Namanya Kiara, hari ini ulang tahunnya yang ke 18, hidupnya mendekati kata sempurna.
Acara ulang tahunnya sedang berlangsung, Ia memakai gaun abu-abu, rambutnya tergerai indah.
Saat ini Ia di kelilingi teman-temannya yang lagi menyanyikan lagu ulang tahun.
Saat kue dipotong, potongan pertama Ia berikan pada Bram Papanya yang sedang berada di sampingnya, lalu Ia melangkah ke depan untuk memberikan potongan kedua.
Ia tersenyum menatap orang di depannya, orang itu juga tersenyum sambil mengambil potongan kue itu. Dia adalah Verrel pacarnya, mereka pacaran sudah 1 tahun ini sejak ulang tahun ke 17.
Disaat Kiara tenggelam dalam tatapan Verrel, Arka sahabatnya melihat ke arah mereka.
Wajah Arka berubah sedih, Ia berbalik pergi.
Saat Ia pergi, Papa Kiara melihat ke arahnya, Ia tau perasaan Arka seperti apa.
Arka adalah sahabat Kiara dari kecil tapi lebih tepatnya sejak lahir.
Orang tua mereka bersahabat hingga akhirnya mereka tinggal berdampingan, tidak ada pagar pembatas di rumah mereka supaya anak mereka bisa bermain bersama.
Arka lebih tua 2 tahun dari Kiara tapi karna sewaktu Kiara masih TK, Ia sering pulang sambil menangis jadi Arka menunda sekolahnya hingga akhirnya mereka bisa masuk bareng di sekolah dasar.
Arka selalu ada di samping Kiara susah maupun duka, saat Kiara dibenci Mamanya sendiri, Arka rela berbagi Mama dengannya.
Mama Kiara membencinya sejak Ia berumur 8 tahun, saat itu Kiara lagi di taman hiburan bersama adiknya Tiara tapi saat itu Tiara hilang hingga menyebabkan Mamanya frustasi dan membencinya hingga saat ini.
Arka selalu menghibur Kiara saat Ia sedih diperlakukan dingin oleh Mamanya.
Hingga sekolah menengah atas mereka selalu satu kelas.
Tapi semuanya berubah sejak tahun lalu, tahun lalu Kiara mulai mengenal Verrel dan mereka jatuh cinta, hingga akhirnya waktu Kiara lebih banyak bersama Verrel.
*
Arka pulang ke rumah, saat baru masuk Ia melihat orang tuanya duduk santai.
"Sudah pulang, bagaimana acaranya?" tanya Mamanya
"Seperti biasa," jawabnya, Ia langsung naik ke atas dengan wajah sedihnya.
Mama dan Papanya hanya saling melihat, tapi merwka sudah tau apa yang terjadi karna tahun lalu juga seperti ini.
Arka masuk ke kamarnya di lantai dua, Ia menjatuhkan diri di ranjang empuknya, lengan kanannya menutup matanya.
*
Keesokan harinya.
Kiara masuk ke rumah Arka, Ia langsung menuju ruang makan.
"Pagi Om, Tante," ucapnya menyapa 2 orang yang lagi sarapan.
"Pagi cantik, sarapan dulu" ucap Papanya Arka
"Sudah sarapan Om, Arka di atas kan?" tanyanya
"Iya, dia lagi packing," jawab Mama Arka
"Packing," ucap Kiara bingung, Ia langsung naik ke lantai atas menuju kamar Arka, karna sudah terbiasa jadi Ia langsung masuk.
Karna Arka juga sudah terbiasa jadi Ia hanya menoleh sebentar lalu kembali memasukkan pakaian dalam koper.
"Mau pergi kemana?" tanya Kiara sedih.
"Aku mendaftar kuliah di London, hari ini berangkat," ucap Arka santai
"Kok kamu gak bilang?" tanya Kiara pelan
"Ini mendadak, kemarin mau bilang tapi kamu sibuk," kata Arka menahan getaran suaranya.
"Terus aku sama siapa?" tanya Kiara yang mulai menitikkan air mata
Arka menoleh karna suara Kiara sudah seperti orang menangis.
Karna Kiara beneran menangis jadi Ia mendekat ke arah Kiara, Ia mengusap air mata Kiara, "Verrel ada, jadi jangan pernah bertengkar lagi dengannya biar kamu gak kesepian,"
Kiara hanya diam
"Aku berangkat pukul 10 pagi ini," kata Arka
*
Di bandara, Arka memeluk kedua orang tuanya lalu memeluk Bram papanya Kiara.
Arka melihat kearah Kiara yang masih menitikkan air mata, Ia tersenyum saat mendekat, Ia memeluk Kiara sambil mengusap punggung Kiara.
"Aku hanya pergi kuliah, kita masih bisa saling menghubungi," kata Arka
Kiara mengangguk.
Arka melepaskan pelukannya lalu menarik kopernya, Ia melambaikan tangan kepada semuanya.
Saat sudah duduk di dalam pesawat barulah air matanya tumpah.
*
Beberapa minggu kemudian Verrel dan Kiara sudah mulai masuk kuliah, mereka mengambil jurusan yang sama jadi bisa sekelas.
Saat pulang dari kampus, Kiara langsung pulang diantar Verrel tapi Verrel tidak mampir.
Kiara membuka pagar, matanya langsung tertuju pada rumah Arka, hatinya kembali sedih.
Kiara membuka pintu rumahnya, Ia kaget melihat 3 orang di depannya yang sudah seperti keluarga bahagia.
Saat Ia masuk tidak ada yang menyadarinya, tapi setelah Kiara berdiri beberapa menit, Papanya menoleh.
"Sudah pulang?" tanya Papanya
Kiara mengangguk, matanya tertuju pada gadis manis yang sedang Mamanya belai.
Mamanya yang jarang tersenyum, saat ini terus tersenyum menatap gadis itu.
"Kiara, ini Tiara adik kamu," ucap Papanya
Kiara tersenyum melihat kearah Tiara yang langsung berjalan menuju kearahnya.
Tiara memeluknya dengan erat.
"Aku senang kamu kembali," ucap Kiara canggung
Papanya berjalan mendekat, "Papa sudah curiga dari awal kalau Ines adalah Tiara sewaktu Papa ketemu di panti asuhan jadi Papa melakukan tes DNA dan ternyata semuanya benar," Papa tersenyum bahagia.
Mama masih bersikap dingin pada Kiara walau Tiara sudah ditemukan.
Saat makan Mamanya juga melayani Tiara dengan hangat, hal yang Kiara impikan sejak lama.
*
Sepulang dari kampus, Verrel dan Kiara masuk ke rumah.
Tiara sedang membaca buku karna sebentar lagi Ia akan masuk sekolah menengah.
Tiara berdiri menyapa keduanya.
"Ver, kenalin ini adik aku Tiara," Kiara memperkenalkan Tiara pada Verrel.
"Tiara kak," Tiara mengulurkan tangan sambil tersenyum
"Verrel," Verrel ikut tersenyum karna sebenarnya mereka sudah saling kenal di panti asuhan.
Orang tua Verrel sering datang ke panti asuhan, dan beberapa bulan lalu Verrel ikut datang.
"Ver, aku ganti baju dulu, jadi kalian ngobrol saja dulu," kata Kiara yang langsung berjalan ke atas
Setelah berganti pakaian, Kiara turun dan matanya langsung tertuju pada Verrel dan Tiara yang mengobrol akrab sambil tertawa bahagia.
Wajah Kiara langsung sedih, tapi sedetik kemudian Ia memasang wajah tersenyum
Ia langsung duduk di dekat mereka.
*
Malam hari Kiara kirim email, Ia menceritakan tentang kebahagiaannya bertemu Tiara tapi Ia juga menceritakan tentang sikap Mamanya yang tetap dingin.
Di London bukan malam hari, Arka membaca email Kiara. Ia membalasnya seperti biasa, Ia menghibur Kiara.
Kiara tersenyum membaca balasan Arka.
Sekarang Kiara bisa tidur dengan tenang setelah dihibur.
*
Setahun berlalu, Kiara mendengar Tiara dan Verrel bicara di taman rumah mereka.
"Aku tidak mau menyakiti Kakak," kata Tiara
"Kita harus jujur padanya, Ia harus tau jika kita saling suka," kata Verrel sambil memegang tangan Tiara.
Kiara menitikkan air mata, Ia menutup mulutnya supaya tangisnya tidak terdengar.
Kiara berjalan mundur, lalu langsung pergi ke rumah Arka dari pintu belakang.
Saat itu Mamanya Arka sedang memasak, Ia melihat Kiara masuk dengan penuh air mata.
"Kiara, kamu kenapa?” tanya Mamanya Arka
"Tidak apa-apa, Kiara mau ke kamar Arka. Boleh?" tanya Kiara
"Iya naik saja, nanti Tante temani kamu setelah selesai masak,"
Kiara mengangguk lalu berjalan naik ke lantai atas, Ia langsung masuk ke kamar Arka.
Kiara berbaring di tempat tidur Arka, sekarang tidak ada bau badan Arka lagi.
"Arka," katanya pelan sambil menangis tersedu-sedu
*
4 tahun berlalu
Saat ini Kiara sudah tidak kuliah lagi, Ia sudah setahun bekerja di perusahaan Papanya tapi beberapa hari yang lalu Ia mengundurkan diri, alasannya Ia capek, kenyataannya saat ini Kiara sedang sakit.
Kiara sengaja tinggal di apartemen yang sedikit jauh dari rumah orang tuanya.
Kiara masih di apartemennya, Ia memegang hidungnya yang keluar darah lagi.
Setelah membersihkannya, Kiara langsung pergi keluar masih sambil memegang tisu di hidungnya.
Kiara datang ke rumah sakit seorang diri, Ia mendengarkan Dokter bicara, Dokter memvonisnya penyakit leukimia akut/kanker darah.
Penyakit Leukimia akut sangat sulit disembuhkan.
Kiara menitikkan air mata, Ia ingin pulang ke rumah, Ia ingin melihat keluarganya.
Kiara naik taxi menuju kearah rumahnya, saat sampai di depan Ia melihat taxi lain ada di depan.
Ia melihat Arka mengeluarkan kopernya dibantu orang tuanya.
Kiara berdiri mematung melihat Arka.
Arka berbalik, Ia melihat Kiara berdiri mematung menatapnya.
Ia tersenyum menatap kearah Kiara.
Kiara menitikkan air mata, 5 tahun lebih Ia tidak bertemu Arka, hingga rasanya hari ini seperti mimpi.
Arka berjalan mendekat, Ia langsung memeluk Kiara, "Aku pulang," katanya
Kiara memukul dada Arka berkali-kali, "Aku benci kamu, kamu pergi terlalu lama dan tidak pernah pulang sekalipun," katanya
Orang tua Arka tersenyum melihat keduanya.
*
Malam hari Kiara duduk di taman rumah berdua dengan Arka, mereka menikmati angin malam sambil melihat bintang.
Kiara bercerita banyak hal tapi Ia tidak menceritakan tentang penyakitnya.
Disaat itu juga Tiara dan Verrel datang, Arka melihat kearah Kiara, Ia ingin tau apa yang terjadi tapi Kiara langsung tersenyum kearah Tiara.
"Kalian bersenang-senang?' tanya Kiara
"Iya Kak," jawab Tiara
Arka dan Verrel memang tidak akrab sejak dulu jadi mereka tidak saling menyapa.
Setelah Verrel dan Tiara masuk, Arka menatap Kiara untuk minta penjelasan.
"Aku dan Verrel sudah berpisah 4 tahun lalu, kami berpisah baik-baik," Kiara bercerita sambil melihat kearah langit
Arka hanya diam mendengarnya.
Keringat di dahi Kiara mulai keluar padahal malam ini dingin, badannya juga mulai lemas.
Arka melihat wajah pucat Kiara, Ia menatap dahi Kiara.
"Badan kamu panas," kata Arka yang langsung berdiri mengajak Kiara masuk.
"Aku tidak apa-apa, aku pulang dulu, cepat sana pulang juga," ucapnya yang langsung berjalan pergi..
Kiara masuk ke rumah, Ia melihat empat orang di ruang tamu.
Ia pamit naik ke atas.
Di kamar Kiara langsung memakai selimut, tubuhnya mulai sakit lagi tapi Ia tahan karna takut ketauan yang lain.
*
Keesokan harinya, Kiara datang ke rumah Arka, Ia duduk di ruang makan bersama Mamanya Arka.
Mereka mengobrol banyak hal, tapi Mama Arka langsung kaget melihat Kiara mimisan.
"Kiara hidung kamu berdarah," ucapnya,
Kiara memegangnya dan langsung melihat darah di jarinya.
Arka yang baru turun juga melihatnya dan buru-buru mendekat.
Ia mengangkat kepala Kiara keatas, karna tidak sempat cari tisu atau kain jadi Arka buru-buru membuka kaos yang dipakainya.
Kiara memejamkan mata melihat tubuh Arka di depannya.
Arka tidak peduli, Ia sibuk menutup hidung Kiara.
Mama juga memegang Kiara, Ia panik tidak tau harus bagaimana.
"Kok darahnya gak berhenti ya?" kata Mamanya Arka
Kiara hanya diam, Ia melihat ke arah Arka yang terlihat sangat panik.
"Gak apa-apa, sudah sering kok mimisan seperti ini," kata Kiara
*
Hari terus berlalu, kesehatan Kiara semakin memburuk, saat ini semuanya sudah tau tentang keadaannya karna waktu itu Kiara pingsan di jalan.
Mamanya Kiara menitikkan air mata untuk pertama kalinya saat melihat Kiara terbaring sakit, Ia menyesal membenci Kiara selama belasan tahun, Ia menyesal tidak memperdulikan Kiara selama ini.
Kiara sudah tidak sadar, karna penyakitnya sudah stadium lanjut dan sudah sangat parah jadi donor sumsum juga akan percuma.
Kiara membuka matanya, saat itu yang dilihatnya hanya Mamanya yang biasanya tidak pernah peduli padanya.
Mamanya mendekat dan langsung memegang tangan Kiara.
"Kamu harus kuat, Mama janji akan menebus kesalahan Mama selama ini sama kamu," Mamanya terisak sambil mencium tangan Kiara
Diujung usianya kebahagiaan mulai muncul, hal yang paling diimpikannya mulai tercapai, Ia ingin mendapat kasih sayang Mamanya.
Kiara mencoba tersenyum, sekarang rambutnya sudah rontok akibat kemo.
Tubuhnya sudah tidak berisi, wajahnya seputih kertas, matanya sayu seperti habis menangis.
*
Siang hari Kiara ditemani Arka, Arka menahan tangisnya di depan Kiara.
"Aku ingin pergi ke pantai tempat kita sering bermain dulu," kata Kiara terbata, untuk bicara saja sungguh sulit.
"Kamu gak boleh meninggalkan rumah sakit," kata Arka
"Kumohon, aku hanya ingin pergi kesana untuk terakhir kalinya," ucap Kiara, air matanya perlahan menetes.
Arka melihat kearah orang tua mereka, Papanya Kiara mengangguk.
*
Arka mendorong kursi roda Kiara, mereka menikmati angin pantai, Arka menyelimuti Kiara supaya tidak kedinginan.
"Kamu ingat tidak sepulang sekolah, kamu akan goncengin aku naik sepeda ke sini, kita sering jatuh dari sepeda saat bersepeda di pasir." Kiara mengingat kenangan mereka sewaktu kecil.
"Uhu..." Arka mengangguk, Ia tetap menahan air matanya walau matanya terus berkaca-kaca.
Arka dan Kiara sama-sama mengingat saat mereka dulu, banyak kejadian yang mereka lalui bersama.
"Karna kita sering bersama, kamu jadi tidak pernah bisa cari pacar, semoga saat nanti aku pergi, kamu akan menemukan orang yang kamu suka," kata Kiara
Arka menggeleng, "Dari kecil orang yang kusuka dan kucintai cuma kamu, dan sampai nanti juga cuma kamu," kata Arka
Arka berjongkok, Ia memegang wajah pucat Kiara.
"Aku mencintai kamu Kiara,"
Kenangan demi kenangan terlintas dibenak mereka membuat Kiara terus meneteskan air mata.
Arka memeluk Kiara, "Aku mencintai kamu,"
Beberapa kali Arka mengucapkan itu sambil memeluk Kiara, tanpa disadarinya tangan Kiara sudah terkulai.
"Aku juga mencintaimu Arka hingga akhir hidupku ini," ucap Kiara lemah.
Matanya langsung menutup dan semua kekuatannya hilang.
"Kiara, bangun, jangan bercanda," kata Arka yang mulai menggoncang tubuh Kiara.
Wajah Kiara masih basah oleh air mata, saat ini nafasnya sudah terhenti, Ia sudah pergi untuk selamanya.
"Kiara, kumohon bangun," ucap Arka frustasi.
Ia mengangkat Kiara dari kursi roda dan membawanya pulang.
Ia menggendong Kiara sepanjang jalam.
Air mata Arka terus menetes membasahi wajah Kiara.
Kiara tidak akan pernah kembali.
*
*
*