Sejak kecelakaan yang merenggut nyawa ayah, aku tidak pernah mempercayai saudara kembarku, Hekka.
Yeah. Bagiku, semua yang dikatakan Hekka tak lebih dari omong kosong.
Bahkan jika itu menyangkut tentang bunga merah yang bermekaran di sepanjang jalan, atau mengenai seorang gadis yang tiba-tiba melintas di depan mobil kami. Tak satu pun dapat ku percaya.
Kecuali...,
Satu kenyataan yang menyatakan bahwa imajinasi Hekka telah memaksa ayah menginjak rem mobil di tengah laju tol. Itulah satu-satunya kebenaran yang kulihat didepan mataku bahwa karenanya ayah meninggal.
Tap tap tap.
Terkesiap, langkah kaki dokter menyadarkanku.
"Sudahkah selesai?!" Pikirku dengan wajah panik, berusaha tak gemetar mendengar hasil pemeriksaan yang akan dokter sampaikan.
“Bagaimana keadaan Hekka Dok?” tanya ku setibanya dokter disana namun, dokter lambat bereaksi dan hanya menyentuh bahuku membawaku masuk ke dalam ruang ICU.
“Kami akan terus melakukan yang terbaik, tapi tidak untuk menjamin,” ujar Dokter.
“Huh? A, apa maksud anda?”
Dokter menggeleng pelan “Kondisi Hekka saat ini kritis. Serangan mendadak itu membuat keadaan jantungnya semakin lemah. Sedangkan sebagai tenaga kesehatan kami tidak ingin memberi sekadar harap. Kita hanya bisa berdoa,"
DEG!
Penuturan itu, dengan mendengarnya menghancurkan sejuta harapan yang ku punya.
“Ini bohong kan! Aku bahkan belum sempat meminta maaf!” tangis ku pada akhirnya, melangkah menuju bed di tengah ruangan.
Isakan-ku pun tak lagi tertahan menatap tubuh yang terbujur lemah, yang selalu menampilkan senyum cerianya, kini menjadi tak berdaya.
“Jangan bercanda..., Hekka....”
*****
Tujuh tahun silam, tabrakan beruntun di tol Distrik 3 memakan delapan korban nyawa dan tujuh belas korban luka-luka, termasuk di dalamnya anak-anak dan balita.
Kecelakaan maut itu diduga berawal dari pengereman mendadak seorang pengemudi yang mengambil jalur kanan. Nahas, nasib pengemudi tersebut tewas dan satu dari dua orang putranya harus kehilangan kaki akibat terjepit badan mobil.
“Gekka!”
Mendapati suara lembut memanggil, kepala ku tertoleh menyapa kehadiran sosok bermata sayu di ambang pintu.
“Ibu ?” kagetku meninggalkan kursi.
“Kamu sudah makan nak? Wajahmu tampak letih sekali?” khawatir ibu terbalas decak ku.
“Jangan cemaskan aku, bu. Yang lebih penting adalah kenapa ibu datang kesini? Ibu sedang kurang sehat, bagaimana jika suasana rumah sakit berpengaruh?” omel ku.
Namun menanggapinya dengan tersenyum, Ibu menyerahkan buah tangan sebelum melangkah masuk.
“Maaf. Tapi setelah dokter mengabari ibu semalam, pikir ibu, setidaknya ibu harus disini...,Disaat-saat terakhir kakakmu,” jawab ibu menggapai tangan Hekka.
“Kakak mu sangat nakal, bukan? Jantungnya mungkin berusaha terus berdetak untuk kita..., Karena dia tidak ingin membuat kita bersedih, dia jadi terus memaksakan diri, hiks..., Ta-tapi sudah cukup!" ibu memutar haluan tubuhnya menghadapku
"Gekka, kali ini ibu hanya berharap kakak mu bisa beristirahat dengan tenang dan terlepas dari semua beban yang ditanggungnya, dia sudah lama tersiksa....” tutur Ibu. Pemandangan berlinang air mata itu pun membuatku menggertak.
"Aku tahu!" batin ku.
Mengingat betapa bodohnya sekuat apa pun diri ini menyangkal, kenyataan bahwa si antagonis yang menyiksa kehidupan Hekka sebelumnya adalah aku.
“Bu, tolong jangan menangis. Akan kuminta mbok Santi datang kesini. Aku akan keluar sebentar.”
*****
Tap tap tap.
Melangkah menyusuri taman rumah sakit, ku ingat kala itu langit berwarna jingga ketika Hekka berusaha meyakinkanku bahwa gadis pembawa seikat bunga hadir ditempat kejadian berdarah.
“Hiks! Gekka, aku tak berbohong...., Aku melihat di sepanjang jalan ada banyak bunga merah! Aku bahkan terkejut dia melintas tiba-tiba karena itu- Gekka percayalah! A-aku hanya tak ingin ayah menabraknya. Sungguh aku tak bermaksud membuat ayah kita tiada, hiks! Aku juga..., Tak menginginkan nasib ini terjadi pada kita...." dengan suara gemetar dan kelopak mata basah. Saat itu tangannya menggapai ku. Namun yang ku lakukan justru.
“Omong kosong! Beraninya seorang pengidap skizofrenia yang tidak bisa membedakan nyata dan khayal sepertimu! Ingin aku mempercayai omong kosongnya!? ..., Pergi kau pembunuh! Kau bukan lagi kakak ku Hekka!!”
..., Yeah.
Begitulah sikap ku dan kini ku sesali semua itu. Terlebih setelah bertahun-tahun mengabaikan Hekka, bahkan menyalahkannya sebagai penyebab kematian ayah, baru sekarang kusadari dia tidak pernah mengeluh atau kembali membela diri.
Hekka seolah menerima semua tuduhan itu dan aku tidak mengerti! Kenapa??
Kenapa seakan begitu mudahnya Hekka menerima semua kebencian ini? Pa-padahal karena ku, dia harus menanggung beban rasa bersalah dengan kondisi jantung lemah, dan anatomi tubuh cacat setelah kecelakaan.
“Hekka....” lantas, menadah tangan penuh harap, hembusan angin menerpa dedaunan di atas bangku taman yang ku-duduki. Mata ku pun mengerjap enggan melihat helainya yang jatuh oleh satu terpaan.
.....
BRAKK!
"Huh? Hiks..., H-Huaaaa!"
"Ehhh? Gekka!"
"Sh-sakit kakk~"
"Ahh haha, sakit ya? Mau sudahan saja main lompat tali nya?"
Mengangguk.
"Hm. Gekka selalu mudah menyerah ya?"
"Hiks- uh?"
"Yea, padahal Gekka bisa menggenggam tanganku dan melompat lagi bersamaku, jadi saat kita terjatuh, kita akan tertawa dan saling membantu..., Kita takkan gugur hanya karena satu kesalahan, bukan? Hehe~"
.....
DEG!
Sadar jika menyerah membuat ku sama dengan dedaunan gugur seperti yang Hekka katakan dulu. Aku tidak ingin seperti mereka!
“Itu benar. Aku tahu pasti ada yang bisa ku lakukan?! Apa pun agar Hekka selamat! Aku akan mendonorkan jantungku untuknya!” ujarku tiba tiba, suasana ditaman membias.
NGING !
"Ukhh!"
Reflek menutup rapat telinga, dengungan yang menyakiti Indra pendengaran itu seolah menjadi pembuka alam dunia berbeda.
“Apa yang terjadi?!” bingungku sadar bukan mata yang bermasalah, tapi dapat kulihat perubahan gradasi warna pada setiap benda disekitar.
Apa apaan ini? Mengapa pepohonan, bangku taman, gedung rumah sakit, bahkan langit yang semula berwarna mulai mengabu?
“Mustahil! Semua warna lenyap kecuali hitam dan putih?! A, apa yang terjadi? Kemana semua orang pergi?!”
Alhasil menyusuri taman dengan hati gelisah, kepanikan ku membuncah kala tak satupun kehidupan dapatku rasa. Akupun terpikir pada mereka, tentang Hekka dan Ibu yang masih berada di gedung rumah sakit.
“Kumohon! Semoga tak terjadi sesuatu disana! ” panikku lantas berlari mencari jalan keluar. Namun seperti memasuki labirin, tiap langkah yang kutempuh justru menyesatkan ku dalam kegelapan tak berujung dan teka-teki penuh bunga berwarna merah.
“Eh?!”
Ke, kenapa baru kusadari selain warna hitam dan putih, terdapat merah darah yang membercak pada setiap bunga?!
A, atau lebih tepatnya sejak kapan mereka ada?!
Glup!
Aku pun memberanikan diri mendekati salah satu bunga yang memiliki bentuk berbeda. Aura bunga itu terasa sangat memukau, hingga rasanya hampir saja membuatku tenggelam dalam keindahannya jika sebuah suara tidak bergema.
Mengatakan.
“Cantik bukan? Bunga berbentuk kaki laba-laba itu?”
“Huh?” reflek menoleh, sepertinya kehadiranku mengundang sambutan si pemilik dimensi aneh ini.
Yeah, aku memang tak mengenalnya, tapi firasat ku mengatakan sosok cantik bergaun merah yang tersenyum dibalik helaian rambut panjang itu, adalah dalang dibalik semua.
“Siapa kau?” tanya ku berusaha menjaga jarak. Namun tak berhenti, kini tangannya terulur memberi seikat bunga padaku.
“Akankah kau juga berkorban? Gekka Dentharaz. Terakhir kita bertemu jantungmu hancur, dan kehabisan darah,”
“Huh?! Apa yang kau bicarakan?!” kurasakan jantungku berdebar semakin cepat. Tawa mistisnya membangunkan buku kudukku hingga tak berdaya.
“Hihi.. Hanya kisah lama tentang seorang anak yang membagi separuh kehidupan jantungnya untukmu. Gekka,”
DEG!
“Hihihi, mengenalnya? Dia bernama Hekka, salah satu yang di berkati kemampuan magis, yang telah meminta bantuan ku membagi satu kehidupan di dua tubuh. Hal yang mustahil.”
“EH?!”
Belum sempat ku pahami kalimat itu, perubahan gradasi warna lagi-lagi membawa ku pergi. Gadis itu akhirnya menempatkan kami pada insiden kecelakaan yang menghilangkan nyawa ayah tujuh tahun silam.
“ARGH !” bersamaan dengan kepindahan tersebut kepalaku terasa sakit.
Sungguh! Kenapa harus kembali aku saksikan?! Geram ku melihat jelas di depan mata, sosok Hekka kecil memaksa ayah menginjak rem karena fantasinya.
BRAK!
Inilah kecelakaan yang sama, di hari dimana ayah kami tiada.
Tidak!
Kini air mataku mengalir deras menyaksikan tumpahan darah membasahi aspal. Ayah tewas. Lalu darah ini..
-“Gekka! Gekka bangunlah!”-
Gek- huh?!
Bagai Sambaran petir, tubuh ku membatu menyaksikan diriku dimasa lalu tergeletak dengan simbahan darah.
Itu.. Aku?
-"Hiks! GEKKA!!"-
Terpangku ditangan Hekka yang bahkan kakinya hancur, dan masih saja mengkhawatirkanku?!
-“Ka, kakak bunga merah! Kumohon..., Hiks! Selamatkan Gekka! Hentikan perdarahannya, hiks! Gu-gunakan aku untuk menyelamatkan nya !!”-
Mataku terbelalak
“He, hekka?” Ini bohong kan?!
Itulah yang kuharapkan namun, seperti yang Hekka katakan bahwa gadis pembawa seikat bunga hadir di lokasi kecelakaan. Kini aku tahu sosok tersebut ialah gadis yang beberapa waktu lalu kutemui.
“Jadi, Hekka meminta mu membagi kehidupan jantungnya untuk ku?” tangis ku pecah menyaksikan jajaran bunga merah bertebaran di sepanjang jalan tol. Mereka berakhir didekat jasad Ayah.
"Kenapa?!! Hiks! Kenapa kau lakukan ini pada kami?! Kau membuat ayah kami tiada dan masih menyengsarakan hidup Hekka dengan menurutu permintaannya?! ..., SIAPA KAU?!"
Gadis itu menatapku lirih.
"Higanbana"
"Huh?!"
".... Ketika melihat seseorang untuk terakhir kali, bunga Higanbana akan bermekaran di sepanjang jalan..., Hekka adalah anak istimewa yang dapat melihatnya, dan aku...," dia menggantung kalimatnya beberapa saat.
"Aku hanyalah pembawa pesan itu. Keinginan kuat Hekka lah yang menyelamatkan mu,” ujar sang gadis bergaun merah yang berdiri di sebelah ku. Air mataku lants berhenti mendengar penuturan itu.
"Jadi selama ini Hekka berkata jujur...," tuturku kembali menatapnya.
“Hei..” lantas menghadap langsung pada gadis itu, tanganku terangkat meraih seikat bunga yang sejak tadi dia genggam.
“Jantung ini..., bisakah kau kembalikan pada pemiliknya?” tanya ku mengukir cengiran khas, berharap bisa membalas kebaikan Hekka dan menebus semua rasa bersalahku padanya.
Gadis itu pun menjawab.
“Tentu. Tapi itu bergantung pada seberapa tulus dirimu. Seberapa kuat keinginanmu. Dan niatmu..., Tidak ada yang menjamin keselamatan mu, termasuk aku,” jelasnya, meneguhkan bulat tekad ku.
"Tentu. Ini miliknya. Aku hanya ingin mengembalikan nya"
*****
Kamis, 28 Mei 2005, pukul 7, di ruang rawat Rumah Sakit Distrik 3.
Kenyataan.
Kini berubah ketika aku terbangun dengan kaki teramputasi, dan bahagia melihat sosok yang pernah menyelamatkan hidup ku, rupanya berdiri bugar menatap keluar jendela kamar rawat.
“Kak..., Hekka.”
TAMAT.