Untuk kamu yang dirindung pilu,
Tentang kisahmu yang menyayat kalbu. Yakinlah, bahagia akan datang ditepat waktu.
Hari ini, aku menuliskan kisahmu dan juga kisahku yang mungkin memang hanya sekedar bisa dibaca oleh mereka, tapi tidak untuk kita bersama.
Kamu, hadir dengan berjuta kosakata baru, Tentang hatiku yang teramat mengagumi kesederhanaanmu Waktu itu rasanya hatiku enggan membuka diri terlebih persoalan hati. Setelah patah hati yang cukup hebat, aku mengunci pintu itu rapat-rapat.
Kamu, berhasil menemukan kunci-kunci yang kusembunyikan itu. Iyaa, kamu penemunya. Kata Ayah, Aku adalah makhluk paling Melankolis, sangat susah menebak karakterku yang kadang suka berpindah-pindah bukan aku biawak atau bunglon, hanya saja moodku suka berantakan ketika aku lagi senang-senangnya membaca tapi ganggu.
Entah mengapa rasanya aku begitu sangat tertarik padamu, pada kesederhanaan yang kau miliki, aku menyukai itu. Padahal sangat sulit menaklukan hati perempuan seperti aku ini, perempuan berkuping earphone dan selalu berpegangan buku.
Aku suka menepi ditempat yang sunyi, seperti dibawah pohon lapangan merdeka misalnya. Setiap pagi, sekitar jam 8 hingga jam 10 pagi aku menyandarkan bahu dan isi kepala ditempat yang sangat aku sukai itu. Sejak aku mengenalmu, aku lebih suka berlama-lama ditempat itu, membayangkan bola mata indahmu,tentang kamu yang sangat menyayangi Ibumu, aku sangat menyukai Pria seperti itu.\
Padahal ada beberapa lelaki yang ingin mendekat, tetapi tetap saja aku tidak terpikat, Entalah. aku sendiripun kadang tak mengerti apa keinginanku. Aku, hanya bisa menatap dirimu melalui beberapa gambar yang dikirim temanku, Ia bilang aku pantas bersanding padamu, ah yang benar saja pikirku pada saat itu.
Karena dia adalah teman baikku, maka aku mencoba menerima masukkannya, temanku juga sudah menyarankan aku untuk membuka hati kembali, karena sebelumnya aku pernah benar-benar mencintai akhirnya ditinggal pergi dan dia memilih yang lain, sungguh sakit bukan?
Selang berapa waktu, kamu memfollow instagramku dan aku memfollbacknya, aku melihat ada beberapa fotokeluarga yang tersemat dialbum instagrammu, anak baik pikirku.
Aku pun akhirnya memberanikan diri untuk berbicara pada temanku itu, aku siap berkenalan denganmu. Temanku girang,tapi sayangnya kita beda tempat tinggal. Entalah, kalau dekat mungkin aku juga tidak berani bertemu denganmu, karena tipeku yang pemalu ketika bertemu laki-laki selain Ayah dan beberapa rekan kerja.
Aku, mungkin bukan tipe kebanyakan wanita. tak suka bergaya apalagi menggunakan beberapa make up hanya untuk riasan, boro-boro pakai lipstick saja aku ogah-ogahan. Kalaupun mau, aku cuma pakai lipbalm itupun kalau kepepet, misalnya ngisi seminar atau pas berkunjung ke beberapa panti asuhan, yaaa... Aku sangat menyukai anak kecil, aku sangat teringin menjadi pelayan anak-anak yatim, menjadi Abulyatama.
Setelah dari follow memfollow, akhirnya kamu menelponku, aku masih ingat waktu itu. Siang hari, saat aku baru selesai mengetik berita didalam kamar yang penuh dengan kertas origami, kamu bertanya bagaimana perasaanku terhadap lelaki, trauma atau tidak. Aku menjawab tidak, hanya saja aku butuh waktu untuk melebarkan sayap untuk hinggap dihati seseorang lagi.
Kamu hening, dan itulah telpon pertama kita, pertama kali juga aku mendengar suaramu. Selepas itu, aku dan kamu jarang berkomunikasi, kamu sibuk dan aku juga begitu. tapi selang waktu istirahat, aku selalu mencari tau kamu sedang apa dan lagi dimana. karena tipeku yang pemalu, aku takut-takut menghubungimu walau hanya sekedar tanya bagaimana kabarmu, sudah sholat apa belum. Yaa, aku sepemalu itu.
Rasanya bukan aku saja yang malu-malu, tapi kamu juga begitu. takut mengganggu, katamu. aku juga berfikir demikian, kenapa bisa sama, aku tertawa saat membaca pesan WhatsApp kita.
Malam itu, tak biasa aku tidur diatas jam 10 malam, entah mengapa para bocil ini susah sekali diajak tidur. aku riweh, dan menangis seorang diri. seorang Ibu, yang harus berjuang sendiri untuk kedua anaknya. tak berapa lama kamu menghubungi, jelas saja aku menangis malam itu, dan kamu mencoba menghibur walaupun sebenarnya itu tak lucu, tapi aku menghargai itu.
Akhirnya para bocil tertidur, tinggal aku seorang diri. aku bilang ingin membaca buku dulu agar aku bisa ngantuk, karena itu adalah jalan satu-satunya bagi ku yang memiliki karakter Intuinting Extrovert ini. Kita memang jarang berkomunikasi, sekalinya berkomunikasi memang cukup lama. Dan aku ingat sekali, kita hanya 3 kali telponan, tapi itu bisa berjam-jam, membahas apa saja yang belum pernah dibahas, dan aku sangat menyukai itu.
Tapi tiba disatu waktu, kamu menghilang, tanpa izin dan berpamitan. aku bingung dan kecarian, aku menelpon temanku hanya untuk menanyakan kabar itu. temanku bilang, kamu minder padahal justru akulah yang minder.
Aku tak percaya diri bisa atau tidaknya aku mengarungi rumah tangga lagi, karena bagiku ketika aku menjatuhkan hati, maka seseorang itu adalah orang yang paling beruntung.
Ya, ternyata itu bukan alasannya. tapi karena kau menyukai temanku sendiri, terimakasih sudah jujur, kau tanya aku marah atau tidak, aku mengatakan justru aku akan membantumu jika itu inginmu.
Namun, lagi-lagi kau menolak. kau bilang kau akan bertahan sampai perasaanmu sendiri lelah terhadapnya, baiklah pikirku.
Sakit, lumayanlah. seandainya kau hadir hanya untuk menjadi teman mungkin tak akan aku membuka hati, tapi bagaimanapun itu aku tak ingin memaksa, dalam hal ini mngkin aku yan terlalu berharap. aku menghubungi temanku, kubilang ia menyukaimu, tapi sayang temanku tidak dengan hal yang sama.
Lalu, apa yang bisa ku perbuat? Hanya mendoakan yang terbaik. sempat terfikir untuk berhenti memikirkan serta menyebutkan namamu dalam doa disepertiga malam, tapi sayang semakin aku mencoba lupa maka aku semakin teringat.
Aku semakin tersiksa dengan perasaan ini, padahal dari jauh-jauh hari aku sudah sangat wanti-wanti, tapi tetap saja begini. karena bagiku sangat sulit membuka hati, apalagi aku sudah menjelaskan bagaimana perjalananku menjadi seseorang yang menjadi Ayah dan Ibu tunggal.
Untuk hal ini aku meminta izin padamu, untuk tetap menyematkan namamu dalam doa-doaku, apapun itu hasilnya biarlah Allah yang menentukan. setidaknya, aku berani jujur tentang perasaan pada Rabbku sendiri terutama padamu. setiap orang berhak atas bahagianya, bagiku bahagiaku saat ini adalah menyebutkan namamu dalam doa, dan apapun hasilnya aku menerimanya dengan lapang dada.
Bahkan sebelum aku akhirnya benar-benar pergi, aku berpamitan untuk menjadikanmu sebagai alasan kosakata baruku, kau mengizinkan. aku akan berhenti menjadikanmu bahan tulisanku saat aku benar-benar lelah, seperti perasaanmu ke temanku yang kau ucapkan padaku, engkau akan berhenti saat kau benar-benar lelah mencintainya.
Berbahagialah, jemput selagi bisa. satu pesanku, jangan lupa sholat dan makan tepat waktu.
Dalam kisah ini aku mengambil kesimpulan bahwa jangan pernah memaksa apa yang tidak oranglain suka, berdoalah untuknya meskipun dia hanya sekedar singgah tapi dia mampu membuatku melupakan beberapa masalah hidup yang kutakutkan sebelumnya, Allah mengirim dia menjadi perantaranya.