Dimalam ini tepat pukul 12, dalam ruangan 5 x 20 m² dengan tembok bercat abu abu terdapat ramai orang orang bertubuh tinggi besar berotot dan juga terdapat 6 remaja perempuan yang masih terlihat umur 17 tahun.
Semua orang orang bertubuh tinggi besar berotot tersebut berdiri dibelakang 6 gadis tersebut, menatap kearah tembok belakang yang sudah ada 3 orang disekap disana.
Satu orang bertubuh tinggi yang terlihat berumur 50 tahunan diikat kedua tangannya keatas, dengan tubuh yang erat dikunci oleh rantai yang saling menyambung diantara 3 orang tersebut.
Sedangkan dua lainnya pemuda yang terlihat berumur 28 tahun, wajah mereka sama, sepertinya mereka adalah saudara kembar.
Beda dengan keadaan bapak tua tadi, kedua pemuda kembar ini didudukkan diatas kursi dengan kedua tangan, kedua kaki dan juga badan yang ikut erat diikat oleh rantai panjang, mulut mereka juga ditutup oleh lakban hitam.
Rantai tersebut dipegang oleh salah satu 6 gadis didepan ketiga mangsa yang disekap tersebut.
"Menyerahlah, berhentikan organisasi itu atau kami berhentikan nyawa kalian selamanya" ancam salah satu dari 6 gadis tersebut, namanya Virgin gadis berpawakan tinggi kurus, berkulit putih dan berhidung mancung.
Bapak tua berumur 50 tahun tersebut hanya menggeleng "tidak akan!" jawabnya.
Virgin menjentikkan jarinya, lalu seseorang bertubuh besar mencambuknya dengan kayu yang berisi banyak paku.
"Ku tanyakan sekali lagi, hentikan organisasi itu atau nyawa kalian bertiga yang kami hentikan" bukan Virgin, melainkan satu gadis lainnya, yaitu Ika mempunyai tubuh yang ideal bagai seorang model, berkulit putih dan bermata sipit, rambut pendek sebahu.
Ia berjalan menghampiri bapak tua tersebut, duduk diatas pangkuannya seraya mengelus pipi nya berusaha menggoda.
Bapak tua tersebut masih tetap kekeh dalam pendiriannya, sampai kapanpun dia takkan membubarkan organisasi jahat yang telah ia dirikan berpuluh puluh tahun.
Ia kembali menggeleng namun tak mengatakan sedikit kata pun, bukan cambuk melainkan tamparan keras yang diberikan oleh Ika pada pak tua sombong tersebut.
Tak hanya satu tamparan, melainkan lima kali tamparan dengan setrum yang melekat disarung tangan yang Ika pakai.
Hingga akhirnya saat salah satu dari mereka akan melontarkan kata kata yang sama kembali, namun tiba tiba masuklah banyak sekali gerombolan orang orang yang membawa senjata masuk kedalam markas tersebut.
Siapa mereka? mereka adalah anak buah si bapak tua sombong ini, mereka telah menemukan markas 6 gadis ini dan berusaha akan menghabisinya.
6 gadis ini adalah seorang anak mafia terkuat di Asia, dulu ayah mereka adalah sahabat dan gelar mafia tersebut diturunkan pada mereka berenam.
Tanpa aba aba, gerombolan tersebut menyerbu ratusan anak buah 6 gadis ini.
Kini didalam ruangan tersebut keadaan sangat kacau, suara gaduh saling pukul.
Hingga salah satu dari mereka, menghampiri 6 gadis tersebut, seseorang yang bertubuh paling besar dan tinggi dari yang lainnya, dia pikir dengan menyerbu mereka sendirian, dia bisa mengalahkannya, namun tidak kekuatannya tak sebanding dengan mereka berenam.
"Ayo 6 lawan 1" ucapnya dengan sombong.
"Kalian berlima saja, aku akan menjaga mereka bertiga" ucap salah satu dari gadis tersebut, dia bernama Ani.
"Kenapa, takut gadis mungil?" seseorang tersebut akan menyentuh dagu Ani, namun Virgin segera menangkisnya melindungi Ani, dan pertengkaran dimulai.
Bukan karena takut, namun ia sudah memiliki strategi sendiri yang sudah dirancang sebelumnya, mereka sebenarnya sudah tau kalau anak buah pak tua ini akan datang menyerbu mereka dari salah satu mata mata yang menyelinap masuk kedalam markas ini.
Ani adalah gadis yang cerdas, saat akan melakukan sesuatu ia akan berfikir dengan cermat, Ani memikirkan cara ini berpura pura tak tau siapa mata mata tersebut, dan ikuti permainan lawan.
Ani mengambil sesuatu yang berada disakunya, sebuah botol kecil dengan isi cairan tidak berwarna, cairan tersebut adalah sebuah racun paling mematikan didunia, apa itu? VX.
VX merupakan senyawa golongan organofosfat yang sangat beracun. VX berupa cairan tidak berwarna dan tidak berbau yang mampu mengganggu sistem saraf tubuh dan digunakan sebagai racun saraf dalam perang kimia.
Cara kerja racun VX adalah memghambat transmisi saraf antarsel, sehingga kontraksi otak menjadi tidak terkendali dan korban mati karena sesak napas.
Ani tersenyum smirk, ia mengambil sebuah suntikan, memasukkan racun tersebut dalam suntikan dan menyuntikkannya pada pak tua dan juga kedua pemuda kembar tersebut.
Bagaimana dengan mata mata tersebut? tunggu setelah tiga orang didepannya hilang nyawa, maka ia akan melakukan hal yang sama pada mata mata tersebut.
"Ini ulahmu, tak mau menghentikan organisasi? maka aku yang menghentikan nyawamu selagi semuanya sibuk dengan pergelutan ini" Ani tersenyum puas.
Beberapa saat setelah menyuntikkan racun tersebut, racun tersebut mulai bereaksi membuat ketiganya sesak napas dan berteriak, lalu kembali tak bersuara, nyawanya telah hilang.
Semua anak buah dari pak tua tersebut, sontak langsung menghentikan perlawanan, menoleh kearah bos mereka, mereka merasa semuanya sia sia, karena mereka tak bisa menyelamatkan bosnya hingga membuat bos nya mati tersiksa.
5 gadis tersebut menghentikan perlawanan dari seorang lelaki yang didepannya tersebut, karena ia terlihat sangat lelah dengan luka disekujur tubuhnya, ia melihat bos dan kedua anak bosnya mati ditempat.
Semuanya anak buah pak tua menangis melihat kematian ketiga orang tersebut yang mati ditangan seorang gadis mungil, yang sama sekali tak terlihat sebagai seorang mafia.
Saat ditengah tengah kesedihan mereka, Ani berjalan menengah, menghampiri mata mata tersebut yang masih berdiri memegang belati.
Mata mata tersebut masih mengenakan topeng, wajahnya tertutup namun ia terlihat masih berumur 19 tahunan.
Ani menjentikkan jarinya, seketika anak buahnya memegang erat kedua tangan remaja didepannya, belatinya pun telah dirampas.
Ani tersenyum, perlahan membuka topengnya, namun berkali berkali remaja tersebut menolaknya bahkan saat telah dibuka topengnya, ia masih tetap menunduk, hingga Ani menyerah tak akan memaksanya menunjukkan wajahnya.
"Siapa kamu?" Ani masih belum jelas melihat wajahnya.
"Namun tak apalah, mata mata harus segera disingkirkan" Ani menyuntikkan racun tersebut pada remaja didepannya tepat dilengan.
"Jangan!" teriak kelima sahabatnya yang berada jauh dibelakang Ani.
Namun terlambat, Ani sudah terlanjur menyuntikkan Racun tersebut, ia pun menoleh kearah teman temannya dan membuang suntikan tersebut.
Mereka berlima menutup mulutnya saat melihat remaja berumur 19 tahun tersebut tersungkur lemah dilantai.
Ani pun kembali menoleh kebelakang, sekarang dengan jelas ia melihat wajahnya, remaja tersebut merasakan sesak napas.
"Je" lirihnya air matanya pun turun perlahan.
Kini kesedihan ikut meliputi 6 gadis tersebut, saat Ani tau siapa mata mata tersebut.
"Je-jehan, maaf" air matanya turun dengan deras, mulutnya membeku sulit untuk berkata kata lagi, ia duduk tertunduk didepan Jehan yang tersungkur dilantai lemas.
Ani pun memeluk Jehan dengan erat, ia menangis sejadi jadinya saat hembusan nafas terakhir Jehan terdengar jelas ditelinganya.
"Jehan" lirihnya dengan menggoyang goyangkan tubuh Jehan berulang kali.
Namun sayangnya, Jehan telah kehilangan nyawanya diakibatkan oleh kekasihnya sendiri.
Jehan dan Ani adalah sepasang kekasih yang sudah 5 tahun menjalin hubungan, mereka menjalin hubungan sejak masih menginjak masa SMP.
Ia masih tak menyangka, kematian kekasihnya adalah ulah dari dirinya sendiri, dia sangat merasa hancur menangis sejadi jadinya, kelima sahabatnya pun memeluk Ani dari belakang.
Namun sial, Ani sudah menusukkan dirinya sendiri dengan belati milik Jehan.
"Ja-jaga adikku" pinta Ani untuk yang terakhir kalinya, Ani pun sekarang telah pergi selama lamanya ikut bersama Jehan yang telah pergi beberapa menit yang lalu.
Semua orang orang yang berada dalam markas tersebut kini diliputi dengan tangis, air mata mereka membasahi wajah.
Tamat.
~•~