Siapa yang tidak kenal Hao Nan, ketua di dunia mafia yang sangat di segani di wilayah Yucen. Jika mendengar nama Hao Nan, hanya ada kata pembunuh berdarah dingin, Hao Nan juga memperluas kekuasaan dengan bekerja sama dengan pemerintahan, yang bicara itu duit, 🤣🤣 ceritanya ya.
Selain di kenal sebagai ketua mafia, sisi lain yang Hao Nan sembunyikan adalah ia yang berhati malaikat, nama baik ia dapat di kalangan panti asuhan, selalu menyempatkan diri untuk menyumbangkan sebagian yang di milikinya untuk beberapa panti asuhan maupun panti jompo.
Sepandai-pandainya ketua mafia, kalo di jebak anak buahnya sendiri ya apes juga, tapi nasib baik masih berpihak padanya.
Saat Hao Nan akan menuju panti asuhan, jalannya terhenti karena ada pohon yang tumbang menghalangi jalan, mau tidak mau Hao Nan keluar dari mobil untuk melihatnya, tidak lupa mengantongi senapan api miliknya di balik jaket jins yang ia kenakan.
"Shit." umpat Hao Nan kalo melihat pohon besar yang tumbang menghalangi jalan.
Tab tab tab tab tab bunyi suara langkah kaki sepatu dari orang berlari mendekat ke arah Hao Nan.
"Sial, aku di jebak." herdik Hao Nan dan langsung berlari menjauh dari tempatnya berdiri.
"Itu dia, kejar." teriak salah 1 dari orang yang mengejar Hao Nan dan suara tembakan terus terdengar bersahutan.
Hao Nan yang hanya seorang diri hanya mampu menghindar dari serangan yang di tuju padanya.
Sialnya lagi, kaki kiri Hao Nan terkena tembakan, hingga menghambat kecepatan larinya.
Hao Nan bersembunyi di balik pohon besar dan menyandarkan badannya pada pohon, "Semoga saja mereka cepat pergi, sial ponsel ku terjatuh." ucap Hao Nan saat menyadari ponselnya tidak ada lagi di saku celana jins biru yang ia kenakan.
Sakit peluru yang tertanam di kakinya tidak lagi ia rasa, itu sudah biasa baginya.
Salah 1 dari mereka berbicara di telepon, "Tidak di temukan bos." ucapnya.
"Kakinya terluka bos, terlihat ada beberapa tetesan darah di sepanjang jalan yang kami lewati.. itu darah Hao Nan bos." ucapnya lagi.
"Baik bos, kami akan kembali." ucapnya lagi dan menutup telponnya.
"Hei, bos Along menyuruh kita untuk kembali." ucap orang yang tadi berbicara di telepon.
"Sial, rupanya Along di balik ini semua." geram Hao Nan mendengar nama Along di sebut.
Along, adik angkat di dunia mafia dan salah 1 orang kepercayaannya Hao Nan juga.
"Begini caramu membalas budi baikku." batin Hao Nan memburu kesal, mengingat dulu baiknya ia yang telah sudi memungut Along dari pinggir jalan.
Along dan Hao Nan sama-sama anak jalanan, namun nasibnya berubah kala Hao Nan menolong ketua mafia yang hampir mati di serang lawannya, sejak saat itu Hao Nan di angkat menjadi anak dan Hao Nan membawa serta Along dengannya.
Setelah semua aman, Hao Nan keluar dari persembunyian dan berjalan dengan tertatih karena kaki kiri yang tertembak, Hao Nan menyusuri jalan ke tujuan awalnya panti asuhan, butuh waktu yang lama untuk sampai di sana.
"Hai, kau." teriak Hao Nan saat melihat gadis berbaju coklat tengah mengayuh sepeda.
Gadis itu menghampiri Hao Nan, "Tuan memanggil saya?" ucapnya saat sudah turun dari sepedah.
"Apa di sini ada manusia selain kau?" omel Hao Nan.
"Tidak ada sih. emm tuan kenapa?" tanya gadis itu saat melihat darah mengucur di kaki kiri Hao Nan.
"Aku pinjam sepedah mu."
"Tuan mau kemana? biar ku antar!"
"Aku saja yang membawa sepedahnya, kau duduk di boncengan!" seru Hao Nan yang tidak mao di bantah.
"Baiklah, aku Haluna.. nama tuan siapa?"
"Hao Nan."
"Sepertinya kau lebih tua dari ku tuan.. aku panggil kaka Nan aja ya?" tanya Haluna yang meminta persetujuan.
Karena ingin cepat sampai, Hao Nan melajukan sepedahnya dengan kencang dan Haluna memeluk erat tubuh Hao Nan, takut jatoh 🤣🤣 modus.
"Detak jantungku cepat sekali, saat Haluna memeluk erat pinggang ku!" batin Hao Nan.
"Pelan-pelan saja ka, darah di kaki mu tambah banyak yang mengalir." ujar Haluna.
Saat sampai di panti, Haluna yang baru menyadari langsung bersorak gembira.
"Kenapa kau?" tanya Hao Nan.
"Kok kaka tau ini rumahku?" tanya Haluna balik.
Belum semy menjawab, ibu pantai datang menghampiri Hao Nan dan Haluna.
"Kalian bisa barengan datengnya?" tanya bu panti, Haluna langsung memeluk tubuh bu panti.
"Ibu kenal dengan kaka Nan?" tanya Haluna.
"Dia ini donatur tetap panti nak, Hao Nan..kakimu kenapa?" tanya bu panti cemas.
"Biar nanti aku ceritakan bu." ucap Hao Nan.
Bu panti dan Haluna membawa Hao Nan masuk ke dalam kamar yang biasa di tempati Haluna, Haluna hendak mengobati kaki Hao Nan, "Tidak perlu." cegah Hao Nan pada Haluna.
"Nanti infeksi ka." ujar Haluna, tatapan mata mereka bertemu.. seolah sudah lama kenal.
"Tadi katamu, kau mau cerita nak?" tegur bu panti.
Hao Nan menceritakan pada bu panti yang di dengar pula oleh Haluna, bagaimana bisa ia mendapat luka tembak, penghianatan Along hingga bertemu dengan Haluna.
"Bisa ambil kan aku pusau, lilin, perban?" pinta Hao Nan.
"Baik akan aku siapkan." ujar Haluna, menyiapkan yang di minta Hao Nan.
Dengan perlengkapan yang ada, Hao Nan mengeluarkan sendiri peluru yang bersarang di kakinya, di bantu Haluna yang membalut luka dan memberi perban pada bagian yang luka.
Itu pun karena Haluna yang memaksa untuk tetap berada di kamar membantu Hao Nan memberi perban di kakinya, mungkin karena rasa sakit, Hao Nan pun tertidur.
"Begitu perih jalan yang kau lalu ka, aku akan bersama mu dan tidak akan aku tinggalkan dirimu lagi." batin Haluna.
Haluna dan Hao Nan sudah lama kenal, namun nasib membuat mereka berjauhan, Hao Nan di adopsi oleh ketua mafia yang di tolongnya, sedangkan Haluna tumbuh di panti asuhan, Haluna di temukan ibu panti duduk termangu di lokasi saat penyerangan ketua mafia itu terjadi, lalu ibu panti membawa Haluna ke panti hingga saat ini.
Haluna dan Hao Nan semakin dekat, Haluna membantu Hao Nan berjalan kembali dan dengan Haluna pula Hao Nan menata harinya yang suram menjadi terang.
Dengan bantuan Jack, Along di tangkap polisi beserta anak buahnya karena terbukti melakukan tindakan perencanaan untuk menghabisi nyawa Hao Nan, ketua mafia tetab berada di tangan Hao Nan, namun jalurnya berbeda, lebih ke arah baik, menolong sesama tidak ada angkat senjata jika masih bisa di atasi dengan kepala dingin.
Orang baik, akan bertemu dengan orang baik.
Orang jahat, kalo nietnya baik, jalan berubah akan terbuka lebar 🙂
semangat