Laluna angeline gadis kecil berusia enam tahun kerap dipanggil Luna. Rambutnya panjang berponi menambah kesan lucu dan pipi cabinya. Namun nasib Luna tak sebagus anak sebayanya. Mamanya telah meninggal saat melahirkannya. Membuat Meri sang kakak membencinya menurut Meri adiknya lah yang membuat mamanya meninggal. Papanya berbuat acuh kepada Luna. Luna setiap hari merasa kesepian beruntung ada mbak Ari ART di rumahnya pak Aryo papanya Luna. Mbak Ari selalu menemani Lunq tak jarang pula Mbak Ari tidur bersama Luna.
Saat sarapan pagi di meja makan hanya ada Meri dan Luna. Papanya selalu berangkat pagi pulang malam. Ketika pulang malam pun Luna sudah tertidur.
Meri tak berselera makan ketika Luna duduk di hadapannya. Meri cepat-cepat menghabiskan sarapannya dan meneguk susunya. Setelah habis Meri meraih tas dan juga kunci motor pergi ke sekolahnya. Luna melihat kepergian kakaknya hingga benar-benar menghilang dari pandangannya. Setelah itu Mbak Ari datang tak lupa dengan senyumnya. Mbak Ari kemudian membersihkan meja makan. Mbak Ari melihat raut wajah Luna tampak sedih dan memanyunkan bibirnya.
"Luna cantik. Kenapa sedih terus bibirnya kenapa di kucir?". Tanya Mbak Ari lembut mengelus pelan kepala Luna.
"Papa pulangnya malem pagi udah berangkat kerja. Kakak kayak nggak seneng sama Luna. Memanngnya Luna nakal ya mbak?". Ucap Luna matanya mulai berkaca-kaca.
"Kata siapa Luna nakal. Luna anak baik kok murah senyum. Luna nggak usah sedih kan ada mbak Ari yang stay nemenin Luna". Jawab Mbak Ari menghapus air mata di sudut mata Luna.
"Sekarang ayo siap-siap Luna ke sekolah. Biar jadi anak pinter kayak kak Meri". Ajak Mbak Ari
"Oh ya. Luna hampir lupa". Sahut Luna tersenyum manis menampakkan gigi ompongnya keseringan makan permen dan juga coklat. Biasalah anak kecil sukanya yang manis-manis.
Luna bersiap-siap ke sekolah dibantu oleh Mbak Ari. Rambut Luna dikucir kepang dua kiri dan kanan poninya ditata rapi. Sepatu berwarna biru warna kesukaan Luna. Sepatu itu di pilih oleh Luna sendiri waktu belanja perlengkapan sekolah bersama Mbak Ari.
"Sudah cantik peri kecil Mbak Ari". Ucap Mbak Ari selesai mendandani Luna.
"Ayo mbak Berangkat. Nanti telat ke sekolahnya". Ajak Luna menarik Mbak Ari. Perubahan yang sangat drastis waktu sarapan murung sedih sekarang malah ceria.
"Iya sabar dong peri". Ujar Mbak Ari menahan tarikan tangan mungil Luna.
Menjelang sore Meri baru pulang dari sekolah meletakkan tasnya asal. Biasanya dia akan menaruh di kamarnya, kali ini Meri menaruh tasnya di meja tamu. Meri tiduran di sofa sambil memejamkan matanya. Tangan kanannya diletakkan di dahinya satunya lagi diletakkan di perut.
Saat itu Luna sedang membawa jus jeruk menghampiri kakaknya ketiduran di sofa. Luna penasaran membuka tas kakaknya. Pelan-pelan tapi pasti tas tersebut terbuka lebar. Luna mengambil buku bersampul bunga berwarna merah muda cantik. Luna membuka buku tersebut.
"Kamu ngapain buka buku kakak". Suara Meri mengagetkan Luna. Membuat jus jeruk yang disamping Luna tumpah mengenai buku tersebut.
"Luna dasar anak nakal. Ini buku temen kakak pasti kakak dimarahin ini. Sana-sana kamu pergi. Dasar anak pembawa sial. Pergi jauh kamu jangan kembali lagi". Bentak Meri mendorong Luna kecil hingga tersungkur ke lantai. Mbak Ari mendengar suara Meri langsung menuju ruang tamu. Alangkah terkejutnya Mbak Ari melihat Luna menangis duduk di lantai. Buru-buru Mbak Ari menggendong tubuh Luna kedalan pelukannya.
"Bawa dia pergi jauh-jauh Mbak. Aku muak lihat wajah sok polosnya". Bentak Meri meraih tas dan buku tersebut berlari ke atas menuju kamarnya.
Mbak Ari membawa Luna ke kamarnya. Karena itu adalah tempat paling dekat untuk mengobati luka memar di siku Luna.
Meri menutup pintunya keras hingga terdengar sampai ke kamar Mbak Ari. Meri terduduk lemas di sisi pintu melempar asal tas dan bukunya. Meri menangis sejadi-jadinya. Ini adalah pertama kalinya Meri memarahi Luna sebegitu kerasnya dan mendorong adiknya.
"Ma. Meri rindu mama".
"Maafin Meri berbuat kasar ke Luna. Apa yang Meri lakukan diluar kendali Meri".
Mama yang sangat ia sayangi pergi untuk selama-lamanya. Mamanya tempat ia curhat bersenda gurau. Meri dulunya gadis ceria banyak omong sekarang Meri mudah marah pemurung sepeninggal mamanya. Peringkat disekolahnya pun turun drastis hingga dimarahi oleh papanya. Semenjak itu Meri meningkatkan belajarnya peringkatnya kembali naik seperti semula.
Pukul 19.45 pak Aryo baru pulang dari tempat kerjanya. Pak Aryo membersihkan tubuhnya setelah itu makan malam sendiri. Saat kembali ke kamarnya Meri memanggil papanya. Menyerahkan surat undangan dari sekolah. Aryo membuka surat tersebut ternyata surat pentas seni semua wali murid diundang untuk datang sesuai jadwal terteta di surat tersebut.
Setelah menyerahkan itu Meri kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan raganya. Hingga hari dimana semua wali murid datang ke sekolah untuk menyaksikan pentas dari sekolah. Pentas yang dipilih sekolah adalah drama dimana ada Meri sebagai pemerannya. Pak Aryo sengaja mengajak Luna karena bagaimanapun Luna adalah anaknya. Luna sangat antusias untuk melihat kakaknya bermain lakon di panggung. Luna terus memanggil kakaknya dengan girangnya. Semua orang yang didekatnya melihat ke arah Luna dengan gemas tak jarang seorang ibu-ibu menjewer pipi Luna yang cabi karena gemasnya.
"Kak Meri". Teriak Luna dengan kerasnya dapat di dengar oleh Meri. Meri tak menggubrisnya fokus dengan perannya.
Acara demi acara telah selesai pak Aryo dan Luna keluar dari aula. Saat akan memasuki mobil pak Aryo mendapatkan telepon dari atasannya. Tanpa sadar pak Aryo melepaskan pegangan tangannya dari tangan Luna. Luna dengan penasaran berjalan sesuai kemauannya. Arah membuat Luna sampai ke gerbang sekolah di pinggir jalan Luna melihat kucing gemuk membuat Luna ingin mengambilnya. Luna menghampiri kucing tersebut tapi kucing itu malah berlari begitu Luna akan sampai.
"Yah kucingnya lari". Ucap Luna cemberut menatap kepergian kucing tersebut. Luna melihat penjual bunga kapas dengan bentuk yang lucu. Luna menatap dengan mata berbinar berjalan menghampiri penjual tersebut letaknya cukup jauh.
Dari arah belakang ada motor dengan kecepatan kencang. Luna jalannya agak ketengah terserempet motor tersebut. Saking kencangnya membuat tubuh Luna yang mungil berguling-guling. Darah keluar dari dahi hidung dan mulut Luna. Orang sekitar yang melihatnya berteriak histeris. Salah satu bapak-bapak menggendong Luna di bawa kepinggir. Semua orang mengerubungi tempat Luna salah satu diantaranya menelpon pihak ambulans.
Dilain tempat pak Aryo dan Meri kebingungan mencari Luna. Selama mencari Luna, Meri menggerutu selalu berucap tidak baik ke Luna.
"Kemana sih anak itu. Nyusahin terus kerjaannya".
"Sabar dong Mer. Jangan ngeluh terus bagaimanapun itu adik kamu". Ucap Pak Aryo
"Itu ada apa ya Pa kok rame banget". Ujar Meri menunjuk tempat orang berkerumun.
"Nggak tahu. Fokus cari Luna, Mer". Perintah pak Aryo melihat sekeliling tempat.
"Ayo lihat. Kepo nih". Ajak Meri menarik paksa tangan papanya. Mau tak mau Pak Aryo menuruti ajakan putri sulungnya.
Saking banyaknya orang Meri kesusahan untuk melihat objek penyebab orang berkerumun. Meri terus menggandeng tangan papanya seperti anak kecil takut berjalan sendiri. Meri terus berusaha berjalan kedepan hingga dia akan sampai puncak penglihatan. Tepat saat itu mobil ambulans tiba. Bapak-bapak yang menggendong Luna membawa Luna kedalam mobil ambulans. Saat itu pula Meri terkejut bukan main anak kecil yang dibawa ke mobil tersebut adalah Luna.
"Pa Luna. Itu Luna". Ujar Meri histeris matanya panas dadanya sesak.
"Mana Luna Mer?". Tanya pak Aryo belum tahu keberadaan Luna. Meri langsung berlari dimana Luna berada.
"Pak, itu adik saya pak". Ujar Meri berlinang air mata. Pak Aryo mengikuti Meri dan betapa terkejutnya melihat Luna bergelimang darah.
"Luna. Cepat bawa ke rumah sakit pak". Perintah pak Aryo. Meri masuk kedalam ambulans dan pak aryo mengemudi mobilnya. Meri memegang tangan Luna mungil. Meri terus menangis meskipun dia benci dengan adiknya tapi ada rasa sayang meskipun kecil.
"Luna bangun dik. Kamu yang kuat ya jangan tinggalin kakak dan papa. Maafin kakak selama ini berbuat jahat sama kamu". Ujar Meri baru menyesali perbuatannya.
Setelah sampai perawat membawa Luna ke UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Pak Aryo terus melihat kedalam ruang UGD dari luar ruangan. Sementara Meri duduk lemas dibangku rumah sakit. Sekian lama dokter keluar raut wajahnya sedih.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?". Tanya pak Aryo cemas
"Maafkan kami pak. Kami sudah berusaha menyelamatkan nyawa anak bapak. Tuhan berkehendak lain. Putri bapak telah meninggal sewaktu tiba di rumah sakit. Bapak yang sabar". Jelas dokter tersebut wajahnya tampak kecewa. Pak Aryo terduduk lemas kakinya tak mampu menopang berat badannya.
Meri langsung berlari ke dalam memeluk tubuh Luna mungil. Meri menangis histeris terus memanggil Luna. Pak Aryo sudah gagal menjadi orang tua untuk anaknya. Terbukti dia tak bisa menjaga Luna dengan baik sesuai permintaan mendiang istrinya.
Luna dibawa ke rumah dimakamkan di samping makam ibunya. Setelah pemakaman selesai satu per satu orang pergi meninggalkan area makam. Tinggak Meri dan pak Aryo masih berada disana. Cukup lama mereka berada disana hingga pak Aryo mengajak Meri untuk pulang.