Aku bernama Haruka Hando, gadis SMA berkacamata dengan rambut panjang sepinggang, kelas 2 di Kyoto yang sekarang sedang berada di sekolah hingga pukul 8 malam karena ada rapat untuk kegiatan Festival Bunkasai.
Memakai seragam sekolah abu-abu seperti kebanyakan seragam sekolah jepang pada umumnya dengan rok pendek di atas lutut.
Sebagai seorang Osis sekolah, tentu itu hal yang wajar, apalagi aku ketua Osis untuk kelas 3.
Pulang larut setelah semua murid sekolah pulang tentu sangat wajar bagi ku yang seorang Osis sekolah.
Hari sudah gelap dan kebetulan sekarang musim gugur, angin sejuk musim gugur menerpa seluruh tubuhku yang sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah yang dimana ada penjaga sekolah masih berada di sekolah.
Suasana jalan yang sepi dan lampu-lampu jalan yang berwarna putih tentu sangat biasa, apalagi memang orang jepang itu sering berada di dalam rumah setelah selesai bekerja.
Aku mengambil 'Smart Phone' milikku dari tas untuk memeriksa pesan dari group Osis sekolah, hal yang biasa orang jepang lakukan, yaitu berjalan sambil memainkan 'Smart Phone'.
Aku menaiki Bus dan turun di halte ketiga setelah aku naik bus tersebut, kemudian meneruskan untuk jalan kaki yang sudah tidak terlalu jauh dengan jalan rumah ku.
Akan tetapi saat aku tengah melewati sebuah jalan tanjakan yang cukup sepi, dimana hanya ada angin dan gesekan dedaunan terdengar di kedua telingaku.
Secara entah kenapa aku merasa seperti ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.
"Tidak biasanya suasananya sangat sunyi, bahkan terkesan..."
Aku tidak ingin berfikir yang aneh-aneh dan terus berjalan ke arah jalan rumah ku berada.
Sampai secara tiba-tiba saat aku tengah berbelok ke arah taman kecil di arah kananku, aku melihat sosok seorang perempuan berpakaian kimono putih tanpa motif dan rambut terurai lurus seperti ku, usianya seperti anak sekolah dasar yang sedang bermain ayunan dengan ayunan yang bergerak lambat ke depan dan kebelakang.
Suara decitan dari ayunan yang Perempuan itu mainkan sedikit terdengar.
Aku sontak berjalan sambil melihat anak perempuan yang sedang bermain ayunan itu dengan wajah tertunduk.
Aku baru kali ini melihat anak perempuan itu dan aku juga tidak tau kalau ada anak perempuan yang bermain di taman itu saat sudah mulai gelap dan memakai kimono putih.
Kemudian ada suara gagak yang mengagetkanku dari arah kiri saat sedang berjalan sambil melihat ke arah perempuan yang aneh itu.
"Huaahh..."
Aku sungguh kaget sekali.. Sangat kaget sampai aku benar-benar takut dan menghentikan langkah kaki ku.
Setelah suara gagak itu mulai menjauh, aku kembali berjalan.
Aku melirik kembali ke arah taman itu dan saat itu aku sangat terkejut ketika melihat Ayunan itu bergerak dengan tanpa ada perempuan yang tadi duduk di atasnya.
Sontak aku langsung melihat cepat ie arah kiri dan kanan ku dengan cepat.
"Tidak mungkin aku salah lihat, tadi ada perempuan di atas tempat duduk ayunan yang bergerak itu."
Tubuhku mulai merinding dengan terpaan angin musim gugur.
Aku memutuskan untuk berjalan cepat dan hiraukan apa yang tadi aku lihat.
Berjalan dan berjalan ke tempat arah rumah ku berada, namun ada yang aneh.
secara mengejutkan jalan itu sangat berbeda dan malah yang ada di depanku adalah sebuah area seperti bukit dengan pohon-pohon tingginya.
"Tidak mungkin aku salah jalan, kenapa jalan yang biasa aku lalui berubah dan ujungnya seperti ini."
Tanpa berfikir panjang, aku langsung berbalik arah.
Aku semakin terkejut ketika membalikan badanku untuk kembali ke jalan sebelumnya.
Secara cepat jalan yang tadinya aku lalui telah berubah menjadi jalan setapak tanah yang sisi kiri kanannya adalah pepohonan yang gelap.
"Apa... Tidak mungkin."
Aku menyalakan senter dari 'Smart Phone' yang sedang aku genggam di tangan kanan.
Sungguh ini tidak lucu dan aku benar-benar takut sampai keluar keringat.
"Dimana aku sebenarnya.."
Aku memutuskan untuk berjalan di jalan setapak itu dengan langkah cepat dan berfikir yang positif agar tidak terlalu takut.
Sangat sunyi dan gelap, seperti berjalan di tengah hutan.
tidak ada cahaya satu pun yang aku lihat di sekeliling.
"Bagaimana ini... Aku tidak ingin sesuatu terjadi..."
Wajahku mungkin sudah pucat karena bingung dan takut, hanya jalan setapak itu yang bisa aku ikuti.
Sampai ada sebuah cahaya seperti orang yang membawa obor api yang cukup banyak dan tongkat yang berkerincing.
Aku sedikit lega dan mungkin itu adalah penduduk setempat.
"Akhirnya ada yang bisa aku tanya."
Namun secara tiba-tiba ada yang menarik tangan kiriku sampai aku berhenti melangkah kakiku.
Aku menengok ke arah kiriku dan terlihat sosok perempuan ini tadi aku lihat di taman.
Aku terdiam membeku dan saat itu jantung ku berdegup kencang, karena secara tiba-tiba ia muncul di sampingku, padahal tadi saat aku jalan, tidak ada seorang pun.
Genggaman dari tangannya aku rasakan dingin, sangat dingin.
Kemudian perempuan berpakaian kimono yang tertunduk dan sedang menggengam lengan kiriku bicara dengan nada suara yang aneh.
Seperti orang yang gemetar kedinginan.
"Ja-Jangan Ke-Sa-Na.."
Aku menelan ludah dan bingung.
"Hah! A-Apa maksudnya?"
Perlahan tangan perempuan itu melepaskan genggaman tangannya dari lenganku sambil menunjuk ke arah kanan.
Aku melihat apa yang ia tunjuk, tetapi itu jalan hutan.
Suara krincingan dari tongkat besi dan suara-suara aneh seperti membaca mantra semakin aku dengar.
Aku bingung harus kemana dan bagaimana.
Sampai pada akhirnya aku menatap dalam perempuan itu yang masih terus menunjuk ke arah kananku yang ke sebuah hutan.
Aku cuma meyakini apa yang hatiku rasakan.
Langkah kakiku aku arah kan ke arah perempuan itu menunjuk dan menyisir pohon-pohon ukuran kecil dari jalan.
"Aku pasti sedang halusinani.. Ya ampun.."
Aku langsung pergi menjauh dimana sekumpulan orang-orang yang membawa obor dan tongkat berkerincing terdengar dan aku lihat.
Aku menerobos masuk hutan itu sambil menyenteri jalanku dengan keadaan panik.
"Mana jalannya... Apa aku salah pilih jalan?"
Tidak peduli lagi aku berjalan kemana, yang hanya aku ikuti adalah arah lurus dari anak perempuan berpakaian kimono putih itu.
Sampai tiba-tiba aku melihat sebuah Tori Gate atau gerbang tori khas jepang berwarna merah.
Aku berlari melewati Tori Gate itu. Sampai secara tiba-tiba aku berada di Fushimi Inari (Tempat wisata 1000 Tori Gate yang terkenal di jepang, Kyoto.)
"Hah... Ini kan.."
Aku berada di dekat area tengah Fushimi Inari.
Aku melihat ke belakang Tori Gate yang tadi aku lalui dan merasa ini seperti mimpi.
Dimana di belakang ku adalah hutan kosong dan berbeda.
"Sungguh, aku benar-benar bingung."
Nafasku terengah-engah akibat berlari tadi dan tiba-tiba aku merasakan ada yang berjalan di belakang diriku.
Sontak aku langsung membalikan badanku dan ternyata aku melihat seorang Kakek tua yang bergaya seperti biksu jaman dulu dengan serba warna putih berjalan di belakang ku dengan satu tangannya ada di atas dada seperti layaknya biksu yang jalan menegakan telapak satu tangannya di depan dadanya.
"Ka..Kakek.."
Kakek biksu itu melirik perlahan ke arah kananku berada.
"Seperti kamu tidak sengaja masuk ke gerbang dimensi yang tengah terbuka."
Aku menelan ludah dan menyeka keringat yang ada di dahiku dengan tangan kiriku, karena tangan kananku masih menggenggam erat 'Smart Phone' yang masih menyala dengan senter nya.
"Maksud Kakek apa?"
Tanpa lagi menjawab, Kakek itu berjalan ke arah tangga Tori Gate.
Lalu suara gagak kembali terdengar dan membuatku terkejut.
"Huah.."
Kembali saat aku ingin bertanya kembali kepada Kakek biksu itu, tiba-tiba ia hilang.
Aku saat itu bingung dan akhirnya aku turun menuruni Tori Gate itu dari arah Kakek biksu itu tadi melangkah.
"Sekarang aku turun dulu dari sini. Sungguh aku tidak tau sebenarnya apa yang telah terjadi tadi."
Sesampainya di bawah dan kelelahan, aku membeli air di vending mesin dan duduk di sebuah area luar dari kuil Fushimi Inari.
Aku menelepon Saudara perempuan ku yang rumahnya tidak jauh dari tempat kuil Fushimi Inari itu.
"Hallo.. Sae-San, bisa aku minta tolong menjemput ku di dekat kuil Fushimi Inari?"
Tentu Sae-San, saudara yang lebih tua itu bingung.
"Kamu kenapa bisa di sana? Ini bukan hari libur sekolah dan libur Nasional kan?"
Aku kembali menyeka keringat di dahiku dengan tangan kiriku.
"Aku juga tidak tau kenapa ada di sini, Sae-San."
Sae-San terdiam sejenak.
Kemudian tiba-tiba ia bicara sesuatu yang aneh kepada ku.
"Haruka, apa kau sedang bersama perempuan teman mu? Aku sedikit mendengar dia bicara, tetapi tidak terlalu jelas."
Sontak aku bingung dengan apa yang dia bicarakan dan melirik-lirik ke arah kiri dan kananku.
"A-Apa maksud Sae-San? Aku sendirian, tidak ada siapa pun di sini."
Sae-San kembali terdiam sejenak dan kembali mulai bicara.
"Oh.. Lupakan soal yang tadi Aku bicara kan, aku akan menjemputmu segera."
Aku merasa lega karena Sae-San mau menjemput diriku.
"Arigatou... Sae-San..."
Aku menunggu Sae-San datang di area pinggir jalan.
Sae-San berambut pendek dengan rambut panjangnya di sisi samping dekat kedua telinganya yang lurus, tapi belakang nya pendek.
Beberapa menit menunggu dengan perasaan masih bingung dan takut, Sae-San datang menaiki taksi dan langsung menghampiri diriku.
Sae-San memakai rok panjang hitam dengan sweeter coklat tebalnya.
Namun Sae-San seperti melihat sesuatu di belakang saat aku sedang duduk.
"..."
"Sae-San? Ada apa?"
Sae-San menarik tangan kanankuku hingga aku berdiri.
"Haruka, ayo kita pulang. Malam ini sebaiknya kamu menginap di rumah ku, Ayo."
"I-Iyah... Baiklah.."
Aku dan Sae-San masuk ke dalam taksi.
Saat di dalam taksi itu, Sae-San terlihat hanya diam dan tidak bicara sedikit pun ke diriku yang awalnya dia bingung dengan tiba-tiba aku berada di kuil Fushimi Inari.
Sampai tiba di dekat rumahnya dan turun dari taksi itu pun, Sae-San terdiam.
Aku menelepon Adik ku yang bernama Maki Hando (Tokoh dari Novel Malkist Cinta yang terhubung ke cerpen ini, dimana Haruka adalah Kakak dari Maki yang dimana mereka adalah seorang anak kembar.), Untuk memberitahunya aku ada di rumah Sae-San.
Sae-San dengan baiknya memperlakukan ku di rumah yang cukup sederhana itu saat sudah masuk.
"Sebaiknya kamu mandi, aku akan siapkan makan untuk kamu dan baju ku yang akan aku taruh di atas samping wastafel kamar mandi.
"Terima Kasih, Sae-San."
Aku memutuskan untuk mandi dan di rumah itu memang hanya ada Sae-San saja.
Selama mandi itu pun aku terus memikirkan sesuatu yang begitu aneh telah terjadi kepadaku.
Bahkan setelah berganti baju yang di sediakan oleh Sae-San.
Aku lalu duduk di meja makan dengan ada Sae-San sedang melihat ke cangkirnya dan meminum secangkir teh hangat itu, lalu ada beberapa makanan yang sudah di siapkan untuk ku.
Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Sae-San sebelum makan.
"Sae-San... Sebenarnya Sae-San apakah mengetahui apa yang tidak aku ketahui?"
Sae-San langsung melirik ke arahku dengan tatapan serius dan menarik tangan kiriku.
"Apa kamu lihat tanda ini?"
Tiba-tiba ada sebuah motif seperti tatoo berwarna biru gelap di lengan kiriku yang aku ingat di pegang oleh Perempuan berkimono putih itu.
"Sejak kapan... "
Sae-San seperti menekan lenganku dengan cukup kuat sampai diriku merasakan sakit dengan rasa terbakar.
"Aahh.. "
Perlahan motif tatoo itu seperti terserah ke tangan Sae-San.
Aku tidak tahu apa yang Sae-San lakukan, tetapi itu di luar nalar manusia biasa seperti diriku.
Kemudian setelah selesai, Sae-San bicara kepada ku dengan wajahnya yang begitu serius.
"Haruka, sebaiknya besok kamu selalu pulang bersama dengan Maki, apapun yang terjadi jangan sampai kamu kembali pulang sendirian di waktu yang sudah matahari tidak lagi tampak. Aku mohon tekankan ini kepadamu."
Entah apa yang di katakan oleh Sae-San itu, tetapi sepertinya itu bukan lah main-main.
Malam itu aku tidur bersama Sae-San setelah makan dan entah kenapa Sae-San selalu dekat dengan diriku.
Selesai.
( Kisah ini berkelanjutan di Novel Malkist Cinta dari sisi Rui Katashina dan teman dari Maki, adiknya Haruka ini. )
Terima Kasih telah membaca dan mohon dukungannya Cerpen ini dan Novel Malkist Cinta.
Kita bertemu di sana.