Ayu berjalan menyusuri jalan setapak di larut malam, ia menggenggam kantong plastik dan menyorot jalanan dengan senter. beberapakali ia menghela napas resah.
Sehabis makan malam tadi, ibu menyuruhnya membeli telur di gang sebelah untuk sarapan besok pagi. Ayu mau tak mau harus membeli telur, ia tak ingin kelaparan saat menghadapi ujian besok. mustahil juga ia menyuruh adiknya yang baru berusia lima tahun.
Tidak seperti biasanya, keadaan gang sangat gelap. berbekal senter mancis milik ayahnya, Ayu menyenter jalan setapak itu. sangat aneh, keadaan gang sangat sepi dan tidak ada seorangpun. biasanya jam setengah sepuluh masih ada beberapa orang yang mengobrol di depan rumah.
Bulu kuduk Ayu meremang tak kala hembusan angin malam menerpa kulit sawo matangnya, tiba-tiba terdengar lirihan di penghujung gang.
Ia sudah hampir sampai di depan rumah, tetapi suara kesakitan itu membuat jantungnya berdetak lebih kencang karena penasaran sekaligus takut.
Enam rumah lagi setelah rumahnya terdapat rumah di ujung gang, ia menatap pintu rumahnya kemudian bergantian ke arah rumah di ujung gang itu. ia tinggal di gang buntu, rumah di ujung sudah bertahun-tahun tak di tempati. dulu pemiliknya meninggal dan tidak ada sanak saudara yang mengurus rumah itu, akibatnya rumah itu menjadi kosong dan terbengkalai.
Ayu semakin bergidik saat mendengar suara lirihan itu lagi," tolonggg ..."
"Dinginnn, tolong ..."
Ayu sudah di depan rumahnya tetapi, ia melanjutkan langkahnya menuju ujung gang itu. suara rintihan itu semakin jelas terdengar di telinga, Ayu semakin penasaran saat melihat pintu rumah ujung gang yang selama ini tertutup rapat kini terbuka sedikit.
Ia mendekati pintu dan mengintip, detik itu juga ia terbelalak kaget mendapati seorang wanita muda berlumuran darah tergeletak di lantai dengan pakaian sobek bercak darah dan menatap kearahnya.
Lebih mengejutkannya lagi, seorang pria berjas formal dengan topeng di wajahnya sedang menguliti wanita itu. Ayu ingin berteriak dan berlari sekencang mungkin dari tempat itu, tetapi rasa takut membuatnya gemetar dan mematung diliputi keringat dingin.
"Tolonggg ..." lirih wanita itu lagi dengan mata yang tertuju pada Ayu.
Ayu menahan napas membeku tatkala pria itu menatapnya sambil menyeringai dan beberapa pria tiba-tiba mengepungnya, anehnya mereka semua berpenampilan formal dan mengenakan topeng seperti pria yang berada di dalam rumah itu.
"Dua puluh lima miliar akan di berikan kepada keluargamu, apabila kau bersedia mati." ujar salah seorang pria berbadan tinggi dan tegap.
Mereka ... mafia berdarah dingin ...