Namaku Aleesha, usiaku 15 th. Sebelum terbaring lemah di tempat ini, aku seorang anak yang ceria dan mudah bergaul.
Tapi sekarang, aku sendiri. Tak ada lagi teman-temanku yang mau datang menemani. Hanya pena dan lembaran-lembaran kertas putih ini, yang setia menerima keluh kesah ku dari hati.
Bahkan kedua orangtuaku tidak boleh melihatku menangis. Cukuplah Allah tempatku mengadu.
Meskipun begitu, aku masih punya semangat tinggi. Semangat untuk bangkit dan bisa ke sekolah lagi.
"Anak-anak, ini hasil ulangan kita kemaren ya. Kalian harus lebih giat belajar lagi. Masih banyak yang nilainya dibawah rata-rata. Kecuali Aleesha, Kalian harus banyak belajar dari dia. Dengan keterbatasan yang Allah berikan saat ini, dia tetap semangat dalam belajarnya." Kata Bu Ema wali kelas 9 di sekolahku.
Meskipun aku tidak bisa mengikuti kegiatan belajar tatap muka, tapi aku selalu mengikuti pelajaran yang diberikan di sekolah.
Hanya berbekal buku-buku paket yang aku punya, bukan gadget seperti kebanyakan yang mereka punya.
Temanku Azzahra yang setia memberikan catatan materi yang setiap hari di ajarkan. Seperti saat ini, Azzahra dengan sabar mengantar dan mengambil kembali hasil ujian ku.
Bahkan dengan telaten dia membantu menjawab jika ada materi yang kurang aku pahami.
Tapi banyak dari mereka yang mencibir kemampuanku.
"Halah, namanya juga ujian di rumah Bu. Mana mungkin ada yang salah." Celetuk salah seorang teman sekelas ku.
"Ya iyalah, gak ada yang salah. Mau nyontek juga bebas." Sambung yang lain.
"Bebas dong, spesial gitu loh.." Komentar salah seorang lagi.
Itulah hari-hari yang ku hadapi. Selain harus merasakan sakit yang tiba-tiba melandaku, aku juga harus ikhlas menerima cibiran dari teman-teman ku.
Hingga saat ini tiba. Saat membahagiakan bagi semua siswa. Saat yang selalu dinanti-nanti setelah lelah belajar menimba ilmu di sekolah.
Ya ... Saat kelulusan telah tiba. Semua bergembira, semua bahagia bisa melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Lalu, bagaimana denganku ?
Apa aku bisa seperti mereka ?
Apa aku bisa bahagia layaknya teman-teman seusiaku ?
Apa ada sekolah yang mau menerima seorang pesakitan seperti ku ?
"Bapak / ibu guru yang terhormat, Bapak/ibu wali murid yang kami hormati, anak-anak ku siswa/siswi kelas 9 SMP Harapan Bangsa yang Ibu cintai dan Ibu banggakan." Sapa Ibu kepala sekolah saat berpidato di acara perpisahan sekolah.
Semua yang hadir mendengarkan dengan seksama. Rentetan informasi Beliau berikan. Mulai dari pelaksanaan ujian hingga hasil ujian yang teman-teman ku dapatkan.
Semua ibu Kepsek sampaikan. Hingga di penghujung pidato Beliau, mengenai lulusan terbaik di sekolah ku.
"Saya atas nama pribadi dan sekolah, memberikan penghormatan dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada anak kami tercinta 'Aleesha Zaskia' yang telah berhasil menjadi siswi terbaik dengan nilai tertinggi pada tahun ini." Begitu kata Beliau.
"Kita semua patut bangga dengan perjuangan Ananda, dengan berbagai keterbatasan Ananda, masih mampu melanjutkan dan mencapai peringkat tertinggi pada tahun ini." Lanjut Beliau lagi.
"Dan pada kesempatan ini, kami berikan waktu untuk Ananda atau yang mewakili untuk naik ke panggung bersama Ibu."
'Ya Allah jika aku bisa berada di sana, sujud syukur akan aku berikan hanya untuk-Mu ya Rabb.' itu harapan besar yang Aleesha impikan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarahkatu." Azzahra sahabat setia Aleesha yang mewakili.
Para hadirin menyambut sapaan salam dengan penuh keingintahuan mereka.
"Ibu kepala sekolah yang terhormat, Bapak/ibu Guru yang saya hormati, adik-adik kelasku yang kakak cintai dan teman-teman semua yang selalu ada di hati Aleesha." Paragraf pembuka sudah bisa menyentuh hati Zahra.
"Puji syukur Aleesha ucapkan kepada Allah SWT, yang telah mempertemukan dan memberikan kesempatan kepada Aleesha untuk bisa belajar hingga akhir sekolah.
Terimakasih kepada Bapak/ibu guru yang senantiasa sabar membimbing Aleesha sehingga Aleesha bisa mengikuti semua materi belajar dengan baik dan lancar.
Tak lupa ucapan terimakasih yang terbesar saya berikan untuk saudara, sahabat terbaik Aleesha yaitu Azzahra Nian, yang dengan setia menemani Aleesha belajar dan mengerti banyak hal."
Pidato yang Zahra berikan terhenti sejenak. Rasa sesak di dalam dada membuatnya tidak bisa menahan tangis. Butiran-butiran bening menyeruak keluar dan mulai mengalir di pipinya.
Zahra menarik nafas panjang, sebelum akhirnya dia lanjutkan kembali pidato yang ditulis sendiri oleh Aleesha.
"Dan untuk teman-teman ku semua. Aku sayang kalian, kalianlah penyemangat hidupku, tanpa kalian mungkin perjuanganku tidak akan sampai disini.
Hanya satu yang aku pinta dari kalian semua. Saling lah menyayangi satu sama lain. Jika ada Aleesha - Aleesha yang lain lagi, sayangi dia, rangkul dia, jadikan dia teman, layaknya kalian berteman dengan yang lainnya.
Jangan jauhi dia, jangan membenci fisiknya, karena Leukimia bukanlah penyakit menular meskipun dia mematikan.
Aku mohon maaf, jika aku belum bisa menjadi teman dan sahabat yang baik untuk kalian. Hingga coretan ini dibacakan, mungkin rasa sakit yang aku derita sudah tidak akan aku rasakan lagi sakitnya.
Maafkan Aleesha Ayah, Bunda, Bapak /ibu Guru, perjuangan Aleesha sudah berakhir sampai disini. Do'akan Aleesha mampu berjuang di tempat yang lebih baik. Di Surganya Allah Ta'ala.
Terimakasih, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarahkatu."
Tangis Zahra pecah, kakinya seakan tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Aleesha telah pergi untuk selama-lamanya.
Ibu kepala sekolah membantunya berdiri. Sebagai penghormatan yang terakhir, pihak sekolah membuatkan film dokumenter untuk Aleesha.
Semua kegiatan belajarnya di rumah, terpampang lebar melalui layar monitor di atas panggung.
Benar-benar murni, belajar dengan akal dan pikirannya sendiri tanpa merepotkan orang lain. Wajahnya selalu tersenyum ceria, meskipun tubuhnya terasa sakit yang tak terkira.
Gedung ini menjadi saksi, lautan air mata tumpah seketika. Hanya penyesalan yang sekarang bisa mereka rasakan.
Selamat jalan Aleesha, Surga Allah menantimu. Semoga engkau lebih bahagia di sisih-Nya, Aamien.
~end~