Best Friend
Apa kalian tahu arti sahabat? Sahabat adalah orang yang selalu ada dalam suka dan duka untuk kita. Inilah ceritaku dan sahabatku.
Pada pagi yang cerah, didalam sebuah kamar. “Hoammmm……” Seorang gadis baru saja bangun dari tidurnya. “Hmm…sudah pagi sebaiknya aku segera mandi dan berangkat ke sekolah” Ucap seorang gadis yang bernama Amelia Syafira Putri. “Fuah…. Segarnya”. Tap Tap Tap “Pagi ma, pagi pa” Sapa Amelia. “Pagi sayang” Jawab kedua orang tua Lia itu serempak. “Ayo sarapan dulu sayang, mumpung masih hangat” Ujar ibunya. “Oke ma” jawabnya.
“Aku sudah selesai, Lia ke sekolah dulu ya ma, pa” Pamit Lia kepada orang tuanya. “Iya hati – hati di jalan ya sayang” Jawab kedua orang tuanya Lia. “Baik ma, pa” jawabnya. Ckitt… Tap Tap Tap “Hah… akhirnya sampai juga” Ujar seorang gadis yang baru saja turun dari bus. “Ah, Pagi Rey!!” Sapa Lia kepada seorang anak laki – laki yang baru saja berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah. “Oh… Pagi Lia” Sapa anak yang baru dipanggil Rey itu.
Dia adalah sahabatku, namanya Eko Putra Reinaldi. Nama panggilannya Rey, dia temanku sejak SMP. Dia adalah teman terbaik yang kupunyai.
“Pagi juga, gimana kabarmu pagi ini?” Tanya Lia. “Baik, kau?” Jawabnya. “Baik juga!” Jawab Lia. “Ayo kita masuk ke kelas” Ajak Lia. “Hm….”. “Pagi Lia!” Sapa seorang gadis. “Oh! Pagi Reina!” Jawab Lia. “Ya! Pagi…” Jawab seorang gadis yang bernama lengkap Reina Adelia. Reina adalah sahabat Lia sejak SD.
“Oh, ada Eko juga toh” Ujar Reina. “Hm..” Dehem Rey. Kring!! “Ah bel sudah berbunyi sebaiknya kita segera ke kelas” Ujar Lia setelah mendengar bel berbunyi tandanya kelas akan dimulai. “Oke” Jawab mereka berdua serempak. “Selamat pagi anak – anak” Sapa guru yang baru saja masuk ke kelas. “Pagi Bu” Jawab murid – murid dikelas serempak. “Baiklah, kita akan langsung memulai pelajaran sekarang” Ujar guru yang mengajar pada jam itu. “Baik Bu” Jawab semuanya serempak.
Kring!!! “Nah karena bel tanda istirahat sudah berbunyi, pelajaran berakhir disini. Silahkan kalian keluar kelas dengan tertib” Ujar sang guru. “Baik bu” Jawab murid di kelas itu kompak. “Guys, ke kantin yuk!” Ajak Reina. “Oke!” Seru Lia. “Ya…” Jawab Rey.
“Nyam….Nyam… Nyam…” Suara kunyahan terdengar. “Kue coklat buatan bibi kantin memang yang terbaik!” Seru Lia. “Jus strawberry buatan bibi kantin juga enak!” Seru Reina tidak mau kalah. “Ya, serah kalian deh” Ujar Rey. “Oh iya Rey, kau suka makanan apa dikantin?” Tanya Lia. “Hei Lia, untuk apa kau menanyakan itu kepada orang yang bahkan hanya makan permen mint di jam istirahat?” Ejek Reina. “Eh?” Bingung Lia. “Hoi! Kau itu yah….” Geram Rey. “Ahaha” Tawa Reina puas setelah dapat mengejek Rey. “Ahaha Reina kamu ada – ada aja ya…” Tawa Lia merasa lucu. “Hah… kalian ini benar – benar” Pusing Rey. “Ahahaha” Tawa kedua gadis itu.
“Ah, jam istirahat sudah akan berakhir. Sebaiknya kita segera kembali ke kelas” Ujar Reina. “Oke!” Seru Lia. “Yah oke” Jawab Rey.
Pelajaran pun berlanjut, setelah itu…..
Kring!!! “Yey akhirnya jam pulang!!” “Bye guys!!!” “Hei nanti pulang kita beli es krim dulu yuk!!!” Ajak murid yang lain kepada murid yang lainnya. “Oke!!!”. Semua murid yang ada dikelas itu pun berebutan giliran untuk pulang ke rumahnya masing – masing.
“Bye Lia!!, aku pulang dulu ya” Pamit Reina kepada Lia. “Oke bye!! Sampai ketemu besok!” Seru Lia. “Ah, Rey ayo kita pulang!” Ajak Lia. “Oke ayo!” Jawab Rey. Setelah itu mereka pun pulang ke rumah masing – masing. Esoknya….
“Amelia Syafira Putri!!! Bangun nak!!!” Teriak Ibu Lia dari luar. “Hoamm…… kenapa ma? Hari ini kan hari Minggu ma!” Seru Lia menjawab teriakan ibunya. “Ada nak Eko di luar!” Seru ibu Lia. “Eh?!!! Rey?!!” Kaget Lia. Brak!! Gubrak!! “Hoi!! Hati – hati kalau turun tangga bahaya!!!” Teriak Ibu Lia marah. “Iya – iya maaf ma!!” Seru Lia meminta maaf kepada ibunya. Dan terjadilah keributan pada pagi hari di dalam rumah Lia.
“Hai Rey, tumben pagi – pagi datang ke rumah ku. Ada apa?” Sapa Lia ketika turun dari tangga. “Ah itu…” Ujar Rey agak ragu. “Hm? Kenapa wajahmu begitu?” Tanya Lia bingung. “Lia sayang… Kamu lupa ya apa yang sering mama bilang hm?” Tanya sebuah suara dengan nada yang menyeramkan. “Ah….. mama Lia minta maaf, hehe” Cengir Lia. “Lia bakal ganti baju sekarang kok!!” Kabur Lia. “Hah… anak itu benar – benar” Pusing Ibu Lia. “Ah, maaf ya nak Eko itu Lia nya emang selalu begitu” Ujar Ibu Lia merasa tidak enak.
“Tidak apa – apa Bi, saya sudah terbiasa” Ujar Rey sopan. “Kamu memang pengertian ya, kira – kira ada apa ya sampai datang berkunjung ke rumah?” Tanya Ibu Lia. “Oh, itu saya mau mengajak Lia jalan – jalan Bi” Ujar Rey. “Ohh ternyata begitu” Jawab Ibu Lia. “Iya Bi” Jawab Rey. “Nah sementara kamu menunggu, bibi buatkan teh ya” Ujar Ibu Lia.
“Ah nggak usah Bi, tidak perlu repot” Ujar Rey tidak enak. “Hoho tidak usah sungkan begitu nak” Tawa Ibu Lia. “Ah baiklah maaf merepotkan” Jawab Rey akhirnya menyetujui tawaran ibu Lia. Tap Tap Tap “Ah itu anaknya udah siap” Ujar Ibu Lia melihat Lia sudah turun dari tangga dan berganti baju. “Rey, aku udah siap” Ujar Lia. “…” Tidak ada jawaban. “Rey?” Seru Lia sekali lagi. “Ah Oh maaf tadi kepikiran sesuatu” Ujar Rey agak linglung. “Ma kami pamit dulu ya” Pamit Lia kepada ibunya. “Iya sayang hati – hati di jalan” Ujar Ibu Lia. “Bi kami pamit dulu” Ujar Rey. “Iya mohon bantuannya menjaga Lia ya nak Eko” Kata Ibu Lia.
“Ngomong – ngomong Rey emang kita mau kemana?” Tanya Lia. “Rey? Rey!!” Seru Lia dengan suara yang agak keras. “Hah? Oh maaf tadi melamun” Kaget Rey. “Ya gapapa, sekarang kita mau kemana?” Tanya Lia sekali lagi. “Oh kita ke…” Ujar Rey.
“Pengunungan?!!!” Seru Lia. “Iya indah bukan?” Tanya Rey. “Iya indah banget, makasih udah ngajak aku ke sini ya Rey” Jawab Lia sambil tersenyum lebar. “Tunggu apa lagi ayo!!!” Ajak Rey sambil menarik tangan Lia. “Eh!!! Bentar Rey!” Kaget Lia. “Ahaha ini menyenangkan” Tawa Lia bahagia sambil berlari menikmati angin pengunungan. “Seru bukan?” Tanya Rey sambil tersenyum. “Iya seru banget!!! Makasih deh udah ngajakin aku” Seru Lia. “Bukan cuma ke pengunungan aja, masih ada banyak tempat yang mau aku ajak kamu kunjungin” Ujar Rey. “Eh?!!! Masih ada? Woah!! Ayo!!” Seru Lia menarik Rey.
Tanpa terasa waktu sudah siang setelah lamanya mereka bermain dari pagi sampai siang. “Hah.. hah…Puasnya!!!” Seru Lia. “Udah lama gak main sampai sepuas itu” Ujar Lia. “Menyenangkan?” Tanya Rey. “Iya seru banget!” Jawab Lia. “Ohh iya Rey, aku mau ajak kamu ke suatu tempat” Ujar Lia. “Hm? Kemana?” Tanya Rey penasaran. “Hehe, ayo!!” Ajak Lia.
Tempat yang dikunjungi….
“Pohon eukaliptus?!” Kaget Rey. “Iya benar banget!” Jawab Lia. “Untuk apa kau mengajakku ke sini?” Tanya Rey. “Hehe” Cengir Lia. Set! Sruk! “Apa itu?” Tanya Rey. “Sebuah botol dan kertas” Jawab Lia. “Untuk apa itu?” Bingung Rey. “Hehe, coba kamu tulis impian kamu dan masukkan ke dalam botol ini” Jawab Lia. “Buat apa?” Masih dengan rasa bingungnya. “Tulis aja kemudian masukkan ke dalam botol ini, dan kita kubur botol ini dibawah pohon eukaliptus. Tapi ingat ya jangan lihat aku tulis apa, aku juga gak bakal lihat punya kamu. Ini rahasia sampai kita besar nanti” Ujar Lia.
“Oke deh” Jawab Rey. Set! Sruk! “Aku sudah selesai!” Seru Lia. “Gimana dengan kamu Rey?” Tanya Lia. “Sudah selesai” Jawab Rey. “Oke masukkan ke botol ini dan tutup” Ujar Lia. “Oke” Jawabnya. “Nah, di dalam ini berisi impian kita sampai kita besar nanti. Jadi kita kubur botol ini dibawah pohon eukaliptus, setelah besar nanti dan semua impian kita tercapai. Kita kembali lagi dan lihat apa yang di tulis satu sama lain” Ujar Lia. “Ohh gitu, yaudah jadi kita berjanji aja” Ujar Rey. “Janji?” Bingung Lia. “Iya, kita berjanji setelah kita besar nanti dan semua impian kita tercapai. Kita kembali lagi ke tempat ini dan bertemu lagi serta membaca impian apa yang ditulis satu sama lain” Ujar Rey. “Boleh juga, oke aku berjanji setelah semua impian ku terkabul aku bakal kembali lagi ke tempat ini dan bertemu dengan mu lagi” Janji Lia. “Aku juga berjanji” Ujar Rey.
Saat itu aku tidak tahu bahwa itu adalah saat terakhir Lia mengingatku beserta janji kami.
Enam tahun kemudian
Sruk! “Ma! Pa! Lia ke kampus dulu ya!!” Pamit seorang gadis yang kerap dipanggil Lia itu kepada kedua orang tuanya. “Iya sayang hati – hati ya!” Jawab kedua orang tua gadis itu. “La…la..la…” Senandung gadis itu. “Pagi Lia” Seru seorang gadis menyapa Lia. “Ohh pagi Reina” Sapa balik Lia. “Hari ini dosennya ngajar di kelas kita kan?” Tanya Reina. “Iya nih! Apalagi dosennya galak ya, suka kasih banyak tugas” Seru Lia. “Ahaha Lia, kamu bisa aja” Tawa Reina.
Yah… inilah aku, Amelia Syafira Putri yang telah berusia 20 tahun. Aku sudah menduduki bangku kuliah, bersama temanku Reina tentunya.
“Oh iya dimana Eko?” Tanya Reina. “Ohh Rey, dia jam siang kuliahnya” Jawab Lia. “Ohh gitu” Ujar Reina. “Sebaiknya kita segera ke kelas” Ajak Reina. “Oke” Jawab Lia.
“Nah selamat pagi semuanya, saya akan memulai pelajaran hari ini” Sapa dosen yang baru masuk ke kelas. “Baiklah pelajarannya hari ini sampai di sini saja. Silakan kerjakan tugas yang telah saya berikan” Ujar dosen itu mengakhiri pelajaran. “Fuh… akhirnya selesai juga pelajarannya” Ujar Reina. “Arghh kenapa banyak banget sih tugasnya!!!” Seru Lia geram. “Ahaha mau gimana lagi Lia, emang derita mahasiswa sih!” Ujar Reina. “Reina aku mau ke toko kue di seberang kampus ya, belum makan nih tadi pagi lapar!” Seru Lia. “Oke nanti ketemuan di perpus ya!” Ujar Reina.
“Hm… tugas hari ini cukup banyak, aku harus mencari referensi nya” Ujar Lia yang baru saja keluar untuk membeli kue. Tin! Tin! Tin! “Amelia awas!!!” “Hm?” Brak! Gubrak! Prang! “Astaga!! Panggil ambulans cepat!!” Teriakan semua orang yang berada pada saat kecelakaan itu.
Dua minggu kemudian
“Ugh….” Erangan seorang gadis yang baru saja bangun. “Nak kamu sudah sadar?” Tanya seorang wanita yang terkejut karena gadis tersebut sudah bangun. “Ma..ma?” Tanya gadis yang baru bangun itu dengan suara serak. “Iya sayang ini mama, nih minum” Ujar wanita itu sambil menyodorkan segelas air kepada gadis yang baru saja sadar dari komanya itu. Gluk! Glek! “Ma ini dimana? Kok Lia bisa terbaring disini?” Tanya Lia kepada mamanya.
“Kamu koma nak” ujar ibu Lia. “Eh? Koma?” tanya Lia bingung. “Iya kamu kecelakaan mobil nak” ujar Ibu Lia dengan suara setengah menahan tangisan. “Ah..begitu, Lia tidak ingat ma” ujar Lia. “Oh...begitu” jawab Ibu Lia. Ceklek! “Hm?” Sruk! “Ah…… L.ia? itukah kau?” Tanya seorang laki – laki yang terkejut setengah mati.
“Maaf anda siapa ya?” tanya Lia bingung. “Ka..mu ga..k i.ng.at aku?” tanya seorang laki – laki terbata – bata. “Umm, tidak” jawab Lia. “Ah, gitu ya” ujar pria itu. “Ah, mama keluar dulu ya mau beli makanan” ujar Ibu Lia. “Baik ma” Jawab Lia.
Ceklek! Klek! “Ah, pertama – tama aku perkenalkan diri ku dulu. Namaku Eko Putra Reinaldi biasa dipanggil Rey” ujar Rey. “Oh gitu halo Rey, perkenalkan namaku Amelia Syafira Putri” ujar Lia. “Ya, aku sudah tahu tentang dirimu” ujar Rey dengan tenang. “Hmm, kamu tahu semua tentang diriku dari mana?” Tanya Lia. “Ah, yah karena dulu aku ini sahabat dekat mu” jawab Rey agak ragu. “Oh, begitu ya” jawab Lia.
Sebenarnya aku tidak ingat apapun tentang dirimu Rey, tapi aku merasa bahwa hal yang aku lupakan adalah hal yang sangat penting di hidupku.
Lima tahun kemudian
Tap! Tap! Tap! “Ah, Lia disini!” Seru seorang pria memanggil wanita yang tengah berjalan sambil memandang sekitar seolah sedang mencari sesuatu. “Ah, Rey!” Seru seorang wanita. “Kamu lama banget” ujar Rey. “Hehe, maaf habisnya tadi sempat tersesat” Cengir Lia.
“Hah… kamu itu ya!” ujar Rey pusing. “Hehe, maaf deh aku janji gak bakal tersesat lagi” ujar Lia cengar – cengir. “Oh iya kamu kenapa ngajak ketemuan disini?” Tanya Lia.
Deg! Terkejut ketika melihat tempat yang memiliki arti yang sangat penting di dalam hidup seorang Lia.
“Hah..rasanya nostalgia dengan tempat ini, Lia apakah kamu mengingat tempat ini?” ujar Rey. “Lia? Lia!” seru Rey mengejutkan Lia. “Hah? Oh?” Kaget Lia. “Kamu kenapa? Dari tadi di panggil gak jawab – jawab” ujar Rey khawatir. “Ah, enggak aku hanya merasa déjà vu dengan tempat ini” Ujar Lia masih linglung.
Deg! “Lia.. apakah kamu ingat sesuatu tentang tempat ini?” tanya Rey agak ragu akan sesuatu. “Ah, bukankah ini adalah tempat dimana kita pernah berjanji akan bertemu kembali ketika semua impian yang kita sudah terwujud?” Tanya Lia.
Deg! Deg! Deg! “Lia! Ingatan mu beneran sudah kembali?!!” Tanya Rey terkejut bahwa ingatan Lia sudah kembali. “Iya” jawab Lia. “Kalau begitu kamu pasti tahu siapa aku bukan?” Tanya Rey masih memastikan. “Tentu, kamu itu Rey teman terbaikku sejak SMP, dan kita pernah berjanji akan bertemu lagi dibawah pohon ini ketika semua impian kita sudah terwujud” Jawab Lia dengan pasti.
“Dan sekarang impian kita sudah terwujud bukan begitu?” Sambil tersenyum lebar. “Ah, ingatanmu… benar – benar sudah kembali” ujar Rey dengan suara yang kecil. “Pastinya dong! Masa aku melupakan hal yang begitu berharga dalam hidupku sih?” ujar Lia sambil tersenyum haru. “Iya! Terimakasih sudah mengingat semuanya kembali Lia” Masih dengan nada suara yang sama.
“Sudah – sudah masa seorang Rey menangis sampai segitunya sih?!” Seru Lia berusaha menenangkan Rey yang masih menangis karena terharu. “Hah? Ah maaf aku menangis tanpa sadar” ujar Rey menghapus jejak air matanya.
“Rey, apakah kamu masih ingat janji terakhir kita?” Tanya Lia setelah tangisan Rey reda. “Hm?” bingung Rey. Set! Sruk! “Eh itu kan…” Ujar Rey terkejut. “Iya! Botol dengan kertas yang didalamnya berisi impian kita” ujar Lia sambil mengeluarkan kertas dari dalam botol itu.
“Kamu tahu sekarang harus ngapain kan?” tanya Lia sambil tersenyum. “Hm tentu!” ujar Rey seraya ikut tersenyum.
“Impianku adalah semoga aku bisa kuliah diluar negeri dan menjadi aktor, aktris, dan penulis lagu” -Eko Putra Reinaldi
“Impianku adalah semoga aku bisa menjadi sastrawan, penulis, sejarahwan, pustakawan, petualang yang hebat, serta semoga aku bisa menjelajahi dunia ini sambil terus belajar makna kehidupan yang ada” -Amelia Syafira Putri
“Nah, sekarang?” tanya Lia. “Yah sepertinya impian kita sudah tercapai ya” ujar Rey sambil memegang kertas yang berisi harapan mereka berdua. “Rey, aku ingin mengatakan sesuatu” ujar Lia seraya berdiri dari duduknya. “Hm?” bingung Rey. “Sejauh ini apa yang telah kita alami pasti ada alasan dan tujuannya bukan?” Tanya Lia.
“Yah mungkin saja” jawab Rey. “Aku hanya ingin mengatakan terima kasih karena kamu tetap bertahan meskipun saat aku kecelakaan dan hilang ingatan itu adalah saat terpuruk mu didalam hidup” Ujar Lia berterimakasih. “Heh, apa yang kau katakan Amelia Syafira Putri? Kita ini adalah sahabat bukan? Sudah sewajarnya aku bertahan demi sahabatku” ujar Rey sambil tersenyum.
“He-eh, kau adalah teman terbaikku Rey! Terimakasih sekali lagi” ujar Lia tersenyum sampai matanya hampir menutup. “Ya, tentu sama – sama” jawab Rey.
Segala hal yang telah kita lewati baik suka maupun duka pastilah ada alasan dan tujuannya bukan? Aku hanya ingin mengatakan terkadang semua hal yang terjadi itu tidaklah buruk dan bagi siapapun yang membaca karya ini aku hanya ingin bilang…
Bertahanlah kawan karena aku tau kalian pasti bisa, tidak peduli apapun yang terjadi. Jika kalian ingin beristirahat karena lelah bertarung melawan rintangan didalam hidup kalian. It’s ok tapi harus bangkit lagi ya! Jangan terpuruk terus! Fighting!
Salam dari author, mohon maaf apabila ceritanya kurang menyenangkan ya!