Awan yang gelap, matahari yang sudah tak terlihat dan rintik hujan yang mulai deras. Perlahan petir menyambar mengiringi suara lantunan indah yang merebut perhatian kedua pria yang tidak dikenal berada didekat pantai.
Mereka perlahan mendekati suara indah tersebut, mencoba mencari asal suara. "Mmmm..." Suara lantunan lagu yang sangat indah.
"Aaaaa..."
Kedua pria itu seakan sedang terhipnotis akan lagu yang indah itu. Mereka sama sekali tidak terkendali. Kedua pria itu terus berjalan ke arah sumber suara dari arah sungai.
Kedua pria itu tiba di dermaga dan menceburkan diri bersamaan. Para Siren langsung menghantam mereka dengan cakaran yang tajam dan mengerikan.
Membuat darah mereka bercucuran bercampur dengan air sungai.
Ya, Siren adalah makhluk dengan suara merdu yang mirip seperti duyung. Yaitu setengah ikan dan setengah manusia. Bedanya adalah para Siren sangat jahat dan bisa melukai makhluk yang berada didekat mereka ketika sedang bernyanyi dengan indahnya, sedangkan para duyung atau juga yang bisa disebut mermaid itu adalah wanita dan pria dengan rupa yang cantik atau perkasa nyanyian mereka juga sangat merdu. Tetapi para duyung sangatlah bersahabat dengan para manusia dan tidak berani menyakiti mereka sama sekali.
Para Siren juga kadang menyerang kaum duyung, bahkan bisa menyerang sesama jenis mereka sendiri mau suka ataupun tidak. Yang ada hanya kata membunuh atau dibunuh.
Mereka perlahan menghabisi kedua pria tersebut dan memakan dagingnya hingga yang bersisa hanyalah tulang-tulang mereka saja.
Tiba-tiba ratu Siren mengaum seperti marah dan memberi sinyal dengan kedatangannya.
Para Siren perlahan diam dan berkumpul menjadi satu pada tempat yang berbeda. Mereka berkumpul untuk menemui ratu Siren yang sedang mengamuk.
***
Ratu Siren sangat murka akan hal itu, harusnya mereka sudah mengikuti jejak yang baik dan berbaikan dengan para duyung. Tetapi kaum ratu Siren terlalu serakah sehingga tidak menghiraukan kata pemimpinnya sendiri.
Ratu Siren datang dengan pasukannya. "Apa yang kalian lakukan?!!!" Ratu Siren mulai memberi tanda bahwa dia akan membunuh Siren yang sudah memakan manusia tersebut dengan ganasnya tanpa beban.
"Sudah aku katakan bukan? Kalau kalian ingin memangsa manusia atau para duyung kalian masih boleh memangsanya, tapi ketika ada manusia yang jahat menyerang kita ataupun menangkap kalian..."
"Dan jangan sekali-kali kalian menyakiti para duyung, jika tidak mau berhadapan denganku!!!" Auman itu memenuhi telinga para Siren tadi juga pasukannya.
Ratu Siren langsung membunuh para Siren tadi tanpa ampun sama sekali. Dia tidak bisa menahan amarahnya lagi. Tapi ratu Siren tidak memakannya, karena ia akan seperti dulu lagi kalau memakannya, dan itu bisa jadi membuat para Siren meniru perbuatan yang tidak baik dari pimpinannya.
Sementara itu Raja Merman datang dan menenangkan Ratu Siren yang sedang murka agar tidak meluapkannya pada pasukannya juga.
Terlihat disini Ratu Siren dan kaumnya sangatlah berbahaya. Bahkan rela membunuh atau menyakiti kaumnya sendiri tanpa ampun.
"Tenanglah Niana,..." Kata Raja Merman untuk Ratu Siren. Seketika mendengar suara dari raja Merman, emosi ratu Siren langsung meredah.
Raja Merman memeluk ratu Siren dengan lembut, dia berbisik, sampai-sampai membuat detak jantung ratu Siren tidak terkontrol lagi.
"Tenanglah Sayang..."
"Bercerialah Sayang..."
Bisik Raja Merman penuh kekocakan sampai dirinya sendiri ingin menahan tawa, atas yang dirinya bisikan tadi kepada ratu Siren yaitu, Niana.
"Jangan bercanda, raja Merman..." Ketus Niana, ratu Siren tidak senang.
"Aku bisa saja melahapmu... Seperti kaumku kalau kau memancing ku!" Bisik ratu Siren, agar tidak dapat didengar oleh pasukan merman tersebut.
Ratu Siren sepertinya malu sekaligus tidak menyukai perbuatan raja Merman. Walau dengan sempatnya tadi hatinya melunak dan berdetak tidak terkendali. Tapi dia tetaplah ratu Siren.
"Ia deh," Bisik raja Merman tidak formal kepada temannya, ratu Siren.
Perlahan mereka pergi kekerajaannya masing-masing, menjauh dari sungai menuju ke-kedalaman laut.
***
Kedalam tersebut tidak akan bisa dicapai oleh manusia. Hanya manusia yang beruntunglah yang bisa kesana jika seandainya itu ada.
Para Duyung dan Siren juga pernah berharap akan bertemu dengan manusia yang baik, yang bisa mencapai posisi keberadaan mereka.
Mereka berjanji siapapun yang bisa mencapai keberadaan Siren ataupun Duyung, mereka akan menggapanya sebagai manusia yang penuh kehormatan di darat maupun laut. Dan menyebutnya sebagai dewa/dewi lautan, mereka akan memberinya tahta tersebut. Tapi sepertinya itu mustahil oleh manusia.
Bahkan ribu-an tahun sampai sekarang tidak ada manusia yang lewat ke-kedalaman laut di dalam ataupun diluar kerajaan para Siren dan juga Duyung.
Ditempat yang suci, tetapi penuh dengan kegelapan, yang tidak terdapat sinar matahari sama sekali disana. Siren yang suka kegelapan, tentu saja bisa melihat dengan jelas. Mata mereka sangat jeli dan teliti seperti seorang detektif lautan dalam.
Ratu Siren berjalan-jalan dan melihat kaumnya, memastikan keadan mereka bersama pasukan yang sudah disiapkan. Mereka tidak lupa disambut oleh para Siren lainnya.
"Yang mulia... Bagai kegelapan dan juga lautan adalah kehidupan lautan dalam." Sambutan mereka semua pada ratu Siren.
Ratu Siren mengganguk dan menggores jari-jari kukunya yang tajam ke batu karang, agar mereka dapat mengerti bahwa dirinya senang melihat keadaan yang seperti ini...
Seperti biasanya, tenang dan tidak ada perselisihan seperti dulu atau pertengkaran yang berujung saling membunuh satu sama lain. Penyambutan raja/ratu Siren sangat berbeda yang dulu dan yang sekarang.
Yang dulu penyambutan raja/ratu Siren sangatlah kacau karena itu kebiasaan mereka sebagai pemberontak laut. Sedangkan yang sekarang, sangatlah tentram dan damai berkat Niana, putri dari raja dan ratu Siren yang suka melihat kekacauan termasuk pemberontakan jika mereka datang untuk menyambut rakyatnya.
Syukurlah, darah tersebut tidak mempengaruhi sikap suci Niana, ratu Siren yang sekarang. Dia lebih suka melihat keindahan dari pada kekacauan dikerajaannya.
"Rakyatku! Tentramlah dan damai agar kita menjadi matahari dilautan dalam." Balas Niana, ia tersenyum mendapati rakyatnya yang masih sigap seperti biasa.
***
Seorang penyelam terbaik berusaha untuk masuk ke-kedalaman laut yang belum pernah ia capai sama sekali.
"Tenanglah, aku pasti bisa!" Gumam lelaki muda itu meyankinkan dirinya.
Memakai kaca mata renang nya, tentunya tidak lupa juga dengan tabung oksigen yang sudah tersedia sebelum menyelam. Dan sebelum itu dia menarik napasnya dalam-dalam mencoba memberanikan dirinya. Dan,....
Byurrr...
Suara air menghantam dirinya, dan berenang ke laut lepas. Ia berenang dan berenang lebih jauh lagi.
Beberapa jam kemudian, sampai ia hampir tidak tahan untuk berenang lebih dalam lagi saat mencapai kedalam air yang sangat dingin yang berada di zona abisal.
Zona abisal disebut zona laut sangat dalam. Zona ini terbentang dibawah zona bathial hingga dasar laut.
Zona ini terletak jauh sekali di bawah permukaan laut sehingga sudah tidak ada sama sekali cahaya matahari yang masuk. Oleh karena itu, suhu di zona abisal juga sangat dingin. Pada zona ini jarang sekali ditemukan kehidupan.
Tabung oksigennya sudah mulai habis, dan badan pria itu mulai memberat seperti tidak dapat bergerak lagi.
"Tuhan, tolong aku... Selamatkan aku. Jika nyawaku berakhir disini hanya karena menyelam ke lautan dalam, biarkanlah, semestinya aku sudah berusaha." Batinnya dengan kegigihan dan lanjut untuk menjelajah lebih dalam lagi.
Sampai ia bener-bener mencapai titik laut terdalam. Yang seharusnya jika menjadi manusia biasa itu akan menjadi tanda tanya bagi dirinya sendiri... Mengapa dia bisa mencapai laut terdalam? Dia pasti sudah tiada saat itu juga bukan? Seperti habis di air laut terdalam?
Tetapi, ia melihat hal yang tidak biasa disaat itu. Melihat makhluk langkah berbentuk setengah ikan dan setengah manusia. Ekornya sangat gelap dan memiliki tombak diujung ekornya.
Disaat itu ia melihat makhluk aneh persis seperti itu juga, tetapi, ekornya berbeda... Ekor itu sangat bersinar dan juga memiliki tombak diujung ekor itu. Sosoknya juga memiliki rupa yang sangat cantik.
Ia, sendiri takut untuk mendekati makhluk aneh tersebut. Tapi sangat tertarik untuk mendekati Wanita setengah ikan itu.
"Apakah itu putri duyung?" Batin penyelam itu .
"Ataukah aku sudah mati?" Tanya penyelam itu lagi dalam batinnya merasa khawatir.
Makhluk aneh setengah manusia setengah ikan tersebut, menarik perhatian penyelam itu, menyanyi dengan sangat merdu.
"Huhhhh," Lantunan yang sangat merdua dari ratu Siren.
Membiarkan nalurinya terpikat untuk mendekati mahkluk aneh yang cantik itu. Tanpa sadar ia menyelam mendekati wanita aneh tersebut tanpa berpikir panjang.
Setelah mendekatinya, ia menepuk bahu mulus wanita Siren tersebut. Nyanyian ratu Siren tersebut terhenti. Ratu Siren menatap lekat manusia itu dari atas sampai bawah termasuk wajahnya.
Ratu Siren teralihkan dengan buih-buih yang keluar dari mulut penyelam itu. Ia sontak terkejut bahwa itu adalah manusia biasa yang menyelam sampai kesini.
"Mustahil!"
Teriak Niana, tapi masih bisa didengar oleh penyelam itu. Bingungnya lagi sok-sok penyelam itu mulai melepas tabung oksigennya dan berbicara, seakan mengerti apa yang dikatakan ratu Siren.
Setelah, bertemu dengan ratu Siren itu naluri dan pikirannya tiba-tiba tidak memikirkan keselamatan dirinya sendiri sehingga melepas tabung oksigennya dan mulai berbicara.
"Apakah kau Siren atau duyung?" Tanya penyelam itu bingung dengan keadaan setengah sadar.
"Aku? Aku ratu Siren!" Niana mulai berkata ketus, dia meninggikan intonasi nadanya.
Perlahan ratu Siren mundur dan memanggil para Duyung serta kaum Siren-nya.
"Wahai kaumku, para duyung, juga raja Merman... Muncul lah! Aku menemukan manusia..."
Lantas semua Siren yang mendengar dan mendapat sinyal panggilan tersebut. Mereka langsung bersorak memenuhi area itu, mengepung penyelam itu.
Dan raja Merman yang ada disana, mengeluarkan kekuatannya untuk memuncul mahkota dewa lautan. Ia berenang perlahan mendekati penyelam itu, dan memasangkan mahkota kerang untuknya.
Semua bersorak mengatakan ini,"Hidup!" Dan mengatakannya lagi sampai tiga kali berturut-turut.
"Hidup!" Raja Merman dan Ratu Siren juga ikut bersorak.
"Hidup!" Sekarang semua bersorak memberi selamat.