Ketos - Kemeja Putih - Pertengkaran
.
.
.
"Microphone nya udah siap semua kan?"
"Jangan sampe ada yang kurang, Ok!"
Itu Arga, sedari pagi sudah mondar-mandir berjuta kali, mengecek semua persiapan acara pembukaan Olimpiade MIPA, tahun ini sekolah kami menjadi tuan rumahnya, akan banyak peserta dari sekolah lain yang datang untuk mengikuti Olimpiade, dan sebagai seorang 'ketua OSIS' tentu saja dia akan mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.
"Ga..itu kursi dibelakang kamu masih berantakan, minta tolong rapikan ya, bentar lagi peserta mau dateng"
Yoga mengernyitkan dahinya, terlihat heran sepertinya, Arga berjalan didepannya dengan beberapa gulungan kabel yang dia pegang, sambil terus berjalan sempat-sempatnya dia memperhatikan kerapian kursi itu satu persatu, sungguh dia lebih jeli daripada seseorang yang makan kuaci pada saat listrik padam.
"kenapa senyum senyum? Nih bantuin bawain kabel ke gudang"
Arga menyapaku, sontak saja aku terkejut, memang sedari tadi aku tidak melahkukan apa-apa, malah aku terlalu sibuk memperhatikannya yang terus mondar mandir dan cerewet sana sini seperti emak emak menyusun acara arisan.
"Ayo cepat.." ujarnya yang memberikan beberapa gulungan kabel yang dia pegang kepadaku.
"Ahh oke abang ganteng"
"Dih gak usah sok sok an ngegombal, gak lucu anjir"
"Siapa yang nge gombal, orang emang ganteng kok"
"Lala...lala..sa ae dah lu"
Arga menggelengkan kepalanya sambil menyebut namaku seperti sedang membaca mantra, tanpa berbasa basi lagi kami berdua menuju ke gudang dengan membawa gulungan kabel yang sangat manja ini...manja?, Ya iya lah manja, masa ke gudang doang harus digendong, jalan sendiri ngapa.
Kami pun berhenti di depan ruangan dengan pintu berwarna putih kusam itu, aku berhenti memperhatikan lelaki tinggi itu memutar kunci di dalam lubang gembok, dan setelah bunyi 'click' terdengar dia langsung memutar gagang pintu dan mendorong daun pintu ruangan itu.
"Eh..tunggu.." ucapku menghentikannya sebelum kakinya benar benar menginjak lantai bagian dalam ruangan itu.
"Arga...kamu pake kemeja putih, jangan masuk gudang deh"
"Liat, gudangnya kotor banget, abis acara selesai kita sekalian bikin rencana buat bersihin gudang ya"
"Iya nanti kita omongin sama temen-temen OSiS lain"
"Tapi..." Ucapnya yang menggantung seperti biasanya.
"Aku tetep masuk"
"Ih dibilang jangan, nanti baju kamu kotor Arga!"
"Nggak bakalan kotor kalo aku hati hati"
"Masa tega banget biarin cewenya masuk gudang kotor sendirian, nggak lakik lah kalo gitu namanya" ucapnya yang membuatku tersipu.
Beberapa menit kemudian kami keluar dari gudang, Arga kembali mengunci pintu gudang itu sebelum kami kembali ke aula.
"Bawa almamater?"
"Bawa dong, kalo gak bawa nanti dihukum sama ketos galak"
"Dia bilang gini nih 'besok semuanya harus bawa almamater, jadi OSIS harus disiplin, apalagi besok banyak anak-anak dari sekolah lain, kita harus memberikan pandangan positif tentang sekolah kita' begitu"
Arga terkekeh mendengar penjelasanku, jelas sekali ketos galak yang aku maksud adalah dirinya, sambil tertawa tangan kanannya mengacak-acak rambutku dan membuatnya berantakan, senang sekali dia membuat penampilanku mirip gembel.
"Arga udah!! Rusak rambut aku!"
"Biarin, lucu soalnya kalo kayak gembel"
"Arga!!!"
Dia berlari meniggalkanku sambil tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja aku mengejarnya, ingin sekali aku menangkapnya dan mengikatnya, kemudian membuat rambutnya berantakan, hah...gemes banget deh.
.
.
.
"Ekhem!! Pak ketos malah main sama si doi" ledek Fa'is yang terlihat membawa kardus berisi air mineral.
"Eh sini is gue bantu" dalih Arga yang mencoba merebut kardus di tangan Fa'is.
"Halah udah, sana lo kedepan, tamu udah pada datang, bentar lagi acara sambutan kan"
"Oiya, yuk La kedepan"
Aku mengikutinya, berjalan di belakang pria tinggi berbadan tegap itu, caranya berjalan sangat berwibawa, ya karena dia anggota paski, itu membuatku selalu 'mleyot' ketika memperhatikannya.
Aiyaiya bang jali punya utang, Aiyaiya..eh maksudku...tung..ting..tung..ting..tung...sawagashi hibi ni..waraenai..kimi ni...
Ponselku berbunyi, seseorang meneleponku, Langsung saja kulihat siapa yang menelepon, itu kakakku kemudian aku segera menyentuh ikon hijau yang bergetar itu dan menyapa kakakku.
"Siapa? Kakak?" tanya Arga yang sudah hafal dengan suara kakakku.
Aku hanya mengangguk untuk menjawabnya, karena mulutku sibuk berbicara dengan kakakku di telepon.
"Kalo telepon jangan sambil jalan, nanti jatoh"
Ucapnya yang terdengar kesal karena aku tidak menghiraukannya, lucu sih tapi aku masih terlalu sibuk dengan pembicaraan di telepon.
Bruk!!
Seseorang yang membawa segelas teh hangat menabrakku, tentu saja aku kehilangan keseimbangan dan secara otomatis tanganku menarik baju Arga yang ada didepanku.
"Aduh!!" Aku merintih kesakitan, tentu saja karena teh itu tumpah ke arahku dan Arga, terlebih lagi itu bukan teh hangat tapi teh panas.
"Maaf..maaf gak sengaja, tadi lagi konsentrasi sama teh nya biar gak tumpah" ucap Rina meminta maaf.
"Lala lu gak apa apa kan?"
Rina meraih tanganku dan memastikan keadaanku, Rina adalah anggota PMR, tentu saja dia ahli membuat teh untuk seseorang yang sakit, tapi sepertinya Rina ini agak psikopat, tehnya panas banget, bukannya bikin mendingan malah nambah sakit gara-gara bibirnya melepuh.
"Gak kok gak apa apa, cuma basah dikit"
"Yaudah sekali lagi gue minta maaf ya"
"Iya, lain kali hati hati" ucap Arga yang menyahut jawaban.
"Ok gue duluan" Rina segera memungut gelas dan nampan yang terjatuh dan beranjak pergi meninggalkan kami berdua.
"Arga gapapa kan?"
"Engga" ucapnya ketus
"Astaga! Ga..kemeja kamu kotor" ucapku yang langsung meraih pergelangan tangannya, terlihat noda kuning di lengan kirinya karena tumpahan teh.
"Tau.." ucapnya singkat yang memang sebenarnya dia sudah tau.
"Maaf yak, gara gara Lala jadi jatuh"
"Tu tau... mangkanya kalo lagi telepon berhenti dulu, untung gak nabrak tiang terus hilang tuh hidung kecil"
Sontak saja aku meraba hidungku yang memang kecil, tidak seperti milik Arga yang mancung seperti anak orang luar negeri itu.
"Hehh Arga tunggu!!"
Jelas sekali Arga merasa kesal, dia meninggalkanku tanpa kata-kata, pembukaan acaranya sebentar lagi, dan dia akan turut memberikan sambutan sebagai wakil dari seluruh siswa di SMA tuan rumah, tentu saja dia tidak bisa tampil kotor seperti itu.
"Aduh!!" Kakiku terasa sakit, terkilir sepertinya, ajaib sekali, tadi saat Rina masih disini kakiku baik baik saja, tapi saat Rina pergi sakitnya muncul, tapi ahh sudahlah ada sesuatu yang lebih penting.
"Arga tunggu!!"
Aku terus mengikutinya sampai dia berhenti di depan Ruang OSIS, dia berhenti di depan Hani yang sudah rapi memakai Almamater identitas OSIS miliknya.
"Han..lu liat Yoga gak?"
"Engga tuh, terakhir lihat pas tamu belum pada dateng tadi"
"Reno?"
"Nggak juga"
"Mana sih OSIS yang laki"
"Kenapa sih ga? Kalo ada urusan gue aja bisa, walau cewe mau angkat-angkat gue juga kuat kok"
"Gak..gak ada tugas, gue mau tukeran kemeja, punya gue basah, bentar lagi mulai acara"
"Wah parah banget sih, acaranya udah mau mulai ini"
"Mending gak usah ganti deh, lo pake almamet aja, gak kelihatan kok"
"Oiya.."
Arga masuk ke dalam ruang OSIS, tentu saja aku akan mengikutinya untuk meminta maaf, walaupun dia tidak akan memperdulikanku tapi setidaknya aku akan membantunya.
Di dalam Arga terlihat mulai panik, dia meraba isi tasnya sampai mengeluarkan beberapa benda didalamnya, dia terlihat sedikit kesal karena dia melahkukannya dengan agak kasar.
"Gak ada kah?" tanyaku.
Namun tentu saja, pak ketua OSIS yang sedang kesal itu tidak menghiraukannya, dia masih sibuk dengan tasnya.
"Kalo Arga lupa bawa, pakai punya Lala aja"
"Lala minta maaf soal tadi, maafin yak"
Arga berbalik ketika MC sudah memulai acara, namun bukan untuk menjawabku tapi malah pergi dan melewatiku begitu saja, tentu saja terasa sakit, di jantung bukan dihati, karena hati letaknya bukan di dada, tapi ini bukan sakit jantung, rasanya seperti 'DEG' lalu kemudian terasa panas yang merambat sampai ke perut.
Tentu saja aku tidak akan mengikutinya lagi, karena aku tau dia juga tidak suka itu, ku ambil almamater di tasku dan mencari seseorang yang mungkin bisa membantuku.
Bingo!
Itu Yoga, sesegera mungkin aku menemuinya dan menyapanya, berharap mendapat bantuan darinya dan berguna untuk Arga.
"Apa?" Ucap Yoga sebelum aku menyapanya.
"Tadi dicariin Arga, bajunya kotor mau tuker sama kamu, bentar lagi mau sambutan"
"Oh dimana tu anak?" tanyanya yang terlihat setuju.
"Tadi ke Aula"
"Btw mana sempat dia ganti, bukanya udah mempet banget"
"Kalo gak sempat, nih minta tolong kasih ke Arga, dia gak bawa Almamater soalnya, minta tolong ya Ga"
"Kenapa gak lo kasih aja sendiri?" tanya nya yang mulai curiga, karena biasanya aku memang tidak pernah meminta tolong siapapun untuk memberi sesuatu kepada Arga.
"Eh engga..gue ada urusan bentar"
"Ok"
Yoga mengambil Almamaterku dan menuju ke Aula, dan setelah dia tidak terlihat lagi, giliran aku yang berjalan menuju ke Aula.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...."
Saat aku sampai di sana, aku sudah melihat Arga berdiri di atas panggung sambil memberi sambutan dengan sangat hikmat, kulihat pakaiannya sudah rapi dengan kemeja putih berbalut almamater, mungkin dia sudah mendapatkan pinjaman kemeja dari Reno, Bimo, atau Fa'is atau siapa lah yang pertama dia temui.
Syukurlah semua berjalan lancar, Arga turun dari panggung dan beberapa acara lain diselenggarakan untuk pembukaan.
Pukul 09:30 acara pembukaan sudah selesai, para peserta sudah berada di ruangannya masing masing beserta dengan para guru pendamping, dan sampai saat itu aku belum bertemu dengan Arga lagi, tidak menghindar sih...lebih tepatnya memang takdir tidak membiarkan kami untuk bertemu.
"Hahh...cape..." keluhku setelah meletakkan kardus besar berisi beberapa perlengkapan acara tadi.
"Rajin banget kakak OSIS" seseorang menyapaku dengan tangan lancangnya yang mengacak acak rambutku yang terurai.
"Arga!?" kataku yang terkejut.
"Nih..makasih ya" ucapnya sambil memberikan Almamater kepadaku.
"Loh kamu gak ganti baju?" ucapku setelah melihat kemeja yang dia pakai masih kemeja yang basah karena teh tadi.
"Nggak tuh"
"Ini punya Lala kah?" tanyaku sambil menunjuk Almamater yang dipegang Arga.
"Iya lah punya siapa lagi, orang punyaku dirumah"
"Yoga yang ngasih tadi"
"Ahh.. berarti bener ini punya Lala"
"Makasih ya" ucapnya lagi sambil membuat rambutku berantakan.
"Ih iya iya..udah ih lepasin"
"Hahaha oke"
"Maafin Lala ya soal tadi"
"Gak papa ko, maafin Arga juga ya"
"BTW tangan kamu sakit gak?"
"tangan?" tanyaku bingung.
"iya tadi kena teh, teh nya panas banget, takut melepuh tu kulit" tanyanya yang ternyata masih memperhatikanku.
"ah engga kok, gak sampe melepuh cuma merah doang, udah gak sakit juga"
"syukur deh kalo gitu"
"yuk beli boba, pasti cape kan?"
"Haa beneran!? Ayuk!!" ucapku yang tentu saja sangat senang ketika mendengar kata boba terucap dari bibir Arga.
Minum boba aja udah manis, apalagi yang beliin si doi seorang ketos galak yang tetep ganteng walau lagi marah, ahh...siap siap diabetes deh.
.
.
---TAMAT---