Reuni yang aku imajinasikan akan membawa cinta masa remajaku menjadi kenyataan, nyatanya telah membangunkan aku dari mimpi yang tak pasti.
…
Kalau ingat kenangan masa sekolah dulu, kadang aku sering senyum-senyum sendiri, terkadang muncul juga perasaan miris, bahkan malu sendiri. Kelakuan seorang anak remaja yang lagi jatuh cinta pada seorang siswi kelas sebelah.
Selalu sengaja berdiri di depan pintu gerbang sekolah hanya untuk menunggunya datang. Dan ketika dia muncul dari seberang jalan sana, aku segera pura-pura sibuk membuka gawai padahal sudut mataku mengikuti gerak-geriknya. Dia sungguh cantik dengan rok abu selutut dan kaos kaki putih setengah betis. Rambutnya ikal agak kecoklatan terurai di pundaknya. Tawanya lepas wajahnya cerah. Aku sungguh mabuk kepayang karenanya.
Sering pura-pura meminjam sesuatu ke kelasnya, semisal sapu atau kamoceng hanya untuk melihatnya walau dia tidak menghiraukanku. Jantungku akan berdebar keras tapi hati berbunga-bunga. Apalagi ketika matanya tak sengaja menatapku, tanpa komando keringat dingin akan bermunculan di permukaan kulitku dan seketika wajahku memerah. Mungkin baginya aku bukan siapa-siapa, hanya seorang siswa biasa yang biasa-biasa saja.
….
“To, kamu mau ikut reuni gak?” tanya Mada padaku di saluran telepon pagi itu.
“Oh ya?! ada? aku gak tahu,” jawabku.
“Wah! Ketinggalan info dong,” jawab Mada.
Ini bukan reuni yang pertama tapi dia tidak pernah hadir. Kudengar dia pindah ke Aceh sejak lulus SMA.
Dan reuni kali ini akan jadi sangat istimewa karena kabarnya dia akan datang.
Itulah awalnya imajinasi ini muncul kembali. Harapan bisa bertemu lagi dengannya setelah sekian lama lost contact. Gadis cantik pujaanku yang tidak dapat aku miliki.
….
Aku berdiri di depan cermin. Mengamati setiap inci dari wajahku.
Ah… sudah mulai tampak jelas keriput-keriput halus di sekitar mata, bibir, dan pipi. Rambutku pun sebagian telah berwarna putih. Kemudian aku berdiri tegak. Badanku tidak bungkuk, walau sudah kepala 5 tapi penampilanku masih gagah.
Setelah lulus sekolah dulu, aku merintis karir menjadi anggota TNI, kemudian mulai menjalankan tugas di daerah-daerah terpencil. Hingga menemukan perempuan lokal yang manis dan sederhana. Menikah dan dikaruniai 3 orang anak.
Semuanya baik-baik saja, walau terkadang muncul keinginan untuk bertemu dengan cinta monyetku dulu. Dan keinginan untuk bertemu dengannya kini semakin membara, apalagi hari ini. jantungku berdebar kencang sejak semalam, motorikku jadi sedikit ceroboh dan sering menjatuhkan benda-benda tanpa sengaja. Intinya aku hilang fokus, sampai-sampai istriku ngomel-ngomel melihatnya.
Hari ini aku akan bertemu dengannya. Dengan seseorang yang aku rindui dari masa laluku.
Setelah berpakaian rapi dan mematut diri di depan cermin aku bersiap untuk berangkat.
“Tumben rapi banget. Hmm…! Wanginya….,” ucap istriku sambil mengenduskan hidungnya di depanku, “Mau kemana sih Pak?” lanjutnya. Matanya menatap penuh selidik.
“Ada pertemuan dengan pengurus asosiasi, Bu,” jawabku tanpa menghiraukannya. Aku bergegas mengambil kunci mobil dan melangkah menuju garasi.
“Hati-hati ya!” teriak istriku sambil terus menatapku.
“Ya!” jawabku.
…
Di lokasi reuni.
Setelah berbasa-basi melepas rindu dengan beberapa teman lama, aku segera mencari Sri, salah seorang temanku yang selama beberapa hari ini telah menjadi penghubung antara aku dengan dia.
Aku temukan Sri di kerumunan wanita-wanita paruh baya yang dulu adalah teman-teman SMA-ku. Mereka sedang ngobrol sambil cekikikan layaknya anak-anak SMA. Mungkin mereka merasa seperti kembali ke masa remaja dulu.
“Sri! Sini!....” panggilku pada Sri.
Dia segera menoleh, lalu menghampiriku setelah berpamitan pada teman-temannya.
“Mana?” bisikku lagi setelah dia berada di dekatku.
“Tuh di halaman belakang. Dia deg-degan pengen ketemu kamu. katanya udah ga sabar,” jawab Sri sambil tersenyum, “Tapi….”
“Tapi apa?” tanyaku cepat.
“Apa kamu yakin To mau ketemu sama dia?”
“Ya iyalah, masa gak yakin,” jawabku pasti, “Apalagi katamu sekarang dia janda ‘kan?”
“Iya sih…” suara Sri seperti ragu.
"Sudahlah, kamu kok kayak gak percaya sama aku,” tukasku.
“Emang aku gak percaya!,” tukasnya, “Tapi ya sudahlah, kalau kamu yakin. Aku panggil dulu ya orangnya. Kamu tunggu di lantai atas ya,” kata Sri, “Di sana gak ada siapa-siapa,” lanjutnya.
…
Duduk di atas kursi ini walau baru 5 menit rasanya sudah lama sekali. Hatiku sudah tak sabar ingin bertemu dengannya. Melihat kembali wajahnya yang cerah dan segar. Betapa rindu hati ini padanya. Di pelupuk mataku seperti sedang diputar film masa-masa indah SMA dulu.
Aku sudah bertekad akan menyatakan perasaanku yang telah terpendam selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Bahkan jika dia mau, aku bersedia menikahinya, menjadikannya istri kedua. Ah… mungkinkah itu??
“Ehem!” suara seseorang menghentikan lamunanku. Segera ku arahkan tubuhku menghadap sumber suara.
“Anto?!” wanita itu berdiri menatapku dengan pandangan antusias. Seorang wanita gemuk hampir bulat, dengan pipi penuh dan leher yang nyaris tak terlihat. Rambutnya putih dan sudah menipis.
Mulutku ternganga, mata membulat menatapnya.
“Ini….” kalimatku tergantung.
“Iya,…” wanita itu menganggukkan kepalanya, “Aku Yani,” ucapnya lagi sambil tersenyum lebar. Menghampiriku, mengulurkan tangan hendak menyalamiku.
Ya Tuhan! Apa yang telah terjadi padanya selama hampir 35 tahun ini? mengapa dia jadi begini?
Dengan enggan aku menerima uluran tangannya kemudian duduk kembali. Mataku tak lepas menatapnya.
“Anto, gimana kabar kamu? kamu tambah gagah ya,” ucapnya dengan senyum tak lepas dari wajahnya, menunjukkan giginya yang menguning dan sepertinya beberapa ada yang sudah tanggal. Keriput terlihat jelas di wajahnya yang montok.
Ya Tuhan! Aku sangat tidak suka wanita gendut! Jeritku dalam hati.
Aku ingin pulang! Istriku pasti sedang menungguku. Mungkin hatinya penuh dengan curiga karena aku pergi dengan dandanan necis. Maafkan bapak Bu. Bisikku dalam hati.
Tiba-tiba saja aku rindu istriku.
…