"woy, Ir"kata temanku membuyarkan lamunanku.
"apa? "tanyaku.
"kita kapan ngambil kasus lagi"tanya temanku yang terburu-buru itu.
"kan udah gua bilang nanti malem" kataku yang mulai kesal.
"oh, okey" kata temanku santai sambil pergi ke temanku yang lain.
"ganngu"batinku sambil lanjut bengong.
Seperti yang kalian lihat, aku suka mengambil kasus misteri yang sering menganggu hutan dekat sekolah. Aku punya dua teman yang meskipun satu orang akhlaknya kurang, tapi mereka setia dengan kasus kasus yang susah.
Kitapun janjian ketemu di hutan dekat sekolah dan aku yang datang pertama. Sejam, dua jam ku tunggu, tapi temanku malah belum datang. Aku berinsiatif menelepon temanku.
"woy! "teriakku ditelepon saat sudah diangkat.
"apa lagi sih Ir?"kata temanku bernada malas.
"lo dimana beg*, gua dah nunggu dari tadi dihutan" kataku kesal.
"oh iya, gua lupa ada janji sama lo" kata temanku dengan suara menahan kantuk. "gak jadi aja ya" tambahnya lagi.
"terus si kacamata gimana" tanyaku sebal.
"kata dia kalau gua gak ikut dia juga gak ikut" katanya lagi sambil menutup telepon.
"janc**" decakku sambil menghampiri motorku.
.
.
.
Malam itu pun janji itu batal dan aku pulang dalam keadaan ngantuk, karena dua jam yang tak ada hasil itu. Sesampainya dirumah, aku langsung mandi dan tidur. Besok paginya ku bangun dengan perasaan kesal.
"woy, sorry ya tadi malem gua gak dateng" katanya membuyarkan lamunanku.
"iya iya" kataku lagi. "awas aja ya nanti malem lo gak ikut lagi, gua penggal kepala lo" ancamku. "ajak juga tuh si kacamata"
"iya"kata temanku meninggalkan mejaku.
Oh ya, aku belom perkenalan. Namaku Ira, mendapat julukan perempuan terberani di sekolah. Temanku yang selalu menghampiriku bernama Johny, dan yang kacamata bernama Uzui. Segitu aja perkenalan ku, lanjut ke cerita.
"woi, anjir. jadi gak nanti malem? tulis ku di chat.
" ntahlah"ketik Johny.
"yang betul anj***, tanya si Uzui coba" ketikku emosi.
"terserah kalian sih gua" ketik Uzui.
"jadi aja, gak pada dateng gua kutuk lo pada" emosiku mulai menjadi jadi.
.
.
.
Akhirnya malam pun tiba, dan kita bertiga berkumpul di hutan dan mengatur strategi untuk menyelesaikan kasus ini. Menyusunnya dengan hati hati supaya tidak ketahuan orang lain.
Hutan disini sangat curam, jadi harus hati hati melewati di sana. Sekali kesenggol atau terpeleset, nyawanya sudah langsung tenang di sana. Jadi jalannya harus melihat apa yang ada dibawah.
"apa tu anj***?"kataku sambil menepuk pundak Johny.
"Ira, diem dulu"kata Johny serius. "gua lagi fokus nih" lanjutnya.
"Uzui"kataku mulai merinding.
"sabar ya Ira, aku juga lagi fokus"katanya yang lagi fokus juga.
Aku pun tidak menggubrisnya lagi dan membantu temanku dan berusaha untuk melupakan itu. Meskipun susah melupakan yang tadi dan kadang aku susah untuk fokus, aku berusaha untuk tidak mengingat.
Malam itu adalah malam paling merinding. Dan kita menyelesaikan satu kasus. Temanku yang gak tau apa apa malam itu bisa tidur dengan nyaman, tapi tidak denganku. Aku tertidur dengan tubuh bergetar.
.
.
.
Sesampainya disekolah, aku yang terbiasa melamun tanpa pikiran, sekarang memikirkan malam itu.
"Ira, muka lo kenapa kayak ada masalah gitu? " tanya Johny yang setiap hariselalu nyamperin aku.
"lo bisa diem gak sih, gua lagi mikir"kataku marah.
"lo bales dendam karena kemaren kita gak gubris panggilan lo?"tanyanya sok polos itu.
"lo mau tau gimana ceritanya?" kataku mengalihkan pembicaraan.
"mau" katanya to the point.
"panggilin si Uzui, kita bahas sama sama"kataku melirik Uzui.
"oke"katanya sambil membentuk o tangannya. " oi, Uzui sini lo"katanya berteriak ke meja Uzui.
"iya"kata Uzui sambil berjalan keararahku dan Johny.
Sesampainya Uzui dimejaku, kita saling berdiskusi tentang tadi malam. Mulai dari penemuan ku sampai penemuan mereka, kadang kita bertengkar karena berbeda pendapat.
.
.
.
Sepulang sekolah, ku melihat anak kecil yang ada dipinggir jalan dan aku mendekatinya. Karena aku kasihan dan sudah berpikir, aku membawa pulang anak kecil yang ternyata alien itu. Aku pun menunggu dia terbangun.
"hei"kataku saat dia membuka mata.
Anak kecil itu merinding dan menjauh dariku.
"aku bukan orang jahat kok"gapaiku ke kepalanya.
"ha...... halo juga"katanya terbata karena sedikit takut.
Aku pun mengajak berbincang dan mencair kan suasana karena dia takut padaku.
"kamu asalnya dari mana?" mulai bertanya.
"luar angkasa" katanya girang.
"kamu ada perlu apa datang ke bumi?"bertanya lagi.
"aku disuruh untuk menjadi pengawal orang bernama Ira"jawabnya sambil melihat alat transparan nya.
"aku Ira"sahutku dengan nada bingung.
Aku yang heran berusaha untuk menenangkan muka sebisa mungkin.
"kruyuuuuk"bunyi perut anak itu.
"kamu lapar"tanyaku.
Dijawab dengan anggukan anak kecil itu. Aku memasak semua lauk dikulkas ku, tapi anehnya dia tak memakan itu. Anak kecil itu berbinar saat melihat sesuatu dan menghampirinya. Ternyata itu sebuah boneka dan dia mengoyak dan menelan itu.
"oh ya, namamu siapa?"tanyaku saat makan.
"aku belum ada nama,tolong beri aku nama"jawabnya bermuka polos.
"kalau begitu, bagaimana kalau Dessi" jawabku.
Dijawab dengan anggukan.
.
.
.
"woy,Ir"kata Johny disekolah.
"gua mohon sama lo sekali aja gak ganggu gua"kataku acuh tak acuh.
"gak bisa"katanya berwajah meledek.
"Uzui"kataku berpaling ke mejanya.
"ya?" ucapnya sambil berpaling dari buku yang dia baca.
"sini"kataku menggerakkan tangan.
Uzui dengan patuh pergi ke mejaku.
"kalau gitu gua pergi ya"ucap Johny yang lekas pergi.
"woi, sini anj*** gua mau cerita"ucapku memukul meja.
"iya iya"ucapnya membalikkan badan dan berjalan ke mejaku."jadi, mau cerita apa?"tanyanya setelah duduk di salah satu kursi.
Aku menceritakan saat pertama Dessi datang dan agak sedikit bergidik saat aku menceritakan.
"alien itu mah"ucap Johny menyela.
"diem dulu, minta pendapat Uzui dulu" ucapku.
"sudah pasti itu makhluk astral" ucapnya cool dan merapikan kacamatanya.
"kan, apa gua bilang"kata Johny senang.
"iya iya"kataku gak tau harus ngomong apa, karena kalau Uzui yang ngomong pasti udah benar.
"jadi nanti malem kita nyelidikin kasus lagi?"sela John.
"ya iya lah, itu mah pasti"kataku.
"tapikan dirumah lo ada si alien, masa lo tinggalin?"ucap Johny penasaran.
"gua tanya lah nanti" jawabku tak pasti.
"btw, nanti gua liat si kecil lo ya"katanya berbinar.
" kalau dianya mau"kataku memutar bola mata.
.
.
.
"aku pulang"ucapku sesampainya di rumah, dan 'alien'ku segera berlari dari kamarku.
"selamat datang, tuan"katanya sedikit membungkuk.
Aku dengan lembut mengusap kepala manisnya.
" siapa tuh?"kata John langsung comot pipi tembam alienku.
"asal comot aja,itu alienku"kataku secara acuh tak acuh ke kamarku.
Di kamar, aku mandi dan ganti baju untuk pergi makan. Sialnya, setelah ganti baju, aku mendengar suara tangis alienku. Aku sebagai tuan yang baik, membuka pintu dan mau mendatanginya.
"apa lagi sih?" tanyaku sambil membuka pintu kamar.
"alienmu nangis"kata Johny dan Uzui berbarengan.
"Iya gua denger, lo kira gua budeg"sahutku kesal dan menghampiri Dessi."emang lo apain dia" lanjutku.
"gua paksa makan nasi tadi" kata Johny."ya kan Zui"katanya mencari pembelaan.
"iya"kata Uzui membela.
"bukan itu makanannya bodoh" kataku menepuk jidat.
"lah terus apa?" kata mereka memiringkan kepala.
"kain"sahutku pendek dan mengambil kain bekas untuk dimakan.
.
.
.
Malam pun tiba, setelah aku menidurkan si kecilku, aku pun berjalan menuju hutan dakat sekolahku dan dengan cepat menuntaskan kasus-kasus itu, dan segera pulang ke rumah.
"makasih ya untuk hari-hari yang kamu beri"ucapku berbisik dan mengecup kening Dessi yang sudah tertidur lelap dan diikuti denganku.
#Note: gak like ku santet☺