"Bagaimana dengan semua pekerjaan kita? Apakah semuanya lancar?" Di sebuah gudang besar persenjataan, seorang pria muda yang tampan dengan baju rapi serba hitam bertanya demikian kepada orang-orang yang tampak tunduk di depannya.
"Lancar, Bos."
"Penjualan persenjataan kita juga meningkat drastis."
"Tak hanya itu, kita juga berhasil menguasai pasar barang-barang terlarang di kota ini."
Orang-orang itu langsung memberikan laporannya kepada seorang yang mereka sebut dengan sebutan "Bos" yang saat ini berdiri tepat di hadapan mereka.
"Altezza," tiba-tiba saja seorang pria lain berjalan dengan memanggil nama dari orang yang berdiri tepat di hadapan anak buahnya. Ia memberikan sebuah surat yang berisikan permintaan kepada Altezza.
Altezza pun segera menyuruh anak buahnya untuk segera pergi, dan lalu menerima surat tersebut.
"Apa ini? Permintaan bantuan dari kelompok Sinloa?" cetus Altezza setelah membaca dan mengetahui isi dari surat tersebut.
"Ya, mereka ingin kita membantu jalannya penyelundupan beberapa barang terlarang dari perbatasan sebelah Selatan kota," sahut pria yang memberikan surat tersebut kepada Altezza.
Altezza mengembalikan lampiran tersebut kepada rekannya, dan lalu mengatakan, "Nay, atur jadwal pertemuan dengan pemimpin Sinloa! Jika bayarannya menguntungkan, maka kita akan membantu mereka!" pintanya sebelum berjalan pergi keluar dari gudang senjata miliknya.
"Baik!" sahut Nay, pria yang memberikan surat kepada Altezza.
...
Di hari yang berbeda.
Pukul 16:00 sore. Cuaca berkabut.
Lokasi, gudang tak terpakai tepat di sebelah timur dari sebuah danau kota.
Altezza tampak sedang menemui seorang pemimpin dari kelompok Sinloa yang sebelumnya mengirimkan surat permintaan bantuan.
Lokasi pertemuan tersebut dijaga sangat ketat oleh kedua belah pihak kelompok. Orang-orang dari Sinloa cukup banyak dan berjaga di sekitaran lokasi dengan senjata api yang mereka bawa. Begitu pula dengan orang-orang milik Altezza yang juga tak kalah banyak.
"Tuan muda Altezza, senang bertemu denganmu," sapa seorang pria dengan pakaian rapi dan mantel berwarna coklat muda.
"Senang bertemu denganmu juga, Austrin," sahut Altezza yang lalu bersalaman dengannya.
"Langsung saja, jelaskan detailnya!" pinta Altezza yang tampak tidak mau berbasa-basi.
Austrin pun menjelaskannya secara rinci serta memberikan alasannya untuk meminta bantuan kepada Altezza dan kelompoknya.
"Beberapa barang kami seperti persenjataan, dan obat-obatan terlarang akan datang melalui pelabuhan sebelah Selatan besok pukul empat sore. Namun sepertinya pihak keamanan mengetahui hal itu, dan pihak kepolisian kota berencana untuk memperketat pengamanan pelabuhan, bahkan sampai menerjunkan unit taktis ke sana."
"Tentu yang namanya penyelundupan pasti dilakukan se-senyap mungkin. Tetapi, aku tidak yakin itu akan berjalan lancar, meskipun sudah ada beberapa orangku dalam pihak keamanan pelabuhan."
"Kekuatan kami mungkin bisa saja dengan mudahnya melumpuhkan pihak kepolisian, namun tidak dengan unit taktisnya. Maka dari itu kami meminta bantuan kepada kalian, Altezza."
"Keuntungan apa yang kami dapat?" sahut Altezza dengan nada dan sikap cukup dingin, langsung kepada inti dari pembicaraan yang ia inginkan.
Austrin tersenyum tipis mendengarnya, "kalian akan mendapatkan 25% dari barangnya, dan sejumlah uang tunai yang sudah ku siapkan," jawabnya yang lalu memanggil seorang wanita yang membawa sebuah koper hitam di belakangnya.
Wanita tersebut membuka dan memperlihatkan isi dari koper yang ia bawa di hadapan Altezza. Altezza dapat melihat isi koper tersebut penuh dengan uang tunai seperti yang dikatakan oleh Austrin.
Altezza sedikit menoleh dan melirik kepada Nay yang berdiri di sampingnya. Nay meresponsnya dengan sedikit mengangguk.
"Uang muka?" tanya Altezza kembali dengan menatap Austrin dengan cukup tajam.
"Tentu saja ada," sahut Austrin melangkah mendekat, dan memberikan sebuah amplop berwarna coklat yang sangat tebal kepada Altezza.
Altezza menerima amplop tersebut serta melihat isinya yang juga berisikan uang tunai yang cukup banyak.
"Kami serius meminta bantuan ini," lanjut Austrin kembali melangkah mundur dan menatap serius Altezza.
"Baik, kami akan bersiap untuk besok!" ujar Altezza dan lalu kembali berjabatan tangan dengan Austrin yang menandakan kalau dirinya sudah deal.
~
Keesokan harinya.
Pukul 16:00 sore. Cuaca berkabut.
Pelabuhan Barang Selatan Kota.
Benar apa yang dikatakan Austrin sebelumnya. Pelabuhan tersebut tampak dijaga ketat oleh pihak kepolisian dan keamanan pelabuhan.
Cukup sulit bagi Altezza dan kelompoknya untuk masuk dan mencari posisi di sekitaran. Namun, cuaca yang sedang berkabut sangat mendukung dan berpihak kepada Altezza.
"Cari posisi kalian, dan bersiap jika terjadi kontak senjata!" titah Altezza kepada seluruh anak buahnya melalui radio yang ia miliki.
Orang-orang milik Altezza memanfaatkan cuaca kabut untuk menyelinap masuk ke area pelabuhan. Tak hanya pihak dari Altezza, namun pihak dari Austrin pun juga sama dan hanya tinggal menunggu kapal pembawa barang mereka datang.
Altezza bersama Nay pun juga sudah mengambil posisinya tepat di atas dari kargo-kargo yang ada.
"Apa menurutmu kita juga harus mewaspadai orang-orang dari kelompok Sinloa?" tanya Nay terus memasang mata waspada terhadap orang-orang Sinloa yang berjaga di atas kargo-kargo dan masing-masing sudut pelabuhan.
"Tentu saja, Sinloa adalah saingan kita. Jika mereka yang memulai, maka kita yang akan mengakhiri mereka ...!" jawab Altezza dengan nada dan sikap yang cukup dingin sedingin cuaca yang sedang menyelimuti pelabuhan saat ini.
10 menit kemudian.
Pukul 16:10 sore.
Kapal kargo terakhir yang akan berlabuh di pelabuhan itupun tiba. Para petugas keamanan pelabuhan serta kepolisian pun langsung berdatangan dan memeriksa setiap barang yang keluar dari kapal.
Orang-orang dari kelompok Sinloa pun semakin mendekati kapal secara diam-diam dan sangat senyap. Sedangkan Altezza dan kelompoknya cukup menunggu dan bersiap untuk melumpuhkan para penjaga jika terjadi sesuatu di luar rencana.
...
"Periksa kotak itu!" pinta salah satu anggota polisi kepada pihak keamanan pelabuhan.
Sebuah kotak kayu yang sangat besar pun dibawa keluar dari kapal oleh tiga orang pihak keamanan pelabuhan, dan dihadapkan ke beberapa anggota polisi yang berjaga di sana.
Namun saat kotak kayu itu ingin diperiksa oleh pihak kepolisian. Ketiga orang dari pihak keamanan pelabuhan tiba-tiba melarangnya, dan mengatakan kalau kotak tersebut tidak bisa dibuka.
Kecurigaan pun terjadi pada pihak kepolisian yang ada. Mereka tetap memaksa untuk memeriksa isi kotak tersebut. Namun tetap saja tiga orang pihak pelabuhan menolaknya, dan itu cukup membuat pihak kepolisian kesulitan untuk mendapatkan izin.
Tiga menit berlalu, dan situasi pun semakin memanas. Bahkan sedikit perdebatan pun terjadi. Pihak kepolisian pun memilih jalan terakhir, yaitu langsung mengamankan ketiga orang dari pihak keamanan pelabuhan itu. Namun ketiga orang tersebut melakukan perlawanan dengan mengeluarkan pisau yang mereka bawa.
"Jatuhkan pisau kalian!" titah dengan tegas salah satu anggota polisi. Ketiga orang tersebut pun langsung dikepung oleh beberapa anggota taktis yang bersiaga di sana.
Altezza melihat semua yang terjadi dari kejauhan. Dirinya juga melihat orang-orang dari Sinloa mulai bergerak perlahan dan bersiap untuk menyerang para aparat yang ada di sana.
"Nay, persiapkan dirimu!" pinta Altezza kepada Nay di sampingnya, seraya mempersiapkan pistol miliknya.
DOR ... DOR ... DOR ...!
Tepat setelah Altezza selesai berbicara. Baku tembak pun tiba-tiba saja terjadi. Orang-orang dari pihak milik Austrin yang memulai tembakan tersebut, dan memecahkan situasi dari pihak kepolisian.
"Hajar! Habisi para aparat itu!" titah Austrin kepada anak buahnya.
"Kalian dipersilakan untuk menembak! Sasaran kalian adalah para aparat itu!" pinta Altezza kepada anak buahnya sendiri.
Kepanikan pun terjadi. Fokus dari para aparat di lokasi pun terpecah, karena mereka mendapatkan serangan secara tiba-tiba tanpa adanya sedikit celah untuk berlindung.
Situasi di pelabuhan tersebut tiba-tiba saja menjadi mengerikan dengan baku tembak antara pihak kepolisian dengan dua kelompok kriminal. Warga sipil yang ada di sekitar lokasi pun berhamburan keluar dari pelabuhan untuk menyelamatkan diri.
"Pak, kita tidak bisa bertahan di sin --- ARGGHHH ...!" belum selesai polisi tersebut berbicara dari balik pintu mobilnya, tiba-tiba saja sebuah peluru melayang ke arahnya dan membuatnya tewas di tempat.
"Mereka dari mana-mana!"
"Cepat habisi para keparat itu!"
Teriak-teriak beberapa anggota polisi yang tampak sangat panik karena diserang dari berbagai sisi, terlebih lagi cuaca kabut cukup menghalang pengelihatan mereka.
"Habisi! Kita bisa dapatkan barang rampasan dari para aparat keparat itu!" teriak Austrin berlari maju dan menembaki para polisi di sana.
Sedangkan Altezza dan kelompoknya sibuk menangani unit taktis yang sangat mengganggu Austrin dan kelompoknya. Dengan persenjataan berat yang dimiliki oleh kelompok Altezza, itu sangat cukup untuk membuat unit taktis dari kepolisian sulit untuk melakukan perlawanan.
Seketika pelabuhan tersebut menjadi medan perang dadakan yang sangat berdarah. Situasi di area pelabuhan seketika menjadi sungguh mengerikan dan mencekam. Meskipun sudah jatuh banyak korban, baik korban tewas dan luka dari kedua belah pihak. Namun korban lebih banyak jatuh kepada pihak kepolisian yang memiliki posisi sangat dirugikan.
Tidak hanya dari kedua pihak yang bersangkutan. Namun juga jatuh korban dari beberapa warga sipil di area pelabuhan.
Selama hampir setengah jam, baku tembak itu terjadi tanpa henti-hentinya. Kelompok Sinloa dan kelompok milik Altezza benar-benar menyerang para aparat dan orang-orang yang ada di pelabuhan tanpa ampun.
Altezza melihat semua peperangan yang terjadi mendadak di area pelabuhan barang kota. Kedua kelompok kriminal itu benar-benar membuat pihak kepolisian harus tersudut dan terpaksa mundur.
"MAMA ...!!! MAMA ...!!!" teriak seorang anak perempuan menangis di tengah kekacauan itu. Di depan seorang anak itu terdapat seorang wanita yang tergeletak tak bergerak sama sekali dengan luka akibat peluru di perutnya.
Tak hanya itu. Altezza melihat cukup banyak aparat yang tewas di tempat dengan kondisi bersimbah darah, dan di antaranya adalah warga sipil. Namun baginya sudah sangat biasa melihat pemandangan seperti itu sejak memasuki dunia kelam itu.
...
Setelah hampir lebih dari puluhan aparat tewas di pelabuhan dalam kurun waktu setengah jam kontak senjata. Altezza berjalan menghampiri Austrin yang tampak sibuk merampas persenjataan dan barang bawaan milik para aparat yang tewas.
"Apakah semua sudah selesai?" tanya Altezza menatap tajam Austrin.
Sesaat setelah Altezza bertanya demikian. Tiba-tiba saja helikopter milik kepolisian datang dan berputar mengitari area pelabuhan.
"Sepertinya ... belum," jawab Austrin menatap helikopter berwarna biru milik kepolisian yang terus berputar mengitarinya, disusul dengan suara-suara sirine yang tiba-tiba meraung-raung di sekitar area pelabuhan.
"Tetapi, ini tidak seperti kontrak kita. Aku akan meminta bayarannya sekarang, dan menarik mundur kelompok ku di sini!" sahut Altezza menyangkal dengan nada cukup meninggi. Mendengar Altezza berbicara, semua anak buahnya langsung berjalan menghampiri dan berdiri tepat di belakangnya dengan senjata-senjata di tangan mereka.
Austrin melirik tajam ke arah Altezza dan mengatakan, "aku perpanjang kontrak, dan ku tambahkan bayarannya tiga kali lipat, bagaimana?" ucapnya.
Mendengar hal tersebut, Altezza menoleh dan melirik ke arah seluruh anak buahnya yang tampak masih kekurangan akan adrenalin. Di sisi lain dirinya sendiri cukup tertarik dengan tawaran tersebut.
"Baiklah, tetapi aku minta bagian persenjataannya dilebihkan!" Altezza memberikan jawabannya dan lalu mengulurkan tangan ingin berjabat tangan dengan Austrin.
"Tentu, tidak masalah!" sahut Austrin setuju.
Tatapan tajam mata mereka semua langsung tertuju ke arah helikopter yang terus saja berkeliling di atas mereka. Persenjataan berat di tangan mereka masing-masing, dan seolah masih menginginkan peperangan.
.
Selesai~