"Maaf mas, tapi jangan pergi dulu.. Aku sayang sama mas Bima"
Aku tahu kali ini aku sedang melakukan sesuatu yang menjijikkan, pria ini bukan milikku, aku sama sekali tak pantas memeluknya seperti ini
"Dek tolong lepas! Mas takut ada yang salah paham kalau ada yang lihat kita seperti ini! "
Suaranya terdengar lembut namun tegas
"Semuanya juga udah salah dari awal mas! Mas pasti sadar juga kan! suamiku yang semestinya ada disampingku sekarang ini, apa aku sama sekali ga berharga? Apa anaknya ini bukan prioritasnya? "
Aku merasa frustasi dengan keadaan ini, tangisku tak terbendung
Kami sempat berdebat, namun akhirnya pria itu meninggalkan aku sendiri, air mataku tak lagi mau menetes, aku semakin tenggelam dalam lamunan 'Tidak, ini semua kamu juga yang memulai kan, kamu yang menginginkan segalanya jadi seperti ini, kamu yang memaksa aku menyerahkan seluruh hatiku aku yakin bahwa kamu memiliki perasaan yang sama denganku mas'
Semua kegilaan ini berawal dari
Satu tahun yang lalu (Hari pernikahanku dengan mas Dimas)
Perkenalkan namaku Laila, aku gadis sebatang kara yang sejak kecil tinggal di panti asuhan
Di usiaku yang genap 23 tahun, aku memantapkan hati untuk menerima lamaran kekasihku Dimas.
Dimas pria yang baik, penuh perhatian, aku sudah mengenalnya selama 4 tahun dan dua tahun terakhir kita menjalin hubungan
Kami memutuskan untuk menikah, usianya hanya terpaut 3 tahun lebih tua dari usiaku
Rasanya tak percaya, hari ini akan datang, aku terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya putih
"Gimana? Suka ga make up nya? " Tanya seorang wanita yang berdiri di belakangku
"Cantik banget Dis, makasih yaa"
"Ah masa sih, jadi malu.. Padahal kan baru pertama kali gue, makasih lho La udah mau jadi kelinci percobaan hihihi"
"Kan gratis" Ucapku disusul tawa jahil sahabatku
Selesai ijab qobul tamu mulai berdatangan silih berganti, aku dan suamiku duduk di pelaminan, menerima berbagai ucapan selamat dan menyalami para tamu undangan
Tak terasa sudah hampir di penghujung acara.
Mas Dimas meraih tanganku
"Sayang kamu lapar? " Tanyanya penuh perhatian
"Nanti aja mas beres acara" Jawabku, aku yang sudah lelah ini hanya mendambakan tempat tidur untuk saat ini
Tiba-tiba mas Dimas berdiri penuh semangat
"Wah tamu jauh baru dateng"
Mas Dimas menyalami pria dan wanita yang menghampiri kami
"Jauh apasi dari tadi gue disini" Jawab pria yang terus menggandeng wanita disampingnya
"Tau, lagian yang dandanin istri lu siapa malih"
Aku hanya melirik kedua pasangan itu sambil tersenyum geli
"Selamat ya Dim"
Kedua pasangan itu memberi ucapan selamat kepada mas Dimas
"Thanks Tom, Dis"
"Kok Dimas aja gue engga? " Protesku sambil menunjukkan ekspresi sebal
"Lu aja masih duduk manis kayak tuan putri" Timpal pria itu
Saat aku bangkit dari tempat duduk tiba-tiba saja
'Brekk'
Tamu undangan yang melihat kejadian itu seketika terdiam, saat suasana mulai hening mereka saling melirik satu sama lain, dan mulai berbisik entah membicarakan apa
Kejadian memalukan saat aku merusak gaun pengantin dihari pernikahanku
Adis dengan sigap mengajak aku turun dari pelaminan dan bergegas kembali ke kamar ganti
"Duh ceroboh banget sih La"
"Maaf Dis, gue ganti deh gaunnya"
"Gausah gapapa, santai! Cuma gue gaenak aja liat reaksi orang-orang tadi"
"Emang kenapa sih? " Tanyaku kesal
"Gapapa mitos orang tua, gausah dipikirin! " Jawabnya menenangkan aku.
"Dek tamu undangan ada yang mau pamit, ganti pakaiannyanyanya sudah selesai? "
Terdengar suara seorang pria dari balik pintu
"Siapa? " Tanya Adis
"Mas Bima, abangnya Dimas" Jawabku sedikit berbisik
"Sebentar mas aku keluar"
Tanpa mendengar aba-aba dariku mas Bima menerobos masuk ke ruang ganti
"Masnya! Kan udah dibilang sebentar, malah main masuk aja" Tegur Adis dengan nada tinggi
"Maaf maaf, saya ga dengar"
"Untung ganteng" Bisiknya di telingaku, yang membuat aku menahan tawa geli, kadang dia tidak seperti wanita yang satu tahun lebih tua dariku
Sudah sebulan setelah hari pernikahan, semuanya berjalan baik, kami yang masih pengantin baru masih merasakan manisnya awal pernikahan
Sampai mas Bima memberi kabar bahwa ia dipindah tugaskan ke kota tempat kami tinggal
"Sayang, mas Bima minta tolong aku cari kostan dekat sini"
"Iya, aku dengar barusan sayang, jadi mau kapan kamu carinya? "
"Aku sih kepikiran, gimana kalau mas Bima tinggal disini sama kita sayang, kan lumayan dia hemat biaya kost, uangnya bisa buat jajan anak-anaknya, lagian kita masih ada 1 kamar kosong"
"Aku ga keberatan sih mas, kalau menurut kamu baiknya begitu yaa.. Yaudah"
Awalnya mas Bima menolak tawaran kami untuk tinggal bersama
Tapi dengan segala pertimbangan akhirnya dia menyetujuinya
Tak lama berselang setelah hari itu, mas Bima datang
Aku sudah menyiapkan kamar yang akan di tempati mas Bima.
Selesai merapikan barang-barangnya mas Bima beristirahat, kami belum sempat banyak berbincang, aku yang masih canggung, dan lagi hanya ada kita berdua karena mas Dimas belum pulang dari bekerja.
Beberapa hari telah berlalu, seperti biasa aku memasak di dapur untuk menyiapkan makan malam,
sementara mas Dimas berbincang dengan kakaknya.
Tapi tiba-tiba saja mas Bima menghampiriku
"Mau di bantu dek? " Tawarnya
"Gausah mas gapapa, aku bisa sendiri" Aku berusaha menolak namun pria itu tetap mengambil inisiatif untuk memotong sayuran yang baru aku cuci
"Mas biasa masak kok waktu belum menikah dulu, karena tinggal di kost sendiri, biar hemat" Jelasnya sambil tersenyum
"Oh yaudah"
Kami sedikit mengobrol, yaa aku sekedar menanyakan kabar istri dan anaknya
Rasanya menyenangkan kalau ada yang membantu di dapur, pekerjaan jadi lebih cepat selesai
Keesokan harinya, aku merasa tidak enak badan, kepalaku pusing, mual, dan tubuhku lemas
Aku menelpon suamiku, memintanya untuk pulang cepat hari ini agar bisa mengantar aku pergi memeriksakan ku
Rupanya hari ini pekerjaannya sedang tidak bisa ditinggalkan
Dengan perasaan kesal aku menjatuhkan tubuhku diatas sofa
"Dek.. "
Suara lembut itu membangunkan ku, aku membuka mataku perlahan
"Mas Bima"
"Tidurnya di kamar dek, jangan di sofa, biar nyaman" Ujarnya
ia menyentuh keningku "badan kamu panas dek, kamu sakit? " Kali ini wajahnya terlihat panik
Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan
Mas Bima memesan taxi online, karena di rasanya tak mungkin membawaku dengan motor dalam keadaan seperti ini
Aku tak bisa bereaksi apa-apa dengan tubuh lemas
Tak lama kemudian taxi sampai di depan rumahku
Mas Bima membopong tubuhku perlahan menaiki taxi itu.
Sesampainya di rumah sakit
Dokter melakukan beberapa pemeriksaan terhadapku, lalu menemui mas Bima seraya berkata
"Pak, ibu ini hanya butuh istirahat yang banyak, jangan sampai kelelahan, karena usia kandungan nya masih sangat rentan, selamat ya pak atas kehamilan istrinya" Dokter itu mengulurkan tangan hendak menyalami mas Bima
Wajah mas Bima terlihat bingung saat menjabat tangan dokter, aku menahan tawa geli melihat ekspresi kakak iparku.
"Padahal tadi mas bilang, dok tolong periksakan adik ipar saya! Tapi kenapa dia bilang kamu istrinya mas sih"
"Hahaha aku juga ga tau mas, mungkin ga dengar kamu ngomong" Kami membahas kejadian tadi sepanjang perjalanan pulang
Dengan perasaan gembira aku mengenggam hasil pemeriksaan dan USG untuk diperlihatkan kepada suamiku, tak sabar ingin melihat ekspresi nya.
Setelah hari itu segalanya terasa menyenangkan bagiku dan mas Dimas, tak disangka kami diberi kepercayaan secepat ini
Kami semakin mesra, mas Dimas pun selalu memperhatikan segala kebutuhanku, harusnya aku tidak merasa ada yang kurang dari suamiku.
Tapi belakangan aku mulai membandingkan perhatiannya dengan mas Bima, mas Dimas memang memastikan aku tak kekurangan satu pun
Tapi mas Bima selalu ada dan membantuku seperti saat ini
"Dek! Kamu ngapain? Inget lho kata dokter jangan kecapekan! " Tuturnya
"Ga capek mas, aku kan nyucinya pake mesin" Jawabku sambil tersenyum, aku mulai terbiasa dengan keberadaan mas Bima, kami pun sudah lebih akrab
"Yaudah biar mas yang jemur ya! "
Saat aku hendak mengangkat keranjang pakaian yang sudah dikeringkan, tangan mas Bima menyentuh punggung tanganku, membuatku tertegun
Deg deg
Jantungku berdebar seketika merasakan sentuhan itu
"Kasihkan ke mas dek kamu jangan dulu angkat yang berat-berat! "
Aku melepaskan tanganku, sepertinya aku baru saja berpikir yang tidak-tidak, aku harus membuang segala pikiran tentang kakak iparku ini.
Usia kehamilan ku sekarang memasuki trimester kedua, perutku sudah membesar, rasanya semua dapat berjalan lancar berkat adanya mas Bima
Kalau saja aku sendiri, mungkin dimasa kehamilan ku ini aku sudah stress
Aku hanya memendamnya sendiri, keluhan terhadap suamiku, berharap dia akan sedikit bersimpati dan mengulurkan tanganya untuk membantuku, sedikit meringankan bebanku.
Siang hari ini panasnya terasa menyengat, rasanya aku ingin makan es krim
Kebetulan hari ini mas Dimas libur
Aku membawakan secangkir teh untuk suamiku
"Sayang, minum teh dulu biar lebih rileks" Ucapku sambil memberinya kecupan hangat di kening
"Makasih sayang" Mas Dimas menyesap teh yang aku berikan
"Mas aku pingin makan es krim" Pintaku memanja
"Yaudah sayang, beli ya" Mas Dimas mengeluarkan ponsel dari saku celananya
"Mas aku pingin makan di tokonya" Tolak ku
"Nanti sorean ya sayang, mas masih harus selesaikan berkas untuk besok"
"Apa ga bisa tunda sebentar? Aku cuma mau makan es krim kok mas" Aku berusaha membujuknya
"Yaudah, cuma mau makan es krim kan? Beli bisa, atau tunggu sore juga bisa"
Aku yang kesal mendengar jawaban suamiku pergi meninggalkannya
Bruk
Tanpa sengaja aku menabrak mas Bima
"Hati-hati dek"
Aku tak bergeming dan bergegas meninggalkan mas Bima, namun tangan kekar itu menarik lengan kananku
"Ada apa? " Tanyanya, selalu dengan nada lembut, hatiku meleleh mendengar suaranya
Tanpa sadar air mataku menetes
"Aku lagi pengen makan es krim di tokonya mas, tapi mas Dimas sibuk, padahal aku maunya sekarang"
Mas Bima mengusap puncak kepalaku, ia membungkukkan tubuhnya, menyesuaikan dengan tubuh mungilku
"Sama mas aja yuk"
"Jangan! mas Bima kan mau berangkat kerja"
"Gapapa telat sebentar, kasian ponakan mas pengen es krim" Ucapnya sambil mengelus perut buncit ku kali ini
Aku benci dengan momen seperti ini, yang kadang menggoyahkan hatiku
Tapi entah kenapa aku tak ingin menolak setiap ada kesempatan bersamanya.
Waktu kami bersama kurasa lebih banyak ketimbang waktu suamiku bersamaku
Saat masak, seperti sudah kebiasaan mas Dimas akan turut membantu di dapur
Aku membagi sebagian pekerjaanku dengannya
Sampai akhirnya
Aku terbangun, mas Bima ada tepat di samping tempat tidurku, ku lihat ia tertidur di kursi masih mengenakan seragam kerjanya
Aku tak dapat mengingat kejadian setelah aku selesai mengangkat pakaian, sepertinya aku pingsan akibat sengatan sinar matahari
"Lagi-lagi kamu yang aku repotkan mas" Gumamku
"Mas sama sekali ga merasa di repotkan dek"
"Maaf mas, mas jadi kebangun" Rupanya tanpa sengaja aku membangunkan mas Bima
"Mas juga mau pindah ke kamar, kamu kayaknya udah gapapa"
Mas Bima bangkit dari kursi, hendak pergi kembali ke kamarnya
Namun entah setan apa yang merasuki, aku berlari berhamburan memeluk tubuhnya dari belakang
"Mas, jangan pergi dulu" Pintaku
"Apa-apaan ini dek? " Tanya mas Bima bingung, ia mencoba melepas tanganku, namun semakin ku eratkan pelukan itu
Kalian pasti sudah tau setelah itu apa yang terjadi.
Setelah meredakan emosiku, aku berpikir untuk meminta maaf kepada mas Bima dan melupakan segala yang baru saja terjadi
Saat aku berada di depan kamarnya, pintu yang sedikit terbuka dan menyisakan celah memungkinkan aku untuk mengintip ke dalam kamarnya
Kudapati Ia sedang mengemasi barangnya kedalam koper.
Aku mengurungkan niat, dan kembali ke kamarku
Aku harus menjernihkan pikiran, aku tidak bisa terus berada disini
Berbekal sedikit pakaian yg aku bawa
Akhirnya aku memutuskan pergi
Kepergianku mungkin menyisakan tanya, bahkan aku lupa sebuah fakta bahwa aku meningggalkan suamiku, ayah dari bayi yang ada di perutku, tanpa pamit.
Aku pergi membawa rasa kecewa, amarah, sesal
Tanpa tahu tujuan
2 Tahun berlalu..
Putriku lahir sempurna, dan tumbuh sehat
Aku membesarkan putriku seorang diri, di tempat yang asing.
Sekarang aku bekerja di sebuah toko roti, untunglah tetangga sekitar sangat baik dan sangat menyukai Bianca, jadi aku dapat bekerja tanpa perlu mengkhawatirkan putriku dirumah
Pukul 16.00
Jam kerjaku sudah berakhir, aku bersiap untuk pulang, rasanya tak sabar ingin melihat wajah menggemaskan putriku Bianca
"Permisi"
Saat mata kami bertemu, seketika kenangan itu kembali, kenangan yang sudah lama aku tenggelamkan ke dasar hatiku.
Wajahnya masih sama seperti saat terakhir aku melihatnya, senyum hangat itu yang perlahan mencairkan hati
"Gimana kabar kamu? " Tanya pria itu
"Baik mas"
"Emm, sudah lahir? "
"Sudah hampir 2 tahun umurnya"
"Wah, itu pasti sedang lucu lucunya, anak saya juga.. " Tiba-tiba ucapan nya terhenti
"Gimana kabar istri dan anak mas Bima? " Tanyaku sambil berusaha tersenyum getir
"Anak saya baik, tapi saya sudah berpisah dengan istri"
Aku tak mampu mencerna kata-katanya
"Tapi Dimas.. Padahal saya sudah bilang yang sejujurnya, bahkan alasan kamu pergi dan alasan saya berpisah dengan istri saya, tetap Dimas tidak mau menceraikan kamu, saya hanya bisa mengalah"
"Maksudnya apa ya? Saya gak paham"
"Kamu benar! Laila saya memang mencintai kamu, saya hanya menampik kenyataan nya saja"
"Bukannya waktu itu mas bilang, mas perhatian kepada saya hanya karena saya adik ipar, dan mas merasa berhutang budi atas tumpangan yang kami berikan"
"Awalnya saya pikir begitu, tapi setelah tahu kamu pergi, saya frustasi, saya kehilangan kamu, sekarang keputusan ada di kamu la"
Aku terdiam
"Dimas masih menunggu kamu kembali,dia akan melepaskan kamu seandainya kamu yeng menginginkan, kita bisa bersama, menjalani hidup seperti dulu, tanpa diliputi rasa bersalah"
Tawaran mas Bima terdengar menggiurkan 'bukannya ini yang ingin aku dengar sejak 2 tahun lalu' tapi rasanya aku tak dapat membuat keputusan apapun, aku sudah terbiasa menjalani hidup hanya berdua dengan Bianca