Lemon!
Apa yang ada dalam pikiran kalian saat kata itu disebutkan? Tentu saja mengarah kepada buah, atau mungkin segelas jus atau malah secangkir lemon tea atau bisa saja segelas lemon panas!
Tapi pernahkah terlintas dibenak kalian jika lemon adalah sebuah nama seseorang? Ahhhh tentu saja tak pernah terpikir bukan? Tak ada sebelum - sebelumnya dari semua penduduk bumi menamakan anaknya dengan nama buah, mungkin pernah ada nama - nama aneh yang pernah didengar Kalina bukan.
Seperti timun mas, atau keong mas! Ahhh seperti sebuah legenda saja, tapi pernahkah sebuah buah menjadi nama manusia? Ini aneh tapi nyatanya ada nama buah yang dipakai untuk menamai manusia.
Entah orang tuanya yang tak punya inspirasi saat memberikan nama untuk anaknya atau malah tidak terpikir nama lain selain lemon, atau justru ada kisah tersendiri dibalik nama Lemon itu.
Ahhhhh bukankah nama ini terdengar unik, tapi ya begitulah nama si cantik nan manis itu, jangan salah walau namanya Lemon, tapi dia semanis coklat, hanya saja warna kulitnya cerah secerah buah lemon itu sendiri.
Gadis ceria yang seperti sinar mentari itu selalu membuat para penduduk desanya tersenyum manakala bertemu dengannya, ahhhh lemon buah segar walau rasanya masam tapi tetap saja menyegarkan bila kita bisa mengolahnya untuk dijadikan minuman segar.
Begitu pula dengan Lemon sigadis manis ini juga menjadi penyegar bukan hanya untuk kedua orang tuanya melainkan orang - orang disekitarnya.
Aku sempat bertanya mengapa namanya Lemon? dia hanya menjawab
"Karena orang tuaku menyukai buah itu" jawab gadis itu, aku hanya mengangguk saja tanpa mau menanyakan lebih lanjut lagi mengapa harus Lemon, walau terkesan aneh hanya karna menyukainya.
Tanpa ku sadari ternyata nama itu memiliki makna tersendiri untuk keluarganya, ahhh mengenalnya tak pernah membuatku tidak berdecak kagum kepada gadis ceria itu.
Gadis itu seperti namanya sangat memiliki khas, jika buah lemon memiliki rasa masam berbeda dengan Lemon yang memiliki rasa manis dalam setiap rengkuh senyum yang tersemat dibibirnya setiap harinya.
Jika buah lemon terkenal dengan warnanya yang kuning cerah, maka Lemon terkenal dengan keceriaannya yang sungguh membuat semua orang merasa bahagia mengenal anak itu.
"Lemon apa kamu suka buah ini?" Tanya ku yang langsung mendapat gelengan oleh anak itu, aku sedikit kaget kupikir dirinya akan suka dengan buah itu karna nama mereka sama tapi nyatanya tidak, ahhhh aku salah ternyata.
"Buah itu masam aku tidak suka" jawaban yang membuat aku terkekeh geli, tanpa bicara sambil manyun seperti itupun semua orang tahu jika buah lemon itu masam, ahhh gadis dihadapan ku ini menggemaskan.
Inilah yang lucu disini, diantara buah lemon dan Lemon, mereka memiliki perbedaan yang signifikan, bertolak belakang sangat amat, jika buah lemon kebanyakan tidak disukai karna rasanya yang masam berbanding terbalik dengan Lemon yang banyak disukai karna keceriaan yang menular pada semua orang yang mengenalnya.
Ahhhh seharusnya namanya karamel atau swetty karena nama itu menggambarkan karakternya yang manis, tapi sekali lagi nama Lemon memiliki arti untuk orang tuanya termasuk siempunya nama itu sendiri.
"Kau suka dengan nama mu?" Tanya ku yang hanya mendapat anggukan saja olehnya.
"Kenapa bukankah nama itu sedikit-"
"Aneh" selanya yang hanya mendapat cengiran dari ku.
"Mungkin bagi sebagian nama itu aneh, tapi menurutku nama itu yang paling indah, kau mau dengar sebuah cerita?" Tanya gadis itu padaku, aku mengangguk antusias, tentu saja orang yang memiliki khayalan tingkat tinggi seperti ku senang dengan yang namanya cerita, dongeng dan sebangsanya.
"Akan ku ceritakan sebuah kisah untuk mu, ku harap kau akan suka dengan cerita ku kali ini" ucap Lemon, aku antusias ingin mendengarnya, kau tahu gadis ini pandai sekali bercerita, hingga aku seperti masuk kedalam ceritanya.
ahhhh aku tak sabar mendengar ceritanya.
****
"Ini sebuah kisah romantis, menurutku entah menurut mu" ucap Lemon, membuatku semakin penasaran untuk mendengar cerita gadis itu.
"Ceritakan! Ceritakan!" Pinta ku yang sangat antusias.
"Sebuah romansa buah lemon" ucap gadis itu kembali membuat aku semakin bingung dan dibuat penasaran dengan cerita yang akan Lemon ceritakan itu, aku tak sabar mendengarkannya.
"Ayolah Lemon ceritakan!" Pinta ku
"Kau yakin ingin mendengarnya?" Tanya Lemon yang mendapat anggukan dari ku yang sangat antusias dengan cerita yang akan Lemon ceritakan padaku.
"Kisah ini terjadi 20 tahun silam" ucap Lemon memulai ceritanya, membuat aku duduk semakin dekat kearahnya hanya untuk mendengar dan melihat gadis itu bercerita, gadis ini punya mimik wajah yang luar biasa unik disaat dia bercerita, itu mengapa aku selalu tertarik dan ingin mendengar ceritanya.
Karna si pendongeng, seperti tengah berada ditengah cerita itu sendiri, membuat si pendengar merasakan bagai mana mengalir Carita itu dan ikut terbawa alur ceritanya.
"Dua puluh tahun lalu, seorang anak gadis tidak sengaja menjatuhkan barang belanjaannya sendiri, karna saking repotnya, dan sialnya salah satu buah ada yang menggelinding, mengharuskannya mengejar buah itu" tutur gadis itu bercerita dengan lucu hal itu membuat aku membayangkan gadis seperti apa yang Lemon bicarakan saat ini.
"Ahhhh.... Jangan menggelinding seperti itu" keluh gadis itu, walau begitu gadis itu tetap mengejar buah kuning cerah itu, ahhh gadis itu terus menggerutu manakala dia tak berhasil menangkap buah lemon yang menggelinding itu, hanya karena satu buah lemon yang menggelinding itu gadis itu tak sadar jika teman - temannya ikutan menggelinding membuat si gadis benar - benar mengumpat karna kesal.
"Ahhhhh, sial" kesalnya memberenggut sambil terus mengejar para buah itu yang tidak tahu rasa kasihan terhadap gadis itu, para buah lemon itu terus saja membuat susah sipemiliknya.
Cuaca yang panas membuat gadis itu berkeringat karna hilir mudik mengambil buah yang berceceran tak tentu arah bergelinding itu, "Ahhhh benar - benar deh" kesal gadis itu, sambil terus berjongkok untuk memunguti buah lemon itu.
Tanpa si gadis itu sadari ada seseorang yang juga ikut membantunya memunguti buah kuning itu, "Ahhh, dari mana asal buah ini ya" gumam pria remaja itu, tanpa pikir panjang dia memunguti buah lemon itu, pikirnya pasti ada orang yang tak sengaja menjatuhkannya, dan mungkin tengah kesulitan untuk memungutinya.
Sampai pada akhirnya keduanya bertemu tanpa sengaja, dengan posisi saling berjongkok, mengambil buah lemon, ditangan mereka masing - masing tergenggam beberapa buah lemon.
"Ahhh.. maaf mengagetkan" ucap si pria yang dijawab anggukan oleh sigadis.
"Ini punya mu?" Tanya si pria kembali yang hanya dijawab anggukan saja oleh sigadis, jujur saja saat ini gadis itu tengah bersemu kemerahan wajahnya, rasa kesal gadis itu tiba - tiba saja menguap entah kemana, digantikan rasa malu dan rasa senang yang bersamaan muncul.
Usut punya usut ternyata lelaki yang tepat berhadapan dengannya adalah orang yang disukai gadis itu dalam diamnya, ahhh cinta terpendam rupannya.
Singkat saja setelah pertemuan itu terjadi, beberapa kali pertemuan terjadi kembali tanpa sengaja dan penyebabnya ya buah lemon itu, lagi dan lagi bush lemon mempertemukan mereka secara tak sengaja.
Kali ini lelaki itu yang tak sengaja menjatuhkan buah yang sedang digenggamnya, buah itu tak sengaja jatuh menimpa kepala gadis itu.
"Awwww" keluh gadis itu memegang kepalanya, namun matanya melirik benda kuning didepannya.
"Lemon" gumam gadis manis itu, mana mungkin pohon mangga berbuah lemon pikirnya sambil mendongak, bola mata gadis itu melebar seketika saat dia tahu apa penyebabnya tertimpa buah lemon itu.
Dengan terburu - buru dia menunduk, tanpa disadarinya pria itu telah meloncat dari batang pohon mangga, dan saat ini tepat berada tidak jauh dihadapan gadis itu.
"Maaf apa tadi sakit?" Tanya pria itu yang membuat gadis itu mau tak mau mendongakkan kepalanya, semburat merah tergambar jelas dipipinya benar - benar terlihat manis gadis ini, dengan semu merah dipipinya itu.
"Ahhhh... pasti sakit sekali ya, maafkan aku tadi tidak sengaja" ucap pria itu, membuat sigadis mengangguk tanpa bisa berkata karena entah mengapa setiap bertemu dengan pria itu dia selalu gugup dan hilang kata.
"Rey" panggil teman - temannya yang berhasil menemukannya
"Ahhh... sial, maaf ya aku harus pergi, semoga kita bertemu lagi" ucap pria itu sambil mengepuk kepala gadis itu sekilas, lantas pergi dari hadapan gadis itu, tanpa si pria tahu apa akibat dari kelakuannya tadi pada si gadis.
"Ya Tuhan melehnya aku" ucap si gadis memerosotkan tubuhnya, gadis itu jatuh terduduk diatas tanah.
perkataan pria itu sepertinya terkabul begitu saja, entah ini takdir atau memang hanya kebetulan saja kembali keduanya bertemu kali ini mereka bertemu disalah satu cafe.
"Pesan apa?" Tanya pramuniaga itu
"Lemon tea" dua suara sekaligus didengar oleh si pramuniaga itu, membuat wanita itu menengok dari layar dihadapannya, perasaannya tadi sedang melayani seorang gadis, tapi mengapa dua orang yang bersuara dengan menyebutkan menu yang sama.
"Hahaha...hai kita bertemu lagi" ucap pria itu membuat semu merah dipipi gadis itu, disapa oleh orang yang disukai tentu membuat gadis itu berdebar tak karuan.
"Lemon tea satu" pesan si pria "lemon tea juga?" Tanya si pria yang hanya diangguki oleh gadis disampingnya. "Jadi dua ya mba lemon teanya" ucap si pria meralat pesananya yang hanya dijawab iya saja oleh si pramuniaga itu.
"Suka lemon tea juga?" Tanya pria itu memecah keheningan, entah mengapa pria itu tak suka jika hening tercipta diantara mereka, dia ingin mendengar suara gadis itu, semenjak pertemuannya dengan gadis itu, dia tak mendengar suara gadis itu, dan kali inipun dia kecewa karna si gadis hanya mengangguk saja menjawab pertanyaan si pria.
"Apa dia bisu ya?" Batin pria itu bertanya - tanya.
"Ini silahkan" ucap pramuniaga itu memberikan pesanannya.
"Semuanya jadi 22 ribu mas" lanjut pramuniaga itu, gadis disampingnya mengeluarkan uang uang 12 ribu untuk membayar minumannya.
"Engga usah, aku yang traktir" ucap si pria menahan uang yang disodorkan gadis itu tadi. "Anggap saja ucapan maaf ku" lanjut pria itu, membuat alis si gadis bertaut karena bingung, namun belum sempat menjelaskan kepada gadis dihadapannya pria itu harus menelan kekecewaan karena teman - teman gadis itu memanggilnya
"Nesya" panggilan dari teman - temannya "Cepetan" buru - buru gadis itu beranjak dari hadapan pria itu, bahkan tanpa pamit, sepertinya dia lupa jika disampingnya masih ada seorang pria yang tengah mengajaknya mengobrol.
"Ahhh jadi namanya Nesya toh" gumam pria itu.
Waktu kembali bergulir, tak terasa dua remaja itu dipertemukan terus menerus tanpa sengaja hampir dua bulan lamanya, dan itu semua berhubungan dengan sebuah buah lemon, buah kuning itu menjadi jembatan mereka untuk dekat, karena tanpa mereka sadari mereka menjadi dekat karena pertemuan - pertemuan tak sengaja mereka itu.
****
"Dari yang awalnya hanya menjalin pertemanan, lama - kelamaan cinta itu hadir diantara mereka berdua, membuat pria itu memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada si gadis" tutur Lemon bercerita, dari ceritanya yang terus berlanjut aku seperti masuk kedalam cerita itu, kadang merasa geregetan sendiri manakala saat Lemon bercerita jika keduanya tidak saling peka tentang perasaan masing - masing.
Kadang aku bersemu malu sendiri karena merasa baper terhadap kisah cinta yang dialami dua remaja itu, manakala Lemon menceritakan kisah romantis dua remaja itu padaku, ahhhh kisahnya begitu detail diceritakan oleh Lemon membuat aku semakin penasaran dan bertanya - tanya dalam benakku.
"Memang ada ya kisah seperti itu? Memang siapa yang mengalami kisah itu?", tanya batin ku.
"Satuhal yang paling berkesan buat ku dalam cerita ini, bagai mana sipria menyatakan perasaannya pada siwanita" ucap Lemon
"Bagai mana?" Tanya ku.
Tiga tahun mereka menjalin hubungan pertemanan, pria itu menyadari sesuatu yang baru saja diketahuinya tadi pagi, jika dirinya memiliki perasaan lain terhadap gadis Lemonnya itu.
"Ahhhh .. pantas saja gue suka kesel sendiri kalau melihatnya dengan pria lain, ternyata ini kesal karena cemburu" guemam si pria itu, senyum dibibirnya mengembang manakala dia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya.
Dia mendatangi rumah temannya itu, untuk mengutarakan perasaannya pada sang gadis, yang unik disini dia langsung mengatakan pada kedua orang tua gadis itu, padahal saat itu dirinya baru saja menginjak kelas XII SMA, itu artinya mereka masih sekolah.
"Om, tante, saya datang kemari untuk meminta izin" ucap sipria sedikit gagap karena gugup, membuat kedua orang dewasa dihadapannya tersenyum, tak biasa sekali pria dihadapan mereka itu gugup seperti itu hanya ingin mengajak putri mereka jalan.
Kedua orang tua gadis itu sudah biasa mendapatkan permintaan izin dari mulut pria dihadapannya ini, tapi kali ini ada yang berbeda dengan anak dihadapan mereka itu, jelas terlihat jika pria itu sangat gugup sekarang, membuat heran dua orang tua itu begitupun dengan sigadis.
"Kenapa Rey, begitu ya" batin si gadis keheranan.
"Om dan tante mau untuk mengizinkan saya dan Nesya untuk pacaran, saya suka sama Nesya, sudah lama sejak lama" ahhhhh ucapan pria itu begitu membuat sigadis tertegun dan kedua orang tuanya ternganga tak percaya karena ucapan pria itu.
Setelah drama malam itu selesai pada akhirnya orang tua dari gadis itu menyetujui permintaan dari pria itu, dan akhirnya mereka menjalin hubungan, dan setelah lulus kuliah dengan begitu beraninya pemuda itu meminta kepada kedua orang tua gadis itu untuk menjadikan gadis itu sebagai pendamping hidupnya
****
"Kau tahu, pria itu melamar gadis itu mengunakan satu buah lemon" kekeh Lemon kala mengingat itu begitu lucu.
"Ahhh masa" aku benar - benar tak percaya, mana ada melamar anak orang hanya dengan sebuah lemon saja, bagai mana dengan kedua orang gadis itu mana mungkin mereka setuju.
"Lantas apa kedua orang tua gadis itu setuju?" Tanya ku yang begitu penasaran.
"Tentu saja" jawab Lemon.
"Kau tahu bahkan maharnya hanya sebuah Lemon saja" ucapan Lemon kali ini benar - benar membuat aku menggeleng tak percaya .
"Mana ada yang seperti itu" sanggah ku tak percaya
"Tapi nyatanya memang ada hal yang seperti itu, dan sampai sekarang mereka hidup bahagia, walau mahar mereka hanya sebuah buah Lemon, yang bahkan kini telah mengering dan membusuk karena tak sempat diawetkan kala itu, hanya tinggal daunnya saja yang tersisa, yang bisa mereka selamatkan dan diawetkan", jawab Lemon.
"Kau mengetahuinya begitu dalam, seakan kau ikut dalam cerita itu Mon" ucap ku heran.
"Walau aku bukan saksi hidup mereka menjalin asmara mereka, tapi akulah bukti nyata kisah cinta mereka" jawab Lemon sambil beranjak dari duduknya.
"Tunggu, apa itu cerita tentang orang tua mu?" Tanya ku keheranan.
"Menurut mu?" Lemon balik bertanya sambil menolehkan wajahnya sebentar lantas kembali berjalan menjauhi ku, membuat aku terpaksa mengikutinya.
"Jadi karena itu kau suka dengan nama mu?" Tanya ku kembali.
"Iya karena Lemon memiliki cerita dalam kehidupan ayah dan ibu ku, ku harap nanti aku juga memiliki romansa ku sendiri entah itu dengan perantara buah lemon atau yang lainnya" ucap Lemon mengakhiri perjalanan kami pulang.