"Happy birthday sayang.." ucap Diska sambil memeluk erat Vino dari belakang. Lalu Vino membalikkan badan kemudian mengusap-usap kepala Diska sambil berkata, "Duh..pacarku nih perhatian banget sih, aku aja lupa lho kalau hari ini ultah." Diska merasa senang mendengar pujian dari kekasihnya, ia kemudian menyerahkan kue dengan dua lilin berbentuk angka 2 dan 3 yang sudah siap untuk ditiup. Vino tersenyum manis pada Diska kemudian memanjat harapan lalu meniup lilin yang ada dihadapannya itu.
"Makasih ya sayang...kamu yang terbaik," ujar Vino.
"Terbaik dari mantan-mantan mu?" Balas Diska meledek.
"Terburuk deh kalo ini." Ucap Vino datar.
Lalu Vino menyuruhnya diam, ia memotong kue itu lalu diberikannya pada Diska. Diska pun langsung melahap sepotong kue yang ada di hadapannya,
"Hm..rasa kue nya makin enak tau," ujar Diska.
"Kok bisa?" Tanya Vino.
"Soalnya...disuapin kamu." Jawab Diska malu.
"Duh, makin pinter aja ngegombal," Balas Vino.
"Hehe.." Tawa kecil Diska.
"Karena hari ini spesial buat aku, aku bakal traktir kamu sepuasnya..dan juga seharian ini waktu aku full buat kamu." Lanjut Vino sambil menatap kedua mata Diska serius.
Diska tersipu malu, tentu saja Diska tak ingin melewatkan kesempatan itu. Kapan lagi ia mendapatkan waktu seharian bersama sang kekasih, kebetulan hari itu hari minggu.
Diska adalah seorang gadis berusia lebih muda 2 tahun dari sang kekasih, Vino. Diska anak yang murah senyum, pandai, tidak suka menyimpan dendam. Oleh karena itu ia memiliki banyak sekali teman, apalagi ditambah parasnya yang cantik. Tubuh langsing dan tinggi, berkulit putih, berambut panjang dan lurus menambah kesempurnaanya. Hubungan Diska dan Vino telah terjalin selama 3 tahun, tidak pernah ada masalah diantara keduanya. Semua berjalan baik-baik saja karena rasa percaya Diska terhadap Vino sangat tinggi, ia yakin bahwa Vino tak pernah membohonginya dan serius menjalin hubungan dengannya.
Diska berusaha menjaga hubungannya dengan Vino karena baginya, Vino adalah sosok yang sempurna tinggi, tampan, kaya namun rendah diri dan yang terpenting mampu membuat Diska selalu merasa bahagia ketika bersama dengannya.
Kembali ke awal, Vino meraih tangan Diska dan membawanya pergi menggunakan mini cooper berwarna merah miliknya. Diperjalanan,
"Sayang..kita mau kemana sih?" Tanya Diska penasaran.
"Ke tempat yang pasti bikin kamu happy." Jawab Vino sambil tersenyum.
"Em..ini kan masih jam 11, gimana kalau kita ke taman bermain aja?!" Ucap Diska dengan senang.
"Siap bos." Canda Vino
Mereka pun bergegas menuju taman hiburan yang sangat populer bagi para remaja. Banyak wahana menyenangkan maupun menegangkan yang bisa dimainkan, tempat itu sangat cocok bagi para pengunjung yang sedang dimabuk asmara seperti Diska dan Vino. Tak butuh waktu lama mereka pun tiba di tempat tujuan, Vino pun mengantri tiket lalu masuk ke tempat itu.
"Wah..bener-bener keren banget disini," ucap Diska sambil melihat-lihat sekitar.
"Emang kamu belum pernah kesini sebelumnya?" Tanya Vino.
"Belum hehe.." jawab Diska.
Vino tersenyum lalu menggandeng tangan Diska, wahana pertama yang mereka tuju adalah roller coaster. Disana mereka mengabiskan waktu menaiki wahana ontang-anting yang katanya jika ingin naik sebaiknya jangan menggunakan rok mini, masuk ke istana balon yang full dengan balon, rumah hantu yang tidak seram karena mereka malah menggoda hantu-hantu disana, makan romantis di resto, mengabadikan momen bersama. Tanpa disadari hari menjelang sore, mereka memutuskan menaiki biang lala sebagai wahana terakhir.
"Sayang, aku seneng banget hari ini. Jujur aku nggak pernah sebahagia ini sebelumnya, aku.." belum selesai Diska berbicara,
"Bilang itu nya nanti aja kalau kita sudah ada di paling atas, tau gak..kalau bilang itu waktu kita ada di posisi paling atas cinta kita nggak akan terpisah selamanya." Sahut Vino.
Vino kemudian merangkul pundak Diska, Diska pun menyandarkan kepalanya di bahu Vino dengan nyaman. Dalam hati Diska ia berharap selamanya akan bersama Vino, berharap Vino menjadi cintanya yang terakhir menemani dalam suka duka dan menua bersama.
"Lihat deh, tinggi banget gilak," seru Diska.
"Iyah.." balas Vino sambil menatap pemandangan dari luar kaca.
"Oke..karena kita udah di paling atas aku lanjutin yang tadi, aku gak pernah sebahagia ini sebelumnya..cuma kamu satu-satunya orang yang mampu buat aku ngelupain semua masalahku ketika kita bersama. I love you." Ucap Diska mengungkapkan isi hatinya.
"Love you too." Balas Vino yang kemudian mencium kening Diska dengan lembut.
Sayangnya hari mulai petang waktu kebersamaan mereka segera berakhir, Vino harus mengantar Diska pulang karena ayah Diska tak memperkenankan anak gadisnya pulang diatas jam 8 malam. Selain itu besok adalah hari senin, Vino harus bangun pagi untuk bekerja, begitupun dengan Diska ditambah jarak taman hiburan dengan rumah Diska cukup jauh.
Sesampainya dirumah Diska,
"Makasih ya buat hari ini..muach." ucapan terima kasih dan cium jauh dari Diska yang sudah berada di depan pagar rumahnya.
Vino membalas ucapan itu dengan senyumnya yang menawan lalu menaikkan kaca mobilnya dan perlahan pergi meninggalkan Diska. Diska pun berlari masuk ke rumah, ia sangat senang Vino mau menghabiskan waktu bersamanya untuk pertama kalinya. Karena biasanya jadwal Vino sangat padat, hampir tidak ada waktu luang bahkan di hari minggu. Vino bekerja sebagai manager di perusahaan milik ayahnya, selain itu ia juga berprofesi sebagai dj di hari sabtu dan minggu. Sejak sekolah menengah Vino mulai tertarik menjadi seorang dj, namun keluarganya tak setuju dengan hal itu. Maka itu Vino memutuskan belajar diam-diam, ia mau bekerja sesuai permintaan ayahnya agar hobi nya yang satu itu tidak diketahui keluarganya.
Di dalam kamar Diska, ia menjerit bahagia.
Katanya, "Ini nih yang bikin semangat hidup, tapi...dia kapan yah mau ngelamar aku?, Udah 3 tahun kita pacaran, masa dia gak mau serius sih."
Namun Diska menghentikan pemikirannya itu, ia tak ingin berprasangka buruk pada kekasihnya. Akhirnya Diska memutuskan untuk pergi ke pulau kapuk (tidur). Esok hari Diska bekerja seperti biasa di cafe milik ibunya, Diska di serahkan tugas untuk mengelola cafe itu oleh ibunya.
Sepulang kerja Diska menerima pesan masuk dari Vino yang bertuliskan mengundang Diska untuk hadir di pesta perayaan ulang tahun Vino malam ini. Pesta itu di selenggarakan oleh kedua orang tua Vino, Diska pun langsung cepat-cepat membeli hadiah di pusat perbelanjaan terdekat, tak perlu lama Diska langsung memutuskan untuk membeli jam tangan sebagai hadiah untuk sang pujaan hati, di tulisnya kartu ucapan, "Happy birthday sekali lagi, aku beli jam tangan ini buat kamu, biar kamu selalu ingat waktu dan ingat aku, love you~Diska." Lalu dibungkuslah jam itu dengan indah. Diska segera pulang untuk bersiap menghadiri acara Vino, waktu Diska sungguh tidak banyak. Acara itu dimulai pukul 8 malam, sedangkan sekarang waktu menunjukan pukul 07.00 malam, Diska berganti pakaian dan make up telah menghabiskan waktu setengah jam, ia pun berlari dengan high hills dari kamarnya menuju mobil sedan berwarna putih miliknya, Diska takut terlambat dan mengecewakan Vino.
Di perjalanan awalnya sangat lancar, tetapi ketika hampir tiba, Diska mengalami masalah karena terjadi kemacetan akibat kebakaran sebuah gedung, Diska begitu panik karena tak bisa keluar dari kemacetan, mana waktu yang tersisa hanyalah 15 menit. Diska pun memutuskan keluar dari mobil dan berlari menuju rumah Vino, ia telah mengutus orang suruhannya untuk mengurus mobilnya.
Diska sudah tak peduli dengan penampilan yang berantakan dan keringat bercucuran merusak make up nya, karena yang ia pentingkan saat ini adalah sampai di tempat tujuan dengan tepat waktu. Dengan napas terpatah-patah akhirnya Diska sampai di tujuan, namun sayangnya acara telah berlangsung selama 10 menit. Sebelum masuk ke acara, Diska merapikan penampilannya terlebih dahulu sambil mengatur napas.
Perlahan Diska berjalan memasuki rumah Vino, ketika Diska sudah hadir, acara bertepatan dengan sesi potong kue.
"Ya..ini dia sesi potong kue, dipersilahkan Vino buat potong kuenya dan kasi suapan pertama ke orang yang paling lo cinta." Seru pembawa acara.
"Ya, kue pertama tentunya buat kedua orang tua gw, dan kue kedua buat orang yang paling gw cinta." Ucap Vino.
Diska menunduk sambil tersenyum, dalam hati ia berkata, "Pasti aku orangnya, duh aku gak siap tampil di hadapan banyak orang.."
"Dan...orang itu adalah...cewek paling cantik dan manis yang pernah gw temui, dia selalu ngerti apa yang gw mau, dia selalu berhasil bikin hidup gw terasa berarti, dan dia ada di sini berdiri dengan gaun warna merah di depan meja, disebelah cewek berbaju putih." Lanjut Vino.
Seketika hati Diska berdetak sangat kencang, "Gaun merah? Tapi...miliku biru, siapa yang dia maksud? Ke..kenapa?" Ucap Diska sambil menatap ke arah Vino dari kejauhan.
Berjalanlah seorang gadis menggunakan gaun merah dengan anggun menghampiri Vino sambil menebar senyum manisnya.
"Iya ini dia Vera, tunangan gw." Sambil tersenyum pada gadis itu Vino berkata demikian.
Seluruh orang yang hadir pun menyoraki mereka, sedangkan Diska ternganga terheran-heran dengan kejadian saat ini. Diska sangat terkejut hingga tak mampu berkata-kata, ia hanya terdiam dalam lamunnya ditengah keramaian. Diska merasa ini semua seakan mimpi, mimpi buruk. Diska berjalan menepi dari keramaian, duduk di sudut ruangan sambil menatap kado yang dibawanya.
"Oke, itu aja silahkan kalian have fun tonight." Lanjut Vino yang menggandeng tangan tunangannya.
Semua orang terlihat sangat menikmati pesta ini, termasuk Vino, ia menari dengan tunangannya bersama pasangan lainnya di temani alunan musik dj. Sedangkan Diska, ia merasa sepi ditengah hingar-bingar pesta. Diska merasa patah hati yang luar biasa sakit, ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kemarin Diska dibuat merasa seakan-akan Vino adalah miliknya namun di kemudian hari, Diska malah dibuat merasa seakan dirinya tak pernah ada di kehidupan Vino.
Di kepala Diska masih terngiang-ngiang pertanyaan kenapa? Kapan? Bagaimana bisa? Siapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Tunangan?, "Jika memang dia adalah kebahagiaan mu aku tak apa Vino..tapi, setidaknya beritahu aku kebenarannya. Kenapa kamu malah membuatku semakin nyaman, dan terjebak dalam cintamu yang palsu ini." Ucap Diska dalam hati.
Diska masih menatap dua orang yang sedang menari itu lalu perlahan menghampirinya, melihat Diska datang mengampirinya Vino langsung menghentikan gerakannya dan mengerutkan dahi kemudian berkata, "Di..Diska! Kamu datang?! Aku kira kamu gak sempat hadir lho..kamu barusan datang kan?!" Diska tersenyum manis pada Vino, "Bahagia untukmu!" Sambil menyerahkan kado yang dibawanya tadi, namun ia menyobek kartu ucapan yang tertempel pada bungkus kado.
"Oh, iya makasih ya sayang, ngomong-ngomong kenalin ini.." lanjut Vino
Namun belum selesai berbicara, Diska langsung menyahut, "Tunangan kamu."
"Hai..kenalin aku Vera, kamu sepupunya Vino kan?" sambil menjulurkan tangan Vera tersenyum manis pada Diska.
Vera sepertinya tidak mengetahui hubungannya dengan Vino selama ini, malah mengira bahwa aku adalah sepupu dari Vino. Pantas saja Vera tidak marah ketika Vino memanggil ku sayang, Vino tak bisa berkata-kata lagi karena Diska telah mengetahui bahwa Vera tunangannya, Vino terdiam seribu bahasa namun tatapannya seakan ingin mengajak Diska bicara empat mata. Namun Diska malah pamit pulang duluan sebelum pesta berakhir, perlahan ia berjalan pergi meninggalkan Vino, Vino masih menatap sosok Diska dari belakang perlahan menghilang dari pandangannya sambil melamun.
~~~~~~~~~~
Vino mungkin kamu melihatku berdiri tegap, tapi sebenarnya aku sekarat. Hatiku telah berubah menjadi sedingin batu usai menghadiri pestamu. Kamu menari dengannya..ketika aku menatap ponselku, mungkin jika aku tidak menangis tapi aku tidak ingin merasakannya lagi. Sayang....Tuhan tahu aku berusaha bahagia untukmu. Sekalipun jika aku tidak bisa mengerti, aku akan menahan rasa sakit ini, tapi tolong beri aku kebenarannya. Aku dan hatiku akan menerimanya, jika kebahagiamu adalah dia, maka aku akan bahagia untukmu.
Tulis Diska di buku harian berwarna pink miliknya sambil menangis malam itu, namun kehidupan harus terus berjalan. Vino tak pernah lagi menemui Diska sejak hari itu, begitu juga dengan Diska. Diska memutuskan menyetujui keinginan papa nya untuk berkuliah di Amerika, mungkin dengan begitu ia akan dengan mudah mengubur kenangannya hidup-hidup. Diska berjanji pada dirinya untuk fokus pada karir nya, menjadi sukses dan membanggakan kedua orang tuanya, ia tak akan berfikir tentang cinta lagi. Karena Diska juga telah menyetujui pernikahan yang dipilihkan oleh keluarganya demi bisnis setelah ia selesai kuliah.