Pacar Adikku
Ini adalah tahun keduaku, tahun keduaku mencintainya. Namun aku masih tak bisa mengatakan perasaanku kepadanya.
Sebut saja namaku Ardie. Pria terbodoh di dunia, dan terbucin. Mungkin.
Bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya, ceritanya panjang dan cukup rumit.
Namun aku masih ingat saat melihat wajahnya untuk pertama kali, saat dia datang kerumahku. Dikenalkan oleh adikku sebagai pacarnya.
Betul aku jatuh cinta pada pacar adikku.
Hal itu juga menjadi sebuah pertimbangan untukku, kenapa aku tak mengatakan perasaanku padanya.
Yapppp aku langsung terpesona dengan paras kalemnya. Wajah imutnya yang terlihat sangat menawan di mataku.
Itulah kesan pertamaku terhadapnya.
"Kak kenalin, dia pacarku!" kata adikku kala itu.
"Oh," jawabku datar.
Tentu saja aku pura-pura tak peduli dan hanya memandangnya sekilas, lalu pergi.
.
.
Malam minggu pertama mereka.
Karena aku jomblo jadi aku berada di rumah saja, seperti biasa malam minggu ini sama dengan malam minggu pada umumnya. Rintik hujan di bulan Desember, mengguyur seisi Dunia. Kayaknya enggak mungkin di Indonesia aja.
Jam tujuh sore setelah kami makan malam sekeluarga, aku masuk ke dalam kamarku. Aku melanjutkan aktivitas yang biasa aku lakukan, yaitu membaca komik berjudul Naruto.
Lagi asyik-asyiknya aku mewek, karena waktu itu aku membaca tentang adegan kematian Petapa genit gurunya Naruto. Yang dibunuh oleh muridnya sendiri yaitu Pain.
Deru mobil sport berhenti di depan rumahku. Aku kaget dan setengah bingung.
Siapa gerangan yang membawa mobil itu datang kemari, dari celah-celah jendela kamarku aku mengintip.
Eza pacar adikku keluar dari mobil itu.
"Bajingan, dia punya mobil sport!" umpatku.
Bagaimana bisa aku melupakan kesan pertamaku jika dia terus membuatku terpesona. Haruskahku rebut dia dari tangan adikku.
Tegakah aku melakukan itu.
Miris, sadis namun tak berkumis.
.
Aku tak keluar kamar, namun aku bisa mendengar goyonan mereka.
Setelah Say Hai dengan kedua orang tuaku, adikku dan pacarnya ngobrol di ruang tamu.
Aku yang biasanya tidak bisa diganggu saat sedang membaca komik kesukaanku. Kali ini aku tidak bisa fokus membaca karena goyonan mereka berdua.
"Kamu tahu nggak sih, Za!"
"Tau apa?"
"Gue tuh cinta banget sama lu!"
Suara itu lirih, namun aku bisa mendengarnya. Sebab aku menempelkan telingaku, di pintu kamarku. Aku kepo sekali.
"Gue juga cinta kok, sama elu!
"Ehhhh pangilin kak Ardie donk, kita ngobrol bareng!"
"Kakak gue itu cuma tahu tentang anime!
"Lu nggak akan sinkron deh kalau ngobrol sama dia!"
Adikku lacnut sekali.
"Jadi kakak elu suka anime?"
"Iya suka banget, dia paling suka sama Naruto!"
Kenapa adik gue harus bilang kayak gitu ke pacarnya, masih banyak yang kusukai selain anime Naruto. Salah satunya adalah pacarnya.
Meski aku tak akan pernah menceritakan hal itu juga pada adikku itu.
Karena kejadian malam itu, aku tidak pernah sekali pun nongol, atau pun menyapa pacar adikku itu. Mau ditaruh mana mukaku.
Usiaku sudah 22 tahun dan aku aku masih menyukai anime. Pacar adikku pasti menilaiku, sangat kekanakan.
.
.
"Di ada yang nyariin elu di depan!" kata salah satu teman sekampusku.
"Siapa?" tanyaku.
"Eza! Dia bilang namanya Eza!" kata temanku itu.
Seketika itu aku tercengang, paru-paru ku berhenti memompa udara dan Jantungku berhenti berdetak. Tubuhku terguncang seperti ada gempa.
Aku menemui pacar adiku yang telah menungguku di depan gedung kampusku. Dia datang dengan mobil sport warna kuningnya.
Warna kuning mobil sport dan wajah manisnya perpaduan yang amat sempurna. Menyala, terang, menyilaukan, hanya itu yang dirasakan oleh hatiku yang sudah goyah dan terjatuh padanya.
"Ada apa?" aku masih berusaha sok cool.
Kan aku cowok, harus cool donk. Tetap berusaha gagah, meski hati sendang merintih.
"Ini aku punya hadiah buat kakak!" ujarnya.
Dia memberiku sebuah paper bag, yang cukup berat menurutku.
"Apa ini?" tanyaku setelah menerimanya.
Kulihat wajah manisnya yang ternyata sedang tersenyum padaku.
"Tadi aku muter-muter di, Mol! Enggak sengaja lihat itu, aku beli aja.
"Kata Dhani, kakak suka anime Naruto!" ujarnya.
Jika aku sudah tak waras, mungkin saat ini sudah kucubit kedua pipinya yang memerah entah karena apa.
Dia mengemaskan, sangat mengemaskan.
"Ohhhh!" jawabku singkat.
"Kak besok ikut kami ke puncak yuk!"
"Ngapain ke puncak?" tanyaku.
Weekend gini enaknya nonton anime ampe pagi, tau.
"Dhani ngajak aku kesana! Ayolah!" pintanya.
Aku mengaruk keningku, karena bingung mau bilang apa. Aku takut jadi obat nyamuk di antara keduanya.
"Kalau elu ngebeliin ini buat gue. Biar gue mau ikut kamu ke puncak sama Dhani.
"Nihhh gue balikin, ogah banget gue ngiring orang pacaran!" kataku.
Kukembalikan peperbag yang ia berikan padaku, dengan paksa. Lalu kutinggalkan dia.
Lima langkah pertama aku masih baik-baik saja, sampai 10 langkah aku masih baik-baik saja. Namun di langkah selanjutnya aku menyesal.
Penyesalan selalu datang ketika kesempatan telah hilang.
Mungkin jika saat itu aku ikut ke puncak, bisa saja aku mengatakan perasaanku kepada Eza.
Karena sepulangnya adikku dari puncak bersama Eza, Dhani hanya uring-uringan. Dia selalu mengumpat nggak jelas tentang Eza.
"Tapi elu masih sayangkan!" tanyaku pada adikku.
"Karena gue masih sayang, Bang! Gue masih bertahan sama dia!" ujar adikku, wajahnya cemberut. Dia marah, namun aku tak tau kenapa dia marah pada Eza.
"Ya udah, temui dia. Bicarain baik-baik!" ujarku.
"Dia suka orang lain, Bang!" ujar adikku.
"Lalu elu masih mau pacaran sama dia?" tanyaku tak kalah emosi.
"Dia bilang orang yang dia sukai, nggak suka sama dia!" kata adikku.
"Lalu elu mau sampai kapan begini?" tanyaku.
"Sampai dia cinta sama aku!" ujar adikku.
Siapakah gerangan orang yang dicintai Eza, tapi tidak mencintai Eza itu. Memang ada manusia yang bisa menolak Eza
.
.
Mereka pacaran sampai sekarang. Dan aku selalu sembunyi dan terus sembunyi. Cemen sekali diri saya.
Namun apa daya, aku tak ingin menyakiti siapa pun, apa lagi menyakiti diriku sendiri.
Memgatakan perasaanku pada pacar adikku. Aku mungkin gila karena Eza tapi aku tau itu adalah hal yang bodoh.
Bagaimana jika Eza malah mutusin Dhani gara-gara aku yang mencuntainya.
Kuputuskan akan kupendam rapat-rapat perasaanku pada pacar adikku itu.
.
.
Hari ini Dufan menjadi destinasi berikutnya, destinasi saksi kegelapan dan kesuraman cintaku.
Aku bahagia, tidak aku tak bahagia, aku menderita, menderita sekali.
Matanya yang masih berbinar saat milihatku, senyum indahnya yang selalu tersunging kearahku. Frekuensi pertemuan kami minimal seminggu sekali, dan setiap saat itu.
Aku terguncang, dadaku bergetar. Rasa di hatiku mengebu, dan semakin mengebu setiap saatnya. Namun aku hanya bisa menahan gejolak ini.
"Hari ini cerah!" ujarnya.
Aku dan dia duduk berdua di salah satu kursi panjang yang kosong. Kami duduk saling berjauhan, seolah kami musuh.
"Kau benar!" ujarku.
"Hari yang cerah untuk jatuh cinta!" katanya.
Aku terdiam dan mataku langsung menjurus ke arahnya, lagi-lagi dia tersenyum ke arahku.
"Gila, kamu udah punya adik gue. Goblok!" ujarku.
Aku mengalihkan pandanganku, jika sedetik lagi aku melihat senyumnya itu. Mungkin aku tak bisa bertahan, aku mungkin akan mengungkapkan perasan cintaku padanya. Saat ini juga.
"Aku sayang kakak!" katanya.
Mataku membulat, kupandang dia yang dengan santainya mengatakan kata-kata itu duluan.
"Kamu gila Za?" tanyaku.
"Aku nggak berani ngomong, takut kakak kaget!" katanya.
"Sinting!" aku masih mengerutu.
"Mencintai seseorang bukan sebuah kejahatan.
"Aku cinta kakak, dan kakak enggak punya kewajiban buat cinta juga sama aku!" katanya. Santai sekali.
Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah, aku takut ada orang yang mendengar pengakuan gila Eza.
"Gimana jika aku juga sayang sama kamu?" tanyaku.
Kini mata indahnya memandang ke arahku, penuh rasa penasaran.
"Yaaaa ampun toiletnya antri banget!" kata Dhani yang baru saja balik dari toilet.
Dia duduk di tengah-tengah kami.
"Seneng banget gua, meski Eza mau sekolah di Amerika...
Aku memandang Eza dari belakang kepala adikku.
Pandanganku penuh tanya dan kekesalan.
Sebegitu harus tragiskan kisah cintaku ini. Baru saja kami saling mengungkapkan perasaan yang kami pendam selama bertahun-tahun tapi...
Namun dia menjulurkan tangannya dan menggenggam salah satu tanganku. Dibelakang tubuh adikku.
Genggaman tangannya sangat erat, penuh perasaan. Tak mungkin tak kubalas.
"Kakak dan pacarku selalu akur, dan saling mendukungku.
"Kalian tau, aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.
"Karena punya kalian!" kata Dhani.
Nama panjang adikku adalah Dhania Kirana.
"Aku juga senang, kamu punya pacar yang baik!" kataku Adrie Pratama.
"Kakak bisa saja," ujar Eza, atau Reza Atmaja.
Remasan tangan Reza membuat perasaanku yang kalut menjadi tenang.
TAMAT