Kamu mendayung sepeda, betis kekarmu dengan gagah menggowes pedal yang makin lama makin terkikis karena dipakai setiap hari. Wajahmu pagi itu segar tapi berkeringat, memandang jalan raya aspal yang penuh kendaraan bermotor. Kemacetan membuatmu harus menggotong sepeda untuk melewati hiruk-pikuk kendaraan.
Setelah melihat jalan yang kosong, kamu kembali menggowes pedal yang makin lama makin terkikis karena dipakai setiap hari itu. Wajahmu masih segar tapi berkeringat, seakan angin yang menerpa tubuhmu tidak cukup mendinginkan betis kekarmu yang terus bergerak.
Pagi itu adalah pagi pertamamu bekerja dengan sebuah kantor surat kabar ternama di kota itu. Kantor ternama yang hampir bangkrut karena kehilangan banyak pekerja. Kamu diterima sebagai pengantar koran yang baru.
Sambil menggowes, kamu teringat cerita duka yang diterima dari pegawai kantor. Herman, loper sebelummu, meninggal dunia karena kecelakaan dua hari yang lalu. Sepeda milik Herman meluncur indah dibawah truk kontainer. Ban-ban truk yang tak terkendali menganggap kepalanya hanya batu besar. Namun kepalanya tak sekuat batu di jalanan, Herman terpaku dengan wajah tak dikenali, Tulang belulangnya putih dan berdebu. Lalu kerumunan warga bergegas membawanya ke pinggir jalan, menutupinya dengan puluhan koran, koran yang dibawanya. Begitu cerita si pegawai kantor.
Sepintas bulu-bulu tengkukmu berdiri ketika kata-kata pegawai kantor itu terngiang terus-menerus di telinga. Wajahmu tak lagi segar namun masih berkeringat, keringat yang dingin.
Kamu tak berharap mati dalam keadaan yang sama, dan hanya menganggap toh setiap pekerjaan memiliki resiko masing-masing.
Saat tiba di sebuah komplek perumahan, "Kring…kring…" sapamu dengan bel sepeda kepada Satpam.
Komplek itu sangat luas. Rumah, toko, danau, kebun binatang kecil dan sebagainya ada di sana. Tangan legammu melempar koran di rumah pertama hingga rumah terakhir di sudut komplek.
Wajahmu sudah masam dengan nafas yang terhela-hela. Matahari yang sudah naik seujung tombak hampir membuat pitam kepalamu.
Kamu melihat pohon trembesi muda dan hendak beristirahat dan meneduh sejenak. Sepeda diparkirkan di pagar komplek yang agak berkarat yang jauh dari rumah-rumah.
Pagar itu tampaknya tidak pernah dibuka, terlihat dari rantai dan gembok yang sudah usang dan dililit rumput. Matamu menyipit memandang jauh ke dalam tempat itu. Tak ada apa-apa selain rerumputan lepat dan pohon trembesi tua di sekitarnya.
"Lantas mengapa harus dipagari?" tanyamu dalam hati.
Sosok anak muda yang baru lulus SMA sepertimu pasti sangat penasaran, tapi niat untuk masuk urung kamu lakukan. Nafasmu kini sudah tak lagi terhela-hela, wajahmu sudah sedikit segar karena air mineral yang dibawa dari rumah telah merendam tenggorakanmu yang panas. Kamu mengambil sepeda dan memutuskan untuk pulang.
Sudah seminggu lebih kamu menjadi Loper baru di kantor surat kabar ternama. Gaji 140.000 untuk seminggu seakan cukup bagimu. Tambahan gaji yang kamu dapat karena sepeda yang dibawa bukan sepeda milik kantor. Sudah seminggu menjadi loper baru dan rasa penasaranmu terhadap sebuah tempat di komplek perumahan itu kembali.
Seminggu ini kamu selalu melirik tempat itu. Sambil betis kekarmu menggowes sepeda menuju komplek, kamu terus berkhayal akan tempat itu. Tempat yang dilindungi oleh pagar yang berkarat dengan rantai dan gembok usang yang dililit rumput.
"Kring... kring…" sapamu dengan bel sepeda kepada satpam
"Oh ya pak, boleh nanya ndak pak?"
"Oh ya silahkan dek," jawab Satpam dengan sangkur dan tongkat yang melekat di pinggang.
"Bapak tahu tempat yang di ujung komplek, di dekat danau yang pagarnya bekarat?" tanyamu penasaran
"Ya, saya tahu. Ada apa ya dek?"
"Nganu pak, itu tempat apa ya, kok dipagarin, padahal kan gak ada apa-apa?"
"Saya tidak yakin pasti. Tapi kata satpam lama disini, disitu ada sumur tua tempat pembantaian orang Vietnam. Ceritanya sih angker. Tapi ingat yo, aku tidak yakin pasti."
"Oh gitu toh pak. Yo weslah, seminggu ini saya penasaran terus pak. Kalau bapak ndak yakin, boleh ndak saya memeriksanya?"
"Yo, boleh, tapi mesti hati-hati toh."
"Yo pak, saya minta kunci gemboknya yo"
Kamu ingin sekali menyudahi rasa penasaran yang ada dalam benak. Sepeda milikmu terus setia menemani di atas jalanan komplek. Kunci gembok di sakumu berbunyi-bunyi setiap kali sepedamu melintasi polisi tidur. Setelah sampai, sepeda kamu parkirkan di bawah pohon trembesi muda, yang ada di sisi kiri pagar.
Kamu terkejut saat gembok dan rantai usang itu tidak lagi dililit rumput. Berarti baru-baru ini ada orang yang telah membuka pagar itu. Keadaan ini semakin membuat kamu membuka gembok pagar dan menyingkirkan rantai yang melingkarinya. Pagar itu mengeluarkan suara berisik saat kamu mendorongnya pelan. Dengan perlahan kamu berjalan sambil menatap ke depan.
Semak belukar rerumputan yang menghalangi pandangan mata, kamu pijak hingga dapat melihat apa yang ada dibaliknya. Kamu kelilingi tempat yang dipagari itu. Pohon-pohon trembesi tua di sekitarnya membuat jalan yang ia tempuh begitu gelap. Dengan penuh hati-hati kamu menginjakkan kaki.
Kehati-hatianmu hilang saat melihat sebuah sumur tua yang berada 10 meter di depannya. Kakimu tersandung oleh tumpukan. Kamu terjatuh ke dalam sebuah kubangan lumpur yang dalam. Namun kamu langsung berdiri dan terus berjalan menuju sumur tua. Kamu terkejut ketika menatap apa yang dilihat.
Tubuhmu bergetar hebat saat melihat jasad Herman, tukang loper Koran sebelummu, terbujur kaku dengan sangkur di lehernya. Kaki kakumu berjalan mundur ke belakang dengan tatapan melotot seakan tidak percaya.
"Loper koran itu ternyata tidak mati karena dilindas truk. Ia mati disini!" batinnya dalam hati.
Kubangan lumpur yang dalam menghentikan langkah mundurnya. Kamu terjerembab dan jatuh. Kamu berpaling dan melihat tumpukan koran-koran yang tadi menyandung kaki.
Kamu berdiri dan berlari sekencang-kencangnya. Satpam tadi rupanya duduk disamping sepedamu sambil mengasah sangkur. Dengan nafas yang terhela-hela dia memberikan kunci gembok dan mengambil sepeda.
"Udah gak penasaran lagi toh dek?" tanya satpam yang masih mengasah sangkur.
Tanpa menjawab, kamu terburu-buru ingin pergi hingga koran-koranmu berserakan dibawah pohon trembesi muda. Sepeda milikmu hari itu jadi saksi atas kematian seorang saksi.