Ini bukan kisah tentang Romeo dan Juliet kisah cinta romantis tragis, juga bukan Erik dan Ros dalam film Titanic. Apa lagi kisah tentang Siti Nurbaya yang dijodohkan.
Ini hanya tentang mereka berdua yang dipertemukan secara tidak sengaja, kisah mereka bukan dipisahkan oleh orang tua atau alam, hanya saja memang mereka tak ditakdirkan untuk bersama.
Bagai mana takdir berbicara dan bagai mana waktu bercerita, hingga tuhanlah yang memutuskan semua berjalan seperti yang dikehendaki-nya.
🍁🍁🍁🍁
Malam itu Kianara tengah menikmati gemerlapnya bintang ditaman pusat kota, kakinya yang ditekuk terangkat dikursi taman, ia sedang berandai - andai saat ini.
"Andaikan aku memiliki pasangan, mungkin malam ini akan lebih indah" begitulah guamam itu terucap, membuat pria disamping Kianara melirik sekilas dan tersenyum mendengar gumaman gadis itu.
Kianara tersentak kaget saat dirinya menyadari jika ditempatnya duduk tidaklah hanya ia sendri, ternyata masih ada orang lain disana, aduh betapa malunya dirinya mengingat saat tadi dirinya bergumam demikian.
'Apa dia mendengarnya ya?' Batin Kia bertanya - tanya, terlalu malu untuk menanyakan apakah dia mendengar gumamannya atau tidak, karenanya Kia lebih memilih beranjak dari sana, membuat silelaki menerbitkan senyumnya yang tak sempat dilihat oleh Kia, ahhh andai kau melihatnya Kia begitu tampan paras pria itu apalagi dengan senyum yang tersungging dibibirnya.
****
Malam kembali merajai bumi,gelapnya malam tak menyurutkan penduduk bumi untuk beraktivitas dimalam hari, apa lagi dikota besar seperti ini, Kia kembali ketaman itu lagi, hanya sekedar untuk melepas penat setelah bekerja seharian penuh.
Bukankah tubuhnya butuh diistirahatkan, dengan begini Kia bisa beristirahat, menghirup udara malam dengan latar taman begitu menyejukan menurutnya, ya dari pada ke mall, dia lebih memilih taman untuk tempatnya melepas lelah.
kalau ke mall yang ada bukannya melepas lelah, malah menambah lelah pikirnya karena berjalan terus, waktu terus berputar tak terasa hari semakin larut, ternyata memandang langit malam membuatnya lupa waktu.
Kia melirik sekilas jam dipergelangan tangannya, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 22.30 wib, "Ya ampuh sudah hampir jam sebelas malam, kenapa jadi lupa waktu gini" gumam Kia, saat hendak menurunkan kakinya yang lagi - lagi ditekuk, Kia tak sengaja melirik kearah samping kanannya, alangkah terkejut dirinya mendapati seseorang yang duduk disampingnya.
Orang yang sama yang mendengar gumaman Kia kemarin mungkin saja! 'Apa aku seterhanyut itu melihat langit malam, hingga tak menyadari keberadaannya' batin Kia.
Karena diburu waktu akhirnya Kia pergi begitu saja tanpa sepatah katapun, hanya sekedar bungkukan tanda menghormati pria asing itu, yang dibalas oleh si pria dengan anggukan juga.
***
Dua bulan sudah berlalu, selama dua bulan itu setiap kali Kia ketaman kota dimalam hari dia selalu menemukan pria asing itu ditempat yang sama dengannya duduk.
Walau tanpa kata entah mengapa Kia merasa nyaman dengan kehadiran lelaki itu, walau hanya kesunyian yang melanda mereka, namun itu yang membuat kesan tersendiri di hati mereka berdua.
Terkadang tanpa sadar keduanya mencurahkan kegundahannya, walau hanya ditanggapi dengan kesunyian, seperti sudah disetting dari sananya jika salah satunya bercerita yang satu hanya akan diam mendengarkan tanpa membalas semua ucapan dia yang sedang bercerita.
Interaksi yang aneh namun memang kenyataannya seperti itu, semuanya berjalan baik, kedua insan itu saling merasa nyaman atas kehadiran masing - masing ditempat itu, mengisi kekosongan disisi mereka.
Sampai suatu ketika kenyataan yang harus mereka tanggung nyatanya tak seindah yang mereka bayangkan, malam itu seharusnya malam yang indah menurut Kia, bukan hanya karena gemerlap bintang yang bertabur dilangit malam saja, melainkan suasana syahdu yang terjalin antara mereka malam ini, entah mengapa dirinya merasa spesial malam ini padahal mereka hanya duduk diam, tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua.
"Minggu depan acara pernikahan ku digelar" ucapan lirih yang bahkan seharusnya tak terdengar karena sudah terbang terbawa angin, nyatanya bukan hanya menembus gendang telinga Kianara, melainkan menembus kedalam relung hati terdalamnya.
Entah mengapa jantungnya seakan berhenti terpompa, hingga darah yang harusnya mengalir lancar sepertinya sedikit tersumbat, pasokan oksigen tiba - tiba saja menjadi menipis mempersempit ruang penyimpanan oksigen sehingga paru - parunya tidak merasa cukup menghirup udara, membuat gumpalan dikerongkongan Kia, hidungnya terasa tersumbat begitu saja, nafasnya tercekat, sesak yang dirasanya sepertinya tidak berdasar tentang bagai mana lajur kerja paru - paru dan hidungnya bekerja.
Nyatanya semua fungsi organ tubuhnya bekerja dengan sangat baik, yang tak baik adalah kabar yang diberikan silelaki yang selama dua bulan ini menemani malamnya, ditaman pusar kota itu.
Ahhh ternyata cinta sudah ikut campur dalam hal ini, "Tiga hari yang lalu orang tua ku melamar kan calon pilihan mereka untuk ku, aku tak bisa menolaknya" ujar silelaki itu, Kia hanya terdiam seribu bahasa, badannya serasa tak bertenaga saat ini, sungguh kaku dirinya hanya karena mendapatkan kabar pernikahan lelaki asingnya itu.
"Aku hanya ingin memberi tahukan hal itu, aku tak berharap kau datang" ungkapnya seraya beranjak dari duduknya, jujur saja ini bukan maunya, orang tuanya sudah memberikan kebebasan untuknya mencari pasangan, tapi nyatanya pria itu tak pernah mengenalkan pasangannya terhadap kedua orang tuanya, saat dirinya ingin memperkenalkan seseorang pada keluarganya, ternyata dirinya sudah amat sangat terlambat, membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengatakan jika dirinya sudah menemukan pasangan hidupnya kelak.
Ahhhh penyesalan memang selalu datang diakhir, sedikit saja malam itu dirinya pulang cepat, mungkin dia masih bisa mencegah apa yang akan dilakukan orang tuanya untuk dirinya, tapi nyatanya waktu sudah berbicara dan takdirnya sudah bercerita apa yang mau ia bantah jika tuhan audah menggariskannya demikian.
membantah seperti apapun nyatanya jika tidak ditakdirkan untuk bersama akan sulit untuk melawannya, yang berbicara saat ini Tuhannya melalui takdir yang digariskan, ini hanya suratan yang digariskan sang kuasa kepadanya, itu artinya dia harus berlapang dada menjalaninya.
Tanpa sadar tubuh Kianara berjalan sendiri menghampiri punggung tegap yang sudah berjalan lima langkah meninggalkan tempat duduknya dan juga Kia, tanpa bisa dicegah Kia memeluk lelakinya, yang harus ia hapus malam itu juga dari hatinya, padahal dia baru sadar akan rasa baru dihatinya, rasa sesak yang tertanam ternyata adalah sebuah luka karena ketidak beruntungan dirinya, baru saja merasakan cinta namun harus hancur begitu saja karena cinta pula.
"Nyatanya aku sangat terlambat menyadarinya, amat sangat terlambat" lirih Kia, yang masih bisa didengar oleh pria yang kini tengah dipeluknya dari arah belakang.
"Seperti katamu, aku tak akan datang kepestamu kau pun tak mengharapkan kehadiran ku" ucapnya yang hanya mendapatkan anggukan saja sebagai jawaban dari sipria asing itu.
"Ternyata takdir begitu kejam, bahkan sampai saat ini aku tak mengenal namamu, tapi cinta malah tumbuh subur untukmu yang harus ku relakan untuk ku kubur" ungkap Kia, air matanya sudah mengalir membasahi pipinya serta baju kaos yang dipakai pria itu.
merasakan bajunya basah membuat pria itu sadar akan satuhal yang pasti dirasakannya saat ini, ya itu sakit sungguh ini amat menyakitkan untuknya, namun apalah daya dia tak mungkin membatalkan semua ini, ini bukan salah orang tuanya, ataupun dirinya dan gadis yang tengah memeluknya erat.
Nyatanya memang takdirlah yang tak berpihak kepadanya membuat keadaan serumit ini terjadi padanya, ia hanya berharap ada hikmah yang tuhan selipkan dari kisahnya yang belum sempat dimulai ini namun harus kandas karena suratan.
Pria itu berbalik dan membalas pelukan gadisnya biarlah hanya untuk malam ini dirinya menyatakan kepemilikannya pada gadisnya yang sebentar lagi akan dilepasnya itu, biarlah hanya untuk beberapa saat saja, anggap saja reward untuknya dan si gadis karena telah ikhlas dengan takdir yang akan mereka jalani.
Kia semakin membenamkan kepalanya kedada bidang prianya sungguh nyaman rasanya, aroma maskulin yang tercium dari tubuh prianya menambah rasa nyaman yang tak ingin dilepaskan gadis itu, namun dirinya sadar sekeras apapun ia melawan, jika takdir sudah menggariskan tintanya, penegasannya teramat nyata untuknya dan prianya.
Dia hanya bisa menikmati momen yang tuhan telah coba kasih untuknya, hanya sekedar untuk membuatnya merasakan dicintai agar dirinya tak menganggap jika tuhan tidak adil untuknya, sebelum dirinya terbiasa dengan kata ikhlas yang akan coba dia jalani.
"Maafkan aku" hanya kata itu yang terucap dari pria itu, membuat air mata Kia semakin menganak sungai saja, nyatanya perasaannya terbalaskan, sayangnya takdir tak berpihak kepada keduanya.
"Tak ada hiks yang salah hiks disini, mungkin Tuhan memilik rencana lain dengan kisah ini" ungkap gadis itu, keduanya mengurai pelukan mereka, Kia tersenyum tulus kepada pria yang dua bulan ini mengisi malamnya.
Seulas senyum terbit dibibir mereka berdua, "Terimakasih kau sudah mau mendengarkan keluh kesah ku selama dua bulan ini" ucap Kia tulus, yang hanya diangguki oleh si pria itu.
"Apa kau tak ingin tahu nama ku?" Tanya pria itu.
"Tadi sempat terlintas, hanya saja lebih baik seperti ini" ucap Kia, pria itu tahu gadisnya sedang terluka, dia tidak sedang baik - baik saja, itu terlihat begitu jelas matanya yang sendu itu, walau senyum terurai dibibirnya.
"Jika itu mau mu" ucap si pria pasrah.
"Jangan menyalahkan takdir yang tak bisa merestui kita, mungkin kebahagiaan kita bukan saat kita bersama" ucap Kia pada lelakinya yang terlihat kacau itu.
"Kau benar, kuharap jika suatu saat nanti kita bertemu lagi kita sama - sama bahagia dengan takdir yang tuhan berikan" ungkapan doa si pria yang langsung diamini oleh Kia
"Itu sudah pasti" ucapnya lantang, membuat sipria terkekeh.
"Aku pamit" pamit silelaki
"Sampai jumpa kembali dengan rasa bahagia yang lebih dari ini" lanjut lelaki itu, membuat air mata Kia kembai menggenang, satu kali kedip sudah dipastikan bendungan itu akan jebol kembali.
"ya, sampai bertemu lagi" ucap Kia 'Didimensi lain dengan takdir yang berpihak kepada kita, ku harap waktu merestuinya dan Tuhan mengabulkannya' lanjut batin Kia.
Langkah keduanya gontai berbalik saling memunggungi berjalan dalam dua arah berlawanan, seperti hati mereka yang berlawanan, ingin rasanya menentang takdir tapi kenyataannya mereka tak bisa, yang mereka bisa lakukan hanya menjalani takdir itu tentunya dengan rasa ikhlas yang saat ini coba mereka bangun dihati masing - masing.
"Semoga kau bahagia gadis taman ku" gumam si pria dengan langkah pasti.
"Semoga kau bahagia, pria taman ku" ucapan yang sama yang terucap dari mulut mungil gadis itu.
🍁🍁🍁🍁
Itulah mengapa cinta tak pernah bertuan, dia selalu mengelak dengan banyak cerita yang menghiasinya, sama seperti kisah mereka yang bertemu sekilas dengan cinta yang besar yang sayangnya tidak tergantikan untuk bersama, jika dikata menyesal tentu jawaban keduanya adalah tidak, karena jika tidak ada malam itu mereka tidak akan memiliki kisah ini.
Walau singkat ternyata keduanya tetap bersyukur akan hal itu, kisah mereka harus berakhir malam, tanpa sempat memulai kisah mereka sudah berakhir begitu saja karena suratan yang sudah berbicara, takdir bercerita, waktu berkehendak dan Tuhan yang memberi perintah apa yang bisa mereka lakukan.
Jika sang pencipta langsung yang menolak kisah itu hadir dalam hidup mereka, walau demikian keduanya tak pernah menyalahkan semau ini kepada tuhan, karena mereka tahu betul tuhan adil dalam segala hal termasuk takdirnya dengan gadis itu.
Pada akhirnya hanya kursi ditaman itulah yang menjadi saksi bisu cerita mereka berakhir samai sini, satu lagi cerita yang kursi taman dapatkan dari dua insan yang salin memendam rasa tanpa bisa mengutarakannya, karena terhalang takdir.
"Nyatanya kisahku tak seindah Romeo dan Juliet walau tragis, walau kami punya kemiripan, sama - sama tidak bisa bersatu" gumam Kia.
🍁🍁🍁🍁