Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun sedang berjalan. Bersenandung dengan ceria nya. Tak lama terdengar suara yang membuat anak itu berhenti. Suara mengeong di lanjut dengan suara tawa anak-anak. Karena penasaran anak itu menghampiri asal suara tersebut.
Badan anak itu bergetar, ia hanya bisa menelan ludah saat melihat segerombolan pemuda sedang menyiksa seekor anak kucing. Walau begitu ia mencoba memberanikan diri untuk menegur mereka. Ia keluar dari tempat persembunyian sambil berkata...
"Jangan ganggu dia!"
Ucap anak itu dengan suara lantang. Mereka tertawa kepada anak itu.
"Memangnya kau mau apa?Heh bocil!Mending lu cuci kaki terus tidur dah tu"
Anak itu hanya diam, ia melindungi kucing malang itu dengan merentangkan tangan nya.
"Minggir lu bocah! Lu kira gw lagi bercanda!?"
Pemuda itu mengepalkan tangan nya, pukulan hampir mendarat di wajah anak kecil namun untung saja ada suara yang membuat nya berhenti. Seorang bapak-bapak menyadari keributan terjadi.
"Woi pergi kalian! Dasar anak-anak kurang ajar, bukan nya belajar malah ganggu anak kecil. Pulang sana!"
Mereka berdecak kesal dan segera pergi meninggalkan sang bapak dan anak kecil. Hampir menangis namun ia tahan. Ia sangat takut bagaimana jadi nya jika tidak ada bapak ini. Padahal ini adalah gang kecil, jarang seseorang lewat sini. Anak itu sangat bersyukur.
"Terima kasih pak sudah membantu saya"
Ucap anak itu sambil membungkuk kan badan nya. Orang tua itu hanya tersenyum sambil mengelus kepala sang anak kecil.
"Nama mu siapa anak muda?"
Tanya sang bapak dengan suara lembut.
"N..nama saya Arjuna pak, panggil saja Arjun"
"Hahaha Arjun ya, nama yang bagus. Nak, kamu memiliki keberanian yang luar biasa di banding anak seusia mu"
Arjuna masih menggendong anak kucing yang kesakitan. Terlihat berbagai luka dan darah keluar dari tubuh mungil nya.
"Saya...tidak sehebat yang bapak kira. Bahkan saya takut dengan darah kucing ini"
Ucap Arjun sambil menunduk malu. Bapak itu hanya tersenyum, ia memeriksa kantung nya dan terdapat kalung dengan permata cantik di dalam nya.
"Nak, berikan tangan mu"
Arjun agak bingung, namun ia menuruti perintah. Pria itu langsung meletakan kalung tersebut di tangan Arjun.
"I..ini, apa maksud nya pak?" *bingung
"Ambilah anak muda, semakin baik hati mu semakin putih juga warna permata di kalung ini. Ambilah"
Arjun tidak mengerti apa yang di maksud. Ia masih fokus ke kalung dengan permata hitam di sana, Arjun kembali melihat sang bapak. Namun tak ada siapa-siapa di depan.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara mengembalikan barang bapak tadi, dia menghilang begitu saja"
Arjuna pun pulang sambil membawa kucing yang ia selamatkan. Para tetangga melihat nya dengan geli, walau ada juga yang penasaran kenapa Arjuna membawa kucing dengan luka yang lumayan parah.
Tak terasa Arjun sudah sampai di rumah nya, walau sederhana dan jauh dari kata mewah namun Arjun bersyukur atas apa yang ia punya.
"Assalamualaikum bu"
Salam Arjun sambil membuka pintu rumah.
"Waalaikum salam, sudah pulang ternya..eh kamu bawa apa Arjun?"
"Ini bu tadi Arjun lihat ada beberapa mas mas, mereka memukul dan menyiksa kucing kecil ini. Intinya Arjun ngak tega jadi Arjun bawa deh"
Sang ibu hanya mengangguk mengerti. Beliau mengambil kucing tersebut dan menaruh nya ke tempat yang hangat. Beralaskan kain dan kardus.
"Nak, tolong ambilkan air ya"
"Iya bu"
Arjun segera melakukan apa yang di perintah ibu nya. Selanjut nya, ibu Arjun membasuhi kain dengan air yang diambil Arjun tadi. Membasuhi luka dan darah dari kucing kecil dengan perlahan dan hati-hati. Ketika sudah bersih beliau memberikan obat dan perban.
"Kita tunggu esok, jika belum ada perubahan kita pergi ke rumah sakit hewan"
Arjun mengangguk mengerti. Ia menutup mata dan berdoa agar kucing kecil cepat sembuh. Namun Arjun tak sadar, bahwa warna permata kalung tersebut berubah menjadi abu-abu.
.
.
.
Besok nya, Arjun melihat kondisi kucing kecil. Walau hanya bisa tiduran dan lemas, namun kucing nampak baik-baik saja. Arjun tersenyum dan mengelus kucing tersebut. Memberikan nya makan dan minum. Lagi-lagi kalung Arjun berubah warna menjadi lebih jernih.
"Ah! Apa aku tidak salah lihat, bukan nya kemarin permata ini berwarna hitam? Kenapa sekarang berbeda?"
Seperti yang orang tua itu bilang, semakin banyak kau berbuat kebajikan semakin jernih pula warna permata. Hari demi Arjun lewati dengan kebaikan yang ia lakukan. Membantu ibu, selalu berkata jujur, dan lain nya. Sampai sudah saat nya dimana warna batu tersebut berubah menjadi putih cermelang. Cantik dan indah membuat Arjun tergoda untuk menjual nya. Namun ia masih ingat bahwa kalung ini bukan milik nya.
Pada suatu ketika, Arjuna duduk di kursi sambil menonton tv. Ia merasa haus namun jarak antara Arjun dan air putih di meja cukup jauh. Arjun iseng-iseng membuat tangan nya seperti menarik meja. Dan...
DRTTTT
"WAH!" *terkejut
Meja ikut tertarik menyesuaikan arah tarikan yang di buat Arjuna. Karena penasaran Arjun mencoba sekali lagi, namun sekarang target nya ialah gelas yang ada di meja tersebut. Dan benar saja! Gelas melayang sampai ke tangan Arjun. Takjub sekaligus tak percaya.
"Bagaimana...bisa?T..tidak mungkin, hahaha tidak mungkin. Masa iya ada gravitasi seperti itu, jangan bilang aku bisa terbang, hahaha"
Belum juga Arjun mengatakan nya, Arjun merasa dirinya terangkat oleh sesuatu. Ternyata benar, kini Arjun seperti terbang di langit. Kucing yang sedari tadi mengeong khawatir kepada tuan nya.
"Tidak! Bagaimana aku turun, ayo tenanglah Arjun hufttt coba konsentrasi dan bayangkan kau turun dengan perlahan"
Arjun menutup mata dan berkonsentrasi. Ia turun dan turun dengan perlahan. Sampai kaki menginjak tanah, Arjun membuka mata nya. Kaki nya lemas sampai-sampai Arjun terjatuh. Keringat di mana-mana.
"Sebenarnya ada apa dengan ku?"
Tak lama muncul sponsor di tv. Terlihat pria mengenakan topeng dengan gagah berani. Menyelamatkan orang dengan kekuatan nya. Arjuna sedari tadi fokus ke sponsor itu. Arjuna berpikir apakah bisa ia melakukan sesuatu seperti yang di lakukan super hero tadi.
"Bul, apa aku bisa jadi super hero ya?"
Tanya Arjuna kepada kucing yang ia beri nama Gembul.
"Meooww"
Gembul hanya bisa mengelus badan nya ke kaki Arjuna. Anak itu tertawa geli.
"Yosh, jadi pahlawan 1 hari kayak nya tidak masalah!"
Arjuna langsung masuk ke kamar. Mencari kostum yang cocok untuk nya. Hanya ada sarung dan jaket, Arjun hanya muram namun tetap memakai nya. Jaket dan celana panjang ia kenakan. Dan sarung untuk menutup wajah nya.
"Malah kayak maling aku ini, dahlah super hero gak modal mending diam saja:v"
Anak itu melihat ke kanan dan ke kiri. Merasa aman karena tidak ada orang ia keluar dari rumah. Terbang dan terbang! Arjun takut jika ia jatuh, namun ke indahan yang dia lihat dari ketinggian membuat ketakutan nya menghilang.
Arjun melihat sekeliling, ia melihat ada seseorang yang kesusahan membawa barang. Tanpa pikir panjang Arjuna memberi kekuatan gravitasi yang membuat barang berat menjadi ringan. Orang itu terkejut, Arjun hanya tertawa kecil melihat tingkah laku nya. Walau begitu, Arjuna sebisa mungkin berusaha untuk tidak terlihat ataupun tidak ketahuan oleh mereka.
Kisah Arjun tidak sampai sini saja, setiap ada seseorang yang kesusahan ia selalu membantu. Bagai pahlawan dalam kesunyian. Tak ada yang menyadari ini semua berkat bantuan Arjuna.
Sampai...terlihat awan sudah mulai gelap. Kelelawar berterbangan ke sana kemari. Tanda malam akan tiba. Arjuna berniat untuk pulang. Namun saat dalam perjalanan ia tidak sengaja melihat ibu nya. Keringat bercucuran sambil membawa barang yang berat. Wajah Arjuna nampak murung. Ia memberi kekuatan ke barang ibu nya dan memberi angin sejuk ke arah beliau. Beliau terkejut sekaligus takjub kenapa barang yang awal nya berat berubah menjadi ringan.
Mereka berdua berjalan berdampingan walau Arjuna jauh dari pandangan ibu. Arjuna sedari tadi terbang perlahan menyesuaikan kecepatan berjalan ibu nya.
"Apa kaki ibu perlu ku kasih ya?"
Pikir Arjuna, kekuatan mengarah ke kaki sang ibu. Seketika badan beliau menjadi ringan! Ia seolah dapat berseluncur dengan cepat.
"Ini aneh, hahaha jika aku memberi tahu ke Arjuna mungkin anak itu tidak akan percaya"
Arjuna yang mendengar ucapan ibu hanya diam membisu.
Sesampainya di rumah, kekuatan Arjun menghilang seperti lenyap begitu saja. Bahkan Arjuna yang sedari tadi terbang kini terjatuh. Mendarat tepat di atas pohon mangga depan rumah nya.
SRAAKK!! BUKK!
Ibu Arjuna terkejut dan menengok sumber suara. Terlihat Arjuna yang nyangkut di atas pohon dengan wajah kesal.
"Masyaallah Arjun! Kenapa kamu sampai di atas nak!?"
"Lagi nongkrong bu bareng mbak kunkun-_-"
Ibu Arjuna langsung membantu Arjun turun. Sarung nya robek, dan beberapa goresan terlihat di wajah Arjuna.
"Kan sudah ibu bilang kalo main yang sewajar nya🤦"
"Iya bu maaf, oh ya bawaan ibu berat kan? Biar Arjun bantu"
"Eh, ngak us.."
Belum juga melanjutkan kalimat Arjun langsung masuk sambil membawa barang sang ibu. Arjun juga bingung kenapa kekuatan nya menghilang tiba-tiba.
Namun Arjuna sadar akan satu hal, kalung yang ia pakai berbeda dari sebelum nya. Warna permata di kalung itu berubah menjadi hitam kembali bertepatan saat kekuatan nya menghilang. Entah apa maksud nya.
.
.
.
Besok nya sepulang sekolah Arjun berniat mengembalikan kalung tersebut pada pria tua kemarin. Ia melewati gang yang sama ketika ia bertemu dengan para preman dan pria itu. Namun sudah hampir 2 jam menunggu pria tersebut belum datang.
"Haah, apa bapak itu tidak akan kembali lagi ya. Jika 1 jam belum ketemu aku akan pulang, kasian ibu beliau pasti mencemaskan ku"
1 jam pun berlalu, Arjuna masih saja belum melihat pria itu. Karena sudah menunggu lumayan lama, ia hampir menyerah dan pulang ke rumah nya. Sampai ada seseorang yang memanggil nama Arjun. Suara serak tak asing, Arjun segera menengok ke sumber suara.
"Akhirnya!"
Arjun berlari kecil ke arah pria tua tersebut.
"Halo anak muda, sudah lama kita tak jumpa. Kamu mencari ku?"
Arjun mengangguk mengiyakan. Arjuna menceritakan semua pengalaman yang ia alami setelah menerima kalung pemberian pak tua tersebut. Pria itu hanya tertawa sambil mengusap rambut Arjuna sampai berantakan.
"Iya nak, ini bukan kalung biasa seperti yang kau lihat"
"Yang jadi pertanyaan ku kenapa kalung ini berubah menjadi hitam? Kata bapak jika aku berbuat kebaikan maka permata tersebut berubah menjadi putih. Apakah permata ini jadi hitam ketika aku melakukan kejahatan?"
Pria itu hanya tersenyum.
"Jika begitu bapak mau tanya, apakah kamu pernah berbuat kejahatan?"
Arjuna berpikir, namun ia menggelengkan kepala.
"Seingat ku...tidak"
"Hahaha, permata itu seperti baterai anak muda, bukan hanya dosa dan kebajikan yang membuat warna nya berubah namun jika kekuatan yang kamu miliki sudah habis itu juga mempengaruhi permata tersebut"
Pria itu menjiwit pipi Arjun yang membuat dirinya menjerit ke sakitan.
"Aww! Aduh, lupakan yang tadi. Nah pak, ambilah"
Arjuna memberikan kalung nya ke bapak tersebut.
"Kenapa kau memberikan nya kepada bapak?Kamu tidak senang memiliki kekuatan? Apalagi kekuatan terisi setiap kamu berbuat kebajikan, bukannya mudah?"
"Karena ini punya bapak, dan lagi aku berbuat kebaikan bukan hanya memandang ingin mendapatkan kekuatan. Aku juga bersyukur dengan kekuatan yang ku miliki. Walau tak punya kekuatan super bukan berarti aku tidak bisa menjadi pahlawan bukan?"
Jelas Arjuna sambil tersenyum manis. Dengan senang hati dan senyuman, pria tua itu mengambil kembali kalung yang ada di genggaman Arjun.
"Kalo begitu, saya izin pamit pak. Jangan menghilang tiba-tiba lagi lho hahaha"
Ucap Arjuna, ia tertawa dengan ceria. Melambai ke arah sang pria tua sambil berjalan menjauh. Pria itu tersenyum.
"Arjuna, anak berusia 10 tahun menjadi hero sebenarnya. Tidak di buta 'kan oleh kekuasaan dan kekuatan" *tersenyum
.
.
.
Arjuna dalam perjalan pulang, ia berhenti karena suatu hal. Ia melihat banyak sampah berserakan di mana-mana.
"Cih banyak sampah di sini, apa gunanya tong sampah hah!?💢"
Ucap Arjun dengan kesal. Walau bau Arjun berusaha untuk membuang semua sampah dengan tangan kosong. Memisahkan sampah yang bisa di daur ulang dan tidak. Beberapa menit berlalu, semua sampah berhasil di bersihkan oleh Arjuna.
"Nah gini kan enak, percuma jika punya kekuatan tapi ngak punya kesadaran💢"
[TAMAT]
.
.
.
Jangan Lupa Like And Komen