Jalan-jalan berlalu lalang begitu pula dengan angin yang berbisik seolah mereka ingin bersanding, gemercik daun yang berisik gemercik mereka riang menyoraki.
Aku pulang ke rumah berjalan menggunakan otak di saat aku harus belajar melihat ketidaktahuan. Pengirim paket berjalan mengantarkan sebuah kabar gembira bagi mereka yang meminta.
Ada pula sebuah kabar yang tak kunjung sembuh. Wanita paruh baya yang terbaring sangat energik melatih lidahnya untuk bersandi wara akan tetapi setelah tiba waktunya semua orang yang bahagia pun usai senyumnya. Kenapa mereka semua tampak seperti hujan?
"Adek.. Yang kuat ya, yang sabar" Pria yang selalu menemani wanita paruh baya itu mengatakan hal yang cukup intens tepat menuju liang kegelapan.
Satu dekade berlalu angin yang yang terasa seperti kemarin itu kembali mencoba mengatakan bahwa akan membawamu tanpa tersesat.
Semuanya tampak sama dari hari ke hari setelah wanita yang berbaring itu hilang lalu pria itu gilirannya, tidak jauh berbeda mereka semua tampak seperti kemarau musim dingin yang gemulai. Namun kenapa musim gugur selalu di sertai hujan?
"Semuanya akan baik-baik saja, sabar dan menjadilah anak yang kuat"
Setiap orang berkata hal yang sama mereka akan terus-menerus hilang entah kemana. Apa aku mempunyai sebuah kekuatan yang tak terbatas untuk bisa menyaksikan itu semua, aku sangatlah kuat- sekuat apapun orang yang menyaksikan mentari di dalam kegelapan.
Setiap kali orang gembira karena candaannya aku mengalami hujan. Ketika mereka hujan aku menyinari dengan kegembiraan.
***