Aku dihamili kakakku. Orang tua kami belum mengetahui hal ini, tapi kami sudah membayangkan apa yang orang tua kami lakukan ketika ketahuan. Namaku Aisyah, masih kelas 2 SMA dan untungnya kandunganku baru berumur 2,5 bulan jadi hanya terlihat gendut saja. Jika dikata gemuk oleh teman-teman tidak masalah selama tidak dikata hamil.
Kakakku bernana Ismael seorang PNS dan umurnya 29 tahun. Kami memang dekat sampai kedekatan kami terlalu intim dan berakhir ke hubungan yang tidak dapat dibayangkan oleh semua orang. Kakak sudah berjanji jika kami ketahuan maka kakak akan sepenuhnya bertanggung jawab dan dia tidak ingin anak dalam perut ini digugurkan. Dia mengatakan bahwa bayi dalam rahim ini tidak salah, yang salah adalah kita berdua.
"Tersenyum dikit, masam mulu," ucap Kakak ketika berada di dapur.
"Sudah 2,5 bulan. Perut ini tidak bisa disembunyikan selamanya."
"Kamu juga jangan terus mengelus perutmu kalo di ruang tamu. Ketahuan banget kalau hamil," balasnya.
Orang tua kami sedang keluar dan kami sedang memasak makanan. Kakak membuatkanku bubur dan aku membuatkan kakak makanan kesukaannya yaitu Nasi Goreng.
Jika dilihat orang luar dan orang tua sendiri, kami terlihat memang seperti kakak adik yang akur. Tapi mereka tidak tahu kami berdua sudah melebihi hubungan yang seharusnya.
***
Tamparan keras melayang ke wajah kakak. Wajah ayah memerah dan semua urat seperti ingin meledak di kepalanya. Ibu hanya menangis dan melantunkan ayat-ayat yang meminta ampun kepada tuhan.
"GOBLOK!," Teriak ayah penuh emosi.
Kakak langsung bersujud dan meminta maaf sambil menangis. Seluruh badannya gemetaran dan hampir tidak dapat mengeluarkan suaranya. Aku ikut bersujud dan meminta kepada ayah untuk tidak mengugurkan anak dalam kandungan ku.
"Kalian sama seperti firaun. Anak itu akan cacat, tidak akan berumur panjang. Kalian benar, anak itu tidak salah. Kalian yang berdosa atas kemalangan anak itu nanti."
Ibu beranjak dari ruang tamu sambil menangis. Ayah tetap di ruang tamu dan duduk di sofa. Kakak masih gemetaran dan tidak dapat bergerak. Di sini, kami berdua yang salah karena melewati batas.
"Pergi dari rumah. Aisyah berhenti sekolah dan Ismael nikahi dia besok juga. Ayah akan datang sebagai wali kalian tapi setelah itu, ayah tidak peduli lagi dengan kalian."
Kami diusir, ini adalah pengampunan bagi kami.
Ayah beranjak dari ruang tamu lalu menyusul ibu. Aku berusaha membuat kakak berhenti bersujud namun sulit dia membatu tak bergerak. Setelah beberapa menit baru dia bergerak dan memelukku dengan erat sambil meminta maaf.
Aku mengatakannya jika ini salah kita berdua dan siap menghadapinya. Kakak membalas jika dia sangat menyesal telah menggauliku dan dia juga mengatai diri sendiri sebagai bencong karena tidak dapat berkata satu patah kata pun kecuali minta maaf.
***
Kandunganku sudah berumur 9 bulan. 14 hari lagi atau lebih cepat dari tanggalnya aku akan melahirkan. Aku dan Ismael telah menikah lalu tinggal jauh dari rumah ayah dan ibu. Di pernikahan, hanya ayah yang datang sedangkan ibu tidak hadir karena tidak dapat menerima keadaannya.
Setelah ijab kabul, ayah pergi tanpa sepatah kata dan hanya meninggalkan tatapan kecewa. Setelah menikah, Ismael mengundurkan diri sebagai PNS dan menggunakan semua tabungannya untuk membuka toko sembako.
Sayangnya toko sembako gagal dan sekarang dia bekerja sebagai kuli bangunan. Kami tinggal dirumah kontrakan satu kamar yang kecil, aku tidak pernah peduli mau kontrakannya kecil atau besar selama kami dapat makan setiap hari.
"Besok harus ke rumah sakit."
"Pake BPJS, gak ada duit."
"Tau sendiri kan birokrasi BPJS lamanya keterlaluan?".
"Terus gimana? gak ada duit ini! Mau aku mencuri!".
"Ya mikir lah! Kerja apa kek selain kuli!".
"Kau kira cari kerja mudah?! Kau saja yang kerja!".
Aku melempar piring makan ku. "Perut ini udah besar dan siap borojol. Kalo perut kecil, udah aku cari kerja cari duit!".
Semenjak toko sembako gagal dan dia bekerja jadi kuli bangunan, Ismael mulai kasar dan suka memukulku. Aku mengerti terkadang aku yang kasar kepadanya, namun harusnya dia mengerti jika aku sedang hamil dan dapat menahan amarahnya.
Pada akhirnya aku ke rumah sakit dengan menjual anting emas ku. Anting itu adalah harta terakhir ku, tidak ada lagi kuningan di tubuhku.
Tidak dapat seorang pun yang bisa aku andalkan ketika melahirkan nanti. Aku tidak berani menelpon ayah atau ibu.
***
Aku telah melahirkan, tanpa siapa pun yang menemaniku. Dokter dan suster berusaha menghubungi Ismael namun telponnya tidak diangkat. Anakku lahir dengan selamat, tentu saja dengan kecacatan. Kepalanya melonjong dan telinganya besar, mirip seperti alien-alien di film layar lebar.
Aku tetap bersyukur dia lahir dengan selamat. Selamat datang di dunia yang kejam ini, bintang kecilku, Gegana.
Sampai aku keluar dari rumah sakit, Ismael tidak datang ke rumah sakit. Sesampainya aku pulang ke rumah, semua barang ludes kecuali beberapa pakaianku. Ada secarik kertas di lantai dan berisikan
[Aku pergi.]
Aku terduduk di lantai dan memeluk satu-satunya cahayaku. Aku menangis kencang dan menyesali perbuatan bodohku. Semalaman aku menangis, sampai tertidur bahkan bermimpi pun aku menangis. Aku sudah berada di jalan buntu, tidak ada lagi jalan yang harus aku pilih.
Saat aku terbangun, Gegana masih tertidur dengan nyenyaknya. Aku sedikit lega melihat wajah bintang kecilku itu, aku sedikit bisa senang.
Aku mencengkeram kertas pesan dari laki-laki sialan itu. Aku hanya tertawa karena menganggap dia memang seorang bencong, hanya bisa lari dari masalah.
***
"Gegana!! Jangan lari-lari!".
Gegana sudah berumur 5 tahun. Dia seperti anak-anak yang lain dengan wajah yang menyeramkan di mata orang lain. Bagiku, wajahnya, adalah bintang dan pelangi dalam hidupku yang begitu gelap.
"Mah! Mah! Mah!".
Dia hanya mengucapkan kata "Mah" saja selama ini. Aku bisa menyimpulkan bahwa dia bisu tapi untungnya dia tidak tuli. Gegana anak yang pintar, dia dapat mengerti apa pun yang aku katakan dan dia anak yang sangat penurut.
"Neng, pelanggan datang," ucap bunda Nene.
"Iya bun. Bentar lagi."
Aku mencium kening Gegana sebelum kembali bekerja. "Gana, ibu kerja dulu ya."
"Mah!".
Aku menitipkan Gegana ke rekan kerjaku dan mulai menyambut pelanggan.
Aku menjual diriku semenjak laki-laki sialan itu pergi. Bunda Nene memungutku dan membantuku selama ini. Dia juga prihantin dengan kondisiku dan dia sayang pula kepada Gegana. Terkadang di hari libur, Bunda Nene membawaku bersama Gegana dan pekerja yang lain untuk liburan ke pantai atau ke taman. Terkadang pula dia membelikan Gegana mainan walaupun Gegana tidak mengerti cara memainkannya.
"Halo saya Aisyah—".
"Tidak menyangka dapat bertemu disini."
Pelayanku malam ini ternyata laki-laki sialan itu, Ismael.
Aku beranjak dari kasur dan memasang kembali gaunku. Aku mendekati laci dekat kasur yang dimana di laci itu ada belati.
"Gimana anak kita—".
"Anak kita? Dia bukan anakmu. Apa kontribusi mu?".
"Kontribusi?! Aku bekerja siang malam buat dirimu! Lonte sialan, jangan sok kamu!".
Aku mengambil belati dan mengarahkannya kepada Ismael.
"Coba aja maju lagi!".
Dia mundur beberapa langkah. "Ayolah, jangan seperti ini."
"Kau yang meninggalkan ku. Semua barangku kau jual!".
"Tidak ada pilihan, itu buat bayar lahiranmu!," balasnya.
"Biji matamu! Aku yang bayar semua lahiran!!".
Bunda Nene masuk ke kamar setelah mendengar teriakanku. Dia terkejut melihatku yang memegang belati.
"Neng, kenapa neng?," Tanya bunda Nene.
"Bunda dia laki-laki sialan itu! Aku gak mau liat dia, usir dia!".
Bunda Nene segera memanggil beberapa penjaga dan membawa laki-laki sialan itu keluar. Dia bersumpah serapah dan menghinaku dengan kata-kata tak bermoral. Bunda Nene berusaha menenangkan ku dan dia memint maaf kafena tidak memeriksa nama pelanggan.
Aku sedikit tenang dan aku baru sadar tanganku sedikit terluka karena terkena goresan belati.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang begitu keras lalu diiringi teriakan yang begitu kencang sampai memekakkan telinga.
Aku dan Bunda Nene mendatangi arah suara.
Aku melihat darah mengalir dari Gegana. Di depan Gegana, ada laki-laki sialan itu dengan senjata api. Penjaga dengan cepat menahan kedua tangan laki-laki itu memukulnya sampai pingsan.
Semua orang menggerakkan Gegana yang tergeletak di lantai. Aku hanya terdiam.
Aku terduduk. Aku merangkang ke arah Gegana.
"Gana? Gana? Gana?".
Gegana tidak menjawab. Aku tidak mendengar suara "Mah!" yang imut itu dari mulutnya. Aku ingin sekali mendengar suara imutnya itu memanggilku "Mah!".
"Cepat panggil polisi!".
"Aisyah?! Aisyah?!".
Suara mulai tidak terdengar, yang aku dengar hanya suara Gegana kecilku memanggilku "Mah!".
Itu bukan suara dari mulut Gegana kecilku, itu hanya suara yang muncul dari kepalaku. Aku sadar dan memegang tubuh Gegana yang sudah dingin.
Aku melihat sekitar dan Bunda Nene wajahnya panik melihatku.
"Gana? Gegana... Anakku sayang. Gegana diantara pelangi dan bintangku."
Aku tidak bisa memikirkan hal lain kecuali Gegana.
"Geganaku kembali menjadi kelabu. Geganaku, anakku, sayang."