Sejak ditetapkannya peraturan pelarangan minuman keras oleh Presiden, tingkat kriminal justrul menjadi meningkat. Penyogokan aparat, penyeludupan dan pembunuhan terjadi setiap saat. Kota disibuki oleh hiruk pikuk pertempuran antara polisi dengan mafia. Salah satu mafia yang terkenal yaitu DO-Razo. Kelompok mafia yang kejam, menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan bagi mereka.
Albert Bento yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk memimpin penyergapan penyaluran minuman keras ilegal di pelabuhan Indiana, Chicago. Tengah malam di pergantian hari, sebuah kapal merapat di dermaga. Kapal itu dijaga ketat oleh beberapa orang.
“Tidak salah lagi itu pasti kapal milik DO-Razo” kata Sebastian dengan berbisik kepada Pimpinannya Alberto Richad yang bersembunyi di balik peti-peti yang berada di sekitar dermaga bersama pasukannya. Alberto kemudian mengangkat tangan kanannya dan menggerakan jari telunjuknya. Melihat kode itu, para penembak jitu bersiap di posisinya.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari belakang persembunyian para polisi. Seorang polisi jatuh terhempas ke tanah. Richard tersentak melihat salah seorang pasukannya jatuh. Dengan cekatan dia berteriak dengan lantang “Kita ketahuan, keluar dari persembunyian dan tembak semua para mafia!”
Baku hantam tembakan terjadi. Pertempuran malam itu tidak dapat dielakkan. Bahkan ada seorang mafia yang berlari menuju sebuah peti besar. Yang mana peti tersebut berisi sebuah bazoka. Ketika ingin menembak ke arah para polisi. Beruntungnya para penembak jitu tidak lengah. Salah satu penembak jitu menembak lengan mafia itu. Sehingga bazoka tadi meleset dan mengenai kapal. Para mafia terhempas ke segala arah karena terkena ledakan kapal. Para polisi memanfaat kesempatan ini, mengacungkan pistol ke arah mafia dan menembaknya secara bertubi-tubi hingga tidak ada satu nyawa para anjing liar tersisa. Malam itu menjadi malam penuh darah dan lautan api.
Para polisi yang berada di kantor harap-harap cemas. Menunggu rekan-rekannya apakah kembali dengan selamat. Setiap saat para polisi saling berganti melihat ke arah persimpangan jalan dengan menanti adakah mobil polisi yang lewat mengarah ke sini. Tak lama kemudian, melintas tiga truk pengangkut pasukan kepolisian yang diiringi 3 mobil ambulan dan 2 mobil kepolisian berhenti di depan kantor. Para personil polisi turun dari belakang truk. Dari 60 personil polisi yang dibawa hanya tersisa 12 orang, dan 2 orang penembak jitu. Itu pun dalam kondisi tertatih, lengan tangan penuh darah. Sungguh miris. Namun merupakan suatu kemajuan di kepolisian. Sejak beberapa kali melakukan penyergapan. Baru kali ini yang bisa menumpas bersih para mafia bahkan berhasil membawa personil yang selamat. Walaupun belum pusat perkumpulannya dibasmi. Inilah awal bergejolaknya api di kepolisian.
Keesokan harinya, saat Albert Bento sedang berjalan di koridor lantai dua gedung kepolisian. Ada yang aneh terjadi, Biasanya jika dia berjalan, para karyawan yang berada di sekitarnya lansung memberikan hormat. Namun sekarang, para karyawan kantor sibuk dengan pembicaraan gosip belakangan ini. Ia heran kenapa sekarang dia tidak dihormati lagi. Namun ia tetap berfikir positif. Mungkin mereka masih terlarut dalam keberhasilan yang dibuat polisi kemarin. Ia terus berjalan hingga sampai di depan ruangan Dewan Permusyawarahan Kepolisian. Dibalik pintu terdengar bisikan beberapa orang tentang pengangkatan Alberto Richard sebagai kepala kepolisian dan beberapa rencana Dewan untuk melengserkan dirinya secepatnya. Mendengarkan itu, hati Albert Bento mendidih, kepala seakan terasa seperti tertancap oleh paku besar. Ia bergegas berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangannya.
Barrr… bunyi pintunya dengan keras. Ia menatap dengan tajam foto yang terpampang di dinding. “Tidak… tidak mungkin… aku tidak mau posisiku direbut oleh dia. Meskipun dia berhasil kemaren, tapi jika tidak aku yang memerintahkannya tidak akan mungkin dia sepopuler sekarang. Sialan… seenaknya saja DPK memutuskan sesuatu.” Geramnya di dalam hati. Tak berselang lama terdengar suara ketuk pintu dari luar. Seorang laki-laki masuk keruangannya. Matanya berbinar bahagia akhirnya seseorang yang ia tunggu datang ke ruangannya.
Di sisi lain, Richard yang sedang bepergian bersama keluarganya kesuatu tempat untuk merayakan ulang tahun putra sulungnya. Jembatan Michigan Avenue adalah alternatif tercepat menuju tempat itu. Diatas mobil putranya nampak menikmati pemandangan sunset. Memang indah, melihat matahari terbenam meninggalkan langit bersembunyi di balik gedung-gedung pencakar langit.
Saat matahari meninggalkan bumi. Saat itu pula malapetaka terjadi. Sebuah mobil datang menyalip lalu menghadang mobilnya. Empat orang berpakaian jas memakai kacamata hitam menembak mobil Richard bertubi-tubi. Tembakan itu melesat memecahkan kaca mobil Richard hingga sampai menembus tepat mengenai kepala richard. Melihat kejadian yang mendadak tersebut, istrinya menjerit histeris. Belum sempat mengucapkan sepatah kata, sebuah peluru datang kembali menancap tepat ke jantungnya. Untungnya anaknya yang berada di balik kursi ibunya tidak terkena tembakan hanya saja terkena luka akibat pecahan kaca. Dia ternganga melihat kedua orangtuanya sudah bergelumuran darah. Tak lama kemudian, peluru tembahan melesat kembali tapi sekarang menuju tangki mobil. Tercium bau amis dari belakang mobil. Tanpa pikir panjang anaknya tersebut keluar dari mobil terjun ke bawah sungai. Ledakan besar terdengar keras. Api berkobar melahap mobil itu hingga jasad sepasang suami istri itu hanya tinggal debu.
Seseorang terbangun dari tidurnya, ia terheran tidak tahu di mana ia sekarang. Di ruangan yang penuh dengan hiasan dinding ilegan. Lukisan-lukisan dari para pelukis terkenal terpampang dari berbagai sudut dinding kamar. Ia beranjak dari kamarnya dan ingin segera keluar dari rumah ini. Ketika membuka pintu kamar, telah berdiri seorang kakek tua berpakaian kemeja ala abad-19. Kakek itu bertanya mau ke mana anak ini. Namun bocah ini tidak menjawab dan mendorong tubuh kakek tersebut. Tapi karena perpedaan usia kakek ini bisa bertahan. Kakek mengangkat tubuh bocah itu lalu membawa ke sofa yang berada di ruang tamu. Disela langkahnya menuju sofa ia menceritakan pertemuannya dengan bocah kecil ini. Ketika kakek ini sedang berjalan di tepi sungai. Ia menemukan seseorang mengambang di atas sungai. Tanpa pikir panjang ia mengangkat anak itu dan segera membawanya ke rumahnya. Di rumah inilah bocah itu dirawat oleh kakek tersebut dan sudah 7 hari ia belum tersadar. Bocah ini sedikit lega, pikiran negatif tentang kakek seketika berubah menjadi kakek yang baik. Kemudian kakek itu menanyakan nama dan asal usul bocah tersebut. Bocah ini hanya menggeleng seakan ia lupa dengan semuanya. Tanpa ambil pusing kakek itu memberi nama anak ini dengan nama Rian Dorazo. Sejak pertemuan itu ia menjadi akrab bahkan sampai dianggap menjadi tangan kanan kakek ini. Beberapa bisnis ia jalani, dari bisnis inilah ia mengenal pelelangan, penyuludupan, sampai bertempur melawan polisi. Ia tidak tahu perbuatannya ini salah atau benar, yang jelas yang ia tahu hanyalah kakek ini telah menyelamatkannya dan ia harus berbakti dan mengikuti semua perkataan kakek ini.
Empat belas tahun sudah ia bersama kakek ini. Semakin lama semakin dekat hubungan mereka. Hingga suara hari datang seorang laki-laki memasuki kamarnya. Berpakaian jas dan memakai kaca mata hitam mengantarkan makanan menggantikan pelayan yang sedang sakit. Melihat laki-laki itu, matanya fokus kepada lambang dibagian jas lelaki itu. Kepalanya terasa sakit, berapa bayangan orang berjas hitam mulai memenuhi pikirannya, sampai ia mengingat kejadian 14 tahun lalu. “Lambang itu, mirip sekali dengan lambang mafia yang pernah menyerangku dulu. Arrgg… tidak, tidak mungkin, mereka yang telah membunuh keluargaku.” kata hatinya. Memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit.
Pada malam harinya, ia diam-diam memasuki ruangan kakek. Memeriksa setiap buku, dan data yang yang ada di dalam ruangan. Sampai ia menemukan sebuah kertas yang terselip di tumpukan buku yang tersusun di atas meja. Di sanalah kronologi pembunuhan ayahnya terungkap. Dalang dari semuanya diketahui.
Keesokan malamnya, ia mendapat tugas untuk menjaga keamanan lokasi pengiriman barang di pelabuhan Indiana. Dilengkapi pistol Rifle di tepi dermaga ia berdiri bersama mafia lainnya. Tepat jam 11 malam, kapal yang ditunggu akhirnya datang. Para anak buah kapal sibuk dengan memindahkan drum yang berisi minuman keras untuk dipindahkan ke peti kemas. Setelah 3 peti kemas terisi penuh. Ketika ingin memindahkan peti kemas ke mobil truk. Beberapa orang turun dari langit. Dengan sigap orang-orang itu lansung mengarahkan pistolnya ke truk dan menembak dengan bertubi-tubi. Mafia yang terkejut, langsung membalas tembakan. Jual beli tembakan tidak dapat dielakkan. Rian bersembunyi di balik truk. Dari bawah kolong truk ia mencoba melihat orang yang ia incar. Itu dia Albert Bento. Setelah mengetahui posisi lawan yang dituju. Ia berlari sambil menembak polisi yang ingin menembak dirinya. Para polisi tidak berkutik, satu persatu tumbang olehnya. Hanya sekarang yang tersisa di hadapannya Albert Bento. Dengan nafas terhengas-hengas ia mengarahkan todongan pistolnya ke Albert. Dorrrr… peluru tepat bersarang di dada Albert. Dengan nafas yang tersisa Albert mencoba mengeluarkan suaranya “Kamu siapa? beraninya kau?”
“Aku Alexander Richard putra Alberto Richard.” Jawab Alexander yang kemudian melepaskan satu tembakan lagi kepadanya.
Ternyata 14 tahun yang lalu, Ketika Alberto Richard bepergian bersama keluarganya. Albert Bento memiliki niat busuk untuk membunuhnya. Ia menyewa 4 orang anak buah mafia DO-Razor. Setelah mendapatkan informasi lokasi Richard dari salah seorang polisi yang tidak senang pula dengan pengangkatan Richard sebagai Kepala Kepolisian. Namun Sekarang, semua usahanya kini berbuah penyesalan. Seperti kata pepatah Sepandai-pandai menyimpan bangkai pasti akan tercium juga.
Rintik-rintik hujan mulai membasahi Pelabuhan seraya berduka terhadap apa yang terjadi di kota ini. Hati Alexander terasa lega akhirnya ia bisa membunuh orang yang telah membunuh ayahnya. Setelah itu Ia memutuskan untuk segera cepat membawa mobil truk ini ke markas. Lagi pula tidak ada seseorang pun yang tersisa di sini yang mengetahui bahwa ia adalah anak dari seorang polisi. Ia tersenyum di setiap langkahnya. Yang ia ketahui sekarang, setelah ini ia akan hidup sebagai mafia dan akan mengabisi sisa hidupnya di istana megah dan mengabdi kepada kakek tua itu. Dan beberapa hari kedepan ia berencana untuk melakukan operasi plastik di wajahnya. Untuk menyembunyikan identitas sebenarnya, agar ketika bertemu dengan polisi, polisi tidak mengenalnya.
Sesampai Alexander bukan tapi sekarang Rian Dorazo di depan pintu mobil truk, Dorrr… sebuah peluru melesat ke dadanya dari belakang. Ia berdiri kaku dan melihat di bawah ada tetesan darah dari punggungnya. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Kemudian Ia menoleh ke belakang menatap Albert Bento. Ternyata meskipun telah tertembak dua kali. Disisa-sisa tenaganya Albert menembak Alexander.
“Tidak mungkin, ini mustahil dia masih bertahan.” Geram Alexander.
Seketika tubuh Alexander lemas dan terhempas ke tanah. Alexander merasakan kesakitan. Di ambang kematiannya ia menolehkan kepalanya ke Albert bento.
“Beraninya kau… setelah membunuh kau tidak membunuh kedua orangtuaku, tapi kau membunuh satu keluarga, sialan…” teriak Alexander.
“Tadinya aku pasrah, mungkin ini hukuman Tuhan terhadapkan karena terlalu iri dan dengki kepada ayahmu. Sehingga aku melakukan banyak kesalahan, tapi jika aku melepas dirimu yang sekarang merupakan seorang kriminal, itu sama saja aku menambah banyak penyesalan dalam hidupku.” Jawab Albert dengan mulut yang dipenuhi oleh darah.
Setelah percakapan itu, mereka semua yang terlibat pada kejadian, tidak ada yang selamat. Tidak ada yang menjadi pemenang. Berawal dari sebuah rasa dengki dan dendam hanya menghasilkan malapetaka bagi diri mereka.
TAMAT