Punya kekuatan super? mau dong, aku gak nolak kalo ada mah.. mulai halu lagi deeh 🤣🤣
Kala itu aku masih kelas 4 Sekolah Dasar alias SD, di kerjain mulu sama teman sekelas, entah itu dari segi jam masuk, entah pula dari segi mengejek, di bilang hidung ba**, di bilang anak cengeng, sebodo lah apa kata mereka, cuma bisa nangis.
Kala malam hari datang, semua anggota keluarga emak dan baba serta aku dan adik perempuan ku pun berkumpul di ruang yang jauh dari kata luas tapi nyaman untuk kami berkumpul ada hiburan berupa televisi yang jika di setel layar yang tampak hanya berwarna hitam putih, di syukuri kalo kata baba mah.
"Mak, Nana mau pindah sekolah aja ah." ujar ku kala di sela saat sedang menonton televisi, disini namaku Nana.
"Buat apa pindah sekolah Na?" tanya emak.
"Nana di nakalin mulu mak." jawab ku.
"Sabar, 2 tahun lagi juga Nana kan mao SMP!" seru baba.
"Emang kalo SMP, ngapa ba?" tanya ku yang msih belum berpikir panjang.
"Kalo mau SMP, pengeluaran buat Nana banyak.. belum lagi beli seragam, belum uang pangkal, uang masuk SMP. Masa iya Nana cuma mau sekolah sampe SD?" tanya emak.
"Kalo Nana udah SD kelas 6, emang lanjut SMP ya mak?" tanya Nana.
"Harus Na, jangan kaya baba dan emak.. SD aja ora tamat." ucap baba.
"Kalo Nana mao pindah sekolah emang pake duit ya ba?" tanya Nana lagi.
"Ya pake lah Na." jawab emak.
"Selama teman-teman Nana cuma ngatain dan gak maen fisik, cuwekin aja ya Na.. yang penting Nana belajar yang bener." ujar baba yang menasehati ku.
"Iya deh ba." jawab ku.
"Udah gih, Nana tidur.. udah malam." ucap emak.
Esok paginya tepat pukul sepuluh saat pulang sekolah, dengan riang aku melangkah menuju rumah, melangkah tanpa beban.. di sekitar rumah ku terdapat beberapa pohon durian yang tumbuh tinggi dan lebat.. ada juga pohon kecapi yang tumbuh di belakang rumah ku.. gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba saja...
Buuuk.. dahan kayu dari pohon durian mendarat di atas kepalaku..
"Maaaak.." teriakan yang berasal dari diri ku.. pandangan berubah menjadi tidak jelas.
"Ya Allah anak emak." teriak emak yang langsung memeluk tubuh ku dan pandangan ku berubah gelap, aku tidak sadarkan diri.
Aku tidak ingat apa-apa lagi, yang ada hanya bisa mendengar suara tanpa bisa membuka mata.
"Di olesin ini Nim." suara yang aku yakini adalah suara nenek Riya.
"Iya mak, ngapa Nana belum bangun juga yak mak?" suara emak yang bertanya pada nenek Riya.
"Coba pake ini Nim, kali bae langsung bangun." suara nenek Riya lagi.
"Jangan ngapa-ngapa luh Nana, cepet bangun Na, ini emak." suara emak yang terdengar terisak.
Aku merasa ada hawa panas di sekitar hidung ku, mungkin emak yang melakukannya biar aku cepat bangun.
Dengan perlahan aku membuka mata dan melihat sudah ada emak, nenek Riya dan beberapa tetangga yang mengerubungi ku.
"Nana, ini mak Na." emak yang melihatku siuman langsung memeluk tubuh ku erat.
"Nana kenapa mak?" tanya ku.
"Ora ngapa-ngapa Na, nana istirahat ya.. minum dulu Na!" seru emak yang mendekatkan segelas air di botol dan mengarahkan sedotan ke mulut ku.
2 hari setelah kejadian, aku mulai masuk sekolah lagi.. tidak ada yang berubah dari hari biasanya, masih ada saja teman yang mengataiku hidung bab*, mungkin karena lubang hidung ku besar, sebodo aja lah.
Niat hati ingin duduk di kursi ku tapi, baru saja mau mendarat nih bokon*, kursi yang hendak aku duduki di tarik ke belakang menjauh dari posisi awal, jangan di tanya..
Buk... bokon" ku mendarat sempurna di lantai.. aku pun terjungal dan teman-teman ku tertawa terbahak-bahak melihat ku.
"Temen gak punya ati." umpat ku kesal.
"Ahaha, emang enak." ucap Jumi yang menarik kursi ku tadi.
"Rese kamu." ucap ku saat sudah bangun dari jatuh.. dan mendorong pelan tubuh Jumi.
Bagi ku pelan, tapi tidak untuk Jumi.. tubuh Jumi terdorong ke belakang hingga menubruk teman ku yang lain yang juga sedang berdiri di belakang Jumi.
Aku pun tercengang tidak percaya, aku melihat tangan yang aku gunakann untuk mendorong Jumi tadi sambil berkata, "Masa iya aku punya kekuatan super?" tanya ku.
Jumi hendak membalas ku dengan mendorong bahu kanan ku, aku pun melakukan pembelaan dong, aku mendorong bahu ku ke belakang dan entah Jumi yang tidak bisa menahan badannya yang gempal atau dorongan dari bahuku yang kencang membuat Jumi sukses nyusruk dan mencium meja.
"Wiiih, Nana keren.. hebat bisa bales Jumi." sorak teman yang lain.
Aku hendak meraih kursi ku dan meletakkan'nya di tempat semula aku biasa duduk. Lalu aku mengeluarkan buku dan menaruh buku di atas meja.
Tidak selang berapa lama guru datang, kelas yang tadinya riyuh pun berubah sunyi.
Rupanya Jumi masih kesal dan melempar gumpalan kertas ke arah ku, aku ingin membalasnya dan tau gak apa yang terjadi?
Buk.. gumpalan kertas yang aku lempar ke arah Jumi seperti toyoran keras baginya hingga membuat tubuhnya oleng dari kursi yang ia duduki.
Tubuh Jumi terjatuh ke lantai lagi, 🤣🤣 seneng dong dalam hati mah.
"Kamu kenapa Jumi?" tanya pak Edi guru kala itu.
"Nana pak, ngelempar saya." jawab Jumi.
Ahahahha.. tawa teman sekelas menggema tidak percaya dengan perkataan Jumi.
"Kamu itu jangan ngaur Jumi, liet tuh." ucap pak Edi yang menunjul ke arah Nana, "Nana lagi ngerjain tugas dari bapak." ujar pak Edi.
"Iya pak maaf." jawab Jumi
"Emang enak kena batunya." ucap ku dalam hati. ahahaha.