Di ambil dari cerita novelku yang gagal berjudul "Colorful"
Shin tiba-tiba dia sadar berada di ruangan yang gelap gulita dan kepulan asap muncul di sebuah cahaya di dekat gerbong kereta tepat di depannya.
"Ini di mana? Kenapa bisa aku di sini"
Dia berjalan melangkahkan kakinya ketika melihat orang-orang mengantri mengambil tiket untuk memasuki kereta, akan tetapi langkah itu terhenti ketika melihat pria berkerudung serba hitam menghalangi jalannya dan berkata.
"Mau kemana kau?" Tanya nya.
"Aku akan mengantri dengan orang-orang yang ada di sana" Jawab Shin.
"Selamat kau adalah roh terpilih, kau bisa hidup kembali ke dunia. Bukankah kalian senang?" Sambutnya dengan penuh semangat namun wajahnya tak terlihat.
"Eh, kenapa harus aku? Kenapa bukan mereka saja? Aku tidak perlu, aku hanya tidak ingin hidup lagi di dunia" Jawab Shin dan terus mengantri.
"Apa kau mengalami hal buruk ketika di dunia? Bukankah kau tidak ingat apapun soal dunia?" Kembali menanyakan hal yang masuk akal.
Shin tidak bisa mengingat kenapa dia bisa ada di tempat seperti ini yang biasa di sebut akhirat. Tidak tahu apa yang membuat dia meninggal.
"Aku sudah mati bukan? Bukankah itu hal yang wajar? Aku telah menunaikan hidupku dan biarkan aku pergi ke surga"
"Jadi kau tidak ingat sama sekali?! Kau telah mati dan melakukan dosa besar sekali. Jika terpaksa harus terus mengantri dan masuk ke dalam sana(kereta) kau mungkin tidak akan masuk surga ataupun reinkarnasi kembali apakah itu yang kau mau?"
"Tidak apa, aku hanya tidak ingin hidup lagi, aku hanya merasa seperti itu. Apa mungkin aku tidak bisa menolak hal itu?"
"Benar sekali, tidak bisa kamu tolak ini hal mutlak.Kau harus mengingat dosamu terlebih dahulu dan memaafkannya lalu kau bisa kembali lagi setelah itu"
Shin menyetujui walau terpaksa dia dibawa ke sebuah pintu yang berlawanan arah dengan pos antrian tiket. Shin di bawa oleh pria berjubah hitam itu ke pintu yang sangat besar.
"Kemana aku akan pergi? Bagaimana caranya aku bisa mengingat dosaku?"
"Kau akan masuk ke dalam tubuh orang yang sudah meninggal, dengan begitu kamu bisa hidup kembali"
Terdengar begitu aneh Shin pun memasuki pintu tersebut yang ternyata ada lubang di bawahnya yang membuat jatuh dari akhirat kembali ke bumi. Shin terbang melihat begitu banyak sekali kota-kota berdiri dan rumah yang di penuhi orang yang di sebut "keluarga" Hingga sampai di rumah sakit, pria itu menyuruh masuk ke dalam raga bocah SMA yang sedang berbaring lemas dinyatakan telah meninggal beberapa menit yang lalu karena bunuh diri.
"Masuklah ke dalam"
"Apa itu tidak masalah? Soalnya mereka semua menangis. Jika tiba-tiba hidup akan sangat menggemparkan lagi pula aku tidak tahu siapa keluarga itu"
"Sudah jangan terlalu di pikirkan, kau hanya harus mengingat dosamu dengan begitu urusanku denganmu selesai"
Shin memasuki raga anak SMA tersebut dan tiba-tiba semua orang yang melihat terkaget-kaget. Alat pendeteksi jantung pun kembali menyala dokter pun bergegas sibuk mengecek apa yang terjadi.
Semua keluarga yang tadinya menangis menjadi lebih menangis dengan senyum yang tergores di pipinya lebih lebar. Shin tidak tahu harus bahagia atau sedih yang pasti dia tidak mengenali siapapun.
Setelah di rawat penuh kasih sayang oleh seorang ibu yang selalu setia setiap saat beberapa minggu. Ayahnya menjemput pulang kerumah untuk pertama kali dengan penuh kebahagiaan.
Shin merasa dirinya telah nyaman walau tidak mengenal siapapun dalam keluarganya. Bahkan Ibunya begitu senang dan bersemangat kembali serta Ayahnya yang semangat kerja membuat Shin lupa dengan tujuan yang di suruh pria akhirat.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tiba-tiba saja datang pria itu.
"Kau, apa yang sedang aku lakukan.. Ya aku tidak tahu apapun soal dosaku! Hidup di rumah yang tidak aku kenal dan orang yang tidak aku kenal tanpa petunjuk sedikit pun!!"
"Begitu yah? Apa kau ingin tahu siapa orang yang kau rasuki itu?"
"Apa kau mengetahuinya? Paling dia bunuh diri karena hal sepele"
"Apa kau bilang ?! mana ada orang yang bunuh diri dengan senang. Tentu saja aku tahu, kalau begitu kita mulai dari awal permasalahan kenapa bocah SMA itu bunuh diri. Pertama dia bernama Makoto, dia mendapati dirinya sedang melihat si ibu sedang memasuki hotel bersama pria lain yang pasti bukan ayahmu, sejak hari itu dia merasa sangat syok sekali"
"Tunggu dulu, kenapa ini menjadi begitu berat persoalannya" Sanggah Shin dengan panik mendengar hal itu.
"Sudah ku bilang, manusia itu menyedihkan dia bunuh diri padahal bukan dia yang mengalaminya. Biar aku selesaikan bodoh dan kau harusnya bisa mengambil sesuatu yang berharga. Makoto tidak langsung bunuh diri tetapi dia merasa sedikit kecewa dengan Ibunya, tidak ada komunikasi antara dia dengan Ibunya, Ibunya pun tidak tahu kenapa dia bertingkah begitu, lalu masalah lain muncul-"
"Shin, Shin, apa kau di dalam? Ibu bawa segelas susu dan kue manis bisa Ibu membawanya ke dalam?" Ucap Ibu yang ada di depan pintu.
"Ya, silahkan" Jawab Shin dengan tenang.
Ibunya masuk membawa benda sesuai ucapannya dan kembali dengan senyuman. Shin hanya bisa diam saja dan bingung harus berekspresi apa. Semua yang di katakan pria itu telah membuat hatinya tergerak sedikit benci.
"Kalau begitu aku lanjut, untung dia tidak bisa melihatku. Masalah lain muncul ketika Makoto melihat pacarnya pun pergi sendirian di tengah hujan dia berusaha memanggilnya namun dia masuk ke sebuah hotel yang sama tepat seperti Ibunya yang dulu masuk, dia bersama pria lain. Jadi sudah wajar dia bunuh diri bukan? Hahahaha lucu sekali hati manusia begitu rapuh hanya melihat hal seperti itu"
"Berisik!! Kau tidak tahu apapun soal itu.. Kau tidak tahu apapun soal itu.. "
"Oke.. Oke.. Tenang sedikit. Makoto kehilangan tujuannya setelah melihat apa yang tidak harus lihat. Namun sebuah kejutan yang mengerikan terjadi. Ayahnya bercerita bahwa dia tahu soal kelakukan Ibunya namun dia tidak berbicara apapun kepadanya atau memarahinya, dia mengakui bahwa dia salah karena istrinya kurang di beri kasih sayang sehingga dia pergi mencari hal yang salah. Apa kau baik-baik saja Shin? Kalau mau berhenti kita hentikan"
"Lanjutkan saja"
"Baik. Ketika mendengar hal tersebut Makoto sangat terpukul dan cukup terluka kebencian tentangnya(Ibu) cukup sangat besar namun, ketika Makoto melihat Ibunya pulang malam membawa sekantong kresek hitam di simpan di lemari kebencian itu mereda. Isi dari kantong kresek itu penuh dengan obat-obatan dia sedang sakit parah dan membuat hati anaknya terpukul Ibunya bermaksud untuk memakan semua obat tersebut yang malah di makan oleh Makoto dengan mencampur dengan paku dan jarum bersamaan. Apa kau mulai sakit hati Shin?"
"Ah, iya lumayan di sini sangat sakit sekali"
"Dia lakukan untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya dengan menindih rasa sakit lain di perutnya, sungguh kelakuan yang nekat bukan? Namun sekarang semuanya merasa menyesal. Bukankah lebih baik kau memaafkan dirimu sendiri dan kedua orang tuamu? Manusia layak di beri kesempatan kedua bukan? Tidakkah kau sadari sebelumnya dunia ini sangatlah indah, kau tidak boleh memutuskan begitu saja hidupmu demi hidup orang lain. Kau hanya tidak ingin orang lain terluka dan membuat dirimu terluka tetapi tetap saja orang lain yang akan terluka"
"Jadi aku adalah.. Shin Makoto.. Begitu 'kan? Aku tidak ingin seperti ini. Setiap orang punya masalah namun kenapa bisa berimbas kepada orang yang bahkan tidak ingin mendapatkan masalah itu"
"Shin Makoto, hidup itu penuh masalah jadi biarlah seperti itu. Dirimu yang sekarang bagaikan kertas putih biarlah orang lain mewarnai hidup mu. Matilah hingga waktunya tiba paham?"
***