Apakah kalian sudah pernah mendengar cerita "Putri Tidur"? Atau yang lebih di kenal dengan dongeng "Sleeping Beauty". Cerita itu sangat terkenal, bahkan tak jarang para orang tua membacakan dongeng Putri Tidur kepada anak mereka. Cerita dengan putri yang amat sangat cantik nan baik hati. Tokoh utama dalam cerita Putri Tidur. Inti dalam cerita ini adalah sang penyihir yang marah karena dia tidak di undang di pesta. Yang membuat penyihir murka dan mengutuk sang putri agar tertidur selamanya. Namun apakah kalian pernah berpikir bagaimana jika kalian ada di posisi sang penyihir?
.
.
.
Pada suatu hari, hiduplah seorang Raja dan Ratu yang bijaksana. Memiliki Istana serta para rakyat yang mencintai mereka. Namun itu semua belum cukup membuat Raja nan Ratu bahagia. Mereka sedih karena belum mempunyai buah hati. Rakyat pun merasa iba, namun tak tau apa yang harus di buat. Sampai pada suatu hari, sang Raja memohon dan berdoa. Perasaan tulus sang Raja membuat permohonan nya di dengar oleh penyihir. Penyihir itu pun merasa iba, kemudian ia memberitahukan kejadian ini kepada sang peri.
Penyihir mengambil sapu terbang nya, dan berniat menuju rumah peri. Sesampainya terlihat rumah kecil yang tergantung di atas pohon indah! Berbagai bunga dan harum tercium. Para hewan di sekitar juga terlihat ceria dan bahagia. Danau jernih nan indah membuat siapa saja terpesona. Beda cerita dengan sang penyihir, ia menganggap semua ini menjijikan. Penyihir tanpa permisi langsung membuka pintu kecil milik peri.
"Hei lalat terbang!"
"Kurang ajar! Astaga, bisakah kau sopan sedikit!?" *terkejut
"Aku tidak punya banyak waktu. Oh ya, kusarankan kau pergi ke Istana seberang, ada yang membutuhkan mu di sana"
"Benarkah? Siapa?"
"Hoaamm, kau lihat sendiri saja"
Ucap penyihir setengah tak peduli. Ia langsung menaiki sapu terbang nya. Terbang tinggi, namun tak lama sang peri berteriak ke arah penyihir.
"WOI MAK LAMPIR! ISTANA BAGIAN MANA WOI!"
Teriak peri karena jarak penyihir dan dirinya lumayan jauh.
"SEBELAH SELATAN DARI SINI! JIKA TERSESAT GUNAKAN GPS LALAT BODOH!"
"OH OKE... eh, gps?" *bingung
.
.
.
Singkat cerita peri mengerti apa yang di maksud oleh penyihir. Ia kemudian memberi berkah dan sedikit sihir ke sang Ratu. Walau terkejut dengan kedatangan peri secara tiba-tiba, namun sang Raja dan Ratu berterima kasih ke peri.
Dan... hari berganti hari, sang Ratu dinyatakan mengandung oleh tabib Istana. Seluruh rakyat ikut senang dengan kabar ini. Begitu juga Raja, ia begitu bahagia.
Setiap hari selalu menantikan sang buah hati. Sang Ratu amat sangat senang nan bahagia.
Sudah 9 bulan bergilir, sudah saat nya sang Ratu melahirkan. Rasa sakit yang tak pernah ia rasakan membuat nya hampir putus asa. Namun itu semua di bayarkan oleh seorang gadis kecil. Mata nya yang lebar, bulu mata yang lentik, dan bibir tipis nya membuat siapa saja terpesona. Sang Ratu tersenyum, ia sekarang sudah memiliki seorang putri yang amat sangat cantik.
Raja yang mengetahui Ratu melahirkan seorang putri menjadi bahagia. Sebagaimana bentuk rasa kegembiraan dan rasa syukur. Raja dan Ratu mengadakan pesta. Seluruh rakyat di undang, mereka juga mengirim surat undangan dari seluruh penjuru dan bangsawan lain. Bahkan Raja juga mengirim undangan kepada sang peri.
Undangan tersebar, seluruh rakyat bergembira dengan kelahiran putri. Desas desus putri juga tersebar di Kerajaan sebelah, begitu juga di telinga penyihir. Hutan gelap dan mengerikan, banyak hewan buas yang berkeliaran. Penyihir hanya tersenyum kecil sambil membayangkan wajah elok putri kecil yang ia dengar. Menantikan pertemuan nya dengan para Bangsawan. Namun apa daya, sudah hampir 1 minggu namun tak ada surat yang datang. Karena kesal, penyihir mengambil sapu nya dan bergegas menuju Kerajaan sang putri.
Sesampainya ia terkejut, Istana begitu ramai dengan para penduduk.
"Ku pikir Istana masih mempersiapkan kebutuhan pesta, namun jika dilihat bukan nya ini seperti pesta perayaan?Mereka mulai tanpa aku?"
Gumam sang penyihir sambil mengernyitkan alis nya.
Tanpa aba-aba, penyihir dengan geramnya langsung masuk ke pintu Istana. Para rakyat yang melihat kedatangan penyihir langsung ketakutan. Penjaga di buat tidur oleh sihir sang penyihir.
"Sialan kalian semua!"
Ucap penyihir dengan nada menyeramkan. Seketika suasana pesta menjadi hening. Hanya ada ketakutan dimana-mana. Sedangkan orang yang di dalam Istana belum menyadari, jika di luar sana ada penyihir yang murka.
Di dalam ada Raja dan Ratu duduk di singgasana. Dan di sebelah mereka sudah ada putri kecil yang tidur di ranjang bayi milik nya. Dua pasangan ini tertawa kecil dan tersenyum. Para bangsawan juga mengucapkan selamat atas lahirnya sang putri. Begitu juga tamu istimewa, yaitu 3 peri yang sudah membantu Raja dan Ratu.
"Selamat Baginda, jadi siapakah bintang indah ini?"
Ucap peri tertua sambil mengusap pipi sang putri.
"Aurora, nama putri kecil kami"
Ucap Raja sambil tersenyum. Ketiga peri tersenyum, mereka terbang mengelilingi Aurora. Pantulan dari cahaya matahari membuat serbuk peri terlihat bagai hujan berlian. Raja, Ratu dan semua yang ada disana terpesona dengan para peri.
Peri ketiga mendoakan dan memberi berkah agar putri Aurora selalu bahagia setiap saat. Peri kedua mendoakan agar kecantikan Aurora tidak akan pudar dan menambah kecantikan sang putri. Sampai ke peri pertama, baru juga mengangkat tongkat, suara dobrakan pintu terdengar keras. Membuat semua orang terkejut. Terlihat wanita dengan tongkat dan sapu di tangan nya. Ia begitu murka, berjalan tanpa rasa takut menghampiri Raja dan Ratu. Banyak bangsawan dan prajurit mencoba memperhentikan sang penyihir, namun apa daya kekuatan mereka tak mampu menggoyahkan penyihir. Mereka semua yang berani mendekat ke penyihir secara ajaib berubah menjadi batu.
Sampai lah penyihir di atas singgasana. Sang Raja langsung mengambil pedang, tanpa pikir panjang pedang sudah ada tepat di mata sang penyihir. Sedangkan Ratu terburu-buru menggendong Aurora dan memeluk nya dengan erat. Wanita itu hanya tertawa. Pedang yang awalnya tajam dengan sentuhan jari penyihir pedang langsung menjadi bunga hitam yang busuk.
"Hahaha, tenang saja Baginda saya hanya memberi hadiah kepada gadis kecil ini, bolehkah?"
"TIDAK! PERGI KAU DARI SINI!"
Ucap baginda dengan suara menggelegar.
"Mak, kenapa dengan mu?Kau tidak boleh seperti ini!"
"Diam kau lalat!Aku harus memberi pelajaran ke orang yang tak tau terima kasih! Oh apakah ini anak mu?"
Ratu yang mendengar hanya bisa melindungi Aurora dengan pelukan nya.
"Kegelapan dan kesengsaraan aku meminta padamu, berikan aku kekuatan untuk memberi sedikit hadiah kepada gadis kecil ini. Pada umur ke-17 nya ia akan mati tertusuk oleh jarum!"
Aura hitam muncul dan langsung masuk ke dalam tubuh Aurora. Penyihir langsung pergi dengan sapu terbang nya. Seketika orang yang menjadi batu berubah kembali menjadi manusia. Para peri menjadi panik dengan hadiah yang di berikan oleh penyihir. Bukan nya hadiah yang indah, melainkan hadiah berupa kutukan yang mengerikan. Namun peri tertua ingat dia masih belum memberikan berkah kepada Aurora. Ia segera memberi berkah nya yang terakhir. Kutukan akan tertunaikan seperti yang di katakan oleh penyihir. Namun peri tertua memohon agar kutukan dapat di hilangkan jika sang putri bertemu dengan belahan jiwa nya.
Perasaan sedih di terima oleh ayah dan ibu Aurora. Pesta penyambutan menjadi malapetaka karena ulah penyihir. Raja memerintahkan untuk membuang semua jarum yang ada di Istana.
.
.
.
Besok nya, terdengar suara gagak berbunyi. Cahaya matahari tak dapat menembus hutan lebat nan gelap milik penyihir. Wanita itu bangun dari tidur nya, menyiapkan sarapan dengan bahan yang ada.
"Hoaam, sup jamur lagi, haah seharusnya sebelum aku pergi aku membawa beberapa kue di pesta itu. Sungguh di sayangkan, aku merubah semua makanan di sana menjadi katak dan serangga"
Rengek penyihir yang masih mengaduk sup jamur di kuali besar nya. Makan dan duduk di kursi kayu usang. Menatap kosong ke arah depan, tanpa menikmati makanan yang sudah ia masak. Hanya ada kegelapan dengan hewan menjijikan di depan rumah penyihir.
"Pandangan yang...indah-_-"
Tak lama, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah sang penyihir.
"Keluar"
Ucap penyihir setengah tidak peduli.
"MASUK BEGO! CEPAT BUKAIN PINTU NYA SEKARANG!💢"
Penyihir kenal dengan suara tersebut.
"Masuk saja, tidak di kunci"
Seorang wanita kecil dengan sayap di punggung nya. Setiap gerakan yang ia lakukan muncul serbuk cahaya berjatuhan. Peri yang kemarin di temui oleh penyihir. Dengan kesal, peri berkata.
"Penyihir bodoh! Mak lampir!Apakah kau gila dengan memberi kutukan ke Putri!?Kau terlalu gegabah!" *marah
Peri memukul kepala penyihir namun wanita itu tidak dapat merasakan sakit sama sekali. Seperti angin yang lewat begitu saja. Suara sayap peri membuat penyihir kesal. Ia mengambil sesendok sup dan langsung memasukan nya ke mulut kecil sang peri.
"Diamlah!"
"BPPHH! BUAAH, hoeek...makanan apa ini?Rasanya menjijikan" *merinding
"Sialan kau lalat. Dan soal putri aku tidak peduli dengan nya, toh mungkin saja tak lama lagi mereka punya anak"
"Kau kan tau sendiri dahulu saja Raja dan Ratu sulit mendapatkan anak, dan sekarang anak mereka di kutuk oleh penyihir dengan pikiran dangkal. Aku jadi kasihan dengan Aurora"
Ucap peri dengan tatapan tajam nya.
"Berisik, mending kau pulang saja, semakin lama kau di sini semakin lemah juga kekuatan mu"
Penyihir berdiri saat makanan nya sudah habis. Tanpa melirik sedikit pun peri.
"Kau tak sejahat yang mereka kira. Hanya saja kemarahan tak terkendali membuat kegelapan menguasai dirimu"
Penyihir hanya diam membisu. Karena terasa urusan sudah selesai, peri meninggalkan penyihir. Keluar dari hutan terkutuk dengan mata sayu. Walau tak begitu akrab dan selalu saja bertengkar, namun peri yakin masih ada kebaikan di hati penyihir.
Lagi-lagi suasana sepi, membuat penyihir sedih. Tak ada teman yang menemani. Gubuk tua terasa hampa.
.
.
.
10 tahun telah berlalu. Suasana hutan masih sama, gelap dan berbahaya. Karena bosan sang penyihir berniat berjalan-jalan. Menggunakan sapu terbang nya, ia dapat pergi kemanapun yang ia ingin kan. Angin berhembus membuat hati tenang. Dalam perjalanan, penyihir melihat taman yang indah. Bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu elok berterbangan kesana kemari. Berniat untuk mendarat di sana.
Sapu turun secara perlahan, terasa sudah aman kaki sang penyihir turun dan menyentuh tanah. Angin berhembus, wewanginan bunga membuat hidung penyihir agak gatal.
"Namun tak ada salah nya beristirahat di sini"
Penyihir berjalan menuju pohon yang tak jauh dari tempat nya berdiri. Duduk dengan santai dengan wajah muram. Entah mengapa dirinya tidak bisa merasa bahagia, tertawa, dan bersenang-senang. Ini tidak adil bagi nya.
Tak lama, ada seseorang yang menarik rambut panjang penyihir.
"AWWW!"
Jerit penyihir, terlihat anak dengan paras cantik, rambut pirang bergelombang dengan mata biru yang indah. Dengan sekali melihat saja penyihir sudah tau, kecantikan tak terkalahkan hanya ada pada putri Aurora.
Jika tidak salah lalat itu memanggil dia dengan nama...
"Aurora?"
Aurora yang mendengar penyihir berbicara membuat nya merasa senang. Meloncat kesana kemari dengan riang.
"Bocah pecicilan. Namun kenapa aku bisa bertemu putri di sin...owh"
Saat penyihir melihat ke belakang, terlihat Istana tak jauh dari tempat mereka berteduh.
"Tak kusangka pegunungan ini dekat dengan Istana, sialan. Tidak ada yang menjaga nya kah?-_-" *gumam
Wajah datar sang penyihir membuat Aurora kebingungan. Gadis kecil itu berlari mendekat ke semak-semak. Penyihir yang sedari tadi memperhatikan dari jauh agak bingung dengan sikap putri.
"Oi bocah, berhati-hati lah kebanyakan ular bersembunyi di balik semak-semak"
Teriak penyihir kepada Aurora. Tak lama Aurora kembali sambil membawa bunga kecil di tangan nya.
"Ini untuk kakak cantik"
Ucap Aurora sambil memberikan setumpuk bunga kecil ke penyihir. Wanita itu diam sejenak dengan wajah tak percaya.
"Kakak...cantik?"
"Iya, rambut hitam kakak cantik. Bahkan wajah kakak juga cantik, hehehe"
Walau tak terlihat dengan jelas, penyihir tersenyum kecil.
"Jadi daritadi kau mengambil bunga di sebelah semak-semak tumbuh ya bocah. Ku kira kau akan memberi ku duri"
"Apa? Aurora tidak akan melakukan hal kejam seperti itu! Ayahanda juga melarang Aurora mendekat ke benda tajam"
"Oh kutukan itu ya, tenang saja itu terjadi saat kau berumur 17 tahun"
Ucap penyihir sambil mengelus kepala Aurora. Wanita itu bangkit dari tempat nya berdiri. Naik di sapu ajaib nya dan terbang ke atas. Aurora yang melihat menjadi takjub dan melompat berniat untuk mengapai kaki sang penyihir.
"Hahaha bocah bodoh, apakah kau yakin dapat menjatuhkan ku?"
"Hahaha Aurora juga mau terbang! Kayak kakak cantik"
"Baru kali ini aku di panggil dengan sebutan kakak, biasanya para serangga itu memanggil ku mak lampir. Padahal kita beda spesies😒" *gumam
"Kakak mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada. Bocah jika kau mau aku kembali jangan katakan aku ada di sini. Jangan katakan kau bertemu orang sepertiku kepada orang tua mu atau siapa pun itu"
"Oke aku berjanji, soalnya aku masih mau bermain dengan kakak!" *senang
Senyuman terukir di wajah penyihir. Ia terbang lebih tinggi dan melambai ke arah Aurora.
Baru kali ini aku merasa aman dan senang saat bertemu orang lain. Aurora ya, kayaknya lumayan mengajak bocah itu bermain.
.
.
.
Seperti yang di janjikan Aurora tidak menceritakan apapun soal kedatangan sang penyihir. Gadis kecil itu belum tau bahwa wanita yang ia temui merupakan seorang penyihir. Setiap hari menjelang sore Aurora selalu menemui penyihir di bukit yang sama. Walau garing dari candaan penyihir namun Aurora masih selalu tertawa bahagia. Berkah yang di berikan peri 2 dan 3 membuat nya menjadi gadis cantik dan periang.
Seiring nya dengan waktu permainan mereka mulai berubah. Seperti permainan kartu, catur dan lainnya. Membaca buku menjadi bagian terfavorit mereka bedua. Apalagi penyihir yang begitu suka dengan cerita yang di bawa oleh Aurora. Kini gadis itu sudah genap berusia 14 tahun. Wajah nya tambah cantik yang membuat siapa saja terpesona oleh nya. Namun seiring bertambah waktu menbuat Aurora mengetahui siapa wanita yang ada di sebelah nya. Desas desus yang ia dengar semua cocok oleh wanita tersebut. Namun bukan nya takut atau kapok mendekat ke penyihir, Aurora merasa tak peduli dan masih saja bermain dengan penyihir.
Suatu hari mereka sedang membaca buku dongeng yang Aurora bawa. Penyihir sibuk sendiri dengan buku yang ia baca, sedangkan Aurora membaca buku dengan judul 'Penyihir Es'
"Astaga aku begitu terkejut mengetahui ending nya"
Ucap Aurora terhadap penyihir.
"Memang buku apa yang kau baca?"
Tanya penyihir yang masih sibuk membaca buku.
"Penyihir Es"
"Oh buku keluaran terbaru itu? Menurutku itu pantas untuk penyihir sepertinya. Wanita jahat di butakan oleh cinta dan mati dengan kekuatan nya sendiri, lumayan bodoh menurut ku"
Aurora yang mendengar mengepalkan tangan nya.
"Kan penyihir es kesepian, walau jahat ujung-ujung nya dia mengembalikan pria yang di cintai. Bahkan sampai memberikan nyawa nya"
Aurora merajuk sambil memandang penyihir. Wanita itu hanya tersenyum sambil menjiwit pipi Aurora.
"Nah Tuan Putri jadi bagaimana akhir dari kisah yang kau harapkan?"
"Aww lepaskan, sakit(╥﹏╥) Jika cerita akhir setidak nya penyihir tidak perlu mengorbankan nyawanya. Cuma karena cinta, cih kekanakan"
"Oi bocah awas saja jika kau merubah perkataan mu, aku yakin tak lama lagi kau akan merasakan cinta-_-"
Penyihir lagi-lagi menjiwit pipi Aurora.
"Jika tidak ada cinta hidup mu tak lama lagi. Dan juga kesepian sudah jadi makanan bagi para penyihir. Mereka juga tidak takut akan kematian"
Ucap penyihir sambil tersenyum.
"Aku hanya mau dengan kakak! Aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak ku kenal"
Mata Aurora menunjukan keseriusan. Penyihir tertawa kecil mendengar nya.
"Terserah saja... ku kira kau akan membenci ku, kau sudah tau siapa aku kan?"
"Iya, kau kakak cantik, hehehe"
"Bukan, jangan pura-pura bego dengan wajah menyebalkan itu"
Mereka tertawa bersama. Sampai tahun berganti. Tak terasa Aurora sudah berumur 16. Esok hari adalah hari ulang tahun Aurora ke 17. Hal itu membuat semua orang panik termasuk Raja dan Ratu. Tahun yang membuat pasangan ini bermimpi buruk. Mereka masih ingat akan kutukan yang di berikan oleh penyihir. Peri berusaha menghilangkan aura jahat. Namun mimpi kehilangan putri tercinta masih menghantui pasangan ini.
"Nak, kamu harus di kamar ini selama seharian penuh"
"Kenapa ayahanda? Apa karena kutukan itu? Namun Aurora merasa aman, bahkan kalian juga sudah memerintahkan untuk melenyapkan jarum di seluruh istana"
"Namun, ibu masih khawatir dengan mu...hiks ibu sangat menyanyangi mu anak ku"
Ratu memeluk putri nya, pelukan yang hangat dan nyaman. Aurora hanya tersenyum ke arah Raja dan Ratu.
"Baiklah Aurora akan berada dalam kamar"
Baginda Raja dan Ratu nampak bimbang. Mereka ada urusan mendesak yang mengharuskan mereka pergi jauh dari Aurora. Dengan senyum pahit mereka mempercayakan semua ini kepada putri semata wayang nya.
Malam hari tepat jam 00.01 malam. Suara bunyi jam yang keras membuat Aurora terbangun. Menguap dan mengucek mata nya.
"Hoaam masih malam...bosan, aku akan berjalan-jalan saja lah"
Aurora yang mengenakan piyama langsung keluar dari kamar. Di temani oleh cahaya lentera ia berjalan dalam kegelapan. Sudah hampir 30 menit Aurora berkeliling. Merasa sudah mengantuk, Aurora berniat untuk masuk ke kamar. Namun ada satu hal yang membuat nya penasaran. Ia melihat anak tangga menuju ke dasar. Karena penasaran Aurora menuruni tangga tersebut. Banyak serangga dan laba-laba yang menganggu perjalanan Aurora. Sampai pada akhirnya, gadis itu berhasil menuju dasar. Terdapat ruangan dengan pintu usang tepat di hadapan Aurora. Ia membuka pintu tersebut, terlihat banyak buku di dalam sana.
"Apa ini...perpustakaan?"
Walau sempit banyak buku yang ada di sini. Tanpa pikir panjang, Aurora mengambil beberapa buku yang menurutnya bagus.
"Aku yakin kakak akan suka semua ini" *senang
Terasa sudah cukup, Aurora berniat kembali ke kamar. Menaiki satu persatu tangga sampai menuju kamar nya. Sedangkan di kamar sudah ada penyihir. Suara pintu terbuka, Aurora terkejut melihat penyihir dengan wajah panik. Kamar yang awalnya rapi kini berantakan. Sesaat mata penyihir dan Aurora bertemu, linangan air mata menetes dari mata penyihir.
"Kakak! Kakak baik-baik sa.."
Tap tap tap
Belum juga melanjutkan kalimat, penyihir dengan linangan air mata langsung memeluk Aurora.
"Syukurlah...ku kira kau, hiks tolong tetap lah di kamar mu"
Pelukan hangat dari sang penyihir. Aurora hanya tersenyum ke arah penyihir.
"Tenanglah kak, lihat tadi aku menemukan beberapa buku, hehe"
Kakak, padahal dia tau tidak aman baginya berada di Istana ini. Dia tau ini adalah hari ulang tahun ku yang ke 17, dan menyempatkan datang kesini.
"Tuh kan penyihir tidak semuanya jahat, kenapa kakak menangis?"
Aurora tertawa, ia menghampus air mata penyihir. Mereka tertawa dan saling mengejek satu sama lain. Tawaan di seluruh ruangan. Sampai, ketenangan itu menghilang saat para prajurit datang. Mendobrak pintu kamar Aurora sambil membawa senjata tajam. Aurora terkejut dan menatap tajam mereka semua.
"Apa yang kalian lakukan?"
"MENJAUHLAH PUTRI, DIA WANITA IBLIS YANG TAK PERLU DI KASIHANI!"
"Kalian..."
Aurora mengepalkan tangan nya, penyihir menyadari kemarahan Aurora hanya bisa diam tidak bergeming. Tersenyum mengeringai bagai orang jahat dan berteriak.
"OH KALIAN SEMUA PENGAWAL PUTRI! Sungguh tidak pecus, kedatangan ku saja kalian tidak sadar!"
"Ka..kak?"
"Hoaam bersyukur saja Tuan Putri kalian masih hidup. Tenang saja tanpa kalian suruh aku pergi sendiri kok"
Penyihir langsung melompat dari jendela. Penyihir melompat dari ketinggian yang membuat Aurora khawatir. Pasalnya kamar Aurora adalah kamar tertinggi. Namun tidak masalah, sudah ada sapu terbang yang siap menangkap penyihir kapan saja. Penyihir itu pergi sambil melambaikan tangan nya.
"Kakak..."
.
.
.
Pagi hari nya, Aurora bangun dari tidur. Duduk dan mengucek mata nya.
"Hoaam, sudah pagi saja. Eh, apa itu?"
Terlihat bunga hitam tepat di depan kasur Aurora. Karena penasaran gadis itu mendekat. Terlihat bunga mawar hitam yang indah. Setangkai bunga mawar dengan ajaib nya terbang menyesuaikan tinggi Aurora.
"Apa ini dari kakak?"
Dengan perlahan Aurora hendak mengambil bunga. Semakin dekat sambil secara tak sadar ia tertusuk oleh duri mawar. Darah segar mengalir, bersamaan dengan itu bunga tersebut berubah menjadi jarum tajam!
"T..tidak mungkin!Jelas-jelas yang kulihat tadi adalah mawar!Kenapa bisa...berubah menjadi jar..."
BRUKK
Putri Aurora tertidur. Seketika seluruh yang ada di Istana tertidur bersamanya. Prajurit, pelayan, bahkan hewan-hewan yang masuk ke Istana tertidur.
Perasaan cemas ada di peri dan penyihir. Mereka langsung pergi ke Istana. Sesampainya terlihat bangunan besar namun suram. Para peri dan Penyihir memandang satu sama lain.
"Kami akan mengecek apa yang terjadi"
Sedangkan penyihir hanya bisa terdiam membisu. Memperhatikan Istana putri Aurora. Tak lama kemudian para peri keluar dan menghampiri penyihir.
"Putri Aurora tertidur! Kutukan itu sudah terjadi!" *panik
"Ah...begitu ya"
BRUKK
Penyihir terduduk dengan pandangan kosong. Begitu kehilangan bocah yang selalu menemani nya. Dengan lirih penyihir berkata.
"Saat putri tertusuk jarum dia akan tertidur dan tak akan pernah bangun. Kematian dengan mimpi yang indah, bukan nya itu bagus?"
"Aku...juga tidak tau"
Walau sedih namun penyihir sadar bahwa ini terjadi karena dirinya. Jika bukan karena kemarahan dan kecerobohan, ini tidak akan terjadi. Ucapan yang ia utarakan 17 tahun lalu benar-benar terjadi dan terlihat di depan mata. Penyihir serta para peri berniat untuk melindungi Istana dan juga menunggu cinta sejati Putri Aurora. Masa-masa kesepian harus di rasakan oleh penyihir, lagi dan lagi...
[TAMAT]
.
.
.
Jangan lupa Like and Komen