"Yeril" panggilan dari samping Yeril menyadarkan gadis itu jika dirinya tidak sendiri ditaman itu.
"E-, iya" jawab Yeril sedikit gugup karena ketahuan melamun.
"Melamun lagi" keluh orang disamping Yeril, gadis itu hanya terkekeh saja.
"Kenapa suka sekali melamun sih akhir - akhir ini?" Tanyanya pada Yeril.
"Sedang memikirkan sesuatu ya?" Lanjutnya bertanya.
"Miko" bukannya menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, Yeril malah memanggil nama gadis berparas imut itu, gadis berpipi chubby itu m noleh kearah sahabatnya karena panggilan dari Yeril.
"Hemmm" Yumiko hanya menjawab dengan deheman saja.
"Apa?" Karena tak mendapat jawaban dari Yeril setelah gadis itu memanggilnya, akhirnya Yumiko yang akrab disapa Miko ini bertanya kembali.
"Apa yang akan kamu lakukan ketika kita sudah tua?" Tanya Yeril, gadis berpipi chubby itu mengerinyitkan dahinya berlipat, tanda kebingungan, wajah bingungnya begitu lucu jika saja ada yang melihat hal itu, sayangnya orang yang selalu mengunyel pipi chubbynya sedang fokus menatap kedepan.
"Memangnya kenapa?" Tanya Miko gadis itu menggaruk kepalanya yang sedikit gatal.
"Hanya bertanya apa salahnya?" Kini Yeril kembali bertanya, ahhh pertanyaan sebelumnya saja belum dijawab oleh Miko, kini dirinya bertanya lagi, dasar Yeril.
"Emmmm tidak apa sih, hanya sedikit aneh saja, tumben kau mikir jauh kedepan, biasanyakan kau melakukan apa yang kau lakukan hari ini saja tanpa berfikir apa yang akan kau lakukan kedepan" jujur Miko
"Ahhhh, tinggal jawab saja apa susahnya sih" kesal Yeril.
"Emmmm apa yang akan aku lakukan saat tua nanti ya" gumam Miko yang diangguki oleh Yeril.
"Mungkin yang pertama aku ingin menikah, setelahnya memiliki anak seperti kehidupan orang - orang disekitar kita saja" jawab Miko
"Hidup bersama dengan pasangan, menua bersama dan bahagia bersama dengan keluarga yang kami punya" jawab Miko
"Tak ada aku dikehidupan mu?" Tanya Yeril
"Tentu saja ada, kita akan bersahabat sampai Tuhan mengatakan waktu kita selesai didunia ini" jawab Miko kembali, membuat segaris senyum terkembang diwajah Yeril.
"Sekarang gantian apa yang akan kamu lakukan ketika tua nanti?" Miko mengembalikan pertanyaannya pada sang sahabat.
"Itu menjadi rahasiaku dengan Tuhan mungkin, hanya saja pertanyaan ku apa kah aku akan merasakan hari tua itu?" Kalimat yang sukses membuat Miko menghadapkan sahabatnya kearahnya.
"Ingat satuhal Yer, tak ada satu penyakitpun yang tak ada obatnya, jika tuhan memberikan penyakit padamu Tuhan juga punya obatnya, hanya saja kita belum menemukannya" ucap Miko, selalu kata - kata ini yang sering diucapkan Miko jika sahabatnya itu merasa dirinya sudah tak mampu untuk bertahan.
"Aku tahu itu, kau sudah berulang kali mengatakan itu pada ku Miko" jawab Yeril
"Apa yang membuatmu berfikir jika kau tak bisa merasakan hari tua? Jangan berfikir terlalu jauh sampai kau melampaui tuhan mu" ucap Miko yang diangguki Yeril.
"Kau benar, baiklah jika demikian hanya ada beberapa yang ingin ku lakukan saat hari tua mendatangiku" ucap Yeril
"Apa?" Tanya Miko antusias, dia kembali melihat yerilnya yang bersemangat lagi.
"Melakukan sesuatu yang tidak bisa ku lakukan dimasa muda ku, termasuk bermain bersama mu" jawab Yeril.
"Hanya itu?" Tanya Miko
"Ya tentunya menikmati hari tua ku juga dong" tambah Yeril
"Baiklah jika demikian, mari kita buat listnya, jika tua nanti apa saja yang akan kita lakukan, dan akan kita wujudkan dihari tua nanti" ucap Miko bersemangat, membuat Yeril terkekeh geli melihat sahabatnya itu.
"Ok, ayo kita buat" tak kalah bersemangatnya Yeril menjawab.
Miko mulai mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan daftar apa saja yang akan mereka lakukan disaat hari tua mereka nanti, dari hal yang sepele hingga yang paling berharga.
Sore itu bangku taman juga buku catatan Miko menjadi saksi dimana dua sahabat itu membuat list tentang hari tua mereka, yang kelak akan mereka lakukan jika mereka mencapai hari itu.
****
"Aku tak pernah tahu jika hanya aku yang akan melaksanakan semua ini Mik, bukankah kau yang begitu menggebu memikirkan apa saja yang akan kita lakukan jika kita tua nanti" ungkap seorang lansia menatap kearah taman.
"Apa kau bisa melihatnya dari sana Mik, disini aku menikmati hari tua ku, sungguh apa yang kita buat dilist itu, hampir seluruhnya telah aku lakukan, dan ada beberapa bagian kaupun aku lakukan, apa kau senang Mik?" kembali kalimat- kalimat itu terucap dari mulut tuanya.
wanita tua itu kembali menatap lekat Poto berukuran 5r yang ada ditangannya, dia mengusap photo itu, tersenyum getir karena menyadari satuhal, apa yang diucapkannya bisa dilakukannya saat ini, padahal dirinya tak pernah berharap lebih, nyatanya Tuhan memang adil dalam segala hal termasuk hidupnya.
"Beristirahatlah dengan tenang sahabat ku, walau kau tak merasakan hari tua, ku harap kau tak bersedih karena disini aku menggantikan mu, bukankah kau juga hidup dalam tubuhku, ku harap kau merasakan kebahagiaannya" ucap lansia itu sambil mengelus selembar photo, didalam photo itu terlihat begitu bahagianya gadis belia yang sedang berlangkulan itu, tersenyum penuh kesenangan.
"Ahhhhh... Kau telah beristirahat, kini tinggal giliran ku menunggu waktu ku tiba, dan ku harap suatu saat nanti tuhan bermurah hati untuk mempertemukan kita kembali disana, menebus waktu yang tidak bisa kita lalui bersama saat tua" gumam lansia itu, sesekali lengan rentannya mengusap photo itu sayang, matanya kembali memandang kearah taman yang dulu menjadi saksi bisu cerita remajanya bersama sang sahabat.
"Yuyut Yeril, ayo masuk kedalam sudah waktunya untuk tidur" Ajakan dari seorang gadis belia membuat Yeril menoleh kebelakang, ternyata sang cicitnya memanggil dirinya.
"Ahhh, Amiko yuyut masih ingin disini" keluh Yeril tua.
"Angin sore tak baik malam tak baik untuk yuyut, ayo kita kembali" ajak Amiko sambil mendorong kursi roda Yeril.
Ya lansia itu adalah sigadis manis Yeril, yang menganggap dirinya tidak akan berumur panjang dan tak akan mengalami hari tua, tapi kenyatannya saat ini umurnya sudah menginjak 75 tahun, ahhh takdir tuhan siapa yang tahu apa lagi mengenai kehidupan dan kematian, nyatanya sang sahabat Miko yang menggebu menceritakan apa saja yang akan dilakukanya jika hari tua menghinggapinya, nyatanya jangankan untuk melakukan apa yang diinginkannya, bahkan umurnya tak mencapai usia 30 tahun, karena ditahun ke 20nya meninggal karena kecelakaan, dan merelakan jantungnya untuk sang sahabat.
Walau arwah dan jasadnya sudah tak lagi ada didunia ini, bagi Yeril, Miko masih ada karena sesuatu yang tertinggal dalam tubuhnya adalah sisa kehidupan dari Miko, yang menopang hidupnya sampai selama ini, berkat Tuhannya dan sahabatnya Yeril bisa merasakan hari tua itu.