Diserang dan menyerang itu sudah biasa untuknya, memburu atau diburu sudah biasa pula untuknya, menang dan kalah sudah pernah dia dapatkannya, disayat dan menyayat sudah pernah bahkan sering dilakukannya.
Berlumuran darah itu sudah makanan setiap harinya entah itu darahnya sendiri karena dia ceroboh dan terluka, atau malah darah lawannya, seringkali darah lawannya yang tertinggal dibajunya.
Julukan wanita samurai berdarah dingin sudah dikantonginya, apakah dia bangga dengan itu semua, jika dulu iya dia bangga akan hal itu karena inilah yang dipilih olehnya menjadi samurai untuk kesatria pelindung.
Tapi entah mengapa akhir - akhir ini wanita itu begitu merasa resah, entah apa yang sedang diresahkan wanita itu, hingga fokusnya menjadi bercabang.
"Ada apa denganmu tak seperti biasanya?" Tanya temanya yang merasa heran melihat wanita dihadapannya itu tidak fokus saat berlatih dengannya. Hampir saja wanita itu terkena sabetan katana miliknya.
Ahhhh mereka berdua memang sedikit gila, bahkan dalam berlatih pun menggunakan katana asli bukan dengan shinai¹ yang biasa digunakan untuk latihan.
"Tidak ada hanya kurang fokus saja, anggaplah ini hari keberuntungan mu karena bisa mengalahkan ku" ucapnya acuh, sungguh membuat temannya itu mendecih karena keangkuhan temannya itu, walau demikian dia tak mempermasalahkan hal itu, dia faham betul wanita seperti apa Yura ini.
"Apa kau sudah mendapat misi baru dari tuan Danzo?" Tanya Tayaga, sang teman yang mendapat gelengan dari Yura, dan diangguki oleh Tayaga.
"Kalau begitu selesai sampai sini saja" ucap pemuda itu yang diangguki oleh Yura, tanpa sepatah kata lagi Yura pergi begitu saja meninggalkan Tayaga yang dibuat geleng - geleng oleh kelakuan Yura itu.
"Dasar si cewe dingin" ketus Tayaga.
****
Dua Minggu berlalu selepas kejadian dilatihan itu membuat fokus Yura benar - benar kacau entah apa yang sedang difikirkan oleh wanita itu, hingga tuannya menyuruh gadis itu untuk mengambil cutinya agar bisa beristirahat, mungkin menenangkan pikirannya yang sedang kacau itu.
Mendengar hal itu dari tuan Danzo membuatnya tak memiliki pilihan lain selain menurut, sejujurnya dia bisa saja menjalankan misi - misinya, toh selama ini ia tak pernah mengecewakan Danzo walau terkadang dia harus kalah, tapi Danzo tetap menganggapnya adalah samurai wanita terbaik yang dipunya olehnya.
Dengan berat hati akhirnya Yura memutuskan untuk mengikuti saran dari tuannya itu, apa salahnya berlibur beberapa hari, membuat otaknya fresh juga tidak burukkan, mungkin itu juga yang membuat dirinya tidak fokus, dia sedang merasa bosan dengan pekerjaan menjadi seorang samurai sepertinya.
Ia memutuskan untuk berlibur kedaerah kampung halamannya, kampung yang begitu terpencil, jauh dari kata perkotaan, namun begitu menenangkan dan juga sangat amat sejuk.
Ahhhh rasa - rasanya Yura sudah sejak lama tidak merasakan kenyamanan dan kedamaian dalam menghirup udara, pekerjaannya yang memang bergelut dengan ketegangan mana mungkin bisa menikmati kenyamanan walau hanya sekedar menghirup udara saja, ahhhh begitulah pekerjaan mengancamnya namun selama ini dia menikmati pekerjaannya sebagai seorang samurai.
Dia dipekerjakan memang bukan diinstansi pemerintah, bahkan dirinya dan kawan - kawan bisa dikatakan ilegal dalam pekerjaan ini, namun disinilah kesenangan itu hadir.
Jika menurut para masyarakat umumnya pekerjaan itu begitu berbahaya dan mengancam jiwa, tapi menurut wanita cantik itu pekerjaan itu begitu menantangnya.
****
Seharusnya saat ini ia menikmati hari liburnya jika saja sekelompok bandit tidak mengganggu jalan - jalannya, ahhhh sial sekali dirinya hari ini, berniat berlibur dengan jalan - jalan disekitaran hutan hanya untuk melihat keindahan hutan didesanya yang sudah sejak lama ditinggalkannya itu, dia malah bertemu segerombol orang - orang bodoh menurutnya.
"Apa yang kalian lakukan terhadap keluarga itu?" sejujurnya ada niatan untuknya tak ikut campur dan memilih pergi begitu saja, namun setelah mendengar tangisan seorang balita membuatnya mengurungkan niatnya, entah mengapa hatinya mengatakan untuk menolong mereka.
Padahal selama ini dia bermain dengan otaknya tidak pernah menggunakan hatinya, tapi nyatanya kali ini Yura benar - benar mengikuti kata hatinya, menolong keluarga yang sedang dirampok itu, walau sepertinya dia terlambat menolong keluarga kecil itu, karena kedua orang tua si kecil itu sudah tak bernyawa sepertinya.
Ahhh miris sekali nasib anak malang itu, masih sekecil itu sudah ditinggalkan oleh orang tuanya fikir Yura, setelah mengalahkan para bandit itu walau sedikit kesusahan karena tak memiliki senjata, namun bagaimanapun gadis itu dijuluki wanita samurai berdarah dingin, tentu saja dia bisa mengalahkan para bandit itu, walau harus menguras tenaga lebih karena tak ada katana ditangannya.
Entah karena apa dia harus selalu memiliki senjata saat bertarung dengan lawannya, jika tidak dia akan kewalahan sendiri walau dia akan menang sekalipun dipertandingan itu, berbeda jika dia telah mengayunkan katananya, akan lebih mudah mengalahkan lawan - lawannya.
"Ahhh beraninya sama yang lemah" gumam Yura sembari melangkah mendekati anak kecil yang terus menangis itu.
Dibiarkannya mayat - mayat itu tergeletak begitu saja, tanpa mau bersusah - susah untuk mengurus mayat - mayat itu, masa bodoh toh jika ada yang melihat mereka, mayat - mayat itu pasti diurusnya.
Terdengar begitu kejam jika saja ada yang melihatnya tanpa mau repot - repot mengurusi mayat - mayat yang berserakan itu, ya itulah Yura sigadis berdarah dingin, tidak heran jika dirinya tidak memiliki hati, karena hatinya membeku.
"Seharusnya tadi aku pergi begitu saja tanpa membawa mu" Keluhnya manakala dirinya baru sadar jika ia malah membawa mahluk kecil yang disebut dengan bayi kerumahnya.
"Ahhh merepotkan sekali, mana mungkin aku mengurus anak ini, mengurus diri sendiri saja tidak mudah" kesalnya pada dirinya sendiri, entah kecerobohan apa lagi yang kali ini diperbuatnya, Yura yakin suatu saat nanti perbuatannya ini malah menjadi bumerang untuk pekerjaannya, tapi kenyataannya Yura tengah berjalan kehidupan barunya jika dirinya sadar, sayangnya dirinya tak sadar akan hal itu.
****
Waktu begitu saja berlalu meninggalkan porosnya dibelakang, membuat setiap hari mengganti menitnya, menjadikannya hari menjadi hari berikutnya, menjadikan hari itu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun.
Tak terasa Yura telah mengasuh anak itu sampai usia anak itu mungkin saja sudah tiga tahun, itu artinya sudah satu tahun dirinya mengadu anak lelaki itu, dia memberinya nama Yuriden, entah kenapa nama itu terpikirkan olehnya.
Banyak para rekannya yang bertanya - tanya saat Yura membawa pulang seorang anak lelaki kemarkas besar tuan Danzo.
"Bukankah dia berlibur mengapa pulang membawa anak?"
"Itu anak siapa yang dibawa si wanita bengis itu?"
"Sepertinya dia menculik anak"
Begitulah para rekannya berbisik - bisik dibelakang Yura yang tak pernah wanita itu gubris sedikitpun.
"Ahhhh Yura, kau selalu membuat kejutan", keluh Tayaga.
Kini Yuriden sudah lancar berjalan dan berbicaranya pun sudah sedikit lancar, walaupun masih ada kesalahan pelafalan kata, walau demikian Yura merasa senang dengan tumbuh kembang anak itu.
"Mama mau kelja ladih?" Tanya Yuri pada wanita yang dianggapnya mamah itu.
"Maaf ya Yuri, mamah tidak bisa terus membawa Yuri bersama mama" ucap Yura, kali ini pekerjaannya terlalu berbahaya jika mengikut sertakan anaknya itu.
Entah sejak kapan Yura memiliki rasa sayang dan hatinya menghangat, setiap kali melihat Yuri, entah mengapa melihat anak kecil itu hatinya selalu tersentuh dan ingin selalu melindungi anak itu.
Yura selalu membawa Yuri dalam misinya, anak itu tumbuh dalam lingkup yang bisa dikatakan kurang baik untuk seorang anak kecil, ahhh entah lah mengapa saat itu Yura memutuskan untuk merawat anak itu.
Padahal jika dipikir -, pikir kembali itu kurang baik malah memang tidak baik untuk tumbuh kembang Yuri, seharusnya Yura meninggalkan Yuri dipanti asuhan saja saat itu, atau membiarkan anak itu bersama mayat kedua orang tuanya.
Tapi itu tidak dilakukannya, sejak pertemuan pertama Yura sudah jatuh hati dengan anak sekecil itu, bila rasa sayang sudah bertahta dihatinya, walau seorang samurai sekalipun akan kalah dengan rasa yang baru dihatinya itu, ahhh terkadang Yura tak mengerti hatinya sendiri yang bertindak tidak sesuai dengan otaknya saat berhadapan dengan Yuri.
Walau demikian Yura selalu berhasil dalam menjalankan misinya, menghidupi Yuri dengan uang hasil membunuh itu, ahhhh miris sekali anak itu hidup dengan hasil pembunuhan seperti itu, tapi ya begitulah Yura dengan segala pekerjaannya hingga pada akhirnya dia sadar jika anak sekecil Yuri tidak pantas berada ditengah lingkupnya yang seorang pemburu ulung itu.
****
Jujur saja ia tak pernah menyangka dia akan mengalami hari dimana dia melepaskan anak yang sudah dianggap sebagai bagian dari hidupnya itu, tiba - tiba saja air matanya mengalir begitu saja, infonya sih berpisah dengan senyuman tapi nyatanya hatinya tergores dengan begitu besarnya.
Tayaga sendiri sampai tak bisa berkata - kata lagi setelah menyaksikan hal itu, ternyata benar rasa sayang itu bisa menghancurkan semuanya bahkan wanita berdarah dingin inipun bisa luluh karena rasa sayangnya.
Ahhh Tayaga tiba - tiba saja bergidik ngeri sendiri membayangkan jika dirinya suatu saat nanti dipertemukan dengan rasa sayang itu, entah bagai mana jadinya dirinya itu, mungkin akan berakhir lebih tragis dari Yura.
"Mama, akan coba menjenguk Yuri sering", ucap Yura, mencoba menenangkan sang anak yang sudah mulai terisak, usia 5 tahun sudah bisa dikatakan mengerti untuk hal - hal sepele, apa lagi Yuri yang tumbuh dilingkungan Yura, membuat Yuri tanpa sadar tumbuh dewasa sebelum waktunya, dalam artian pemikirannya yang jauh mengarah ke depan dibanding anak seusianya.
Ahhhh ini salah Yura, maka dari itu Yura melepaskan Yuri, dia memberikan Yuri kepada orang kepercayaannya, agar mau merawat anak itu, Yuri butuh tempat yang berbeda dengannya, Yuri harus hidup normal seperti anak umumnya, tidak boleh mengikuti langkahnya, mengikuti jalannya sama saja Yura menjerumuskan anak sekecil itu dalam lubang penderitaan dan bahaya tak berkesudahan.
Tayaga menata prihatin pada Yura, entah mengapa perasaannya jadi menghangat, senyumnya begitu saja tersungging dibibirnya tak pernah menyangka jika teman seperjuangannya itu bisa memiliki hati juga, ahhh sekarang baru terlihat jika Yura adalah manusia.
Ahhh menang selama ini Tayaga menganggap wanita itu seperti apa? Monster?, ahhh rupanya Tayaga berpikir terlalu jauh, sekejam apapun manusia jika sudah dihadapkan dengan perasaan sayang akan lemah seketika, membuatnya memikirkan perasaan orang -, orang disekitarnya menjadi prioritas utamanya.
Itu pula yang saat ini dirasakan oleh Yura, saat ini prioritasnya adalah Yuri, jika sampai terjadi sesuatu terhadap anak itu hanya karena pekerjaannya yang sebagai samurai tentu akan melukai hatinya.
Untuk alasan itulah mengapa Yura mengorbankan perasaannya yang hancur karena jauh dari sang anak, namun demi keselamatan anak itu sendiri Yura harus tahan, bukankah selama ini dia memang hidup sendiri dia tentu bisa melakukannya lagi.
",Tersenyumlah sayang, ini bukan perpisahan ini hanya sementara sayang" pinta Yura pada sang anak.
"Mama janji akan kembali pada Yullri?" Anak itu masih sudah rupanya untuk mengucapkan hirup 'R'.
"Tentu saja mama akan datang lagi, asal Yuri mau menunggu mama", pinta Yura
"Yullri akan tunggu mama", ucap jagoannya mantap membuat mata Yura berkaca -, kaca sejujurnya dia tak ingin menangis dihadapan anaknya, perpisahan ini tidak boleh ada tangisan, karena Yura berjanji akan kembali, ini hanya untuk sementara saja, setelah semuanya berakhir Yura hanya akan menjadi ibu untuk Yuri.
Itu artinya Yura akan merelakan pekerjaannya sebagai seorang samurai, ini sudah dipikirkan masak - masak olehnya demi Yuri semuanya hanya demi pria kecil itu, untuk anak semata wayangnya Yura bisa melakukan apupun.
"Sampai jumpa lagi anak mama" ucap Yura dengan senyumnya yang tak luntur walau matanya sudah ingin mengeluarkan kristal beningnya namun sekuat tenaga ditahannya, betapa hebatnya Yura dalam menguasai diri pikir Tayaga yang melihat hal itu.
"Sampai jumpa mama, cepat pulang bial kita bisa sama - sama lagi" ucap Yuri sambil membelai pipi wanita itu, membuat Yura memeluk dan menciumi anaknya itu, setitik air jatuh dimatanya. lantas dengan cepat dihapunya.
"Ingat Yura ini bukan perpisahan, ini hanya untuk sementara" batin Yura
"Dah sayang" Yura benar - benar beranjak dari sikecil.
"Dah mama, sampai jumpa lagi" ucap sikeci Yuri berteriak karena Yura sudah menjauh darinya hanya masih terlihat oleh jangkawan mata, sampai jumpa yang diucapkan Yuri begitu menusuk hatinya mana kala anak itu begitu tegar mengiringi kepergian ibunya dengan senyuman.
"Sampai bertemu lagi Yuri" gumam Yura, tak terasa air matanya turun begitu saja ia menangis dalam diam hanya ditemani oleh Tayaga yang hanya bisa menarik nafasnya kasar tanpa bisa berbuat apapu untuk menenangkan temannya itu.
Ini masalah hati jadi dia tak bisa ikut campur jika itu masalah hati seseorang, itu terlalu lancang bukan jika dirinya ikut campur tanpa diminta.
Pada akhirnya Yura meninggalkan kembali anak kecil yang dua tahun lalu dia selamatkan dan diurusnya itu, Yura menyerah untuk membawanya dalam dunia yang tak seharusnya dilihat anak itu, walau berat Yura pasti bisa jauh dari anak itu, toh Yura akan menengok anaknya itu sesekali, walaupun tidak akan sering, dan entah sesekali ya itu kapan hanya Yura yang tahu.