PERHATIAN!! CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA. HANYA SEBATAS HIBURAN
Happy Reading!
Hari yang melelahkan. Arni berjalan pulang dari tugasnya menuntut ilmu. Tas yang kali ini ia bawa terasa berat karena mapel bertumpuk hari ini. Diawali dengan matematika, bahasa Jerman, geografi, dan sejarah. Jika di analogikan kepalanya dengan komputer sudah blue screen. Kapasitas otaknya tak berada di rata-rata, ia harus kerja keras untuk mengingat.
"Huft, capenya. Akhirnya selesai juga," membuang napas berat. Perlahan bahunya mulai rileks dengan menggerak-herakannya.
Seketika ia teringat dengan Ardi, bocah gelandangan yang tinggal di gerobak bersama tiga orang keluarganya. Ia manaruh empati pada mereka. Arni memiliki empati tinggi terhada sesama.
Ia mengecek kantung seragam bajunya. "Aduh, cuman 20 ribu nih. Beli makanan ga cukup untuk mereka semua."
Setelah berpikir sebentar ia memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengganti pakaian dan membawakan makanan yang ada di rumah untuk diberikan kepada Ardi dan keluarganya.
Setelah beberapa puluh menit ia keluar rumah dengan menenteng bungkus makanan. "Lumayan ayam goreng. Untung bunda masak," lalu ia bergegas meninggalkan teras rumah untuk menjumpai Ardi yang berada di sebelah mini market dekat rumahnya.
Sesampainya di tempat ia tidak melihat batang hidung Ardi. Gerobaknya juga sudah entah kemana. "Lah?! Mereka pada kemana?" sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut jalan. "Tidak ada. Emm. Apa jangan-jangan udah pindah tempat lagi."
Setelahnya dengan langkah yang pelan karena masih lelah ia mencari-cari Ardi berada. Sudah setengah jam berlalu tetapi tak kunjung ketemu. Ia mencoba mencarinya di kolong jembatan.
"Huh, ga ada juga. Kemana ya me-" ucapannya berhenti setelah melihat liontin Zamrud tergeletak di depannya.
"Wah, punya siap ya? Cantik banget!" Ia mengelus-elus permukaan batu zamrud itu. Begitu mengkilau.
"Aku simpan saja dulu kali ya. Barangkali nanti ada orang yang nyari," ia langsung mengalungkan liontin itu ke lehernya. Sangat cocok dengan Arni. Kemudian ia bergegas pergi dari TKP menuju rumah.
Sesampainya di rumah Bunda sedang menonton televisi teralihkan fokusnya. "Eh sayang, lah kok makanannya masih ada? Ga ada ya?"
"Iya Bun, tidak ada Ardinya," jawab Arni dengan lembut. "Mungkin mereka udah pindah lagi Bun."
"Yasudah kamu letakan kembali ya makanannya di meja. Biar bunda beresin lagi."
"Tidak usah Bun. Arni aja," jawab Arni dengan tersenyum. Ibunya juga membalas dengan senyuman.
~~~
Setelah makan malam ia pergi menuju kamar, merebahkan diri di kasur empuk. Pikirannya mulai berfantasi kemana-mana.
"Wah, enak kali ya punya temen alien kaya di Drakor tadi. Halu!" monolog Arni dengan dirinya. Ia tertawa ringan mengetahui dirinya mengatakan hal itu.
Arni menggenggam liontin Zamrud untuk dilihatnya. Dilihatnya sangat detail dan dalam, semakin indah liontin ini.
"Orangnya nyariin ga ya? Kalo sampe nyariin sih, parah banget aku," sambil tersenyum.
Ia bangkit dari ranjang dan berjalan ke jendela kamar lalu membukanya. Angin sepoi-sepoi menelisik kulit halusnya. Menghirup napas sambil terpejam, menikmati kesegaran udara. Hatinya mekar bak bunga.
Tiba-tiba pandangannya teralihakn oleh seorang pria tampan mengenakan baju hijau denga desain yang menambah kesan elegan. Motif yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Pria itu mengisyaratkan memanggil Arni, ia sedikit terkejut. Dengan spontan ia langsung mengangguk. Entah begitu yakinnya ia dengan orang asing. Tidak ada rasa curiga di hatinya.
Bunda yang melihatnya menuju luar rumah bertanya kepadanya.
"Emm, mau jalan-jalan sebentar Bun. Sekalian untuk tugas bahasa."
"Lalu apa kaitannya dengan bahasa Arni?" tanya bunda heran. Arni menjawab karena ada tugas mengarang puisi tentang malam. Jadi Arni ingin melakukan riset agar hasilnya bagus.
"Owh, haha. Ada-ada saja kamu. Yasudah jangan lama-lama ya?"
"Iya Bunda yang cantik," yang mendengarnya tertawa. Kemudian Arni melanjutkan keluar.
Pria itu mendekat dengan senyuman terukir di sana. Dibalasnya lambaian tangan ke arah pria itu.
"Halo? Kamu siapa ya?"
"Saya -," ucapan pria itu berhenti setelah melihat liontin Zamrud miliknya. "Saya Artez. Salam kenal," dibalasnya dengan senyuman dengan sedikit memiringkan kepala.
"Oh ya, ada apa memanggilku? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?"
"Tidak. Kita belum pernah bertemu. Hanya saat ini."
"Lalu? Apa kamu model? Apa jangan-jangan kamu pemilik liontin ini?" ucap Arni sepeti itu karena melihat style pria di hadapannya memang mirip seperti model dan serba hijau. Pria itu mengangguk.
"Oh gitu ya? Maafkan saya, saya asal mengambil saja.." sambil berusaha melepas liontin itu.
"Terima kasih sudah menemukannya. Sebagai rasa terima kasih, saya akan mengabulkan satu permintaanmu. Apa saja, asalkan hal itu tak berkaitan dengan kejahatan."
Arni terkejut mendengarnya. "Eh?! Permintaan? Serius nih?" ucapannya ini membuat Bunda penasaran. "Sayang lagi mengobrol dengan siapa?"
"Arni lagi nelepon Bu!" teriak Arni. Setelahnya bunda tidak penasarn lagi dan menuju kamar untuk rebahan.
Kembali ke dialog. "Ya, apa saja. Asalkan tidak berhubungan dengan kejahatan," sambil mengangkat jari telunjuk.
"Emm kalau begitu, aku mau ice cream. Boleh?"
"Boleh, tetapi apa hanya eskrim? Tidak ingin suatu yang lebih sulit untuk dimiliki?"
Pikirannya mulai kacau. Dia ini sebenarnya siapa? Mengapa? Apa jangan-jangan ia artis? Kira-kira itulah isi pikiran Arni.
Seketika ia terpikir setelah melihat wajah tampan pria itu. "Kalau begitu aku mau seharian jalan-jalan sama kamu? Boleh?"
"Eh, ehh!! Tidak maaf. Saya -."
"Boleh. Kita bisa lakukan itu esok hari. Kita akan bertemu di tempat kamu menemukan liontin ini.
Seketika Arni keheranan. Bagaimana bisa ia mengetahui dimana tempat ia menemukan liontin ini sedangkan dirinya kehilangan liontin sebelumnya?
'Ah masa bodo, turuti saja maunya. Yey, jalan-jalan sama artis!' Arni kemudian tersenyum. "Baiklah, aku mau tidur dulu. Sampai jumpa!" Pria itu berjalan menjauh dari Arni.
Arni masih ditempat memperhatikannya sampai kira-kira sudah agak jauh dia masuk. Namun, hal yang tidak ia lihat, pria itu menghilang.
~~
Keesokan harinya Arni bangun dan berkegiatan seperti biasa, lalu ia segera berangkat ke sekolah.
Setelah pulang dari sekolah ia teringat dengan janji pria kamarin. "Emm, beneran ga ya? Harusnya aku minta eskrim aja kemarin. Lagian aneh juga kalau dipikir."
Setelah sampai di rumah dan beres-beres diri. Kemudia mengenakan baju yang bagus.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Bunda heran melihat Arni yang sudah cantik nambah cantik.
"Mau jalan-jalan sama temen Arni Bun."
"Sama siapa? Kapan pulangnya?"
Seketika ia diam terpaku memikirkan jawaban apa yang cocok.
"Desi Bun. Sama Desi," jawabnya sambil tersenyum menutupi.
"Yaudah, hati-hati ya dijalan. Jangan lupa oleh-olehnya ya, hehe."
"Siap Bun!"
~~
Sesampainya di tempat yang dimaksud ia tidak melihat seorang pun di sana. "Huh, tuhkan ga ada. Lagian aku percaya aja sama dia," monolog Arni sebal.
Namun, tak lama kemudian Pria kemarin datang secara tiba-tiba di belakang Arni. Alhasil Arni yang ingin berbalik malah bertabrakan dengan dada pria itu.
"Eh, beneran Dateng dong..." lirih Arni masih terdengar pria itu. Ia terkejut.
"Bagaimana? Jadi?"
"Ah, iya.." mereka pun mulai berjalan menuju stasiun dekat dengan desa mereka. Disepanjang jalan Arni diam membisu dan sedikit takut juga. Kenapa orang ini bisa tahu? Itu yang sejak tadi dipikirnya.
Ternyata apa-apa yang ia pikirkan salah, Pria itu sangat ramah, hangat, dan membuat dirinya semakin nyaman. Berjam-jam ia lalui dengan mudah tanpa rasa canggung lagi. Mereka saling tertawa di sebuah wahana permainan.
Malam pun tiba, Arni tak menyadarinya. Ia sedikit khawatir tentang bundanya. Janji yang ia katakan kepadanya hanya sampai jam 5 sore, lalu saat ini sudah jam 7. Sambil memegang gulali dan martabak manis. "Emm, Artez. Maaf ya aku harus pulang dahulu, terima kasih untuk hari ini. Nanti kita berjumpa lagi!"
Namun, ketika Arni ingin pergi tangannya dicegat oleh Artez. "Tunggu sebentar."
Arni bingung. "Iya? Kenapa?"
"Sepertinya kita tidak akan bertemu kembali," Arni melemaskan tangannya. "Kenapa?"
"Aku, bukan kaummu. Di sini aku telah menemukan kebahagian. Waktu untukku pergi. Jadi, sebenarnya aku tidak kehilangan liontin ini, aku sengaja melakukannya untuk mencari orang baik, dan diambil oleh seseorang wanita yang baik hati. Orang jahat tidak akan bisa memegang liontin ini."
Arni diam terpaku masih mencerna kata-kata yang keluar dari mulu Artez. Apa maksudnya bukan kamumu? Artez bukan manusia?
"Iya, aku mahluk dari dimensi lain. Entah suatu kecelakaan aku bisa memasuki dimensimu. Untuk kembali ke dimensi asal tempatku berada, aku harus menemukan kebahagian di sini. Dan, itu sudah terpenuhi. Maaf aku tak bisa membalas Budi kebaikanmu.
"Artez... Mana bisa begini, jangan pergi, ya?" mata Arni mulai memanas, mengingat pria di hadapannya ini terlalu banyak memberikan harapan pada Arni. Dan saat ini harapan itu sedang berada di ujung tanduk.
Artez hanya tersenyum. Tubuhnya mulai memudar. Arni segera mendekap tubuh dingin Artez, linang air mata keluar deras. Artez mengusap rambut lembut dan harum Arni. "Segala hal, terima kasih."
Arni terjatuh karena wujud Artez sudah lenyap. Hanya tersisa liontin Zamrud yang berkilau lalu pudar. Ia terisak sambil memegang liontin itu.
"Terima kasih, Artez."
••The end••
Bagi kalian yang suka dengan cerita ini mohon likenya, ya! jangan lupa berkomentar untuk mendukung author agar lebih baik lagi kedepannya. CMIIW