SEBENTUK CINTA PADA SKETSA
Saat senja merona hingga aku duduk di kursi tua taman kota. Angin yang mendesir dingin tak membuatku lelah menunggu kedatanganmu, Senja.
Kuambil boltpoint dan kertas hanya untuk membuat sketsa wajahmu yang membanyu sulung. Kau gadis di seberang duniaku namun mampu membuatku rindu hatiku.
Daun jatuh dengan keikhlasannya begitu juga diriku menunggumu tanpa jemu.
"Joko ... ke mana saja kau ini?" sebuah panggilan renyah dari gadis yang berada di dalam kertas putihku.
Seolah ia mengajakku bicara dan bercanda.
Kembali ku gambar sebentuk wajah dengan hijab lebarnya. Sungguh anggunnya dia.
Matahari telah pulang cakrawala sore pun memerah saga. Aku kembali dengan lamunanku bersama gadis dalam sketsa yang kugambar.
Senja pada putaran sore kau hadir Membawa sejuta pesona kau artikan sebuah kesahajaan hidup di mana pagi dengan kelembutan embunnya, siang dengan kehangatan mentari, sore dengan keanggunan senja serta Malam dengan hening yang syahdu dalan perjamuan suci di bumi-Nya.
Lagi-lagi terhanyut pada aksaraku seolah dia hadir memeluk hangat tubuhku. Membuat benar-benar tertimbun di lautan awan dengan kapas-kapas lembut menyejukan.
"Joko ... kau tak jemu hanya memandang wajahku!" Lamunanku tersentak sebuah cubitan terasa nyata.
"Suara yang memanggilku pernah kudengar sebelumnya namun siapa gerangan dia?" dalam hati kecilnya berkata.
Adakah hanya lamunan gadis yang bermata seni atau igauanku dalam tatapan sayu sang mata elang?
"Kaukah itu senja, hampir malam kau datang dengan seribu tanya yang sulit ku utarakan," sahut Joko memastikan bahwa perempuan yang di depannya bukan hanya di sketsa saja, di cubitnya pipinya sendiri.
"Joko ... ya inilah aku, perempuan yang ada dalan imajinasi liarmu. Sudah puaskah kau mengkhayal hingga bertahan denganku saja tak ada pelukan hangat dari dirimu. Apakah kau itu benar kekasih dalam alam sadarku," bidik Senja.
"Hmmm ... serasa indah ku nikmati sore ini setelah Seni beras di sampingku untuk berbagi cerita," gumam Joko.
"Hai ... Joko kenapa kamu diam sih?"
"Sebentar Senja kuakan selesaikan sketsa di kereta ini dan kuberikan padamu."
Begitu sangat telitinya Joko menyelesaikan gambar raut wajah Seni hingga ia tak sadar Seni pergi tanpa memberitahunya.
Dicarinya ke semua tempat namun tidak juga ia temui Senja. Ternyata itu hanya ilusi yang menggebu di hati Dia.
"Di manakah gerangan Senja bersembunyi?" gumamnya lirih.
Rasanya begitu cepat waktu berlalu hingga lelah aku mencarinya. Di tinggalkannya sketsa di taman kota. Ia tak lagi tahu bagaimana Senja datang dalam nyatanya namun dia pergi tanpa sepatah kata pun.
Pandangannya kosong menatap langit yang kian menghitam. Bulir bening mengalir dengan hangatnya, tak kuasa melepas kepergian Senja yang tiba-tiba.
Seperti biasa Joko pergi ke taman hanya untuk melihat suasana senja setelah gerimis yang seharian menyapa kotanya.
Tiba-tiba, seperti suara angin berhembus menyapa dan memanggil namanya.
Joko ... Joko ....
Serasa seperti pertemuan pertama dengan wanita dalan lukisan itu. Tapi, bagaimana bisa dia masuk dalam khayalku sedang aku tak sedang melukiskannya.
"Apakah aku telah jatuh cinta?"
Hari-harinya gelisah dan selalu ingin waktu cepat berlalu menuju senja. Dipandanginya cakrawala menikmati suasana yang begitu mempesona.
Sudah dua kali pertemuan itu seolah Joko telah jatuh cinta.
"Ini akan menjadi memori kenangan untuk kusimpan," gumamku pelan, kuambil kertas dan mulailah aku dengan imajinasi liarku. Membayangkan sosok gadis bernama Senja dalam dunia lukisku.
Hampir malam rupanya namun mataku tak mampu terpejam kulihat di luar jendela pemandangannya yang indah dengan langit yang bertabur bintang serta rembulan yang cantik.
Desir sang bayu menelisik hatiku seolah mengajakku berdansa menikmati malan yang indah.
Telah lama kubayangkan sosok wanita yang membuatku terpesona namun lagi-lagi aku dipermainkan oleh imajinasiku.
"Aku tidak akan melupakan pertemuan tadi. Di mana aku melihat nyata wajah yang kulukis serta wanita yang kukagumi."
Mencoba menata kembali gumpalan-gumpalan awan yang terbelah di gugusan waktu. Melulu tentang raut wajah yang pernah hadir dalam mimpi. Ketika mimpinya terenggut, terjemputbdi gelapnya waktu seketika itu joko masih disanggul perih.
Entah berapa purnama ia lewati menyurikan senja. Menatap bayang yang tak pernah kembali di pesisie nyatanya. Wajah layu sebuah harapan yang kini telah mengingat, mengawasi dari langit ke tujuh.
"Senja, angkuhnya menanti kabar yang di tulis pada bidang kesumba."
Pikiran tentang wajah itu kembali hadir memanggil dari atma langit. Ia masih menunggu surat tentang keberadaannya di mana sisi pemiliknya menjemput ketika waktu tiba.
Sesampul senja tentang ornamen kehidupan yang terlumat wajah mimpi. Masihkah pada ambang keemasan tepi barat. Memanggil jerit pada hamparan malam. Untuknya mengubur jasad parodi tentang cinta yang telah membawa ke langit ke tujuh.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk.
Tok ... tok ... tok ...
"Siapa, ada perlu apa malam-malam begini."
"Gue ... Mau antarin kotak buat elo dari wanita yang katanya ketemu di taman," sahut temanku.
Kubuka pintu lalu berterima kasih padanya. Perlahan kubuka kotak itu mencoba mendung siapa yang memberikan bingkisan itu. "Apakah Senja."
Mataku yang saat itu berkaca nampaknya tak mampu lagi di sembunyikan, melihat potret di dalam kotak itu dengan wajah teduhnya serta lesung pipinya. Ada selembar surat di sana kubaca pelan.
Assalamualaikum Jok ... (senyum dunk masa begitu baca surat dariku)
Pertama ingin ku ucapkan rasa terima kasihku padamu yang telah menggoreskan lukisan atas wajahku. Sejak pertemuan ke dua aku mulai sayang padamu walau terlalu pagi aku mengungkapkannya namun aku tak mau terkantung-kantung oleh rasaku sendiri.
Namun perlu kau ingat aku sudah bertunangan dengan pria pilihan papa. Mereka menginginkan ini agar perusahaan tidak bangkrut.
Kuharap kau mengerti jika ada di posisiku.
Maafkan aku jika melakukan semua ini padamu.
Cilacap, 21-04-2015
Senja
Pertama aku baca tiada yang aneh namun semakin dalam semakin aku tak mengerti maksudnya. Deg! Terasa detak jantungku berhenti, napasku sesak. Semuanya kulihat tiba-tiba buram. Pertanyaan itu membuatku seperti tertimbun kecewa yang begitu mendalam.
Dia yang ku cintai, dia yang ku puja pada akhirnya akan meninggalkanku juga. Kukira perasaannya sama padaku. Nyatanya! Kelukaan yang kudapat dengan derai air mata yang mengalir deras.
Tak kusangka ketulusan masih tak mampu merubuhkan garis penjeda. Waktu dan jarak begitu angkuhnya mengambil cinta yang kupunya. Seiring larutnya malam menemui gulita, menggulita juga rasaku akan harap sebuah cinta yang padam seketika.
Tentu saja akan mengairi kekeringan jiwa. Bersalabarlah suatu saat nanti engkau dan aku akan tahu penghujung perjalanan sepasang hati ini," bisikku lembut di keheningan itu. Lalu, hati kita saling mendekap dan tenggelam dalam debur kesunyian.
"Joko ... Joko ... Joko ....
Seorang memanggil namanya dan Dia terbangun dengan perasaan penasaran akan mimpinya.
"Siapa Senja dan siapa pengirim surat itu?"
Sungguh apakah semua sebentar cinda dalam sketsa.
- END -