Genre: Simple Romance & Drama.
Inspirated by, Aimer—Kataomoi.
.
Jika aku menjadi idola, apakah kau akan terus mencintaiku?
.
Semilir angin sejuk menerbangkan beberapa helai rambut cokelatku. Tetap menggunakan kupluk berwarna merah dan syal biru dongker yang sudah lusuh dan sedikit rusak pada beberapa bagian. Aku tak sempat untuk membelinya karena sepertinya syal ini masih bisa berfungsi dengan baik.
Yah~ Mungkin aku akan menunggunya sampai benar-benar tidak bisa dipakai lagi.
Udara yang sangat dingin berhubung kini sudah mulai bulan November, beberapa minggu lagi akan mulai memasuki musim dingin. Musim yang sangat aku benci. Entah kenapa.
Ketika aku hendak berjalan pulang dari minimarket, manikkku menangkap satu eksistensi seorang gadis yang menggunakan seragam SMA nya sambil memandangi ponselnya.
Semakin aku menatapnya, semakin jelas apa yang dia lihat di ponselnya. Karena tidak ingin mengetahui privasi orang lain aku pun bergegas berjalan melewatinya dibelakangnya yang sedang duduk dibangun taman.
"Fuuhh~ Shao san kenapa engkau membuatku begitu bucin padamu?" Gumam gadis itu yang sontak membuat jantungku berdebar-debar.
Aku menatap lagi ponselnya dan terlihat ia sedang membaca tweet yang baru saja ku upload. 'Gawat!' Aku harus pergi dari sini!
Akhirnya aku berhasil melarikan diri darinya dengan pandangan yang masih memperhatikanku dari jauh.
__________
Malam hari pun tiba, terdengar nyanyian jangkrik yang sangat merdu. Aku memandangi sebuah gitar yang sudah lama tidak terpakai karena tak sempat memperbaiki senar-senarnya yang putus.
Kini sudah pukul 9 malam, mumpung aku tidak ada jadwal rekaman mungkin inilah kesempatanku untuk memperbaiki gitar kesayanganku. Aku pun bersiap-siap membungkus gitar tersebut lalu pergi menuju toko musik terdekat.
Sambil menunggu gitarku diperbaiki, lagi-lagi manikku menatap sesosok gadis yang berbaju sama persis seperti yang aku lihat ditaman tadi sore. Dia memasuki toko musik yang sedang aku masuki ini. Sedikit menguping pembicaraannya dengan pemilik toko, untung saja aku menggunakan hoodie hitam dan masker hitam tentu saja aku tidak mungkin ketahuan.
"Mona chan! Sudah lama tidak mampir ke toko paman!" Ucap pemilik toko dengan bahagia.
Gadis itu menatap sedih paman pemilik toko, "Iya paman... aku rindu sekali saat aku memperbaiki gitar ku pada paman."
Paman itu ikut sedih mendengarnya, "Apa orang tuamu masih melarangnya?" Tanya paman pemilik toko.
Gadis itu mengalihkan pandangannya kearahku tanpa sengaja, "Mereka sangat menolak jika aku menjadi penyanyi... padahal aku lebih menyukai pekerjaan yang aku hobikan dibanding yang tidak bisa aku kuasai."
Sejenak manik kami menatap satu sama lain, jantungku sudah berdegub tidak karuan. Lalu ia tersenyum hangat padaku dan mengalihkan kembali pandangannya kearah lain. 'Tidak ketahuan kan? Aku sudah memakai baju yang berbeda loh!' Ucapku dalam hati sambil menahan debaran jantung yang membuatku gila setengah mati.
"Hmm, lalu apa kamu mau mencari hobi lain? Atau ada orang yang Mona chan taksir?~" Tanya paman pemilik toko itu sedikit menggoda.
Gadis itu sedikit terkejut akan pertanyaan yang paman itu lontarkan, wajahnya memerah seperti tomat yang baru matang. "Ti-tidak ada k-kok!" Ucapnya sambil mengalihkan pandangannya dan sedikit menutup wajahnya dengan lengannya.
"Aha! Paman tau kau berbohong! Iyakan? iyakan? Hahaha!!" Ucap paman pemilik toko menggoda gadis itu.
"Sudah cukup, paman!" Ucap gadis itu kesal sambil keluar dari toko musik.
Paman yang sedari tadi mengetahui aku yang sedang menyimak pembicaraannya berkata padaku, "Apa paman berlebihan? Ahahaha..."
"Paman berlebihan," ucapku menatapnya judes.
Paman itu hanya tertawa kemudian ekspresinya berubah sedih kembali. "Aku kasihan pada Mona chan, cita-citanya pupus karena orang tuanya. Saat dia dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya, Mona chan sampai membanting gitar kesayangannya lalu kabur dari rumah dengan membawa gitarnya yang rusak parah kesini. Dan lucunya dia berkata ingin aku memperbaikinya tanpa mengembalikannya padanya sambil menangis seseunggukan dengan matanya yang sembab serta hidungnya yang penuh dengan ingus! AHAHAHA!! Lucu sekali!" Cerita paman tua itu panjang lebar.
"Apa tidak apa-apa paman menceritakan masa lalunya padaku yang orang asing?" Tanyaku merasa sedikit tidak enak pada gadis itu.
Paman itu menatapku, "Loh? Kukira kalian saling kenal? Barusan paman melihat kalian saling tatapan, paman kira kalian berteman!"
Aku sedikit tersentak mendengarnya, memang kami bertemu sekilas ditaman tadi sore. Namun tidak sampai mengobrol juga, "Tidak kenal sama sekali."
Paman itu mengangguk dan tersenyum kecil, "Kenapa tidak coba berkenalan dengannya?"
Aku menatap heran pada paman tua itu, "Bukannya dia sudah ada yang dia taksir? Aku lihat wajahnya sangat merah, pasti dia menahan malu hahaha!"
Paman itu ikut tertawa, "Memang. Tapi aku tidak yakin dia menyukai lelaki yang nyata, HAHAHA!! Pasti dia hanya menghalu pada kartun dan gamers ikemen!"
Sedikit tertusuk pada pernyataan paman itu, setidaknya beliau tidak tau identitasku sebagai gamers yang gadis itu idolakan.
"Kalau kau tidak keberatan membuat dia ceria lagi seperti dulu, aku akan sangat bersyukur padamu." Paman itu diam sejenak lalu melanjutkan, "Hanya pamanlah tempat dia bercerita keluh kesahnya, namun paman sebentar lagi akan menutup toko ini."
Aku pun terkejut, "Kenapa?"
Paman itu tersenyum, "Apa yang akan paman tua ini harapkan? Pelanggan pun sedikit, paman juga sudah tidak kompeten lagi dalam bekerja, sudah pasti toko paman akan bangkrut!"
Sontak hatiku terenyuh pada mereka berdua yang tidak bisa mencapai impiannya yang sudah layu sebelum merasakan puncak kejayaannya. "Oiya, kata paman gitarnya paman perbaiki?"
"Oh? Masih ada di paman kok!" Paman itu pun mengambil gitar yang nampak seperti baru diproduksi. "Karena gitarnya hancur parah, paman ganti kayu gitarnya dan paman beri sedikit modifikasi baru."
Aku terkagum-kagum melihat gitar yang sangat cantik itu, "Boleh kubawa pulang?"
Paman itu sedikit terkejut atas permintaanku, "Boleh saja... toh paman juga ragu untuk memberi tahunya karena 80% gitar ini dibuat ulang oleh paman, paman takut dia akan marah setelah mengetahuinya, ahahaha!"
Paman tua itu pun membungkus gitarnya pada tas gitar tersebut dan memberikannya padaku, "Rawat dengan baik yah~ Jangan lupa berkenalan dengan Mona chan!" Goda paman tua itu sambil menepuk-nepuk bahuku.
Kedua telingaku memanas, mungkin aku akan demam besok.
_______________
Melangkahkan kedua kakiku melewati toko-toko yang ingin menutupnya, udara pun semakin mendingin. Manik emasku tanpa sengaja menangkap satu eksistensi di suatu toko yang masih buka. Sebongkah ukiran topeng rubah dengan corak putih merah membuat isi kepalaku penuh dengan ide. Aku pun langsung membeli topeng tersebut dan memakainya diwajahku.
Tak berlangsung lama, aku melihat sesosok gadis berseragam sekolah tengah duduk di bangku taman persis ketika kita bertemu saat sore hari tadi. Duduk merenung, menatap kosong kelangit-langit.
Aku berjalan perlahan mendekati kursi itu dari belakang, sambil memetik gitar kayu akustik dengan lembut. Jari-jariku seolah menari mengikuti nyanyian lembut yang aku keluarkan. Sedikit merubah suaraku agar dia tidak tau kalau akulah yang dia idolakan. Aku hanya ingin membangkitkan semangat para fansku untuk memulai impian yang mereka dambakan.
Menjadi penyemangat yang misterius, tidak buruk bagiku.
"Woah~ Suara anda indah sekali!" Ucapnya dengan lugu. "Apakah anda seorang penyanyi?" Ia bertanya sambil mendekatkan wajahnya pada wajahku.
Sedikit malu aku pun menjawab,"Bukan... aku bukan penyanyi. Melainkan, mm... anggap saja aku pendukungmu."
Tersirat wajah bingung, "Kenapa anda memakai topeng?"
"Aku hanya... "
"Kamu pasti malu yah bertemu idolamu!" Pungkasnya sambil tersenyum hangat.
Wajahnya yang putih lembut seperti gundukan salju putih, dan sedikit rona merah dihidungnya karena terlalu lama menahan suhu dingin dibulan November ini. Bibirnya yang lumayan pucat walaupun masih terdapat rona merah dari lip balm yang digores tipis dengan cantik.
Semakin lama aku menatapnya, semakin berdebar pula hatiku. Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan fansku sendiri.
"Oiya ngomong-ngomong, namamu siapa?" Tanya gadis itu dengan canggung.
Mengatur napas aku menjawab dengan hati-hati, "Sha—Xian maksudku!"
Sial, keceplosan!
"Salam kenal Sha-san! Namaku Serizawa Mona! Panggil senyamanmu saja!" Ucapnya dengan ceria.
Dia gadis yang ceria dan enerjik. Namun akibat pertentangan dengan keluarganya, sifat yang sangat positif itu sedikit demi sedikit luntur tak berbekas. Tekadnya yang kuat dengan jiwa nekat tak terukur, "Suatu saat nanti aku percaya kamu akan jadi seorang musisi yang hebat."
Manik deep sea-nya yang gemerlap diterangi oleh lampu jalan yang temaram. Bersinar cerah dibawah langit gelap yang dihiasi oleh bintang-bintang. Dia meraih kedua tanganku, digenggamnya dengan kuat-kuat. "T-terima kasih—karena telah membangkitkanku!" Ucapnya dengan senyum tipis, tanpa sadar butiran caranya bening menetes perlahan dari manik indahnya itu.
Telingaku memanas, hidungku mulai mampet. Rasanya aku ingin mengubur diri akan rasa yang membuncah ini.
Sepertinya aku benar-benar tertarik dengan fansku sendiri.
____________
Beberapa minggu pun berlalu. Desember pun menyapa kalenderku. Suhu dikota Tokyo semakin menjadi-jadi. Seperti biasa, aku memakai kupluk merah kesayanganku serta hoodie hitam dan jangan lupa dengan topeng rubah yang aku beli saat itu.
Menggendong tas gitar akustik yang diberikan paman tua pemilik toko musik aku melenggangkan kedua kakiku keluar apartemen.
Kali ini aku melupakan syal lusuhku, menahan kedinginan sembari melihat-lihat toko pinggir jalan. "Apa aku beli saja syalnya sekarang?" Gumamku melirik toko pakaian musim dingin.
Aku pun memasuki toko tersebut, mengambil syal berwarna merah dan membawanya kekasir.
"Sial, dompetku tertinggal."
__________
Merutuki keapesanku aku berjalan kesal sambil sesekali menendang kerikil yang ada didepan mataku. Mendengus sebal sampai aku menabrak seseorang yang menghalangi jalan. "Hey! Jangan menutupi jalan!" Teriakku sambil marah-marah tidak jelas.
Terlihat banyak orang yang mengelilingi seorang pria yang menenteng sebuah lembar kertas berwarna, dengan interaktif ia sepertinya sedang membagikan sebuah brosur. Karena penasaran aku pun mendekatinya.
"Hey kakak! Apa kakak punya bakat menjadi penyanyi? Jika punya, daftar kompetisi nyanyi ini sekarang juga!" Ucap pria itu dengan semangat yang berapi-api walaupun cuaca sangat dingin disini.
Aku pun menerima secarik kertas yang diberikan pria tadi, "Agensi kami sedang merekrut seorang musisi yang berbakat... pemenang berkesempatan mempublishkan lagu buatannya."
Tiba-tiba terlintas sesosok gadis SMA yang aku temui akhir-akhir ini. Aku pun membawa brosur tersebut dan akan menemui Mona sekarang juga.
__________
"Aku bisa debut jika aku menang?! Serius?!"
Aku mengangguk mantap, "Jika kau mau ikut akan aku daftarkan nanti."
Terlihat senyum cerah bagai matahari muncul di wajah cantiknya. "Aku mau ikut! Tapi aku tidak punya alat musik..." Seketika raut wajah si gadis menjadi murung.
"P-pakai saja punyaku! A-aku pun sudah jarang menggunakan gitar ini..." ucapku dengan panik.
"Tapi nanti siapa yang menyanyikan lagu untuk menyemangatiku setiap malam?" Sindirnya sedikit menggodaku.
Rona merah menggores kedua pipiku dibalik topeng, "A-aku bisa membeli gitar baru kok!"
"Hmm..." dia mulai murung lagi.
Aku menyodorkan tas gitarnya kepada si gadis, "Sudah pakai saja."
Si gadis tersenyum senang, "Baiklah—!"
Dia pun membuka bungkus gitarnya, mengeluarkan sebongkah kayu dengan ukiran autentik khas jepang yang cantik. Jari jemari mungilnya mulai menari diatas utaian senar-senar yang mengeluarkan sebuah nada yang begitu lembut. Bibir merahnya mulai bergerak mengeluarkan sebuah senandungan dengan mengikuti irama nada-nada yang dihasilkan oleh sang gitar.
"Tatoeba kimi no, kao ni mukashi yori, shiwa ga fuete mo... soredemo ii nda,"
(Seandainya wajahmu, jadi lebih keriput dari sebelumnya... bagiku tak masalah)
"Boku ga gitaa o, omou you ni hikenakunattemo kokoro no uta wa, kimi de afureteiru yo,"
(Bahkan jika aku tak bisa lagi bermain gitar, nyanyian hatiku akan penuh denganmu)
"Takai koe mo dasezu ni omoidoori utaenai, soredemo unazukinagara issho ni utatte—"
(Bahkan jika aku tak bisa bernyanyi dengan suara tinggi, aku ingin tahu apa kau akan mengangguk dan bernyanyi—)
KRIINGG!
Tiba-tiba sebuah nada dering dari ponselku berdering nyaring memotong suasana. Aku meminta maaf pada Mona dan mengangkat teleponnya.
"Halo ada apa?"
"Perubahan jadwal! Kita harus rekaman malam ini juga! " Ucap seseorang dibalik telepon.
Aku pun mengiyakan lalu menutup teleponnya. "Mona-san maaf aku tidak bisa menemanimu malam ini, aku ada tugas dari kantorku..." ucapku berbohong.
Mona yang sedikit panik menyetujui permintaan maafku, "Ti-tidak apa-apa! Aku bisa latihan sendiri kok! Tenang saja! Jangan pikirkan aku dan urusi dulu pekerjaanmu dengan baik."
Aku sedikit tidak enak untuk meninggalkannya. Sejujurnya aku masih ingin bersamanya dalam waktu yang lama, namun takdir menjahiliku.
"Baiklah aku akan pergi dulu—"
"Tunggu!" Ia menahan tangan kananku, mensejajarkan tingginya dengan tinggi tubuhku dengan berjinjit dia membungkus jenjang leherku dengan sehelai rajutan benang wol berwarna kuning emas. "Untung saja aku membawanya sekarang, melihatmu yang tak memakai syal apa tidak merasa kedinginan?"
Hembusan lembut yang keluar dari bibir merah si gadis, butiran-butiran putih yang cantik menghujani wajah pucatnya. Gadis didepanku yang sedang memakai kupluk berwarna merah serta syal merahnya sungguh membuat hatiku berdebar sangat kencang.
Dibawah hujan salju yang pertama kali turun dijepang, hari ini adalah hari spesial untuk kami berdua. Apakah hubungan ini akan terus berlangsung? Aku tidak yakin.
Masih dengan rasa canggung yang dibaluri oleh rasa suka pada masing-masing kubu dan dilengkapi dengan rona merah di kedua pipi, kami berdua seakan seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
Tak mau berlama-lama aku pun mengelus pelan kepalanya, "Semangat latihannya."
Aku pun pergi meninggalkannya dengan wajah yang tak karuan.
____________
Hari ini pukul 3 sore waktu pun tiba saatnya untuk Serizawa Mona tampil pada kompetisi bernyanyi yang diselenggarakan di Tokyo Disneyland.
"Wah... memang ini acara yang totalitas sekali," gumamku takjub melihat panggung yang cukup besar.
Setelah menunggu beberapa menit kemudian acara pun langsung dimulai dengan meriah.
"Aku tak sabar melihat Mona chan tampil~" ucap paman pemilik toko musik.
Aku memang sengaja mengundangnya karena ini adalah momen langka dan yang sangat di tunggu-tunggu. "Tenang saja, dia pasti sangat keren!" Ucapku sambil sesekali tertawa renyah.
"Kita sambut~ Serizawa Mona—!"
Dan akhirnya muncul seorang gadis dengan kaos putih serta rok merah yang elegan. Rambutnya digerai cantik dengan kepang diujung kanan-kirinya lalu diikat beberapa helai rambutnya kebelakang. "Cantik..." gumamku yang tentu saja digoda oleh paman tua itu.
Lagu pun dimulai, jari jemarinya yang lihai dan suara lembut yang dikeluarkan oleh bibir cherrynya sungguh sangat menyentuh hati.
"Aku akan merekamnya," ucap paman tua dengan semangat.
Beberapa detik berlangsung, mata kami seakan bertemu di titik terang pada perasaan yang entah sangat ambigu. Dua pasang insan yang saling menyukai satu sama lain, namun tidak bisa mengatakan perasaannya dengan jelas.
Sepertinya dia melihat eksistensiku yang menggunakan topeng ini, sangat mencolok yah?
"Tatta ichido no, Tatta hitori no... umaretekita shiawase, ajiwatterun da yo,"
(Hanya sekali, hanya seorang saja... aku merasakan kebahagiaanku terlahir)
"Kyou ga meindisshu de owari no hi ni wa, amazuppai ezaato o taberu no,"
(Hari ini adalah hidangan utama dan di akhir hari kita, akan makan asam—manis sebagai hidangan penutup)
"Yama mo tani mo zenbu furukoosu de,"
(Di lembah dan di gunung semuanya lengkap)
"Ki ga kiku you na kotoba wa iranai, subarashii tokubetsu mo iranai,"
(Aku tak butuh kata-kata penuh perhatian, aku tak butuh apapun yang khusus)
"Tada zutto zutto soba ni oiteite yo,"
(Hanya perlu kau selalu selalu disampingku)
"Boku no omoi wa toshi o toru to fueteku bakka da suki da yo,"
(Saat aku tua, perasaanku akan menjadi lebih mencintaimu)
"Wakatte yo, wakatte yo—!"
(Mengertilah, mengertilah—!)
"Nee, Darling yume ga kanatta no,"
(Hei, Sayang mimpiku jadi kenyataan)
"Oniai no kotoba ga mitsukaranai yo,"
(Aku tak menemukan kata-kata yang manis)
"Darling yume ga kanatta no... Ai ga afuseteyuku~"
(Sayang, mimpiku jadi kenyataan... Penuh dengan cinta~)
Lagu ini sepertinya bertujuan untukku, namun aku masih ragu dengan ini.
"Paman, aku sepertinya sedang tidak enak badan... setelah Mona selesai tampil, aku ingin pulang lebih awal..." ucapku kalang kabut.
Paman itu menatapku penuh dengan kebingungan, ia pun mengangguk setuju akan pernyataan kebohonganku.
Maafkan aku.
__________
Acara pun telah berakhir, dengan peraih juara pertama yaitu aku, Serizawa Mona. Namun yang ada didalam pikiranku adalah pria bertopeng itu menghilang ketika aku selesai bernyanyi. Aku merasa senang karena dia menyaksikan aku tampil, namun aku merasa sedih karena aku belum sempat mengobrol, menanyakan tentang bagaimana penampilanku tadi, "Kenapa dia langsung pergi begitu saja? Apa ada masalah pekerjaannya lagi?"
Aku yang masih mondar-mandir mencarinya di sepenuhnya Tokyo Disneyland, namun hasilnya nihil. Aku pun pada akhirnya bertemu dengan paman pemilik toko musik dan kami pun pulang bersama.
Malam pun tiba, aku dan paman pemilik toko musik serta sahabat-sahabatku merayakan atas kemenanganku di kompetisi sore hari tadi. Mereka terlihat sangat menikmati pestanya, namun aku tidak sama sekali.
"Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih—" gumamku murung.
"Aku keluar sebentar—" ucapku kepada mereka.
Aku pun keluar dari tempat itu dan langsung berlari ke bangku taman yang biasa kita singgahi. Nafasku tersenggal-senggal, manikku sekilas menangkap secarik kertas putih yang ditimpa oleh seonggok batu. Lantas tanganku pun mengambil kertas tersebut lalu membaca isi suratnya.
Seketika hatiku mencelos, perasaanku terobrak-abrik tak karuan setelah membaca siapa penulis surat ini.
"Tak akan kumaafkan kau!" Teriakku dengan hati yang hancur berkeping-keping. Menahan isak tangis sambil memutar ulang adegan-adegan kenangan kami berdua. Aku tau ini akan menjadi bad ending untukku, tapi aku tetap saja tak bisa menerimanya.
"Maafkan aku karena tak bisa bertemu denganmu setelah acara berakhir, penampilanmu tadi sangaaaaaaat bagus! Dan juga dengan penampilan cantikmu membuat jantungku berdebar. Aku tau ini bukan hal yang biasa, dan kamu pasti tau apa artinya itu.
Namun, maafkan aku jika aku sangatlah egois. Dan maafkan aku jika aku tidak bisa membawamu dalam hubungan yang lebih serius, karena aku tidak bisa mencintaimu lebih dari ini.
Kau tau?
Karena aku hanya seorang fansmu.
Terima kasih atas waktu luangnya, aku harap kamu terus bisa bersinar diatas panggung dengan gaun yang cantik. Dan juga—selamat atas juara 1 nya!! Woohoo~~!
I wish you well,
Cause, your Dream has come true.
Sincerely, シャん。"
Udara dingin yang menyesakkan membuatku merasa sangat kesal. Mungkin kemarin adalah hari terakhir kita bertemu. Walaupun kita akan menjalankan kehidupan kita masing-masing, aku akan tetap mengingatmu dan tetap mencintaimu.
"Jelas-jelas ini huruf 'S' tetap saja kau menyalahkannya, dasar bodoh kamu Shaoron."
Tamat.