Di sebuah kota terpencil di ujung barat daya di belakang bukit hiduplah gadis cantik berkulit putih bersih seputih mutiara, berhidung mancung, bermata bulat sebut saja dia Rara.
Rara hanya hidup berdua dengan nenek angkatnya, sejak kecil Rara di asuh oleh nenek yang menemukannya di belakang bukit, saat di temukan kondisi Rara penuh dengan luka-luka di sekujur tubuhnya kemudian ia di bawa ke rumah kecil yang berada di dekat sungai, sang nenek mengobati dan membesarkannya penuh dengan kasih sayang.
Sewaktu menemukan Rara di belakang bukit, nenek itu sedang ingin pulang ke rumah dari tempatnya bekerja di kebun bunga, ya nenek itu adalah salah satu petani bunga yang terdapat di belakang bukit, sampai saat ini sangat nenek masih bekerja disana di bantu oleh Rara.
Saat menemukan Rara nenek juga menemukan kalung berbandul kuno yang berisi foto keluarganya, sampai saat ini kalung itu masih di simpan nenek di lemarinya.
"Rara" Ucap nenek memanggil Rara dengan suara pelan dari dalam kamar.
Ceklek (Suara pintu terbuka)
" Iya nek ada yang bisa Rara bantu" Jawabnya menghampiri sang nenek yang sedang rebahan di patidur.
"Tolong buka lemari dan lihat dibawah baju itu" Ucap nenek sambil menujuk arah baju "disitu terdapat kotak tolong ambil ya" Sambil mengadakan tangan meminta barang yang ingin diambilkan, kemudian nenek itu membuka isi kotak dan mengeluarkannya, terlihat sebuah kalung bersama bandul atau liontin kuno, sementara itu Rara hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan sang nenek. "Ini pakailah milikmu, kalung yang nenek temukan saat menemukanmu di balik bukit" Pinta nenek sambil menggenggam tangan Rara.
Saat ini sang nenek sedang kepayahan sehingga tidak dapat bertani bunga, sehingga Rara lah yang membantu nenek untuk mencari nafkah, Rara rasa sudah saatnya ia membalas budi kepada sang nenek.
Sudah menjadi rutinitas Rara saat ini berjalan kaki dari kota ke bukit dan sebaliknya untuk membantu, setiap hari ia rela berjalan kaki berkilo-kilo untuk mendapatkan nafkah.
Saat hendak berangkat ke bukit ia melihat sebuah insiden dari kejauhan seseorang terperosok ke dalam parit yang begitu dalam dari kejauhan orang tersebut berteriak sangat kencang meminta pertolongan. Rara yang melihat hal tersebut berteriak meminta pertolongan kepada warga sekitar dan beberapa orang langsung datang menghampiri. Beruntung selamat pemuda yang terperosok itu.
Rara melihat ada beberapa bagian tubuh pemuda itu yang terluka, ia meminta warga yang berada di sana untuk membawakan kotak obat. Rara terlihat begitu telaten mengobati luka-luka tersebut.
Pemuda itu bangun dari pingsannya dan melihat Rara yang berdiam diri di sampingnya "aku dimana? " Tanyanya sambil memperhatikan Rara.
"Kamu berada di kota kecil kami bernama navervile" Jawab Rara dengan penuh kelembutan.
Pemuda yang melihat Rara hanya dapat menundukan kepala dan berkata "sepertinya aku harus pergi sekarang, masih ada beberapa urusan yang harus ku selesaikan saat ini, aku pasti akan sering berkunjung ke kota kecil ini, terimakasih atas bantuannya" Ucap pemuda itu sambil bangun dari ranjang dan bergegas keluar.
Beberapa hari kemudian pemuda itu datang kembali dan keesokan harinya datang kembali terus menerus setiap harinya hanya untuk bertemu Rara sebentar.
"Ra.. Kamu mau menemaniku? Ada pesta di Kerajaan wigbert" Tanya pemuda itu, iya Rara sudah mengetahui siapa dan darimana pemuda itu berasal, pemuda itu bernama Gustav dari Kerajaan stourton. Mereka saat ini berada di bukit menikmati matahari yang akan tenggelam.
"Tapi bagaimana dengan nenekku, aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian" Jawab Rara dan memandang Gustav.
"Sebelumnya aku sudah meminta izin kepada nenekmu dan di bolehkan Ra, aku juga sudah menyiapkan gaunmu, utusanku sudah mengantarkannya tadi pagi" Ujar Gustav sambil memandang ke langit.
Akhirnya Rara menyetujui untuk ikut ke pesta Kerajaan wigbert, utusan Gustav akan menjemput Rara nantinya kemudian mereka akan bertemu disana.
Hari pesta pun tiba Rara sudah berangkat dengan utusan Gustav, ia pun sampai di Kerajaan wigbert. Rara berjalan masuk ke dalam dengan perlahan mencari keberadaan gustav sesuai yang diarahkan oleh utusannya.
Sampai dimana Rara bertemu seorang wanita cantik dipertengahan usianya, wanita itu memiliki senyuman seperti bulan sabit, Rara menghampiri wanita itu, wanita yang tidak ia kenal.
"Permisi mam" Rara membungkukan badannya perlahan dan melihat wajah wanita itu dari dekat. Wanita yang dihampiri Rara melihatnya dengan seksama, wanita itu fokus dengan kalung yang di pakai Rara seperti milik putrinya.
"Iya, namamu siapa? Kamu mengapa memakai kalung itu? " Tanyanya sambil memegang kalung yang Rara kenakan.
"Namaku Rara, aku diangkat oleh nenekku, untuk kalung ini nenek temukan saat aku kecil" Ucap Rara sambil memegang kalungnya.
"Boleh kamu buka kalungnya terlebih dulu saya ingin melihat kalungnya" Ujar wanita itu dan di jawab anggukan oleh Rara, wanita itu melihat kalung yang Rara kenakan dan membuka kalungnya terdapat foto wanita itu dengan suaminya. Wanita itu terisak, ia sungguh merindukan putrinya dan ternyata putrinya kini sudah beranjak dewasa. Wanita itu memeluk Rara.
"Kamu putriku yang hilang putri mahkota tansy dari Kerajaan wigbert, aku ibundamu" Ucap wanita itu sambil melihat Rara membuatnya terdiam sesaat dan ikutan menangis, ia senang akhirnya bertemu dengan keluarganya. "Dengarkan ibu sewaktu kamu kecil Kerajaan kita di serang, kamu di bawa kabur oleh para pemberontak itu" Jelasnya sambil menggenggam tangan Rara.
Gustav datang saat ibu dan anak itu melepaskan rindu setelah sekian lama tak bertemu, Gustav menghampiri Rara ia seperti tahu ada kejadian apa sebelumnya.
Rara berlari memeluk Gustav ia bahagia karena keluarganya sudah ditemukan.
Saat ini pesta di kediaman wigbert sudah selesai, Rara menghampiri ibundanya yang berada di ruang tengah Kerajaan.
"ibu aku ingin pulang" ucap Rara kepada ibundanya sambil mendudukan dirinya di sofa sebrang.
"pulang? ini rumahmu dan ini" mengenalkan pria paruh baya disampingnya "ini ayahmu" ayah Rara sangat terkejut akan kehadiran putrinya ia tersenyum penuh harus saat melihat putrinya sudah besar dan tumbuh menjadi putri yang cantik.
"aku tidak enak meninggalkan nenek begitu saja bu ditambah nenek keadaannya sedang tidak stabil" jawabnya dengan rasa khawatir.
"nenek yang membesarkanmu akan tinggal di Kerajaan kita, utusan kita akan menjemputnya hari ini juga" jawab ayahnya.