"Selamat berbahagia ya pengantin baru, akhirnya kalian nikah juga setelah sekian lama pacaran, jaga sahabat gue ya Enric, gue tunggu momongannya"
Ujar Doni sahabat keduanya khususnya Evelyn.
"Thanks ya Don, pasti gue jaga istri gue ini, cepet nyusul ya sama Shanty nya, gak ngiri nih sama kita, gue tunggu undangannya" jawab Enric dengan kekehannya sambil merangkul istrinya.
Eve dan Enric kemudian menyalami tamu-tamu yang lainnya satu persatu, tidak terasa waktu cepat berlalu, saat ini sudah jam 9 malam semua tamu sudah pamit dan balik dari acara. kini Hotel tempat mereka membuat acara resepsi pernikahan Enric dan Eve sudah sepi, akan tetapi keluarga besar membuat acara lagi di ballroom Hotel menyambut pernikahan mereka lagi secara terpisah.
"Cieekan kak Enric udah nikah aja.. Udah lama nih kita gak ketemu sekitar 2 tahunan kalo gak salah, dulu sewaktu aku masih disini belom pergi ke Surabaya buat kuliah lagi, kak Enric pernah galau karena kak Evenya marah-marah hahaha..".
Ucap Rina, sepupu Enrico sambil menepuk pundak Enric dan duduk di sebelahnya.
"Diem deh Rin kamu nih buka-buka aja... Jangan bahas lagi yang dulu-dulu gue suka galau mulu deh kayaknya, Yang pentingkan sekarang udah nikah sama doi kan haha," jawab Enric sambil memainkan alisnya turun-naik dan ia kembali mengingat hubungannya dan Eve saat mereka berpacaran.
"Enric sini... Mama, papa dan bundanya Eve mau ngomong sebentar," ucap Marlyn, Mama Enric.
Enrico pun bergabung dengan Mama, Papa dan Bunda Monic, Bundanya Eve. Mereka sekarang sedang berada di sofa Ballroom hotel, tidak lupa Eve yang tadinya bersama dengan saudarinya sekarang sudah bergabung dengan suami tercinta dan duduk bersebelahan.
"Mama mau ngomong, soal Honeymoon kalian, mau honeymoon dimana kalian?," Ucap Marlyn.
"Menurut bunda tidak usah jauh-jauh kalo perlu, menurut bunda sih tapi terserah kalian," disaut oleh Monic.
"Aku sudah memikirkan itu Ma dan Bun, tapi soal tempat biarkan itu menjadi rahasia sementara untuk istriku, biar kejutan, bunda aku akan jaga istriku kok, tenang aja ya".
ucap Enric, dengan tenang dan senyuman yang rupawan.
"Ya jika menurut Enric itu yang terbaik kami semua dukung aja kok".
Jawab Papa Roland, papa Enric.
"Aku dan Eve balik ke kamar ya pah, mah, dan Bun. Sekalian kami ingin menyiapkan keperluan untuk honeymoon, kami akan berangkat besok pagi".
Enric dan Eve menuju kamar President room untuk tidur, mereka hanya tidur, mereka sepakat tidak melakukan kewajiban itu dulu, mereka sepakat melakukan "itu" nanti saat honeymoon.
****
"Sayang bangun dulu yuk, pagi ini kita berangkat honeymoon kan, kata kamu kita berangkat pagi, ayo dong bangun..".
ucap Eve sambil mengoyangkan tubuh Enric tidak lupa ia memberikan ciuman selamat pagi di pipi, dahi dan bibir suaminya.
"Iya aku udah bangun nih, ayo mandi bareng biar cepet,"
Hmmm.. Enric menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ettttsss... Aku udah mandi, mandi sendiri sana. Jangan manja ah.. Mentang-mentang aku udah istri kamu, terus aku harus mandi bareng gitu? Ih genit,"
Eve mencubit pinggang Enric sehingga Enric mengeluh dan mengelus pinggang yang terasa sakit akibat cubitan sang istri.
"Ih KDRT banget, iya nih bangun. Siapin bajuku ya sweetheart,"
Enric langsung mengambil handuk dan berlalu masuk ke kamar mandi.
"Sayang aku udah taro baju kamu di kasur ya, aku keluar sebentar dipanggil Bunda,"
Eve keluar kamar tergesa-gesa dan menghampiri Bundanya.
"Bun ada apa?".
"Bunda cuma mau memberi nasihat untuk kamu setelah nikah, apapun yang dilakukan Enrico kamu harus dukung dan selalu ada ya bersamanya, tidak perduli ada hambatan ataupun apapun kamu harus bertahan, Bunda tahu kamu sudah dewasa dan mengerti itu semua jadi Bunda minta lebih sabar sama dia, Mama Enric bilang Enric terkadang masih bersifat kekanakan dan sedikit keras kepala jadi kamu harus bisa menaklukkannya dengan segala kesabaran yang kamu miliki. Bunda gak nyangka kamu sudah besar dan sudah menikah".
"Iya Bunda aku juga tidak menyangka, aku akan berusaha jaga Enric untukku dan anak kami kelak. sudah dulu ya Bun.. Enric sepertinya sudah selesai mandi, kalo begitu aku permisi dulu ya Bunda".
Eve memasuki kamarnya dan mencari keberadaan Enric, ternyata Enric sedang terbaring di kasur dan memejamkan matanya.
"Sayang sekarang sudah jam 7, berangkat jam berapa kita? Hmm,"
Eve juga ikutan rebahan di samping Enric dan memainkan jarinya di dada suaminya yang tertutupi kemeja yang disiapkan tadi.
"Berangkat jam setengah 9 sweety, bangunin aku ya jam segitu aku mau tidur sebentar aja, apa kamu mau tidur juga?".
"Enggak.. Aku disini aja nemenin kamu".
Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, Eve juga sudah membangunkan Enric. Mereka sudah bersiap berangkat ke bandara.
"Ma, Pa, dan Bun aku berangkat ya".
"Hati-hati kalian dan cepat bawain cucu buat kami"
Mereka segera berangkat ke bandara dengan menggunakan mobil Enric dan tidak lupa supir yang membawa mobilnya karena tidak memungkinkan Enric yang membawa mobil.
"Sweety bangun.. Sudah sampai kita, kalo mau tidur nanti lagi di pesawat ya,"
Ucap Enric sembari mengelus kepala Eve seakan mencurahkan sayang kepada istrinya.
"Hmmm"
****
"Akhirnya sampai juga, ternyata kamu mau bawa aku ke singapore ya".
"Sweety kita belum sampai.. Harus naik kapal lagi".
"Ooh"
Mereka berangkat menggunakan kapal feri yang telah dipesan jauh hari oleh Rio assisten Enric.
"Nah sekarang kita benar udah sampai, ayo turun. Aku turun duluan terus kamu pegang tanganku untuk turun"
"Barang-barang kita?"
"Nanti orang-orang ku yang akan bawa, saat kita sampai barang kita sudah tersusun rapi"
Mereka jalan memasuki pulau private khusus orang honeymoon, disini begitu banyak tempat hiburan juga, seperti kebun buah, pantai yang indah, arung jeram, air terjun dan lain sebagainya.
"Nah udah sampai kan kita, sebentar aku buka kunci pintunya".
****
"Ternyata benar mereka honeymoon disini, baguslah rencana selanjutnya sepertinya akan berjalan dengan mudah," ucap seseorang yang memantau keberadaan Enric dan Eve.
****
"Kita jadi berangkat sekarang ke kebun buah?," Ucap Eve sambil memandangi bukit yang masih bisa terlihat oleh mata yang berada tepat di depannya.
"Iya ayo sweety," jawab Enric yang berada tepat di belakang Eve, ia masih asik memeluk Eve dari belakang sambil menggosokkan hidungnya ke leher Eve.
"Geli sayaaaang," ucap Eve sambil menikmati setiap sentuhan suaminya.
Baik Enric dan Eve sekarang sudah tiba di kebun buah, bagian buah strawberry, buah kesukaan Eve.
"Enak sayang"
"Aku sebentar ya sweety ke toilet dulu, biar gak ganggu perjalanan kita lagi menelusuri kebun ini"
****
"waoww... Enrico Ferdinand Emerald.. Kita ketemu lagi akhirnya, berapa lama kita tak bertemu hmm? 2 tahun? 3 tahun ckck... Bersama istri tercinta benar? Evelyn Letisha Zuardy,"
Enrico hanya bisa mengatupkan rahangnya dan mencoba bersikap tenang kepada pemuda yang ada dihadapannya ini.
"Saya berfikir tidak seharusnya saya untuk bertemu dengan orang seperti Anda. Saya bersama siapa juga bukan urusan Anda. Permisi dan selamat siang,"
Enric begitu saja melewati orang yang ada dihadapannya, akan tetapi tangan Enric dicekal oleh pemuda itu.
"Hari-hari yang menyenangkan sudah selesai Enric. And we can Play to the game,"
Enric langsung pergi dan menghempaskan tangannya kasar.
****
Enrico Pov
Bagaimana mungkin orang itu kembali lagi setelah 3 tahun tidak bertemu, Bahkan jauh sebelum aku berpacaran dengan Eve.
Aku ingat pemuda itu adalah kakak dari masa lalu ku, Lidya Amanda. Aku ingat dia meninggal karena menolongku yang hampir kecelakaan. Memang setelah Lidya meninggal sempat ada bersitegang aku dengan kakaknya, dan kakaknya ternyata brocon (brother complex) gangguan itu ternyata, dan aku tahu dari ibunya sendiri, dan sekarang orang itu kembali.
****
Enrico segera menghampiri istri tercintanya kembali. Tetapi sampai disana ia tak menemukan Eve, Enric langsung cemas luar biasa dan menelpon terus tapi tak ada jawaban sama sekali.
Ia pun langsung ke tempat keamanan dan untungnya ada CCTV di setiap kebun buah, untungnya lagi kebun ini berada diruangan terbuka hanya di langit-langitnya saja jadi kemungkinan di taro CCTV pun ada.
"Pak saya mau lihat CCTV sekarang, istri saya hilang dan HPnya sama sekali tidak dapat dihubungi"
"Ayo ikuti saya,"
mereka berjalan terus dan masuk ke ruangan gelap dan diujung ada cahaya.
"Ini CCTVnya pak, coba saya putar terakhir bapak berpisah jam berapa?,"
"Sekitar 1 jam yang lalu saya meninggalkannya,"
mereka terus melihat rekaman itu dan tepat menit ke 11:49 CCTV menangkap gambar Eve dan seorang yang tak dikenal, sontak Enrico kaget. Lelaki ini bukan kakaknya Lidya, lantas ini siapa? Apa anak buahnya kakaknya Lidya?
"Terima kasih pak, sekarang saya harus melapor ke pihak yang berwajib".
"Tunggu bawa hasil CCTV ini untuk laporan lebih lanjut".
"Iya terima kasih sekali lagi pak,"
Enric begitu saja lari dan meninggalkan tempat itu dan lapor ke pihak yang berwajib terdekat.
"Pak saya mau lapor, ada penculikan".
"Anda duduk dulu dan berikan keterangan seakurat mungkin,"
Enrico duduk dan memberi informasi sejelas-jelasnya tidak lupa memperlihatkan rekaman CCTV tadi.
"Oke laporan akan segera dilakukan 1x24 jam".
"Tapi bagaimana jika istri saya tidak selamat pak?"
"Anda tenang saja, saya bertugas untuk itu".
Enric begitu kecewa dengan pihak berwajib karena begitu lama untuk menemukan istrinya, dengan segera dia menghubungi anak buahnya, mereka segera datang 30 menit setelah dihubungi.
"Istri saya diculik, data-datanya dan segala hal tentang itu sudah di Rio, bergerak cepat sekarang, Saya percaya dengan kalian semua. Dan nanti jika sudah ada info segera kasih tau saya,"
Anak buah Enric ada sekitar 30 orang, 20 orang mencari segala hal tentang penculikan dan 10 orang lagi menunggu perintah Enric.
Enric hanya bisa terdiam di dalam kamar sejak sore hingga malam, ia selalu kepikiran tentang Eve, Enric sama sekali tidak bernafsu untuk makan, bahkan Rio (assistennya) sudah kewalahan dengan mood Enric.
No ID call
Enric segera mengangkat telpon itu.
"Bagaimana? Merasa kehilangan bukan? Seperti aku dulu kehilangan Lidya"
Enric hanya bisa mengatupkan rahangnya dan KLIK. Telpon begitu saja di putus oleh si penelpon.
Rio called
"Bos.. Tempat persembunyian mereka sudah di temukan oleh anak buah, selanjutnya bagaimana? Apa kami langsung saja menghampirinya?"
"Jangan gegabah.. Besok kita kesana siapkan senapan saya".
"Baik bos"
Enric memutuskan telpon begitu saja.
Ia memutuskan untuk tidur agar pikirannya lebih tenang.
****
"Bangun.. "
Gebrakan meja begitu terdengar dikuping Eve, Eve terbangun dengan keadaan mata sembab.
"Kenapa? Apa salahku?"
"Lo gak salah apa-apa yang salah itu suami lo! Dan gue nyulik lo karena ada hubungan dengan ini semua".
"Tapi kenapa? Apa salah dia? Dia orang baik bahkan sangat!"
"Lo gatau apa-apa sebaiknya Lo diem dan makan gue gamau Lo sakit! Cepat makan kalo engga makan juga gue gak segan-segan lukain lo"
"Gamau.. Gue gamau makan! Gak laper. Paling juga tuh makanan ada racun, gue gak Sudi!".
"Terserah lo"
Pria itu begitu saja meninggalkan Eve sendiri.
Eve Pov
Apaan apaan ini sih.... Awalnya mau bulan madu malah jadi gini, Enric selamatkan aku hiks..
Tadi yang aku ingat aku tidak sengaja menabrak seorang pria dan menjatuhkan minuman yang ada di tanganku, aku membantunya membersihkan tapi seketika aku serasa disekap dan tidak bisa melihat. Dan aku bangun disini.
Enric HELP!!!
****
"Bos, ayo bangun, kata anak buah mereka melaporkan disana pengawasan sedang lengah. Bahkan Danu Prakoso (kakak Lidya) sedang tidak ada ditempat".
"Ayo gerak sekarang"
Enric segera bergegas ke bangunan tua yang sudah di SMS oleh Rio.
Sampai disana ia melihat keadaan sekitar, benar saja keadaan lengah dan anak buah Enric sekitar 30 orang sudah berada di gedung tua itu.
"Begini saya, Rio dan 10 orang menyebar ke Barat, Rio telpon polisi sekarang Dan 20 orang lainnya berpencar kearah selatan, timur dan Utara gedung ini dan ingat hati-hati orang yang menyekap istri saya Psikopat sepertinya".
"Bos polisi sedang menuju kesini dan surat laporan Anda masih ada di tangan mereka".
Enric hanya bisa manggut saja.
"Satu-satunya pintu yang dijaga ada di lantai 2 sebelah timur katanya bos" ucap Rio.
"Saya akan kesana kalian 5 orang ikut saya dan kamu Rio harus cari Danu, jika sudah bertemu tangkap hidup-hidup, Kasih obat bius jika memberontak,"
Enric segera pergi sesuai dengan yang diinstruksikan Rio.
"Bagaimana? Apa sudah yakin istri saya ada di dalam?"
"Kemungkinan besar bos". ucap Andi salah satu anak buah Enric.
Andi membuka pintu, mendobraknya karena terkunci.
Andi menginstruksikan semua masuk, ada ruang disekat dan lampunya mati disana.
"Eve"
"Sweety"
"Sweetheart"
"Enric"
Terdengar dari ruang disekat itu, Enric segera masuk.
"Ya ampun.. Syukurlah kamu baik-baik aja kenapa matamu bengkak sekali?"
"Aku takut gabisa ketemu kamu lagi sayang".
"Sutttt"
"Angkat tangan lo Enric, akhirnya kita ketemu lagi setelah kematian Lidya"
Enricpun nengok kearah belakang.
"Mau apa lo sebenarnya Danu... Jangan sampe kesabaran gue abis".
"Woles.. Woles gue cuma mau ngetes sebenarnya lo sayang beneran atau enggak sama istri lo itu aja kok..".
"Maksudnya? Ada yang bisa jelasin gak? Gak konek gue sumpah".
Flashback
Dia nyulik aku tuh sebenarnya mau minta maaf atas kesalahpahaman kalian dulu, setelah kematian Lidya kalian kan berantem dan kamu susah untuk ditemukan...
Dia mau ngejelasin kalo dia kakak angkat Lidya dan dia emang mirip dengan brocon, tapi kan brocon seharusnya saudara kandung.
Dan dia mau ngasih tau juga mau nikah akhir bulan ini udah itu aja sih...
Tadi dia emang nyuruh aku makan tapi aku takut kalo makan itu di racun, dia pergi gitu aja dan akhirnya dia ngejelasin semuanya ke aku begitu ceritanya sayang.
"Jadi permasalahan ini ditutup? Rio bilang ke polisi saya capek mau tidur dan saya pusing. Dan Lo Danu ia gue maafkan kita sama-sama maafkan. Sweety ayo balik ke hotel aku capek".
****
"Baguslah semua masalah selesai aku capek sayang,"
Enric memeluk Eve dari belakang dan mencium sekitar leher istrinya mencari aroma ternyaman.
"Iya yaudah yuk tidur,"
Eve menarik tangan Enric.
"Ettss tapi aku mau bikin Dede.. Aku mau minta jatah,"
Enric begitu saja mencium bibir istrinya dan turun ke lehernya.
Dan dapat di pastikan malam ini akan jadi malam yang menggairahkan untuk keduanya.
Tamat.