PERTEMUAN ADALAH JALAN MENUJU TITIK RINDU
Waktu telah memberi sebuah pertemuan,
Dan ruang menyaksikan dengan makna,
Bahwa pada mulanya adalah peka yang mengikat.
Perlahan bunga-bunga indah mekar,
Mengumpulkan rindu-rindu yang sempat terhenti oleh pikiran,
Hingga berjalan menuju relung,
Tempat penyimpanan rasa.
Dan pada kota tua yang menjadi saksi,
Aku akan menyimpan catatan awal itu sebagai kitab-kitab tua,
Yang kelak di pertanggungjawabkan oleh arti mencintai
Kalimat yang sederhana, tapi mempunyai makna yang sangat dalam. Tentang perasaan, rindu dan cinta. Apa maksud pengarang pada baris terakhir puisi itu ya? aku semakin dibuatnya penasaran. Ya, akhir-akhir ini aku memang tertarik pada dunia sastra. Walaupun aku tak begitu paham, setidaknya saat membaca kalimat-kalimat indah itu membuatku bergetar. Aku selalu mengikuti blog yang tak sengaja aku temukan dimedsos. Pertama membaca sih, biasa saja. Tapi, karena dia selalu update jadinya mau nggak mau mata ini selalu risau ingin membacanya. Dan lama kelamaan menjadi candu bagiku. Seperti seorang kekasih yang selalu menantikan pertemuan dengan yang dirindukan. Begitu juga denganku, selalu menantikan puisi-puisi baru darinya. Setiap update selalu aku like. Dan akupun memberi notifikasi khusus untuk blog itu. Akhirmya aku iseng chat dengan penulisnya.
Atifa Saraswati Arundaya, itu namaku lahir dari keluarga sederhana. Baru lulus S1 Manajemen Ekonomi. Bersahabat dengan gadis berparas ayu, dengan kulit sawo matang, bermata coklat, bernama Melia putri. Anaknya cukup asyik. Terkadang memberikan solusi untuk beberapa masalah kecil yang kuhadapi. Begitu pun sebaliknya. Kami seperti saudara perempuan. Melia gadis yang sederhana dalam hal apapun.
“Pasti sedang menghayal, kebiasaan, sejak kapan suka sastra?” Melia menghampiriku yang tengah asyik duduk sambil membaca blog puisi dilayar laptop. Sungguh, lagi-lagi Aku dibuatnya kagum dengan sang penulis. Otaknya encer banget, pikirku.
“Bagus ini puisi, Aku suka.” kataku sambil terus membaca bait demi bait puisi yang tertayang dilaptop. Melia yang sedang asyik memainkan HPnya ikut menatap layar laptop didepanku.
“Mana ada awan putih menghias ruang lumpur. Yang ada itu batu karang yang rindu guyuran ombak pantai.” ucap Melia yang terus menceramahiku.
“Minggu ini Aku mau pulang kampung, ikut yuk?” Aku menoleh kearah Melia.
“Mau dong, tapi jauh sekali, lagian apa ibu mengizinkan.” Jawabku ragu.
“Ntar Aku ijinkan sama ibu, kapan lagi kamu ke kampungku. Ntar Aku ajak ke pantai yang masih perawan.” Terang Melia. Aku tersenyum. Ada-ada saja ini anak. Kupang, Indonesia bagian timur, yang memang terkenal dengan pantainya. Pantai Lasiana yang terkenal dengan indahnya hamparan pasir putih serta kejernihan air pantainya. Hem.. nggak sabar ingin menyapa pantai dari dekat. Dan Aku pun mulai berimajinasi.
Pada waktu yang tak berjeda
Aku memburu imajinasi
Sesekali mengecup deru ombak
Anak-anak nelayan bermain dibibir pantai
Dengan tali digenggamannya mengejar layang-layang
Ada candu dimataku
Untuk mengungkap makna dari kata RINDU
Akhirnya Melia bisa membujuk Ibu agar Aku diijinkan untuk ikut ke Kupang. Tentu hatiku bahagia. Ini pertama kalinya Aku mengembara ke daerah tetangga. Sebuah perjalanan panjang dan tentunya dengan segala kejadian. Kami harus menempuh waktu 3 hari untuk sampai di Kabupaten Lembata, ditempuh dengan jalur darat. Alat transportasi kami menggunakan kapal. Dan ada kejadian lucu saat dikapal. Ada seorang cowok menyatakan rasa sukanya kepada cewek lewat puisi, itupun didepan semua para penumpang. Luar biasa banget ya?
Saat yang paling mendebarkan itu jawaban dari si ceweknya. Semua yang menyaksikan berharap cemas, terlihat dari wajah mereka. Begitu juga denganku. Melia yang tengah asyik mengunyah roti menepuk pundakku.
“Ras, kamu kan suka sama puisi. Mungkin kejadian ini akan berlaku padamu. Cowok yang kamu suka menyatakan cinta lewat kata.” ucapnya sambil tertawa. Aku tersenyum jahil sambil melototkan mata. Aku sempat terhanyut akan perkataan Melia. Benarkah seperti itu? Kalo pun iya sweet banget. Dan Aku pun tersenyum. Lagu Can’t help falling in love sebagai notifikasi blog puisi bersuara. Aku segera mengambil HP dan membukanya. Lagi-lagi kalimat indah itu tertayang
Senja sedang mengurung awan
Perlahan
Ku kumpulkan rindu yang berserakan
Menatanya kembali
Dan menyimpannya
Di lembaran biru buku tua dibatas kota
Ku tunggu candumu yang selalu merindu
Suasana malam hari dikapal menurutku sedikit mencekam. Aku dan Melia keluar, menyaksikan hamparan luas digelapnya malam. Ombak kadang menggulung, terasa berdesir dalam hati. Ada segerombolan pemuda yang tengah asyik menyayikan lagu dengan petikan gitarnya. Tanpa canggung Melia menghampiri mereka dan ikut bernyayi. Lagu dari Ebid yang memang pas ditelinga. Aku sungguh menikmati perjalanan ini, kupejamkan mata, merasakan hembusan angin yang perlahan menerpa tubuh. Aku teringat sebuat kalimat ”Di manakah rindu? Di antara jarak kedua bola matamu.” Tiba-tiba terdengar suara disampingku
“Mbak kalau mau tidur jangan sambil berdiri, ntar jatuh lagi,” Aku membuka mata lalu menoleh, seorang laki-laki dengan segelas kopi susu tengah berdiri tepat disampingku.
“Siapa yang tidur, Aku cuma menikmati angin malam dihamparan yang luas ini.” kataku.
“Setiap yang kamu pikirkan adalah ide yang tak mungkin kembali lagi.” ucap laki-laki disampingku. Aku menoleh ke arahnya. Dengan tenang dia menyeruput kopi susu yang ada ditangannya sambil memandang lurus ke depan. Aneh, itu kalimat yang muncul dalam otakku. Tapi, sepertinya Aku mengenal kalimat yang barusan dia ucapkan ya??
“Syll kiik, itu namaku.” Dia mengulurkan tangan. Akupun menjabatnya.
“Atifa Saraswati Arundaya, panggil saja Saras.” Dan kamipun mulai obrolan beratapkan langit yang bertabur bintang.
Pagi hadir dengan kesederhanaan alam yang disuguhkan. Semua para penumpang telah siap dengan aktifitas masing-masing. Ada yang tengah sarapan pagi, ada yang mulai menyapa mentari dan juga ada yang tengah asyik dengan dunianya sendiri. Kulihat Melia membawa dua pop mie di tangannya.
“Aku belikan pop mie, pengganjal perut.” ucapnya sambil menyerahkan pop mie padaku. Akupun menerimanya.
“Gimana Ras, tadi malam mimpi apa, ketemu sama penulis yang kamu idolakan ya?” Melia mulai dengan sindirannya.
“Apaan sih kamu Mel, nggak mimpi kok, tapi langsung ketemu.” kataku menggoda Melia.
“What?” jawab Melia setengah berteriak. Spontan beberapa pasang mata melirik kearah kami. Aku mencubit lengan Melia, dia memekik. Padahal cubitanku nggak sakit, cuma pelan. Dasar Melia.
“Berarti dia ada dikapal ini, bersama kita?” tanyanya penasaran. Aku tersenyum bangga, akhirnya dia masuk keperangkap juga. Aku menangguk, sambil menikmati pop mie dengan rasa kaldu ayam yang menggoda selera. Mendengar jawabanku Melia diam mematung. Akupun tergelak tawa.
“Dia ada disini, dihati bersamaku.” Aku membisikkan kalimat itu ke telinga Melia. Melia yang dengan sadar Aku goda langsung memencet hidungku. Aku memekik kesakitan, habis keras banget dia mencetnya.
“Kebiasaan, Aku penasaran tau, eh malah kamu ternyata ngegoda ya? Ras, jangan-jangan kamu menaruh hati pada penulis itu ya?” pertanyaan Melia spontan membuatku terbatuk.
“Dari cara kamu cerita tentang puisinya, chat antara kamu dengannya, itu bisa ditebak kalau kalian memang ada rasa.” Deg.. entah kenapa hatiku terasa riuh didalam sana. Antara menyukai dan mengagumi itu beda tipis kan??
“Cuma mengagumi karyanya saja kok, nggak lebih.” kataku. Lalu dengan santainya aku melanjutkan makan. Tapi apakah benar yang dikatakan Melia ya, Apa aku menyukainya. Entahlah??
Setelah berada dalam kapal selama 3 hari 2 malam, akhirnya sampai juga ke kampung Melia. Suasana yang nyaman, dengan udara sejuk, kita disuguhkan dengan pemandangan alam yang luar biasa. Kedua orang tua Melia sangat ramah. Mereka menganggap Aku sama seperti putrinya sendiri. Dan hari ini adalah hari yang Aku tunggu, Melia mengajakku ke pantai lasiana. Jaraknya cukup jauh dari rumah Melia, kira-kira 7 jam. Aku menulis diblog pribadi ‘Janjiku pada pantai yang mengenalkan rasa rindu’ lima menit kemudia ada chat yang masuk.
‘Aku disini menunggu hadirmu bersama ombak yang menggebu’ akupun membalasnya karena ku tahu dialah yang dimaksud hatiku
‘Tunggulah hadirku, seperti yang sudah tertulis dibuku tua dibatas kota’
Dan hatiku terasa berdebar, ada yang aneh didalam sana. Benarkah Aku bertemu dengannya? Sang penulis kalimat indah itu sedang mencuri pikiranku. Kulihat Melia tengah asyik dengan Saudaranya, dan Aku menikmati pemandangan Alam liar diPantai Lansiana.
Aku berjalan menyusuri pinggir pantai, sesekali kakiku tersentuh air pantai. Ada anak kecil yang menghentikan langkahku, dia menyerahkan secarik kertas padaku. Akupun menerima dan mulai membacanya.
‘Jangan jadikan angin sebagai alasan untuk pergi. Sebab, hembusannya baru saja mengingatkan kerut di keningmu dan sampai kapan kita harus saling menutupi rasa karena senja selalu hadir dengan suasana yang bergelora.’
Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri didepanku. Dan Akupun mengangkat wajah dan memandangnya. Aku terkejut,….bukankah dia laki-laki yang Aku temui di kapal.
“Syll, ka…ka…kamu.”ucapku terbata. Syll tersenyum, lalu dia menggenggam tanganku dan mengajakku berjalan ditepi pantai. Entah kenapa aku menurut saja mengikuti langkahnya.
“Kala tembang kenangan masih dinyanyikan, ada rindu untukmu. Dan kata ini sangat sederhana, aku ingin namumu terukir dihati dan menghabiskan sisa umur dengan beragam puisi.” Syll semakin erat menggenggam tanganku. Dan tentu rasa bahagia berhamburan disekujur tubuhku.
“Kenapa nggak bilang dari kemarin, kalo kamu itu penulis diblog yang terdampar dan akhirnya aku temukan.” kataku sambil mengerucutkan bibir. Slly tergelak tawa.
“Kalau aku ngaku, cerita kita cukup sampai dikapal dong. Nggak lanjut di pantai ini seperti kalimat yang selalu hadir dan tertuang lewat puisi.” akupun tersenyum.
Rasanya tidak percaya dengan kejadian ini. Dia begitu sederhana, tapi siapa yang menyangka kalau dia adalah penulis terkenal. Karena kesederhanaan mempunyai nilai yang sangat istimewa.
.