Piiip ... Piiip ... Piiip ... Pii ... Tut.
Alarm pagi membangunkan ku, sekarang pukul 06:00
Ada waktu satu setengah jam untuk persiapan sekolah, aku segera menyibak selimut, turun dari ranjang dan mengenakan sandal tidur.
Kemudian setelah peregangan singkat, aku beranjak ke kamar mandi.
Saat melewati dapur, aku melihat ibu sedang menyiapkan sarapan sedangkan ayah membaca koran sambil menikmati kopi buatan ibu.
06:05
Aku masuk kamar mandi dan menyalakan Shower.
Setelah selesai mandi, aku mengenakan seragam yang disediakan ibu di kompartemen kamar mandi, dilanjutkan dengan sesi skincare singkat.
06:45
Aku bergabung ke meja makan setelah memastikan semua buku pelajaran untuk hari ini sudah kubawa di tas.
Kami semua makan dengan cepat, aku juga sudah menghabiskan sarapanku, lalu aku berpamitan dan segera berangkat ke sekolah.
06:55
Di jalan, aku berpapasan dengan teman sekelas ku yang bernama Shafia.
"Hai, Alisa." Sapanya.
"Hai juga." Jawabku singkat.
"Kamu sarapan apa tadi?"
"Nasi goreng."
"Wah, enak dong. Kalau aku cuma makan roti gara-gara bangun kesiangan."
Shafia menggaruk-garuk kepalanya dan tertawa kecil, aku hanya tersenyum. Dia memang orang yang sangat ceroboh.
Jarak sekolah kami tidak terlalu jauh, mungkin hanya perlu 10 menit dengan berjalan. Karena itu aku tidak pernah diantar ayah.
06:59
Kami melewati taman bermain, di jam segini, taman itu masih kosong. Biasanya orang-orang baru datang saat jam istirahat sekolah atau kerja.
Tapi aku menyadari ada yang aneh di taman itu, air kolam yang berada di tengah tempat bermain terlihat berwarna hitam dan permukaannya sedikit beriak.
Aku menyipitkan mataku untuk memastikan kalau aku tidak salah lihat.
"Ada apa?" Shafia bertanya keheranan.
"Kamu lihat kolam itu nggak?" Dia ikut memperhatikan kolam itu.
"Eh? Itu airnya kenapa?"
"Gak tau."
"Jangan-jangan ada yang buang sampah sembarangan disitu." Shafia berkata dengan nada kesal.
07:01
"Mau dibersihin aja kalau gitu?" Tanyaku.
"Ya iyalah." Shafia sudah menggulung lengan seragamnya dan berjalan ke arah kolam.
07:02
Aku membuntuti Shafia sambil terus memperhatikan kolam itu. Apa benar itu sampah?
Shafia sudah sampai di tepi kolam dan terlihat bingung.
"Nggak ada apa-apa, jangan-jangan septic tank bocor." Ucapnya keheranan.
"Emangnya kolam taman nyambung sama septic tank?"
"Enggak ya? Hehe ...."
"Yaudah lah balik aja, palingan nanti dibersihin sama petugasnya."
07:03
Saat Shafia berbalik dan berjalan ke arahku, tiba-tiba permukaan kolam itu beriak hebat.
Kemudian seolah-olah meledak, air kolam bergejolak sampai tubuhku yang berjarak 3 meter dari kolam terciprat air sampai basah.
Saat aku membuka mata, seragam putihku sudah berwarna hitam karena air.
"Eh?" Aku terpaku saat melihat ke arah Shafia.
Sebuah tentakel panjang keluar dari kolam itu dan mencekik leher Shafia, dia tidak sempat menjerit minta tolong.
07:04
Aku jatuh terduduk karena ketakutan, sedangkan Shafia dicekik sampai tubuhnya terangkat mulai kejang-kejang dan berusaha melepaskan diri.
Tubuhku gemetaran, aku sangat ketakutan, melihat temanku sedang di ambang kematian tepat di depanku sedangkan aku tidak mampu berbuat apa-apa.
Mata Shafia hanya terlihat bagian putihnya, mulutnya berbusa, dan tubuhnya berhenti memberontak.
Tidak mungkin ... Shafia ....
Aku ingin menjerit, tapi suaraku tertahan. Satu tentakel keluar dari kolam itu dan menggeliat mendekatiku.
Aku ingin lari, tapi tubuhku tidak mau bergerak, aku menangis tersedak-sedak karena ketakutan.
07:05
Tentakel itu mulai merayapi tubuhku dan langsung menjerat leherku, aku berusaha berontak dan memukul-mukul tentakel itu.
Lilitannya semakin kuat, aku mengerang kesakitan, kepala dan dadaku terasa akan meledak karena kuatnya cekikan tentakel itu.
Pandanganku mulai kabur, mataku terasa sangat panas, tanganku jatuh lunglai, tubuhku mengejang dengan sendirinya.
Apa aku benar-benar akan mati disini?
07:06
"Alvin! Kalian potong tentakelnya, biar aku dan Intan yang menangkap mereka berdua!"
"Oke."
"Sip."
Aku mendengar suara laki-laki dari arah pintu masuk taman. Tak lama kemudian, tentakel itu terlepas dan tubuhku terjatuh.
Tapi aku tidak terjatuh di tanah, melainkan tubuhku di tangkap oleh seseorang.
Aku menatap wajahnya. Kulitnya cerah, rambutnya kecoklatan, meskipun warna matanya tidak seperti yang kuingat.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya cowok itu khawatir.
"Aku ... Eh?" Kenapa aku baik-baik saja? bukankah aku tadi sudah hampir mati?
"Shafia! mana Shafia?!" Aku teringat Shafia yang sudah kehilangan kesadaran.
"Tenang, temanmu tidak mati meskipun kondisinya buruk." Jawab laki-laki itu.
"Woy! Arya! Katanya mau ngurus makhluk ini!? Kenapa malah mesra-mesraan giblik?!"
Salah satu dari dua temannya yang sedang menghadapi tentakel itu meneriaki laki-laki yang menggendongku.
"Ah, maaf. Bentar lagi ya." Jawabnya santai.
"Kamu beneran gak papa?" Dia kembali memastikan kondisiku.
"Iya kok, kamu nggak bantuin mereka?" Aku menunjuk dua kawan lain yang sedang melawan tentakel.
Eh?
Tanganku kenapa?
"Tangan kamu memang kayak gitu?" Laki-laki itu keheranan.
"Enggak, sebelumnya nggak kayak gini." Aku menjawab dengan panik. Bentuk tanganku terlihat seperti palu berwarna putih tulang.
Cowok itu tersenyum. "Wah, keren. Kalau aku bisa begini." Dia mengepalkan tangan, aura kemerahan menyelimuti dari siku sampai kepalan tangannya.
"Eh? Dia juga seperti kita?" Temannya yang bernama Alvin menoleh ke arah kami, kemudian dia disambar oleh tentakel sampai terpental beberapa meter.
Cowok bernama Arya ini malah tertawa melihatnya, tentakel monster itu sekarang bertambah hingga berjumlah enam.
"Kamu cuma bisa jadi palu?" Dia malah lanjut mengobrol denganku.
"Tidak tahu." Tiba-tiba palu itu meleleh dan berubah bentuk menjadi cakar.
"Wow, keren." Pujinya.
"Eh? Aku barusan memikirkan cakar."
"Kalau begitu, berarti kekuatanmu pasti merubah tanganmu jadi senjata." Ucapnya.
Aku terdiam. Memang sesuatu seperti itu benar benar ada?
"Mau mencoba melawan makhluk itu?" Tanya Arya.
Aku menatap monster itu, tiba-tiba naluri bertarung ku bangkit kembali. Aku merasa sangat bersemangat.
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Oke. Intan! Alvin! Kita dapat bala bantuan."
Dua orang itu menoleh dan mengangguk, Arya melemaskan bahu dan lengannya.
Orang yang dipanggil Alvin dan Intan melompat mundur dan berdiri membelakangiku.
"Aku Alvin." Kata cowok berambut two block yang memegang pedang.
"Aku Reza." Cewek bermasker dengan aliran listrik menyelimuti tubuhnya ikut memperkenalkan diri.
"Aku Arya." Dia cowok yang menangkap tubuhku saat terjatuh. Apa anak ini 'dia'?
Aku menatap tangan kiri ku yang berubah menjadi cakar berwarna putih tulang. Memang mengerikan, tapi rasanya nostalgia.
Terserahlah, Aku menyeringai dan memasang posisi bertarung, tangan kananku ikut berubah menjadi cakar. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertarung seperti ini.
"Aku Alisa."
Arya mengangguk, kemudian dia ikut memasang posisi bertarung.
"Serang!"
Kami berempat menerjang monster itu bersamaan.
Alvin dengan ayunan pedangnya yang cepat memotong tentakel-tentakel yang terus tumbuh dan bertambah.
Intan terus menyerang dengan kawat listrik yang keluar dari balik lengan bajunya.
Sedangkan Arya, dia berdiri tepat di depan kolam, tentakel-tentakel yang menyerangnya langsung lumpuh begitu terkena pukulannya.
Aku tidak ingin ketinggalan, ku cabik-cabik tentakel yang terus menerus bertambah itu dengan cakarku.
"Mau sampai kapan kayak gini terus?!" Intan meneriaki Arya yang hanya berdiri di depan kolam.
Kemudian dia menendang kolam itu sampai sedikit retak, dia sangat kuat. Tiba-tiba, permukaan air bergejolak. Seekor gurita berwarna ungu keluar dari kolam dan menampakkan kepalanya.
Arya langsung melompat dan menghantam kepala monster itu dengan pukulannya, kepala monster itu bergoyang-goyang seperti jelly. Arya melompat mundur beberapa langkah.
"Alisa, tanganmu bisa berubah jadi sabit nggak?" Tanya Arya.
"Bisa." Aku menunjukkan tangan kananku yang berubah bentuk dari cakar menjadi sabit malaikat maut.
"Kamu lihat area berbentuk lingkaran di kepalanya dengan warna lebih cerah?" Arya menunjuk kepala monster itu. Ada lingkaran dengan warna ungu cerah yang sesekali berdenyut.
"Iya."
"Tusuk dengan sabitmu, biar kami yang mengalihkan perhatiannya." Ujarnya.
Aku mengangguk, Arya dan yang lain mulai menyerang monster itu tanpa memberi jeda untuknya, monster itu untuk yang pertama kalinya mengaum.
"Sekarang, Alisa!" Arya memberi aba-aba.
Aku kembali merubah tanganku menjadi cakar, lalu merubah kedua kakiku menjadi kaki serigala. Dengan kecepatan penuh, aku melompat kemudian kembali merubah cakar ku menjadi sabit dan mencabik titik kelemahan monster itu.
Monster itu kembali mengaum, dia menyambarkan tentakelnya secara membabi buta. Intan dan Alvin menghindari semuanya dengan gesit dan memotong tentakel-tentakel itu.
Sekali lagi aku mengangkat sabit ku dan menghujamkannya sekuat tenaga tepat di titik kelemahan monster itu.
Monster itu mengaum panjang, tubuhnya berkedut beberapa kali. Kemudian akhirnya sedikit demi sedikit tubuhnya terurai dan terbang seperti debu.
Aku berusaha mengatur nafasku, Arya mendekatiku dan menepuk bahuku.
"Kerja bagus." Pujinya. Aku mengangguk.
"Sebaiknya kita segera keluar dari sini sebelum dimensinya tertutup." Kata Alvin sambil menatap langit yang berwarna kebiruan. Dimensi?
"Biar aku yang menggendong temanmu." Intan mendekati Shafia yang tergeletak dan. menggendongnya di punggung.
Kami berjalan menuju pintu masuk taman, sebelum kami melewati pintu itu, Alvin memberi isyarat untuk berhenti, lalu dia membentuk segel tangan.
"Alvin itu pengguna Halimun, dan dia bisa memberikan efeknya kepada kita semua." Arya berkata padaku yang kebingungan, tapi aku justru tambah bingung.
Setelah itu, Alvin berjalan melewati pintu itu sambil tetap menahan segel tangannya, aku mengikuti mereka melewati gerbang dan sesaat pengelihatan ku menjadi putih.
Aku terkejut saat melihat pemandangan di sekitarku menjadi sangat berbeda dengan tadi, taman itu dipenuhi orang-orang, dan jalanan pun ramai.
Arya menarik tanganku menuju sebuah tempat yang sepi, setelah sampai, Alvin melepas segel tangannya dan dia terlihat sangat kelelahan.
"Itu adalah efek dari penggunaan Halimun, itulah kenapa aku menarikmu tadi, karena sekali segel tangan itu lepas, maka kita semua akan terlihat oleh orang-orang tadi." Jelas Arya.
Kalau dipikir-pikir, orang-orang sama sekali tidak memperhatikan kami. Padahal kami terlihat sangat mencolok, pakaian kami bernoda hitam, dan ada seorang cewek yang pingsan dengan wajah sedikit membiru.
"Kamu pasti punya banyak pertanyaan sekarang, mau ikut dengan kami? Akan aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi beberapa saat lalu."
Arya mengulurkan tangannya. Memang aku punya banyak sekali pertanyaan, dan aku juga perlu memastikan identitas Arya, apakah dia benar-benar 'orang itu'
Aku menyambut uluran tangannya, mereka semua tersenyum.
"Baiklah. Dengan ini, misi kita selesai." Arya mengacungkan tinjunya dan disambut oleh Intan dan Alvin
07:30
Ah gawat, aku bolos hari ini.
Note :
Terimakasih buat kalian yang membaca sampai akhir, sebenarnya target ku cuma dibawah 1k kata, tapi entah kenapa malah meleset jauh.
Aku kepikiran untuk membuat cerita ini menjadi series setelah Land : The Chronicles selesai. Gimana menurut kalian pembaca? (kalau ada)
Mungkin kalian agak bingung dengan beberapa monolog Alisa, terutama soal Arya. Kalian bisa mampir dan membaca Land : The Chronicles untuk mendapatkan petunjuk soal itu.