Perkenalkan saya Nata, seorang pekerja lepas untuk sebuah institusi swasta. Tulisan saya biasa saya posting di forum kaskus tentang bagaimana saya berinteraksi dengan dimensi seberang, sebut saja demikian.
Hari ini saya mengikuti kegiatan open trip ke ujung barat pulau jawa. Lokasi yang baru untuk saya kunjungi, kebetulan saya sedang bosan dengan pekerjaan saya yang harus berhadapan dengan layar setiap harinya. Saat membuka sosial media, saya melihat open trip dengan harga yang tidak terlalu mahal, setidaknya saya sangat butuh pantai saat ini. Open trip akan dilaksanakan minggu ini, saya message akun tersebut dan ternyata masih ada slot, jadi pembayaran tinggal transfer dan juga segalanya akan di briefing lewat pesan singkat.
Sempat berpikir kalau travel agent yang ada di sosmed ini akan scam karena dalam waktu beberapa hari belum ada kabar tapi ternyata tidak, mereka mengabari saya tentang perlengkapan yang wajib dibawa dan juga jadwal kegiatan dari mulai berangkat sampai pulang. Titik kumpul kami berada di mall daerah Jakarta Selatan. Tidak terlalu banyak bawaan saya karena tujuan saya kesini bukan untuk berenang, ada tujuan selain harus berlibur, yaitu melihat apa yang harus saya lihat.
Setelah selesai dengan pekerjaan hari ini, saya langsung menuju ke tempat kumpul yang sudah diberitahukan oleh pihak panitia. Sesampainya di lokasi, saya menuju ke coffee shop yang ada disini karena masih 2 jam lagi jadwal keberangkatannya. Saat sedang sendiri, saya dihampiri seorang wanita
"Permisi mas, ikut open trip sama mas Budi yang dari travel itu kan ?" Kata wanita tersebut
"Iya mbak benar, ada apa ya ?" Saya sedikit kaget karena ditegur oleh wanita yang bahkan nggak saya kenal
"Saya juga ikut mas tapi kayanya masih lama, boleh saya ikut duduk disini ?" Katanya meminta izin ke saya
"Silahkan mbak" saya mempersilahkan dengan gesture tangan
"Oh iya, salam kenal. Nama saya Febri" katanya menyodorkan tangan
Saya menyambut tangannya, "Saya Nata. Salam kenal"
Terdengar kaku ? Yup begitulah saya dengan orang baru
"Bawaannya banyak mas ?" Katanya
Saya heran, karena bawaannya hanya satu backpack biasa dan tas pinggang, "nggak kok mbak, ini cuma satu tas sama tas pinggang" jawab saya
"Oh, sedikit kalo begitu ya" katanya yang kemudian diam
Saya sibuk dengan ponsel karena masih ada koordinasi tentang kerjaan jadi mbak Febri ini nggak saya perhatiin
"Mas, ikut open trip ini kenapa mas ?" Tanya mbak Febri memecah keheningan
Saya taruh ponsel ke dalam kantong dan memulai untuk melupakan pekerjaan
"Saya mau liburan aja sih mbak, sekalian mau ngeliat-liat aja. Kalo mbaknya ?" Tanya saya
"Oh, bosen di Jakarta polusi terus" katanya
Saya bukan tipe orang yang bisa melihat langsung yang kasat mata, apalagi berbicara langsung tanpa harus berkonsentrasi atau membuka komunikasi dengan mereka tetapi kali ini berbeda. Ada sesuatu yang menarik dari mbak Febri ini selagi kami ngobrol, dan hal ini mendistraksi saya. Tetapi karena saya ingin liburan, jadi saya tidak mau ambil pusing.
*****
Perjalanan yang cukup melelahkan untuk sampai di tempat ini, kami masih harus menyebrang menggunakan kapal yang tidak cukup besar tetapi mampu untuk mengangkut 20 orang.
Sesampainya di pulau, kami semua berkenalan dan dibagi menjadi kelompok laki-laki dan wanita sesuai dengan pembagian ruang untuk tidur. Untuk acara pertama, kami menelusuri pulau ini yang merupakan habitat dari tanaman langka dan tergolong tua, disini juga kami masih dapat melihat monyet, babi hutan, biawak berkeliaran di seputaran basecamp.
Saya berjalan menyusuri hutan, lalu ada guide yang memberikan penjelasan terkait pohon yang ada disini, lalu ada beberapa tanaman yang unik membentuk celah jadi tampak seperti pintu. Saya berimajinasi saat melewati itu ternyata sudah pindah tempat, seperti di film Doraemon. Saat di perjalanan kami semua satu rombongan ini tampak menikmati pemandangan hutan dan juga berfoto-foto, sementara saya hanya mengamati sekitar dan merasa sangat tenang dan juga udara disini sangat bersih.
Tidak lama kemudian saya melihat mbak Febri sedang berbicara sesuatu dan menghadap ke sebuah pohon, tangannya memegang pena dan kertas yang dialas dengan papan jalan.
"ah paling juga lagi mengamati tumbuhan, mungkin dia seorang penyuka tanaman atau memang itu profesinya" ucap saya dalam hati
Kemudian saya juga mengamati sekitar lalu ada hal yang menarik dengan satu pohon di depan saya sekitar 5 langkah, lalu saya menghampiri dan mengamati pohon dari atas lalu ke bawah, ketika saya tepat menghadap ke depan, saya dikagetkan oleh sesuatu
"Mas, pohonnya menarik juga ya ?" Kata mbak Febri yang tiba-tiba datang dan mengagetkan saya
"Pohon ini sepertinya sudah lama ya ?" Kata saya menjawab dengan pertanyaan untuk menyembunyikan sesuatu
Pertanyaan saya tidak dijawab, lalu mbak Febri ini tampak menulis dan mulutnya seperti berbicara tetapi tidak ada suara yang keluar.
Saya kemudian melanjutkan perjalanan, sampai di ujung pulau yang terdapat pasir putih dan bebatuan besar. Saya duduk di batas antara hutan dan pantai, duduk di akar pohon dan memandang jauh ke arah pantai, suara ombaknya terdengar jelas, saya selalu suka suasana ini karena selalu menenangkan saya.
"assalamualaikum Mas" seseorang datang menghampiri di samping saya
Saya sontak menjawabnya, "waalaikumsalam kek" jawab saya pada sosok orang tua dengan pakaian khas satu daerah di pulau jawa
Lalu semua gerakan yang ada di depan saya semuanya terhenti.
"Ada perlu apa sampai repot-repot datang kesini ?" katanya
Saya semakin tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh orang tua ini
"Baiklah, tapi kalau memang harus terjadi. Maka haruslah terjadi, bukannya seperti itu" kata sosok orang tua itu seperti menanggapi omongan seseorang
Saya memperhatikan sekitar dan mengalihkan pandangan dari orang tua itu, tidak tampak ada orang lain disekitar saya, lalu semua kembali bergerak dan saat saya menengok ke arah orang tua itu, dia sudah tidak ada
Mbak Febri ini menghampiri saya, "nggak keliling mas ? Disitu aja ?" Katanya
"Nggak mbak, liat liat aja dari sini"
"Nggak usah dipikirin mas, nanti juga ketemu jawabannya" katanya yang sulit dimengerti oleh saya, dan saya anggap yang dia maksud adalah soal pekerjaan atau lainnya
Saya hanya membalas itu dengan senyuman.
*****
Setelah seharian penuh kegiatan menyenangkan dengan tracking dan snorkeling kemudian ada juga acara ramah tamah seperti api unggun, rasanya tidak menyesal mengeluarkan uang sekian rupiah, sepadan dengan acaranya.
Sebelum tidur, saya sempat ngobrol dengan peserta lainnya dan kami berbagi cerita. Tidak lama, ada salah satu peserta perempuan berteriak dari dalam kamar lalu yang lainnya berusaha menenangkan, tidak lama keluar salah seorang peserta menuju ke arah kami
"Mas tolong, ada yang kesurupan" kata wanita tersebut
Ada seorang laki-laki yang maju duluan, sementara saya malah masuk ke kamar untuk ambil ponsel. Karena kamar kami bersebelahan jadi dapat terdengar mereka sedang melantunkan ayat suci dan si wanita itu malah mengikuti bacaan itu. Ini bukan kali pertama saya menyaksikan hal itu, sementara yang lainnya mulai ragu dengan bacaannya, tetapi tetap dibacakan. Hal itu memang seharusnya dilakukan, terus bacakan saja tapi itu belum cukup.
Saya mendekat ke kerumunan itu dan melihat sekeliling ruangan, nampak tidak cuma satu yang ingin bergiliran masuk. Saya kemudian menatap ke arah wanita itu dan membacakan beberapa do'a pendek, si wanita itu menatap saya dengan mata yang melotot lalu tampak marah. Tidak lama kemudian mbak Febri yang baru datang dari luar menghampiri wanita itu dan wanita itu sadar. Dalam hati saya lega karena ini berakhir dan akhirnya terjawab firasat saya waktu awal bertemu mbak Febri ini.
Saya kemudian menyendiri di ayunan yang berada di bawah pohon sambil melihat ke arah pantai yang sedang terang bulan. Kemudian mbak Febri menghampiri saya dari arah samping
"Kenapa tadi nggak ditolongin mas ?" Katanya
"Mana ngerti saya mbak soal begitu" saya masih mengelak
"Tadi tuh pas saya masuk, sudah hampir keluar. Jadi saya nggak berbuat banyak"
Kami terdiam sejenak, lalu suara mbak Febri ini mulai berat
"kamu apakan cucu saya ? Banyak yang tidak suka dengannya" kata si mbak
"Mbok ya kalo dateng salam, ada apa memangnya ?" Dialek saya mendadak seperti orang jawa
"banyak yang tidak senang dengan cucu saya disini, ada apa ini ?" katanya dengan mata merah melotot ke arah saya
Saya membaca do'a sebisa saya untuk mengeluarkan makhluk ini karena yang tadi bicara kemungkinan bukanlah bagian dari keluarganya, dan benar saja beberapa saat kemudian sosok orang tua yang saya temui itu datang lagi, saya tersenyum dan menyapa beliau lebih dulu.
"Assalamualaikum kek"
"waalaikumsalam nak, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan"
Saya melihat ke sebelah saya ternyata mbak Febri sudah sadar dan disebelahnya ada sosok wanita tua yang sedang memperhatikan saya dan orang tua ini
"Kakek ini sebenarnya siapa ?"
"saya adalah seorang pengembara semasa hidup saya, sampai pada akhirnya saya menetap di pulau ini untuk menjaga wilayah pulau ini" kata si Kakek
"Boleh saya tahu siapa manusia yang bersamamu saat itu ?"
Sepertinya perkataan saya mengejutkannya karena selama ini dia selalu dianggap yang bukan sebenarnya.
"Rupanya kamu paham tentang itu. Dahulu saya keluar dari tempat yang sangat berjaya pada masa itu, lalu saya yang menemukan jalan kebenaran terus berjalan sampai bertemu oleh seorang guru yang membimbing saya pada Islam. Untuk mengamalkan ilmu tersebut, saya harus pergi sampai ujung pulau Jawa dan menetap disana sampai maut mendatangi saya saat itu" katanya
"Mengapa kau sampai ada di pulau ini ? Kan kau bilang ujung pulau" saya bertanya karena ada perbedaan cerita dengan kenyataan saat ini
"Ada manusia yang ingin menjadikan saya sebagai pengikutnya, lalu dia berusaha mengalahkan saya. Tetapi . . ."
"Ah baiklah sudah, saya mengerti kelanjutannya, ada yang ingin kau sampaikan ? Seperti pesan terhadap manusia mungkin" saya menyela cerita karena ada orang lain yang sedang mendengarkan jadi cukup saya dan beliau yang tau
"Ada masa dimana semua kembali pada titik dimana rasa percaya pada Sang Pencipta dikalahkan oleh nafsu dan amarah, lalu manusia mulai mencampur dalam dimensi seberang untuk memuaskan hasrat dan ambisi keduniawian. Dahulu manusia pernah berada pada masa itu karena putus asa dengan pencapaian dan merasa bahwa hukum alam itu harus ada"
"Bolehkah saya bertanya untuk hal yang menyangkut dunia saya saat ini ?" saya mulai tertarik dengan cerita ini karena saat ini lingkungan sekitar saya sudah mulai menuju ke arah sana
"Tentu, jika saya rasa itu bisa saya jawab"
"Bagaimana bisa manusia menjadi kembali seperti itu ? Sementara kami melihat banyak yang pihak yang membuat kami nyaman sebagai sesama manusia"
"Begini nak, sederhananya manusia itu melihat yang tampak lalu membuat berbagai macam pemikiran di kepala mereka, lalu menanamkan hal tersebut bahwa semua aman terkendali. Apa ada yang salah dengan itu ?" Katanya sambil tersenyum
"Tidak, memang seperti itu yang terjadi. Lalu bagaimana bisa ?"
"Kamu tau jawabannya bukan ? Mengapa harus ditanya lagi ?"
"Saya hanya memastikan, seperti yang kau bilang bahwa kami manusia punya berbagai macam pemikiran baik sebelum atau sesudah terjadinya sesuatu"
"Baiklah, balik semua sudut pandang milikmu. Kamu tidak bisa melihat titik dari sebuah pena lalu kamu bilang itu bulat. Kalau setiap manusia berpikir, berapa banyak pemikiran yang sama ? Berapa yang tidak ? Lalu bagaimana kamu membedakan antara hitam, putih atau bahkan abu-abu sekalipun ?"
"Lalu apa yang terjadi saat ini ?"
"Nak, urusan saya di dunia manusia sudah selesai. Saya hanya punya kewajiban sesuai ajaran dari guru saya dan ilmu yang diajarkan olehnya. Kami juga makhluk Allah sama seperti kamu dan manusia lainnya. Bagaimana manusia lupa dengan itu sementara jelas bagi manusia bahwa perintah Allah adalah mutlak bahkan bagi seekor semut sekalipun" katanya yang kemudian tersenyum lagi
"Baiklah, saya mengerti sekarang. Lalu bagaimana kelanjutan dari pesanmu ?"
"Hati dan pemikiran adalah anugerah dimana manusia dapat menentukan sebuah pilihan. Manusia dihadapkan dengan setiap pilihan setiap waktunya. Hati manusia itu ibarat air dalam wadah, jadi apapun yang kita masukkan ke dalamnya maka seperti itu juga perubahannya. Lalu pemikiran mengarahkan kita pada aturan yang ada, baik dan buruk itu cenderung penuh pertimbangan, tetapi membenarkan perbuatan yang salah adalah sebuah kesalahan dalam memilih. Percayalah pada Allah sebagaimana kamu diberikan kenikmatan meski setelah berbuat kesalahan, semua adalah kehendak Sang Kuasa"
"Mengapa kau dari tadi berbicara soal perilaku manusia lalu berlanjut ke persoalan bagaimana manusia bersikap ?"
"Manusia itu diciptakan untuk menjadi seorang pemimpin. Hanya itu yang dapat saya katakan, selebihnya silahkan kamu pahami itu karena kalau lebih jauh lagi mungkin saya bukan sosok yang tepat untuk itu" katanya
"Bagaimana kami harus bersikap untuk setiap ketidakadilan yang ada ? Bahkan kami tidak punya kuasa untuk itu. saya bertanya tentang keraguan dalam keseharian saya dimana manusia serakah selalu punya kuasa"
"Manusia tetaplah manusia, hasrat itu selalu ada tentang dunia. Pengadilan sesungguhnya bukan di alam dunia ini. Jangan meragu dengan ketetapanNya"
"Terimakasih, saya banyak belajar dari pertemuan ini. Boleh saya bertanya satu kali lagi ?"
Kemudian kakek itu tersenyum dan menghilang perlahan di depan mata saya, " assalamualaikum" katanya sebelum benar-benar hilang
"Wa'alaikumsalam" saya juga tersenyum
Kemudian saya melihat sekitar, dan mulai gelap dan ini sangat gelap.
***
"Nat . . Nat" kata seseorang memukul pelan badan saya
"Eh iya mas" kata saya yang kemudian mengusap muka saya
"Belum mau balik ? Udah hampir jam 6 nih. Mau lembur emangnya ?" katanya
"Nggak mas, yaudah ini mau langsung balik deh"
"Yaudah, duluan ya. Jangan lupa ganti AC terus absen" katanya
"Iya mas. Makasih ya"
Saya kemudian membuka ponsel, kemudian saat melihat sosial media saya masih di beranda travel untuk open trip ke ujung pulau sana. Saya cek ke bagian message namun tidak saya temukan pesan terkirim ke travel itu.
(Direct Message to travel agent)
selamat sore, masih ada slot untuk weekend ini ?
SELESAI