Kumohon kumohon kumohon!!! Berkati keberuntungan ku agar aku dapat memilih meja paling belakang! Kumohon!!
Aku mengambil kertas undian yang sudah di acak, di sana tertulis 31. Hah? Serius? Hmm....HOREE!
"Wah Nara dapat meja paling belakang, enak nya. Aku dapat nomer 2"
Aku hanya tersenyum dengan bangga.
"Hohoho, kau meragukan kemampuan keberuntungan ku? Semester baru bangku baru!"
Ucap ku yang segera meletakan tas di bangku nomer 31. Haah dekat di jendela, meja paling belakang, paling pojok, sungguh tempat yang paling nyaman. Kira-kira siapa ya teman sebangku ku kali ini.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Terlihat seorang pria dengan jaket hitam masuk ke kelas. Semua hanya bisa saling berbisik sampai wali kelas kami menyuruh untuk tetap tenang. Ia langsung mengambil kertas undian. Hm dia...Riko? Kami tidak terlalu dekat, bisa dibilang Riko orang yang jutek dan suka seenaknya. Katanya sih, aku juga tidak terlalu paham tentang dirinya.
"Wah Riko dapat nomer 32 ya?"
Riko hanya mengangguk dan berjalan mendekat ke arah ku. Eh, tunggu, 32? Dia duduk di sebelah...
Brukk
"..."
D..dia langsung duduk dong, bahkan ia langsung melihat jendela daripada memperhatikan ku. Ini agak canggung.
"Ehem, aku Nara. Sekarang kita teman sebangku ya Riko"
"..."
"Halo?"
"AH! Maaf, halo Na"
Dia terkejut, sedang ngalamun ternyata. Satu hal yang membuatku penasaran. Riko selalu terlambat datang ke sekolah. Selalu saja memakai jaket nya, padahal peraturan di sekolah siswa/siswi harus melepaskan jaket nya saat sudah tiba di kelas. Namun Riko tak pernah sekalipun di marahi oleh guru. Yang membuat semua teman menjadi iri dan menganggap Riko anak kesayangan guru karena nilai. Pftt, bilang saja mereka iri kepada Riko si rengking 1. Kekanakan.
"Eh Riko, kamu ngak gerah apa pake jaket di kelas?"
Dia hanya diam, seakan tidak memperdulikan ku. Ternyata benar dia terlalu dingin dan jutek. Yah sudahlah siapa yang peduli, di belakang aku bisa tidur sepuasku.
Tak terasa bel sekolah berbunyi. Namun Nara masih saja tertidur. Riko memukul meja yang membuat Nara terbangun.
"Ya? Ada apa?Jawaban nya 45 pak!" *linglung
"Pfttt"
"Eh?"
Aku mengucek mata ku, di sini hanya ada beberapa orang dan beberapa anak yang sedang menyapu. Piket kah? Tunggu, sudah saatnya pulang!?
"Haaa, malu untung tadi jam kos///"
Aku menutup wajah merah ku.
"Pfftt, aku pulang dulu Nar"
"Oh oke, thanks udah dibangunin"
Riko mengangguk, berjalan menjauh sambil melambai. Aku mengambil tas dan berlari kecil. Berjalan sampai ke halte. Sesampainya, aku tak sengaja melihat Riko.Tak lama datang mobil hitam mendekat ke Riko. Wajahnya berubah menjadi suram dengan mata sayu. Ia segera naik ke mobil tersebut. Kenapa dia berekspresi seperti tadi? Ah sudahlah, itu bukan urusan ku. Tidak lama kemudian, bus ku datang.
.
.
.
Besoknya seperti biasa aku berangkat sekolah. Tapi sepertinya aku datang terlalu cepat deh. Masih jam 6, huhuhu ini gara-gara kakak. Kakak mengubah alarm ku dan bodohnya lagi aku tak menyadari nya sampai tiba di sekolah. Haah, sesampai nya aku melihat Riko menutup wajah nya dengan tangan. Posisi nya seperti orang yang tidur saat kelas berlangsung, pftt memang nya aku.
"Selamat pagi, tumben berangkat pagi"
Ucap ku dengan ceria. Eh, dia tidur beneran? Dia masih mengenakan tudung jaket nya. Benar-benar deh, apa tidak gerah. Karena khawatir aku membuka tudung jaket Riko. Ada yang memegang tangan ku dengan erat. Riko bangun dan menatap tajam diriku. Dia ada masalah apa sih.
"Rik lepas..sakit"
Sial, kenapa dia semarah ini. Namun saat aku melihat Riko, terlihat plester tepat di pipi nya. Dan beberapa lebam walau tak terlihat jelas. Ia segera melepaskan tangan ku.
"Riko, wajahmu kenapa?" *khawatir
"Tidak ada, tidak penting"
Riko memalingkan wajah nya. Karena kesal aku memegang pipi Riko dan memegang lebam biru tepat di jidat nya.
"Is, apa yang kau lakukan!?"
"Maaf, ternyata benar kau menutupi lebam mu dengan bedak ya. Kenapa sampai seperti ini?"
"... Bukan urusan mu"
Dia...sudah tau merasa sakit namun tetap saja sok dingin. Cih.
"Mumpung belum ada orang kau dapat menceritakan nya kepada ku. Tak perlu takut aku akan mendengarkan nya dan tidak akan memberitahukan ke siapapun. Bertengkar? Jatuh? Atau apapun itu" *serius
Mata nya terlihat berkaca-kaca. Dengan perlahan Riko melepaskan jaket nya. Betapa terkejutnya aku saat melihat berbagai luka sayatan dan pukulan di tangan Riko. Aku hanya diam membisu.
"Hahaha, sebenarnya aku berharap kau memberitahukan hal ini kepada orang lain"
Tanganku bergetar, mata ku yang tak dapat menahan air mata.
"Kenapa...kau tertawa, itu sakit kan? Siapa yang membuat mu seperti ini"
Suara ku terdengar berantakan. Mulut ku masih saja bergetar tak karuan. Baru kali ini aku melihat luka sejelas itu.
"Orang yang sudah melahirkan ku"
Aku pun terkejut mendengar penjelasan nya.
"Tunggu, bagaimana bi..."
BRAAKK!!
Suara dobrakan pintu yang sangat keras membuat ku dan Riko terkejut.
"HALO DUNIA ARYA SUDAH DATANG, BWAHAHA"
Riko langsung mengenakan jaket nya. Arya, astaga si bocah itu. Mengganggu saja💢
"Wah ternyata aku menganggu ya, haduh maaf ni ya di sekolah ngak boleh begituan walau umur kita sudah 17 tah..."
"JANGAN BERPIKIR ANEH-ANEH ARYA SIALAN!!"
Ucap ku yang langsung memukul Arya. Dia hanya tertawa terbahak-bahak. Karena bocah ini aku tak dapat bertanya kepada Riko. Untung Arya tidak sempat melihat keadaan Riko.
.
.
.
Pulang nya... aku menghadang Riko di depan kelas. Dengan membuka tangan ku dan mencegah Riko pergi.
"Minggir"
"Tidak, aku mau dengar penjelasan mu"
"Kan tadi sudah ku beritahu, tolong jangan melewati batas"
Ia masuk ke bawah tangan ku. Sial, aku mengikuti nya dari belakang.
"Jangan ikuti aku"
"Jalan pulang juga mengarah di sana, bweee siapa yang ngikutin"
Namun tak lama Riko berhenti dan berputar balik. Untuk apa? Aku pun juga mengikuti nya.
"Nah nah nah! Apanya yang tidak mengikuti💢"
"Apasih sotoy" *pura-pura tidak tau
Dia menahan amarah nya, bwee masa bodoh. Ku masih mengikuti Riko, sampai...
"Halte?"
Riko tak mendengarkan ku dan segera duduk di kursi yang sudah di siapkan.
"Hei ku bukan hantu, sampai kapan kau mau berdiam diri?"
"..."
Riko melihat ke kanan dan kekiri, namun hanya ada kita berdua di sini.
"Haah baru kali ini ada seseorang yang sangat keras kepala dan suka ikut campur"
"Memang nya orang yang kau temui seperti apa"
"Mereka akan kabur saat melihat luka ku. Dan besok nya mereka pura-pura tidak tau dan menjahuiku"
"Astaga, siapa yang tega melakukan itu!? Cepat katakan! Akan ku datangi rumah mereka satu-persatu dan memukul wajah mereka💢"
"Pfttt, bwahaha tak perlu sampai seperti itu. Bukan nya itu hal yang wajar, pada dasarnya manusia penakut"
"Tapi bagaimana dengan para guru di sekolah ini?"
Dia hanya tersenyum sambil memukul pelan jidat ku.
"Kau kira apa manfaat ku mengenakan jaket panas di kelas bodoh?" *tertawa
"Jangan-jangan, sebenarnya para guru sudah tau namun tak bisa membantu apapun. Mereka tak marah jika kau masuk terlambat dan mengenakan jaket di kelas. Sesekali mereka menanyakan bagaimana kondisi mu? Aku... tidak tau harus berkomentar apa"
Ku kira sudah tidak ada kekerasan di dunia ini. Namun aku salah, Riko...orang terdekat ku mengalami hal ini dalam hidup nya.
"Aku tau kau agak terguncang melihat kondisi ku, tidak apa besok kita bisa saling pura-pura tidak ken..."
"Riko! Aku Nara mau jadi sahabat mu!!"
"A..pa?"
"Kau bilang kau selalu dijahui, makanya izinkan aku jadi teman mu. Bersandarlah di bahuku jika kau merasa sedih dan lelah! Mengobrol bersama, belajar bersama, dan lainnya"
Aku benar-benar serius. Wajah Riko terlihat terkejut, namun aku sadar terlihat sedikit harapan dan kebahagiaan di mata nya.
"Pffttt, hahaha kau sangat aneh, benar-benar aneh. Sampai membuat ku ingin menangis"
"Hahaha, mau lihat dong Riko si dingin nangis"
"Dingin? Siapa yang memberikan julukan itu? Menggelikan, hahaha"
Syukurlah, aku bisa melihat nya tertawa. Aku Nara, akan membuat mu selalu tersenyum! Hihihi.
Namun tak lama ada mobil mendekat ke arah kami. Itu mobil yang Riko naik kemarin kan? Wajah Riko berubah menjadi serius. Kaca mobil di buka, nampak seorang wanita dengan pakaian modis dengan kaca mata hitam. Ibunya Riko? Wajah nya nampak galak. Tanpa di suruh, Riko langsung masuk ke mobil.
"Ku kira pak Asep yang menjemput ku"
"Diamlah anak sialan, jika kau bukan keturunan ku aku sudah meninggalkan mu sejak kau lahir"
"Lebih baik begitu bukan" *gumam
"Kau mengatakan sesuatu?" *mengernyitkan alis
"Bukan hal yang penting"
Mobil pun berjalan, aku hanya diam sambil melihat mobil Riko perjalan menjauh.
.
.
.
Besok nya, pagi jam 6.45. Ku lihat sudah ada Riko di bangku nya, ia masih saja melamun sambil melihat keluar jendela. Berjalan perlahan berusaha tidak mengeluarkan suara, berniat mengagetkan Riko. Dan...
"Oh kau sudah datang?"
"Ugh, kenapa kau tau? Seharusnya aku yang mengagetkan mu Riko"
"Apa itu kesalahan ku?Hahaha"
"Sialan, jangan tertawa-_-"
Dalam dua minggu kami menjadi dekat. Riko menceritakan keluh kesah nya kepada ku. Sedangkan aku hanya bisa mendengarkan nya sambil mengajak Riko ke suatu tempat yang indah. Tertawa bersama...sampai kebahagiaan itu hilang hanya dalam hitungan waktu. Hari ini Riko tidak masuk sekolah, guru kami mengatakan Riko izin tidak masuk.
Namun izin itu terus berlanjut sampai satu minggu. Sebenarnya ada apa dengan Riko? Haah, dia baik-baik saja kan. Aku ingin sekali menjenguk nya namun aku saja tidak tau dimana rumah nya. Tak lama ada seseorang yang memanggil nama ku.
"Nara, bisa bantu aku membawakan tugas ke wali kelas? Aku sedang ada urusan mendadak dan hanya kamu yang ada di kelas"
"Oh oke, serahkan semuanya pada ku bu ketua"
"Hahaha aneh-aneh saja, dah Nar thanks ya"
Aku membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan. Mengangkat setumpuk buku dan membawa nya sampai ke ruang guru. Sesampainya, belum juga masuk, aku mendengar nama Riko di sebutkan. Aku diam dan menunggu.
"Nak Riko bagaimana kabarnya pak?"
"Haah, tadi ibu Riko datang kemari. Beliau berkata nak Riko tidak akan kembali ke sekolah ini lagi. Mereka akan pindah ke luar negeri"
"Apa? Saya tidak tau apakah harus senang atau tidak, haah saya harap nak Riko bahagia. Dan ibunya, saya tak tau harus berkata apa pak"
Tok tok tok
"Masuk!"
Aku masuk ke ruang guru dengan wajah muram. Dan memberikan setumpuk buku ke wali kelas kami. Riko pindah...kenapa tidak memberitahuku?
"Oh makasih ya Nara, sekarang kamu boleh kembali beristirahat"
Aku mengangguk dan memberi salam.
"Iya pak, permisi"
Keluar dari ruang guru dengan perasaan sedih. Belum lama kami berteman dan kini kami akan berpisah. Haah, benar-benar menyedihkan.
Besok nya lagi-lagi kursi Riko kosong. Teman sebangku ku... cepat sekali kau pergi. Apakah kita akan bertemu lagi? Di waktu...dan tempat yang berbeda. Ku harap begitu...
.
.
.
Jangan Lupa Like and Komen