Apa kalian percaya persahabatan berbeda gender? Aku tidak, nyatanya perasaan itu tumbuh diantara kami. Bukan kami, tapi hanya aku yang mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar sahabat untukknya.
Aku si lelaki payah Deon Davanka yang mencintai sahabatnya Yuki Tamika. Jujur, aku sendiri tidak tahu kapan perasaan suka itu hadir. Bahkan sampai rasa cinta ini tumbuh semakin besar, aku masih belum sadar akan hal itu. Sampai pada saat ini, ketika seorang laki-laki mampu mengetuk pintu hati Yuki untuk pertama kalinya.
Aku dan Yuki bersahabat sejak awal masuk SMA. Dari situ kami dekat dan menjadi sahabat. Masa SMA ku teramat bahagia karena tidak ada cerita sedih yang membuat aku kecewa. Tapi hari ini, ketika aku mulai memasuki masa kuliah, aku harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa aku harus kehilangan orang yang aku sayang.
Aku akhirnya sadar, rasa nyaman itu bukan hanya sekedar rasa tenang saat berdua dengannya. Tapi rasa ini benar-benar hadir, rasa mencintai dan ingin memiliki dia seutuhnya. Aku benar-benar dibakar cemburu oleh Reno yang jelas-jelas terus mencoba merebut hati Yuki.
"Yuki, jam berapa kamu pulang?" tanya Reno setelah mengantar Yuki sampai didepan gerbang kampus.
Aku yang melihat itu benar-benar marah. Kenapa mereka cepat sekali akrab. Padahal mereka baru kenal beberapa minggu ini. Yuki bercerita padaku bahwa dia berkenalan dengan seorang pria saat dia berada di toko buku dan ternyata kenalan itu berujung dengan pdkt seperti ini. Aku tidak menyangka sebelumnya jika ini akan terjadi.
"Sekarang hanya ada dua mata kuliah. Tapi aku ada janji dengan Deon. Biar nanti Deon saja yang antar aku pulang" ucap Yuki sambil tersenyum kearah Reno.
"Oke kalau begitu. Aku pergi sekarang"
Setelah kepergian Reno, aku menghampiri Yuki. Dia tersenyum ke arahku, senyuman yang seperti biasa selalu manis. Tapi tidak semanis saat dia tersenyum kearah Reno tadi. Sakit ketika aku sadar akan kenyataan jika Yuki juga menyukai Reno.
"Hei, kamu sudah lama menunggu?" Aku menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Yuki.
"Sering sekali kamu diantar jemput dia. Apa dia tidak memiliki pekerjaan?" tanyaku yang mencoba mengetahui lebih jauh tentang Reno.
"Dia pemilik sebuah restoran besar disini. Dia juga punya beberapa cabang di kota lain"
"Dia niat sekali mengantarmu padahal dia sibukkan?" Yuki mengangkat alisnya sebelah. Apa dia merasa aneh dengan pertanyaanku?
"Itu urusan dia. Sudahlah, ayo kita masuk kelas. Sebentar lagi dosen pasti akan datang"
Yuki kemudian pergi meninggalkan aku. Aku menatap tubuh Yuki yang semakin menjauh. Apa jarak antara kita akan semakin terlihat? Apa aku tidak bisa bersamamu lagi? Apa aku bisa mengungkapkan perasaanku sekarang? Apa kamu bisa menerimaku atau persahabatan kita akan berakhir?
Pecundang seperti aku hanya memenuhi otak dengan fikiran-fikiran tidak jelas saja. Kenapa juga aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku pada Yuki? Kenapa aku malah memilih tersiksa seperti ini?
------------------------------💔💔💔--------------------------
Aku dan Yuki sekarang berada di toko buku untuk mencari buku yang menunjang belajarku saat kuliah. Aku dan Yuki mulai memilih-milih buku dengan terpisah. Aku sepertinya melupakan sesuatu, tapi apa? Aku mencoba mengingat-ngingat tapi aku tidak tahu apa yang aku lupakan.
Aku akhirnya menemukan buku yang cocok dengan mata kuliahku, setelah itu aku membayar dan menunggu Yuki diluar. Tapi kenapa Yuki lama sekali. Aku mulai mengirimnya sebuah pesan "Aku tunggu kamu diluar ya" tulisku, kemudian aku kirim padanya.
Tak berselang lama kemudian Yuki pun keluar sambil membawa dua buku yang sudah dia beli. Tidak banyak yang kami bicarakan saat pulang dari toko buku itu. Entah kenapa aku merasa Yuki seperti badmood, dia tidak banyak bicara seperti biasanya.
Aku pun kemudian mengantarkan dia pulang. Saat di depan rumahnya, aku kaget karena disana sudah ada Reno menyender pada mobilnya. Sedang apa pria itu dirumah Yuki sore-sore begini? Yuki dan aku kemudian turun dari mobilku. Yuki tersenyum kearah Reno, aku mulai kegerahan jika situasinya sudah seperti ini.
"Kamu kenapa ada disini? Bukannya sedang bekerja?" tanya Yuki pada Reno.
"Aku menyempatkan diri buat kamu" Reno mendekat kearah Yuki. Kemudian dia menutup mata Yuki dengan kedua tangannya.
"Hei, kamu ngapain?" tanya Yuki yang sedikit panik, tapi aku tahu ada nada senang terselip disana.
Reno pun membuka bagasi mobilnya, dan saat dibuka ternyata bagasi itu penuh dengan bunga, balon, kado, dan kue ulang tahun untuk Yuki. Damn! 05 Mei, aku lupa jika dia berulang tahun hari ini. Kenapa aku bisa lupa dengan hari terspesial dihidupnya? Tapi tunggu, sudah sejauh apa hubungan Reno dan Yuki sampai Reno tahu hari ulang tahun Yuki?
Yuki yang diberi kejutan sangat-sangat gembira, dia bahkan memeluk Reno didepanku. Hatiku benar-benar teriris. Jadi ini rasanya mencintai dalam diam. Cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta yang mati sebelum dia tumbuh. Aku lelaki payah yang tidak berani mengatakan perasaanku yang sebenarnya sehingga kalah dengan orang baru yang mampu merebut hatinya.
"Ya ampun Kak Ren, aku tidak menyangka kamu akan ingat hari ulang tahunku. Terimakasih atas kejutannya" ucap Yuki bahagia. Reno pun mengangguk dan mengusap kepala Yuki.
"Oh iya, ini Deon Kak yang sering aku ceritakan itu. Dia sahabatku sejak SMA bahkan sampai kukliah, semoga sampai kita sama-sama menua kita tetap terus akan bersahabat ya" Jleb. Ini benar-benar menusuk dan membuatku mati. Perasaanku hancur ketika mendengar Yuki mengatakan itu.
Apa Yuki tidak pernah merasakan perasaan cintaku untuknya? Atau aku yang kurang menunjukkan rasa sayangku padanya? Tuhan, apa aku harus mengungkapkannya sekarang? Tapi Yuki menyukai Reno, aku tahu itu.
"Hai. Aku Reno calon suami Yuki" Yuki mencubit pinggang Reno. Aku diam mematung, apa mereka sedang bercanda? Tapi ini benar-benar membuatku kaget.
"Sstt.. Kamu ini kalau bicara jangan sembarangan" ucap Yuki sambil cemberut.
"Aku serius. Asal kamu bilang iya dan siap saja" Reno pun terkekeh ketika melihat pelototan dari Yuki.
Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus pergi, aku tidak kuat jika harus terus melihat mereka berduaan. Aku harus menenangkan diriku dan perasaanku. Aku butuh sendirian.
"Yuki, sebelumnya aku minta maaf tidak menyiapkan kado untukmu. Nanti pasti aku akan memberikannya, tapi sekarang aku permisi pulang dulu" kataku berpamitan padanya.
"Oke tidak masalah. Hati-hati dijalan Deon" ucap Yuki sambil melambaikan tangan kearahku yang sudah duduk dibangku kemudi.
Aku kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka. Didalam mobil aku terus mengatur nafasku yang terasa begitu berat dan sesak. Apa jatuh cinta pada Yuki akan membuatku jatuh pada rasa sakit yang mendalam?
----------------------------💔💔💔💔-----------------------
Setelah sampai ke rumah aku langsung merebahkan tubuhku keatas kasur. Aku menatap ponselku datar, disana terpasang fotoku dan Yuki sebagai wallpaper. Saat menatap foto itu aku merasa sebentar lagi aku akan kehilangan Yuki untuk selamanya.
Tiba-tiba semua kenangan saat aku SMA, kebersamaanku dan Yuki terus berputar dibenakku. Kenangan manis yang bahkan mungkin tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Berburu kuliner bersama, jalan-jalan berdua, bahkan kedua orangtua kita tahu bahwa kita memang dekat.
Apa semuanya akan berakhir setelah Reno berhasil mencuri start dariku? Apa aku terlalu bodoh terus menunda untuk menyatakan cinta padamu? Aku bimbang, aku bingung dengan langkah apa yang akan aku ambil kedepannya.
"Ahh.. sudahlah. Lebih baik aku mandi kemudian mencari kado untuk Yuki"
Aku pun bergegas ke kamar mandi. Tak lama karena aku sudah tidak sabar untuk memberi Yuki sebuah kado. Ini adalah momen yang tepat untuk menyatakan perasaanku bukan? Walau keraguan itu menyelimutiku, tapi aku harus mengatakan ini sebelum Reno mendahuluiku.
Setelah aku berpakaian, aku langsung menuju ke mobilku. Aku mencari tempat membeli kado yang bagus untuk Yuki. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke toko sepatu khusus wanita.
"Mba, tolong carikan saya sepatu keluaran terbaru" ucapku pada pelayan toko itu.
"Baik, tunggu sebentar mas"
Tak beselang lama, sepatu yang aku inginkan datang. Aku tak pandai dalam memilih model, asalkan sama ukurannya saja dengan Yuki pasti dia suka, apalagi ini warna favoritnya.
Setelah itu aku kemudian menuju ke rumah Yuki. Tapi kenapa saat sudah sampai, ada mobil yang aku tidak pernah lihat sebelumnya terparkir di rumah Yuki. Apa sedang ada tamu? Tapi siapa?
Aku mencoba memencet bel rumah Yuki, tak lama asisten rumah tangga Yuki datang membukakan pintu. Aku dipersilahkan untuk masuk. Betapa kagetnya aku disana sudah ada Reno dan dua orang tua yang mungkin memang orang tua Reno.
Tapi kenapa kedua orang tua Reno ada disini? Aku merasa ada yang aneh. Dan lagi, Yuki terlihat cantik dengan gaun yang indah melekat ditubuhnya. Apa mereka sedang merayakan ulang tahun Yuki?
"Kebetulan ada Deon. Sini duduk disini" Ucap Tante Irna, Mama Yuki. Aku pun duduk didekatnya. Jantungku berdetak semakin kencang, perasaanku tiba-tiba berubah menjadi tidak enak.
"Deon ini sahabatnya Yuki. Dia sudah kami anggap seperti anak sendiri. Karena memang saya tidak mempunyai anak laki-laki, rasanya bahagia ketika melihat Yuki seperti memiliki seorang kakak yang mampu menjaga dia" itu suara Om Dev, Papa Yuki. Kedua orang tua yang aku kira orang tua Reno itu mengangguk bersamaan. Aku terpaksa tersenyum kearah mereka.
"Perkenalkan saya Jelita, Mamanya Reno dan ini Om Tio, Papanya Reno"
"Kamu sudah kenal Reno belum?" Tanya Tante Irna. Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Bagus kalau begitu. Tadi itu Reno dan Yuki sudah resmi bertunangan. Tante lupa minggu lalu mau kasih tahu kamu, Tante kira Yuki kasih tahu kamu duluan"
Deg! lagi. Kali ini benar-benar luluh lantak sudah hati ini. Akhirnya ketakutanku terjadi. Kali ini aku sudah kalah. Apa yang harus aku lakukan?
"Sebenarnya aku mau cerita. Tapi memang kemarin-kemarin kita sibuk dengan kegiatan kuliah Ma, jadi aku sampai lupa memberitahu Deon. Deon maaf ya" aku tersenyum ke arah Yuki. Rasanya sekarang aku ingin menangis. Dia didepanku sekarang, tapi nyatanya aku tidak mampu untuk menggapainya.
"Tidak masalah. Sekarang kan aku sudah tahu"
Dengan berat hati aku harus bertahan, padahal aku sudah tidak kuat untuk pergi dari sini, tapi Tante Irna menahanku agar aku tetap dirumahnya sampai acara makan malam ini selesai.
--------------------------💔💔💔💔-------------------------
Ikhlas. Ya, level tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan. Seperti hari ini, 6 bulan lamanya aku berusaha untuk melupakan Yuki dari hidupku tapi apa daya aku tidak mampu untuk secepat itu melupakan perasaan yang sudah terlanjur tumbuh.
Hari ini aku hadir ke acara pesta pernikahan Yuki. Setelah acara lamaran itu, aku berusaha agar tidak terlalu sering berhubungan dengan Yuki semata-mata untuk sedikit demi sedikit mengikis Yuki dari hatiku.
Aku berdiri dihadapannya sekarang, sebelum dia turun menemui mempelai pria, aku meminta izin untuk menemuinya terlebih dahulu. Yuki, dia sangat cantik sekali dengan gaun pengantin ini. Akhirnya saat terakhir untuk melepasmu datang juga.
"Hei, mempelai wanita yang cantik" Sapaku ketika Yuki sedang memandang pantulan dirinya dicermin.
"Hei Deon. Kenapa kamu baru menemuiku sekarang?" ucap Yuki yang sedikit sedih. Aku mendekat kearahnya dan menatapnya dalam.
"Sebelumnya aku mau meminta maaf sebelumnya dengan apa yang telah terlewatkan olehku. Yang terlewatkan olehku adalah kamu. Aku terlambat menyadari perasaanku, hingga Reno datang mengambilmu. Maaf jika mengatakan ini dihari bahagiamu. Aku mencitaimu, sungguh. Tapi tenang, aku sudah merelakanmu. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa ada pria payah yang pernah memendam cintanya padamu. Semoga kamu bahagia dengan Reno. Ingat, aku masih sahabatmu" Air mataku turun, kemudian aku mencium kening Yuki sekilas. Aku tahu air mata Yuki mengalir saat aku berbicara padanya tadi.
"Jangan menangis nanti make up mu luntur. Tersenyumlah. Selamat menempuh hidup baru sahabatku" ucapku sambil mengusap air matanya dan kemudian pergi meninggalkan ruangan mempelai wanita.
Akhirnya aku tidak terbebani lagi dengan perasaan cinta yang mengganjal ini. Sekarang waktunya aku untuk terbang, menggapai mimpi dan bertemu dengan sosok yang benar-benar akan aku perjuangkan sampai mati.
Hai jodoh, semoga kita cepat dipertemukan.