itu tidak membutuhkan pengawalan. Dan kalau dipikir-pikir, memang benar kata kakaknya. Masyarakat di sini masih ada saja yang kurang peduli dengan keadaan darurat, jadi menganganggap ambulans yang melewati jalan seperti kendaraan lainnya. Tidak membutuhkan prioritas utama. Padahal kondisi pasien juga berpengaruh dari cepat atau lambatnya ambulans sampai di rumah sakit.
"Bang, aku ikut boleh nggak?" tanya Indri menatap Bagas penuh harap.
Bagas tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Johan untuk mengambil pertimbangan. Bagaimanapun juga Indri adalah adik Johan, ia tidak mau mengambil keputusan tanpa persetuan laki-laki itu lebih dulu.
"Bawa aja, biar nggak melototin HP mulu," kata Johan sambil tertawa.
Satu pukulan mendarat di bahu Johan. Indri tidak terima mendengar alasan kakaknya itu.
"Indri juga pasti hafal daerah Jogja, bisa bantuin kalian milih jalan nanti di sana," lanjut Johan setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Ya sudah, kalau ikut nanti boncengan sama aku," kata Bagas.
Indri mengangguk penuh semangat. Ia langsung melesat masuk ke dalam untuk berganti pakaian. Tidak butuh waktu lebih dari lima menit, ia sudah berada di teras. Siap untuk melakukan escorting pertamanya bersama Bagas.
"Pakai ini." Johan menyenangkan jaket yang tadi dilipat pada Indri, melihat adiknya itu hanya memakai kaos oblong.
"Ogah, bau tau," cibir Indri.
"Pakai aja atau nggak usah ikut," ancam Johan.
Mau tidak mau, Indri memakai jaket Johan karena jaket satu-satunya yang ia bawa pulang tengah dicuci. Masih dengan wajah cemberut, ia menghampiri Bagas yang sudah siap di atas motor. Lelaki itu tersenyum geli melihatnya memakai jaket Johan yang sedikit kebesaran.
"Tunggu dulu," sergah Johan menahan keduanya berangkat.
Ia masuk mencari tongkat lalin yang biasa dipakainya untuk escorting kalau ada teman berboncengan. Ia menyerahkan tongkat lalin itu pada Indri. Hari sudah sore, tongkat itu bisa membantu mereka nanti jika hari sudah mulai gelap. Johan menyerahkannya pada Indri, yang masih tampak berpikir keras dengan kegunaan benda itu.
"Tongkat itu bakal berguna nanti pas gelap," terang Johan tersenyum geli.
Indri mengangguk meski belum begitu paham. Ia naik ke motor Bagas yang sudah menunggu. Setelah pamitan, mereka berdua melaju ke pinggir jalan raya yang tidak begitu jauh jaraknya dari rumah mereka. Sudah ada dua motor yang menunggu mereka di pinggir jalan raya. Andri dan Haikal menggunakan motor mereka sendiri, hanya Bagas dan Indri yang tampak berboncengan.
Selagi menunggu ambulans datang, mereka berempat membicarakan rute yang akan dilalui nanti. Setidaknya ada Indri yang bisa memberikan informasi penting jalur keadaan Ampel-Jogja. Mereka tidak bisa menggunakan jalur alternatif melalui Jatinom, jika ingin cepat sampai. Karena jalur alternatif itu tengah dalam perbaikan dibeberapa titik, yang membuat kemacetan mengular sangat panjang. Bahkan Indri sempat terhenti nyaris satu jam lamanya, saat melewati jalur itu. Dengan terpaksa mereka menggunakan jalur timur, melewati Kartasura. Sedikit lebih jauh, tetapi lalu lintas di sana masih bisa di atasi kepadatannya.
Sesaat setelah rencana mereka matang, sayup-sayup suara sirine ambulans mulai terdengar. Mereka langsung menghidupkan mesin motor. Indri yang baru pertama ini mengikuti escorting, tampak gugup. Jantungnya berdegup kencang. Mereka mulai turun jalan begitu ambulans dan sebuah motor yang memimpin jalan, melaju cepat melewati mereka.
Dari belakang, Indri mengamati bagaimana cara kerja Bagas dan kawan-kawannya. Ega, Andri dan Haikal yang sendirian, sesekali melambaikan tangan kirinya meminta jalan. Sedangkan Bagas masih melajukan motornya di belakang ambulans. Kata laki-laki itu, mereka nanti akan bergantian memimpin setelah keluar dari daerah Boyolali karena Ega tidak begitu paham jalur yang akan dilaluinya nanti.
Perjalanan mereka sepanjang kota Boyolali terbilang cukup lancar. Kendaraan sore itu tidak begitu ramai, kendaraan besar sebagian sudah memakai jalan tol Solo-Semarang. Hanya kendaraan pribadi jarak dekat yang terlihat dan beberapa bus kota. Mereka yang melaju cukup kencang pun tidak mengalami kendala terlalu berarti, banyak kendaraan yang menyingkir begitu mendengar raungan sirine ambulans. Indri yang sejak tadi memperhatikan saja, diam-diam mulai antusias di tengah kegugupan karena ini pengalaman pertama kali mengikuti escorting ambulans.
Memasuki kota Kartasura, Bagas mulai melaju lebih cepat menggantikan posisi Ega di depan. Seperti hari-hari biasa lainnya, bundaran Kartasura adalah tantangan pertama yang cukup menguras energi. Keruwetan kendaraan dari tiga arah berbeda, sering kali menumpuk di tempat itu. Bagas yang berada di depan beberapa kali membunyikan klakson yang sudah dimodifikasi menyerupai sirine. Kendaraan yang melihat iring-iringan ambulans itu berusaha memberikan jalan, meski itu memakan waktu sedikit lama. Barulah selepas lampu merah pertigaan Kartasura, mereka bisa melaju dengan lancar. Kali ini Indri lebih sering mendengar suara klakson Bagas dan teman-temannya, mengingat jalan yang mereka tempuh kini lebih padat.
"Kenapa dikirimnya ke Jogja sih, Gas. Bukannya ke Solo aja yang lebih deket?" tanya Indri sembari melambaikan tangannya, membantu Bagas meminta jalan kendaraan di depan mereka.
"Katanya penuh rumah sakitnya, nggak kebagian alat yang dibutuhin," Jawab Bagas.
Sejak tadi mereka memang sering berhubungan melalui telepon dengan Ega. Hp Bagas sengaja dipasang di atas Speedo meter, yang ia sambungkan dengan headset bluetooth. Itu mereka lakukan agar mudah untuk berinteraksi, meski seringnya mereka berinteraksi dengan bahasa isyarat yang tidak dimengerti Indri.
"Emang sakit apa pasiennya?" tanya Indri lagi.
"Katanya sih positif covid, tapi punya penyakit bawaan yang bikin dia mesti cepet-cepet dipindah," terang Bagas.
"Serius pasien Covid?" Indri tampak kaget dan juga panik, "ntar kalau kita ketularan gimana?"
Bukannya menjawab, Bagas tampak terkekeh mendengarnya. "Kita kan nggak kontak langsung, Dri. Ega aja dari tadi cuma bicara lewat telpon sama sopir ambulansnya. Kita ntar juga nggak boleh ikut sampai dalam rumah sakit."
"Beneran kita nggak bakal kenapa-kenapa ntar?" ucap Indri masih sanksi.
"Aku jamin, selama kita nggak kontak langsung sama yang di dalam ambulans. Kita nggak akan tertular."
Indri merasa lega mendengar penjelasan Bagas. Bagaimana ia tidak cemas kalau saat ini sedang gencar-gencarnya penyakit Covid 19, banyak daerah yang masuk zona merah yang memaksa semua orang nyaris menghentikan aktifitasnya. Ia sendiri sebagai mahasiswa di Universitas Negeri di Jogjakarta termasuk orang yang terkena dampaknya. Meski Jogja sudah termasuk daerah yang kondusif, semua kegiatan belajar dari TK sama Universitas dihentikan sementara. Hanya sesekali Indri datang ke kampusnya untuk mengumpulkan tugas. Selebihnya ia mesti terima belajar di rumahnya hingga saat ini.
Laju kendaraan mereka kembali cepat selepas dari daerah pasar Delanggu yang cukup padat. Indri sesekali menoleh ke belakang, ke arah ambulans. Meski terbilang melaju dengan kecepatan tinggi, ambulans itu sangat lihai mengikuti para escorting yang menggunakan motor. Di belakang sendiri, sebuah mobil pribadi juga mengikuti. Indri menebak mobil itu adalah mobil keluarga pasien, karena sejak mengawal mobil itu sudah menempel dengan ambulans meski sesekali tertinggal.
"Kayaknya mau hujan nih," keluh Bagas melihat awan mendung di bagian barat.
"Semoga aja udah sampe di rumah sakit ntar hujannya."
Bagas mengangguk mengamini doa Indri. Ia melakukan motornya lebih cepat lagi. Beruntung tadi Indri ikut, jadi pekerjaannya sedikit ringan melihat perempuan itu sudah paham bagaimana cara menggunakan tongkat makin yang diberikan Johan tadi. Namun hal yang tidak ia sukai saat escorting justru terjadi begitu memasuki daerah Mlese. Kendaraan pribadi tidaklah cukup padat, hanya saja mobil putih di depannya seakan enggan memberikan jalan untuk mereka. Bagas terpaksa mensejajarkan motornya dengan mobil itu.
"Pak kasih jalan," kata Bagas setengah berteriak pada sopir mobil itu.
Sopir itu menoleh ke arah Bagas, sekilas terlihat juga mengintip spionnya. Bukannya melakukan apa yang diminta Bagas, sopir itu justru tak acuh dan melaju tanpa mau memberikan jalan ambulans yang sekarang tepat berada tepat di belakangnya.
"Pak, tolong kasih jalan," pinta Bagas lagi.
"Kalau mau cepet, bikin jalan sendiri," balas sopir itu ketus.
Decakan keluar dari bibir Bagas. Orang-orang seperti itu yang membuat Bagas sering merasa kesal. Empati telah hilang. Menyadari usahanya meminta jalan baik-baik tak digubris, Bagas memutar otak. Ia kembali di belakang mobil itu, sesekali mencari celah agar ambulans mereka bisa melewati mobil itu. Namun beberapa kali Bagas berusaha menyalip, mobil itu seakan sengaja menghalangi jalan mereka. Bahkan mobil itu sempat memepet Bagas sampai nyaris menyerempet kendaraan lain.
"Brengsek tuh orang!" maki Indri ikutan kesal.
Sesampainya di lampu merah depan masjid agung Klaten, mobil itu berhenti tepat di antara garis tengah. Membuat kendaraan di belakangnya kebingungan memberikan jalan untuk ambulans. Beberapa bahkan membunyikan klakson, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali.
"Pak, tolong dong maju. Kasih jalan buat ambulansnya," kata Bagas mulai kesal.
"Kamu nggak lihat apa, lampunya merah!" bentak sopir itu.
"Tapi ini darurat Pak, pasiennya harus segera sampai di rumah sakit."
"Makanya kalau mau cepet, di depan sana. Kalau lampu merah gini ya harus ngantri sampe lampu hijau dong," ujar sopir itu sok menasehati.
"Woi Pak, dari tadi anda ngalangin jalan kami. Kalau pasiennya kenapa-kenapa, Bapak mau tanggung jawab!" sembur Indri yang sudah tidak tahan meluapkan emosinya.
"Ya, kalau mati. Bukan urusan saya dong."
"Wah ngajak ribut nih orang!"
Beruntung Bagas segera menahan Indri. Kalau tidak perempuan berbadan kecil itu, sudah menghajar babak belur sopir itu, mengingat di tangannya ada tongkat yang bisa dipakai untuk menghajar orang itu. Peluit polisi pun ikut menghentikan aksi Indri. Seorang polisi yang bertugas di sana memberikan isyarat agar mobil tadi maju, agar ambulans tidak tertahan di sana terlalu lama.
Perlahan mereka kembali melaju di belakang mobil tadi, yang masih bersikukuh tidak memberi jalan. Setidaknya itu tidak berlangsung lama. Karena baru melaju beberapa ratus meter, polisi tadi menyusul mereka. Bukan untuk ikut mengawal, tetapi menghentikan sopir arogan tadi. Indri bisa melihat polisi itu memberikan sangsi pada si sopir.
"Sukurin!" teriak Indri kesal saat mereka melewati mobil itu.
Kalau saja tidak ada Bagas, mungkin ia sudah mengeluarkan serentetan sumpah serapah pada sopir tadi. Sedangkan di depan. Bagas yang semulai kesal, kini justru terkekeh geli. Dari kaca spionnya ia bisa melihat bagaimana wajah kesal Indri.
"Kamu kenapa?" tanya Indri mengetahui Bagas tertawa.
"Kamu lucu banget kalau lagi marah, pantesan Johan sering jailin kamu pas di rumah," jawab Bagas.
"Lucu apanya? Aku kesel setengah mati ini." Indri memukul bahu Bagas, tidak terima mendengar komentar laki-laki itu.
Pukulan Indri yang tidak seberapa keras, tidak menghentikan tawa Bagas sama sekali. Lumayan ada hiburan setelah tadi sempat emosi gara-gara satu orang sopir.
"Kok ada ya orang macam tadi, bukannya ngebantu dikit aja ngasih jalan. Malah sengaja ngalang-ngalangin ambulans," gerutu Indri tidak habis pikir.
"Ya gitulah, Dri. Makanya aku, Johan sama temen-temen yang lain bantuin ambulans, biar bisa jalan dengan lancar. Maklumlah, masyarakat kita udah mulai krisis empati. Mentang-mentang bukan dia yang butuh, jadi tah acuh sama orang yang membutuhkan."
"Bang Johan ikutan escorting juga?" tanya Indri kaget.
"Dia pelopornya."
Indri tampak tertegun mendengarnya. Ia tidak mengira sama sekali, kakaknya yang slengekan itu pelopor escorting yang dilakukan Bagas dan teman-temannya. Selama ini ia hanya tau kakak laki-lakinya itu lebih senang kelayapan tidak jelas kalau sedang tidak ada kerjaan. Ternyata Johan justru lebih sering membantu orang di luar rumah.
Perjalanan kembali mulus, tidak ada lagi sopir menyebalkan seperti yang mereka temui tadi. Memasuki kawasan Prambanan yang padat, mereka mendapatkan sedikit bantuan dari seorang polisi. Mereka dikawal dari lampu merah Candi, sampai lepas daerah Bogem yang memang sangat padat kendaraan. Maklaum kawasan Bogem memiliki jalan yang tidak terlalu besar dan lalu lintas di sana tidak hanya dari daerah Jogja dan Solo, tetapi juga ada kendaraan yang berasal dari daerah Cangkringan meski itu terbilang sedikit. Ucapan terima kasih tidak lupa mereka lontarkan saat berpisah dengan polisi tersebut. Sepertinya para polisi sudah memaklumi apa yang dilakukan para relawan escorting, yang bisa dibilang melaju melampaui batas kecepatan dan menerobos lampu merah. Tanpa bantuan para relawan itu, mungkin saja nasib pasien akan sedikit berbeda. Sedangkan para polisi juga tidak memungkinkan untuk mengawal setiap ambulans, mengingat personil mereka terbatas dan memiliki tanggung jawab lainnya.
"Gas, seandainya saja. Para pengendara lain langsung memberikan jalan tanpa bantuan escorting. Apa kamu bakal sedih?" ucap Indri.
"Ya nggak lah. Justru aku bakal senang, karena itu berarti perjuanganku dengan teman-teman tidak sia-sia. Kami melakukan ini tidak semata-mata hanya untuk memperlancar jalannya ambulans, tapi juga ingin memberikan pesan pada masyarakat semua agar memberikan empati dengan memprioritaskan kendaraan ambulans," terang Bagas.
"Tapi itu artinya kamu tidak bisa menolong lagi dong," lanjut Indri.
"Masih banyak cara untuk menolong sesama, Dri. Apa yang kita lakukan sekarang ini, hanya sebagian kecil saja."
Benar apa yang dikatakan Bagas. Banyak cara untuk bisa menolong sesama, bahkan perbuatan kecil sekedar memberikan jalan saja mungkin bisa jadi menyelamatkan nyawa manusia. Seandainya saja semua orang tanpa terkecuali memiliki empati sama besarnya, rasanya mungkin akan sangat menyenangkan.
Mendung yang sejak tadi bergelayut di langit, perlahan mulai mengirim buliran-buliran bening dari langit. Kilat ikut menghiasi langit, menandakan hujan akan segera turun lebat. Bagas segera mengamankan HPnya ke dalam saku jaketnya yang kedap air. Yang ia cemaskan kini adalah Indri. Mereka tidak mungkin berhenti untuk memakai jas hujan, karena itu akan memakan waktu yang sangat berharga saat ini. Namun membiarkan adik teman dekatnya hujan-hujanan juga bukan pilihan yang bagus.
"Dri, di depan kayaknya hujan lebat. Kamu turun di sini aja gimana, ntar aku jemput lagi abis nganterin ambulans," tawar Bagas. "Soalnya nggak bakal ada waktu buat pakai jas hujan nih."
"Lanjut aja, Gas. Udah biasa aku hujan-hujanan," balas Indri.
"Serius nggak apa-apa? Ntar kalau sakit gimana?" tanya Bagas khawatir.
"Santai aja, aku dah kebal sama hujan."
"Ya sudah kalau gitu."
Bagas kembali memacu motornya cepat. Ia hanya bisa berdoa semoga hujan tidak terlalu lama mengguyur bumi. Selain mencemaskan Indri, ia juga khawatir jalanan yang licin akan membuat mereka tergelincir jika melaju sekencang tadi. Cobaan escorting kali ini sepertinya cukup berat bagi mereka.
Setelah berjibaku dengan hujan sepanjang jalanan Kalasan-Janti. Hujan mulai mereda begitu mereka memasuki kota. Meski begitu mereka tetap harus hati-hati karena jalanan masih licin dan kendaraan di jalanan juga cukup padat. Andri yang berkendara di belakang, melaju cepat mensejajarkan diri di samping Bagas. Mereka memang tidak bisa berkomunikasi melalui HP sejak hujan tadi.
"Haikal jatuh, Gas," kata Andri.
"Di mana?" tanya Bagas kaget. Posisinya yang sejak tadi di depan, tidak bisa mengawasi teman-temannya yang berada di samping dan belakang.
"Abis lampu merah tadi, senggolan sama motor lain."
"Trus gimana keadaannya?"
Sesekali Bagas dan Andri memperhatikan jalan di depan mereka di tengah obrolan.
"Kayaknya nggak kenapa-kenapa, Ega tadi yang nolongin," kata Andri memberitahu.
"Ya sudah, kita anter ambulansnya cepet. Abis itu kita urus Haikal," putus Bagas.
Andri mengangguk setuju. Mereka kembali sibuk meminta jalan untuk ambulans yang mereka kawal. Rumah sakit tujuan mereka sudah tidak jauh lagi, semoga saja Haikal tidak mengalami cidera serius. Bagas menghembuskan napas berat. Beginilah resiko pekerjaan mereka, tidak hanya berurusan dengan orang-orang arogan. Namun nyawa juga menjadi taruhan, mengingat laju kendaraan mereka menuntut berada di kecepatan tinggi.
Sesampainya di depan Rumah Sakit Dr. Sardjito, Bagas dan Andri berhenti tepat di samping gerbangnya. Membiarkan ambulans masuk. Dari dalam mobil ambulans itu, terlihat pak sopir dan temannya yang duduk di sebelah mengucapkan terima kasih meski hanya menggunakan bahasa isyarat. Mobil pribadi yang mengikuti mereka pun ikut masuk ke dalam pelataran rumah sakit. Bagas dan Andri sengaja berhenti di depan gerbang, karena mereka tidak diperbolehkan kontak langsung dengan orang-orang yang berada di dalam mobil ambulans. Berbeda dari biasanya, mereka bisa memastikan pasien yang berada dalam ambulans bisa datang tepat waktu. Kali ini mereka tidak bisa memastikannya.
"Haikal sama Ega nunggu kita di pom bensin yang kita lewatin tadi," kata Andri setelah mendapat telepon dari Ega.
"Gimana keadaan Haikal?" Bagas kembali menyalakan motor.
"Nggak kenapa-kenapa katanya, cuma lecet."
Bagas menghembuskan napas lega mendengarnya. Di belakangnya, Indri yang sejak tadi hanya menyimak ikut senang mendengarnya. Tanpa membuang waktu, mereka memacu motornya ke tempat Haikal dan Ega berada untuk memastikan teman mereka baik-baik saja. Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah menemukan Haikal dan Ega tengah berbincang di depan toilet pom bensin.
"Kamu nggak apa-apa, Kal?" Andri yang turun dari motor lebih dulu, langsung menghampiri kedua temannya itu.
"Nggak apa-apa, cuma lecet dikit," jawab Haikal sembari memperlihatkan luka di tangannya.
"Kok bisa jatuh?" Kini giliran Bagas yang bertanya.
"Ada emak-emak muncul dari gang, main nyelonong aja. Untung aku pas pelan tadi," terang Haikal.
"Trus itu emak-emak gimana?"
"Biasalah, ngomel-ngomel nyalahin." Haikal tertawa geli, membuat teman-temannya menggelengkan kepala.
Tak selang berapa lama, sebuah telepon masuk ke nomor Ega. Mereka langsung menyimak percakapan Ega dengan sopir ambulans tadi. Si Sopir memberitahu bahwa pasien tadi selamat, dan sekarang dalam perawatan intensif. Sopir itu juga menyampaikan ucapan terma kasih dari keluarga pasien, tanpa bantuan mereka mungkin pasien tadi tidak tertolong. Mendengar berita gembira itu, Bagas dan teman-temannya mengucapkan rasa syukur. Perjuangan mereka selama dua jam di atas motor, berjibaku dengan pengendara lain dan hujan tidak sia-sia.
Indri yang ikut mendengar, langsung menundukkan kepala menyembunyikan air matanya. Rasanya benar-benar sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rasa senang, bangga, terharu, semua teraduk bercampur jadi satu. Baru kali ini ia merasakan perasaan seperti ini selama ini.
"Seneng kan?" Bagas yang melihat kelakuan Indri, menyenggol lengan perempuan itu.
"Seneng banget," sahut Indri sembari menghapus air matanya yang hampir jatuh.
"Dasar cengeng," ledek Bagas langsung mengacak-ngacak rambut Indri gemas.
Wajah Indri berubah menjadi kesal, ia langsung menepuk bahu laki-laki itu membuat Bagas tertawa terpingkal-pingkal karenanya.
Tamat.