Kamu tidak perlu pisau untuk membunuh seseorang, cukup ambil harapannya maka hidupnya akan berakhir.
-Indari Sukmawati-
" Aku tidak masalah jika menghadapi banyak persoalan hidup, asal aku masih menyimpan pengharapanku untuk bangkit setiap kali aku terjatuh." ujar Indari Sukmawati pada sahabatnya Diandra dalam perjalanan menuju Rumah Sakit.
Hari ini jadwal mereka berkunjung ke bangsal anak di salah satu Rumah Sakit milik pemerintah di kawasan Jakarta Pusat.
Bukan, mereka bukan dokter. Mereka hanya segelintir orang yang memiliki komitmen hati untuk menghibur adik-adik di sana. Jadi setiap memiliki waktu luang dua sahabat itu akan berkunjung menemui anak-anak yang rata-rata mengalami sakit kronis.
Indari dan Diandra datang untuk sekadar berbagi cerita dan kebahagiaan untuk mereka. Tidak banyak yang mereka bawa untuk datang ke sana, kadang hanya permen yang mereka punya untuk dibagikan. Tapi kedatangan mereka selalu disambut gembira adik-adik di sana.
Ketika kehadiran mereka yang hanya bermodalkan waktu luang dan sebungkus permen, tapi saat pulang mereka bisa membawa bekal yang begitu banyak. Bukan bekal yang bisa mengenyangkan perut, tapi bekal untuk menjalani hidup.
Setiap kunjungan pasti akan ada banyak hal yang bisa mereka petik sebagai pengalaman hidup tanpa harus melewatinya lebih dulu. Setiap senyuman yang terlukis pada wajah anak-anak di sana adalah sebuah bayaran tak ternilai harganya buat Indira dan Diandra. Buat mereka itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan.
"Lo yakin kalau pengharapan lo itu gak akan redup saat masalah yang datang itu berat?" tanya Diandra.
"Gak tahu lah gue kan masalahnya belum datang, cuma kan gue percaya sama Tuhan Di. jadi gue yakin-yakin ajalah." Indira menjawab perrtanyaan itu sekenanya saja.
"Iya juga sih, kita gak pernah tahu tentang masa depan ,jadi yang kita punya cuma pengharapan kalau esok akan ada hari yang lebih baik." Diandra membenarkan omongan Indari
Mereka tiba di rumah sakit, menembus beberapa lorong untuk masuk ke bangsal anak, hari ini mereka tidak butuh bantuan id card orang tua pasien karena mereka datang di jam besuk.
Rumah sakit ini cukup ketat masalah aturan jam kunjung, jadi di luar jam besuk yang bisa masuk keruangan hanya yang berjaga dan masing-masing mereka diberikan id card.
Kalau mereka datang melewati jam kunjung maka mereka harus meminta bantuan orang tua pasien yang mereka kenal untuk meminjam id card dari pasien lain agar bisa masuk ke dalam ruangan. Ini memang bentuk kecurangan, tapi berlandaskan niat baik. Hanya saja tidak patut untuk ditiru juga sih.
Hari ini mereka akan berkunjung ke ruangan 112 , kamar ini menampung enam pasien. Di kamar ini ada Herlan anak umur sepuluh tahun penderita tumor otak stadium akhir. Herlan kehilangan fungsi motoriknya jadi hanya bisa berpindah jika mendapat bantuan , badan herlan juga sudah menciut terlihat kurus dampak dari penyerapan gizi yang tidak baik. Tapi kalau kalian bertemu dengan Herlan , kalian tidak akan menemukan raut sedih di wajahnya. Dia tetap ceria seperti anak seusianya , bahkan di tengah rasa sakitnya dia masih suka menggoda Indari.
"Hai Herlan!" sapa Indari
"Lan, siapa tuh yang datang?" goda Ibunya Herlan. Dampak dari tumor otak yang di deritanya Herlan mengalami penurunan daya ingat, tapi kalau melihat Indari pasti dia akan ingat. Berbeda dengan Diandrra yang sering dilupakannya.
"Kak Indari." jawabnya terbata-bata
"Kalau yang ini?" tanya ibunya lagi sembari menunjuk Diandra yang memkai baju kemeja merah di padukan dengan jeans belel kebanggaanya.
Herlan tampak berpikir untuk meengingat nama Diandra, tapi tak kunjung ada jawaban yang terdengar.
"Kamu selalu lupa sama aku." sungut gadis bernama lengkap Diandra Kusuma itu.
" Herlan ingat, Kak Andra." cetus herlan tiba-tiba.
"Wah Herlan hebat bisa ingat aku, kalau gitu aku kasih boneka deh." ujar Diandra antusias.
"Tapi Herlan kan cowok, masa main boneka." kata Herlan
"Yaah gimana dong? Aku punyanya cuma boneka." jawab Diandra jujur karena memang hanya ada boneka yang mereka bawa hari ini.
"Ya udah deh gak apa-apa kak, nanti buat adik Herlan di kampung bonekanya. Tapi kalau kak Andra datang lagi bawa jus untuk Herlan ya." Herlan mengajukan kesepakatan.
"Sip" Diandra mengacungkan dua jempolnya.
Setelah melihat Herlan mereka melanjutkan kunjungan mereka ke bangsal lain untuk membagikan boneka yang mereka bawa.
Mungkin yang mereka lakukan ini bukan hal yang besar, tapi punya makna yang besar untuk anak-anak yang mereka kunjungi. Mereka tidak punya materi untuk dibagikan, tapi mereka punya hati tulus untuk berbagi cinta yang mampu memupuk harapan.
"Dari Herlan gue belajar tentang semangat hidup Di, gue malu kalau harus mengeluh sama Tuhan tentang hidup gue yang masalahnya cuma cetek. Sedangkan Herlan masih mampu bersyukur." kata Indari dalam perjalanan pulang.
"Iya ya, kita ini terlalu banyak mengeluh. Padahal Tuhan udah kasih sehat sama kita. Kita juga hidup berkecukupan. Kurang baik apa lagi Tuhan sama kita? " Dua sahabat itu selalu berbincang tentang hidup kalau baru selesai berkunjung dengan anak-anak di rumah sakit.
"Yang pasti Di, dari meka gue belajar yang membuat semangat kita patah itu bukan penyakit, tapi harapan. Jadi kita gak boleeh berhenti untuk berharap." kata Indari pada sahabatnya itu.
"Yang lo bilang itu benar, mereka anak-anak masih berpikir polos, gak punya ketakutan yang besar. Mereka cuma tahu bahwa besok akan selalu ada, jadi mereka menjalani semua itu tanpa beban." sahut Diandra.
Dua sahabat itu menemukan makna hidup dari sebuah harapan. Bagaimana harapan bisa membangkitkanmu dari masa kelam dan bagaimana harapan bekerja.
Selama kita masih punya harapan maka kita akan mampu bertahan hidup. Tekadang bukan permasalahan yang membuat kita terpuruk tapi karena kita kehilangan harapan untuk menatap masa depan.
Anak-anak yang mereka kunjungi bukan dengan penyakit remeh. Bukan sekadar demam atau flu. Penyakit yang mereka hadapi adalah penyakit menakutkan buat kita orang dewasa, tapi terlihat tak berarti buat mereka. Mereka tetap tersenyum, mereka tetap bermain, saat orangtua mereka putus asa justru mereka yang meyakinkan orangtuanya bahwa besok semua akan baik-baik saja.
Bukan hanya Herlan saja yang menginspirasi, ada banyak adik lainnya. Ada Rino-Sarkoma Ewing--- penyakit tumor ganas yang muncul di tulang atau jaringan lunak di sekitar tulang. Termasuk kasus penyakit langka, tapi kalau bertemu Rino kalian hanya mendapati bocah berkepala plontos yang penuh semangat. Energi bermainnya seolah tidak pernah habis, dia tetap lincah. Seperti tidak ada penyakit ganas yang sedang menggrogoti tubuhnya. Padahal proses pengobatan yang harus dilaluinya bukan proses yang ringan.
Selain Rino ada juga Jean dengan Leukimia. Jean akan melalui masa kemoterapi selama tiga tahun dan itu dilakukan beratus-ratus kali, tapi senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya. Seolah jarum suntik dan perkakas lainnya sudah dianggapnya teman. Masih banyak kisah adik lainya
Kunjungan yang mereka lakukan ini membuat mereka menemui banyak adik baru, tapi juga harus belajar untuk berdamai dengan kehilangan setiap kali mereka pergi entah untuk kembali ke kampung mereka atau berpulang ke rumah Tuhan.
Setidaknya dari orang-orang yang mereka temui, mereka bisa belajar selama matahari masi terbit setiap hari untukmu jangan pernah berhenti untuk berharap. Seperti anak-anak yang polos tidak pernah berhenti berharap akan kesembuhan dan melupakan sakit mereka.
©CaesaAprilia