"Rambut Anda terlihat sangat indah, Nona." Seorang pelayan bernama Ellie yang bertugas merias Tuan Putri setiap pagi, lagi-lagi memuji rambut indah tuannya.
"Kau selalu mengatakan itu setiap pagi sampai aku bosan Ellie. Mungkin, kalau kau hanya mengatakannya sesekali, kau bisa saja melihat wajahku yang tersipu karena pujian mu."
Respon sang Putri sangat datar, dia sudah bosan mendengar pujian itu, kalian ingin tahu kenapa? Sejak hari pertama Ellie bekerja di Manor ini, dia selalu mengatakan hal yang sama di pagi hari.
"Mau bagaimana lagi Nona, sebuah fakta memang sulit disembunyikan. Bukan begitu, Ebelin?" Dia mencari dukungan ke orang lain
Seorang pelayan yang sibuk menyiapkan gaun ulang tahun Tuan Putri tergagap karena pertanyaan mendadak dari Ellie. Tapi dia segera menimpalinya.
"Eh? Ah. Benar, apa yang dikatakan Ellie memang benar, Nona." Ucapnya sambil menggaruk kepala dengan senyum canggung.
Tuan Putri menatapnya dengan tatapan datar-sebal. Yang ditatap tetap mempertahankan senyum canggungnya dengan wajah berkeringat.
"Kalian ini ... Pasti kalian sudah bersekongkol bukan?" Perkataan Tuan Putri sangat tajam. Wajah Ibelin menjadi pucat, dia segera memalingkan wajah dan pura-pura melanjutkan pekerjaan.
"Saya tidak paham maksud perkataan Nona." Ellie dengan tenang menanggapi perkataan Tuan Putri.
"Perhiasan apa yang ingin anda kenakan Tuan Putri?" Tanya Ellie.
"Aku ingin memakai cincin yang diberikan Ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan Sihir saja."
"Ah, yang diberikan laki-laki itu? Saat itu saya benar-benar tidak menyangka kalau anak seusia Nona bisa mendapatkan jabatan tinggi di Departemen Sihir Kerajaan."
Dia segera mengeluarkan kotak perhiasan milik Tuan Putri dan mengambil cincin perak dengan permata berwarna zamrud, sangat serasi dengan mata Tuan Putri yang juga berwarna kehijauan.
Ellie sudah selesai merias Tuan Putri, dia membuat gaya rambut bergelombang. Sangat cocok dengan rambut pirang Tuan Putri, karena dengan wajah cantik dan warna rambutnya yang indah, mau seperti apapun gaya rambutnya, Tuan Putri akan selalu berhasil mencuri perhatian bangsawan lain.
Mereka segera beralih ke pekerjaan berikutnya, yaitu memakaikan gaun untuk Tuan Putri. Para pelayan juga menyelesaikannya dengan cepat.
Gaun ini dirancang oleh seorang perancang jenius yang berani menggeser trend korset beberapa tahun lalu, bahkan dia menggunakan Permaisuri sebagai promosi pertamanya. Hebatnya lagi, dia masih seorang pemuda berusia 20 tahun, perancang ini menghadiahkan gaun untuk Tuan Putri secara cuma-cuma.
"Anda benar-benar sangat menawan Tuan Putri. Bagaimanapun juga, Anda adalah bintang utama di pesta nanti." Ellie bertepuk tangan kecil melihat Tuan Putrinya yang terlihat begitu mempesona.
Saat para pelayan di kamar itu sedang sibuk mengomentari betapa menawannya Tuan Putri mereka, pintu kamar diketuk dari luar.
"Veronica, apakah kau sudah selesai bersiap?" Terdengar suara pria berusia 40an dari balik pintu. Dia adalah Tuan dari Manor ini.
Duke Morgan Euro De Lactianos. Dengan kata lain Ayah dari Tuan Putri kita, Veronica Austin De Lactianos.
Ibelin membuka pintu ruangan, para pelayan yang berada di dalam ruangan langsung menunduk memberi hormat, Veronica menghampiri ayahnya.
"Apa aku terlihat aneh?" Veronica bertanya dengan wajah sedikit memerah.
"Tidak, kau terlihat sangat menawan. Seperti yang ku harapkan dari putriku." Duke Morgan menepuk kepala putrinya.
"Lagi-lagi aku harus menjadi pendamping mu seperti pesta-pesta sebelumnya." Ucap Duke Morgan saat mereka mulai berjalan di koridor, menuju ke aula pesta.
"Mau bagaimana lagi, aku belum punya tunangan." Sahut Putri Veronica, saat tidak ada orang di sekitar mereka, atau hanya ada para pelayan pribadinya, Veronica selalu bersikap layaknya seorang remaja cewek di hadapan ayahnya.
"Sayang sekali. Tapi bukankah itu karena Tuan Putri kita ini selalu menolak tawaran pertunangan? Sampai-sampai kau membuat reputasi putra bangsawan lain karena penolakan mu."
Seseorang yang ditolak oleh wanita yang statusnya lebih tinggi, maka dia akan dianggap memiliki reputasi buruk. Aku (penulis) kasihan pada mereka, padahal ditolak wanita idaman bukanlah salah mereka. (itu salahku sih).
Ahem.
"Bagaimana dengan putra Marquis Ferdinand?" Duke Morgan memberi satu opsi. Veronica menggeleng.
Duke menatap putrinya sejenak. "Apa jangan-jangan kau sudah memikirkan seseorang?"
"Hah?!" Veronica terkejut dan sedikit melompat ke belakang. "Ma-maksud ayah apa?" Wajahnya memerah.
"Aku ti-tidak memikirkan siapapun kok." Veronica memainkan rambutnya karena salah tingkah. Duke Morgan hanya tersenyum jahil melihat reaksi putrinya.
Dia tidak tahu siapa pria itu, tapi dia akan mendukung pilihan putrinya sebisa mungkin.
"Ya ya ... ayah paham."
Duke kembali menggandeng tangan putrinya menuju ke aula tempat pesta diadakan. Dua Ksatria yang menjaga pintu masuk aula membuka pintu dan mengumumkan kedatangan sang Duke.
"Duke Morgan Euro De Lactianos dan Putri Veronica Austin De Lactianos memasuki aula!"
Para bangsawan yang berada di aula segera mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk. Di sana, Duke Morgan dengan kegagahannya menggandeng tangan Putri Veronica.
Seolah-olah seekor singa sedang berjalan di samping seekor tupai.
Duke dan Putri Veronica menuju ke panggung yang berada di aula. Di sana, sang Duke memberi sambutan singkat. Setelah itu, para bangsawan bergiliran mengucapkan selamat kepada Putri Veronica. Hadiah mereka sudah dikirimkan sebelum pesta dimulai.
Saat para tamu sedang berkumpul di sekitar panggung. Tiba-tiba, selarik cahaya melintas di depan Putri Veronica, cahaya itu kemudian berputar di sekitar Putri.
Segera saja, pemandangan itu menarik seluruh bangsawan yang hadir saat itu.
Garis cahaya keemasan itu kemudian membentuk sebuah bingkai di sekeliling Putri Veronica seperti bingkai lukisan yang sangat indah.
Beberapa saat kemudian, daun-daun cahaya berguguran di penjuru aula, daun itu pecah menjadi partikel cahaya ketika menyentuh sesuatu. Para wanita bangsawan menutup mulut mereka karena kagum setelah mencoba menyentuh dedaunan itu.
Benar-benar pemandangan yang mengesankan, semua orang terpana melihatnya.
Tidak berhenti sampai disitu, tanaman rambat menjalar di sekitar bingkai yang mengelilingi Putri Veronica, menumbuhkan bunga-bunga yang juga terbuat dari cahaya keemasan.
Lalu di atas panggung, segaris cahaya muncul dan membentuk tulisan yang ditulis dengan kaligrafi yang sangat indah.
'Selamat Ulang Tahun, Putri Veronica.'
Semua orang tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari Putri Veronica yang dikelilingi berbagai objek cahaya dengan bentuk yang indah. Termasuk sang Duke, tetapi dia lebih fokus dengan ekspresi wajah putrinya yang terlihat berbinar dan sedikit tersipu.
Lalu, sebuah kepompong cahaya berwarna keemasan muncul di tengah-tengah aula. Mengalihkan pandangan semua orang.
Beberapa saat kemudian, kepompong itu terbuka. Seorang laki-laki berambut putih, berusia sekitar 18 tahun, muncul dari dalam kepompong itu.
Veronica yang berada di atas panggung menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca.
Lelaki itu berjalan dari tengah aula menuju panggung dengan merpati cahaya berukuran kecil mengitari tubuhnya.
Dia kemudian berlutut di depan panggung sambil menatap Putri Veronica dengan senyuman manis. Lalu dia mengulurkan tangannya, Tuan Putri tanpa berpikir langsung menyambut uluran tangan itu dan mendapat kecupan di punggung telapak tangannya.
"Apakah Anda menikmati pertunjukan ini Tuan Putri?" Lelaki itu berdiri dan menatap Veronica yang berdiri di atas panggung.
Veronica mengangguk senang, dia menyeka matanya menggunakan sapu tangan.
Orang-orang berbisik melihat pemandangan itu, sementara Duke hanya tersenyum, dia sekarang paham maksud perkataan Ketua Departemen Sihir Kerajaan tadi pagi. 'akan ada keributan di pesta nanti' Rupanya ini yang dia maksud
"Bukankah dia Earl Elron?" Seorang bangsawan berbisik kepada temannya.
"Apa? Ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan Sihir di Departemen Sihir Kerajaan? Apakah itu berarti rumor soal penyihir muda jenius itu benar?"
"Bukankah dia putra seorang Count yang mendapat gelar karena prestasinya yang sangat cemerlang di bidang Sihir?"
"Kudengar dia memberikan sebuah cincin kepada Raja yang di kemudian hari melindungi Raja dari pembunuh yang dikirim oleh mantan Perdana Menteri?"
"Kenapa dia dan Putri Veronica begitu dekat? Apakah mereka memiliki hubungan spesial?"
Bisikan-bisikan semacam itu segera menyebar ke seluruh penjuru ruangan, Duke Morgan mengangkat tangannya sebagai isyarat dimulainya sesi dansa.
Elron yang masih menggenggam tangan Veronica menunduk.
"Bisakah saya mendapatkan kehormatan untuk berdansa dengan Tuan Putri?" Veronica tertawa kecil.
"Aku akan sedih kalau kau terus-terusan berbicara formal seperti itu."
"Untuk sekarang memang harus seperti itu." Elron tersenyum. Membuat wajah Veronica tersipu, dia paham maksud perkataan Elron.
Veronica mengangkat gaunnya sambil sedikit menunduk sebagai tanda setuju.
Sekali lagi, pertunjukan Sihir Cahaya membuat para bangsawan lupa untuk berdansa.
Elron dan Veronica berdansa dengan kupu-kupu dan partikel-partikel cahaya mengiringi mereka. Keserasian mereka dalam berdansa ditambah keindahan dari Sihir Cahaya membuat semua orang hanya terdiam di aula. Pesta itu sepenuhnya milik Elron dan Veronica.
Akhirnya mereka sampai di penghujung musik, Elron dan Veronica menunduk satu sama lain. Semua orang bertepuk tangan, dansa yang benar-benar menakjubkan. Mungkin cerita tentang hari ini akan diturunkan hingga beberapa generasi mendatang seperti dongeng sebelum tidur.
Elron sekali lagi meraih tangan Veronica dan mengecupnya.
"Selamat Ulang Tahun Tuan Putri."
Note :
Seperti biasa, maaf kalau kepanjangan. Kuharap kalian menekan tombol like kalau kalian menyukai cerita ini.
Mohon maklumi jika terdapat kesalahan dalam penulisan, karena aku menulis ini cuma sebagai sampingan dari project utamaku. Land : The Chronicles.
Saran dan kritik sangat diterima.